
Erland terdiam sembari mencerna seluruh ucapan dari Azlan tadi yang jika dipikir-pikir lagi memang ucapan Azlan itu ada benarnya juga. Kalau seandainya ia gegabah dan memaksa Kayla menikah dengannya, ia tak yakin jika pernikahan itu akan berlangsung lama dan seumur hidup. Apalagi jika tak di dasari oleh cinta dari salah satunya, duh Erland jadi tak tenang sekarang memikirkan perasaan Kayla kepadanya.
"Terus kita harus gimana supaya tau perasaan mereka?" tanya Erland bingung.
Azlan menggedikkan bahunya. Ia juga tak tau cara agar mengetahui perasaan para wanita itu yang sangat tertutup kepada orang lain.
Erland menghela nafas berat.
"Dahlah, sekali jatuh cinta rumitnya ngalah-ngalahin rumus matematika. Pusing sendiri jadinya," gumam Erland sembari mengusap kasar wajahnya.
Mereka berdua kini terdiam cukup lama, mendalami pikiran mereka masing-masing yang tengah berkelana itu.
"Lo udah pernah nyatain perasaan lo ke Kayla kan?" tanya Azlan tiba-tiba. Erland tampak memutar otaknya sejenak kemudian ia mengangguk. Sudah hampir 4 bulan setelah ia menyatakan perasaannya jadi maklum lah jika Erland sempat lupa dengan hal itu.
"Terus dijawab?" Erland menggelengkan kepalanya lemah.
"Lo geleng-geleng gitu artinya apaan anjir? Ditolak apa masih di gantung?"
"Digantung lah. Kalau saat itu gue langsung di tolak, mungkin gue sekarang udah mundur teratur," jawab Erland.
Azlan tampak tersenyum tipis, sangat tipis sampai tak ada yang bisa melihat senyuman itu. Bukan karena ia masih suka dengan Kayla dan senang karena Erland digantung. Tapi senyumnya itu menandakan jika ia tak sendiri, nasib Erland ternyata sama dengan nasibnya. Apakah ini yang dinamakan benar-benar kembar sehingga masalah percintaan saja harus sama?
Erland yang tadi menatap lurus kedepan kini menoleh kearah Azlan.
"Emangnya lo udah pernah nyatain perasaan lo ke Zea?" kini giliran Erland yang harus tau kemajuan dari hubungan Abangnya. Jika Azlan cintanya diterima oleh Zea berarti dia kalah telak. Tapi jika di telaah dari ucapan Azlan tadi sepertinya...
"Udah," jawab Azlan.
"Terus diterima?"
"Perasaan gue sama kayak lo. Digantung kayak jemuran." Jika Azlan tadi hanya tersenyum tipis, beda dengan Erland, ia malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hahahaha. Kirain lo diterima. Ternyata ya sama aja. Hahahaha." Azlan memutar bola matanya jengah dengan tawa Erland itu.
"Diem Er. Berisik!" Erland kini mencoba meredam tawanya.
"Ehemmm," dehem Erland untuk menetralkan suaranya.
"Kok kita bisa sama ya bang," tutur Erland meratapi nasibnya dan nasib Azlan.
Azlan hanya menggedikkan bahunya.
"Kalau di pikir-pikir kita itu lucu tau bang." Azlan mengerutkan keningnya dan menoleh kearah Erland.
"Masalahnya, kita tuh kembar. Wajah yang hampir sama, proporsi tubuh juga hampir sama, nasib percintaan pun sama. Dan lebih lucunya lagi kita sama-sama berjuang buat dapetin cinta seorang wanita yang entah menganggap kita ada atau gak. Tanpa berpikir kalau mereka hanya memanfaatkan kita. Dan sayangnya kita gak bisa ninggalin mereka karena rasa sayang kita yang sudah cukup besar. Padahal jika dipikir-pikir banyak wanita yang nunggu kita buat dijadikan pasangan wanita-wanita itu. Tapi kita terus terfokus ke mereka berdua. Huh lucu sekali kalau di pikir-pikir lagi," ucap Erland diakhiri dengan tawa getirnya.
Azlan yang melihat wajah Erland seperti ingin menyerah pun langsung mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak Erland.
"Lo capek buat perjuangin Kayla?"
"Entahlah, gue hanya bingung aja bang. Gue sekarang kayak orang bodoh aja gitu. Rasanya mau mundur tapi hati gue gak siap buat ninggalin dia. Kalau mau terus berjuang juga sampai kapan bang? sampai dia dapetin laki-laki yang menurut dia pantas untuk bersanding di sampingnya? kalau gitu perjuangan gue sia-sia dong. Bukan dapat bahagianya tapi dapat sakitnya. Percuma bang percuma," tutur Erland yang sepertinya emosinya tengah naik turun gara-gara memikirkan cinta yang tak kunjung dibalas.
Mereka berdua kini kembali terdiam hingga suara seseorang dari belakang membuat mereka berdua terkejut setengah mati.
"Azlan!" suara itu, suara yang sangat Azlan kenal begitu juga Erland.
Azlan menghela nafas sesaat untuk menetralkan detak jantungnya kemudian ia menoleh kearah sumber suara yang perlahan mendekatinya.
"Kenapa?" tanya Azlan.
"Deketan sini deh," perintahnya padahal jarak mereka berdua sekarang sudah sangat dekat.
Azlan menoleh kearah Erland sesaat.
__ADS_1
"Ngapa lihatin gue. Sana gih turutin," ucap Erland.
"Lo gak papa kan?" Erland mengerutkan keningnya.
"Gak. Udah sana, gue bukan anak kecil lagi yang harus mewek gara-gara masalah tadi," tutur Erland. Ya memang dia tak sampai menangis gara-gara cinta melainkan dia akan mengunci dirinya di kamar nantinya sembari memutar lagu galau.
Azlan mengangguk kemudian ia berjalan mendekati wanita yang masih menunggunya.
Saat Azlan sudah berhadapan langsung dengan wanita tersebut. Wanita itu langsung memeluk tubuh Azlan. Hal itu mampu membuat Azlan tak bisa bergerak sedikitpun karena tiba-tiba saja tubuhnya seakan mati rasa dan membeku ditempat.
Dan tak berselang lama, Azlan mengerjabkan matanya agar kembali tersadar.
"Kenapa hmm?" tanya Azlan sembari mengelus kepala wanita yang ada di pelukannya itu.
"Maaf," ucapnya dengan suara yang cukup lirih.
"Maaf untuk?" tanya Azlan yang tak paham dengan ucapan dari wanita tersebut.
"Maaf," bukannya menjawab wanita itu terus saja meminta maaf dengan Azlan bahkan tubuhnya kini sudah bergetar menandakan sang empu tengah menangis.
"Ada apa sih? coba cerita sama aku. Jangan langsung nangis gini. Kalau kamu kayak gini akunya yang bingung karena gak tau hal apa yang buat kamu nangis. Kalau hal itu berkaitan dengan aku, aku minta maaf Ze. Udah ya jangan nangis lagi," ucap Azlan dengan penuh kelembutan bahkan pelukannya ia longgarkan agar bisa menatap wajah wanita yang selalu di hatinya itu, siapa lagi kalau bukan Zea.
Tangan Azlan pun kini juga bergerak untuk menghapus air mata Zea yang mengalir di pipinya.
"Kenapa hmm? kamu ikut remidian? atau terharu karena nilai kamu 100," tebak Azlan. Zea menggelengkan kepalanya.
"Bukan semuanya?" lagi-lagi Zea menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa nangis? Cerita Ze. Kalau kamu gak cerita akunya nanti yang pusing sendiri," tutur Azlan dengan gemas.
Zea kembali memeluk tubuh Azlan bahkan pelukan itu cukup erat.
__ADS_1
"Please, aku mohon jangan tinggalin aku, Az," ucap Zea lirih.
Azlan tertegun setelah mendengar permintaan dari Zea tadi. Kenapa wanita itu berbicara seperti itu? apa jangan-jangan Zea tadi mendengarkan curhatan Azlan dan Erland? jika iya, duh bisa malu dia. Tapi dia juga bersyukur kalau Zea dengar semuanya, berarti dia tak akan memberi penjelasan ke wanita itu jika suatu saat nanti dirinya lelah berjuang sendiri dengan perasaannya yang terus di ombang-ambingkan tanpa kejelasan.