
Edrea masih terbayang-bayang dengan kalimat yang Leon tadi katakan hingga membuat dirinya di malam itu juga tak bisa menutup matanya dan terlelap dalam mimpinya. Bahkan dari berbagai gaya sudah ia lakukan supaya dirinya lelah dan tertidur tapi usahanya itu tetap saja nihil, tak mempengaruhi sama sekali. Hingga akhirnya Edrea menyerah dan sekarang ia tengah mendudukkan tubuhnya di balkon kamarnya dengan menikmati hembusan angin malam ditemani dengan coklat panas kesukaannya.
Tapi saat dirinya menikmati ketenangan dengan bayang-bayang Leon di otaknya. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu dan membuat dirinya kini berpikir keras.
"Sebentar, perasaan tadi saat Leon bisikin gue sesuatu, dia manggil gue dengan sebutan Edne bukan Edrea atau Rea. Dan sebutan itu cuma di ketahui oleh keluarga sama beberapa orang teman gue dulu. Tapi anehnya kalau memang Leon merupakan salah satu dari teman masa kecil gue, kenapa gue gak ingat sama sekali sama dia. Harusnya kan saat dia nyebutin namanya doang gue bisa ingat dong. Tapi kok ini gak? Sebenarnya ada apa sih sama gue? Kenapa gue kayak orang bloon gini, gak bisa ingat apapun tentang Leon jika benar-benar dia teman gue," gumam Edrea yang tak habis pikir dengan otaknya itu.
"Apa jangan-jangan dia juga tanya sama bang Az atau bang Er tentang panggilan itu. Supaya dia kelihatan lebih akrab gitu sama gue?" sambungnya sembari menyeruput coklat panasnya itu.
Edrea terdiam sesaat sebelum dirinya juga mengingatkan sesuatu yang menurutnya aneh.
"Satu lagi, saat gue di culik sama Jio waktu itu dan gue kabur dari rumah dia, saat ditengah jalan kan gue di tolong sama Mr. Misterius saat gue mau di tembak sama anak buah Jio. Dan Mr. Misterius itu juga manggil gue dengan sebutan Edne. Ini hanya kebetulan atau Leon dan Mr. Misterius itu orang yang sama. Ditambah saat Leon main basket dia kan pakai juga tuh kalung yang sama persis seperti yang gue kasih ke Mr. Misterius itu," ucap Edrea.
"Ya walaupun kalung itu gak cuma satu di dunia sih tapi kok kebetulan gitu lho. Kan bikin gue mikir lagi ini. Tapi kalau di pikir-pikir postur tubuh Leon sama Mr. Misterius itu sama persis dan yang membedakan kedua orang itu cuma warna bola mata dan kalau Mr. Misterius punya tato di belakang telinga, Leon justru bersih tanpa ada tato di sekitar telinga dia. Kalau mereka bukan satu orang yang sama. Apa jangan-jangan mereka berdua saudara kembar? Soalnya suara Leon sama Mr. Misterius itu juga beda," pikir Edrea.
"Dan kemungkinan mereka berdua juga merupakan teman gue saat masih kecil dulu. Kayaknya gue perlu tanya sama bang Az sama bang Er deh. Ya gue harus tanya sama mereka," ucap Edrea dan setelahnya ia beranjak dari duduknya lalu ia segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Azlan.
Tok tok tok!!!
Edrea mengetuk pintu kamar tersebut dengan membabi buta karena ia yakin Azlan belum tidur sama dengan dirinya.
Azlan yang kebetulan tengah bermain game bersama Erland, keduanya merasa terganggu dengan tingkah Edrea itu.
"Ck, siapa sih ganggu banget. Bukain sana Er. Gue males buat berdiri soalnya," ucap Azlan sembari mendorong tubuh Erland agar sang empu segera membukakan pintu tersebut.
Erland yang sebenarnya juga tengah malas pun dengan terpaksa dirinya beranjak dari duduknya dan segera membukakan pintu tersebut. Dan saat pintu itu terbuka lebar, Erland menghela nafas dan setalahnya ia kembali mendekati Azlan diikuti Edrea di belakangnya.
__ADS_1
"Udah jam 11, ngapain kesini? Dan kenapa belum tidur?" tanya Azlan tanpa menolehkan kepalanya kearah Edrea karena ia tetap fokus ke layar televisi didepannya.
Edrea menggigit bibir bawahnya sebelum ia menjawab pertanyaan dari Azlan tadi.
"Hmmm Rea gak bisa tidur bang. Dan Rea kesini mau tanya sesuatu sama kalian berdua," ucap Edrea.
"Tanya apa? Kalau tanya masalah orang-orang yang udah tidur sama Puri, kita baru ngumpulin data sebanyak 20 orang dan itu belum ada seperempatnya," ucap Erland.
"Bukan itu bang. Tapi Rea mau tanya tentang masa kecil Rea dulu," tutur Edrea.
"Ck, lo gak pikun Rea. Masa kecil lo sendiri yang ngalamin dan yang pastinya lo ingat sendiri di otak lo. Jadi gak ada gunanya lo tanya masa kecil lo itu sama kita," ujar Azlan yang diangguki setuju oleh Erland.
"Iya juga sih. Tapi di otak Rea tuh sepertinya ada sesuatu yang masih janggal gitu lho bang. Dan Rea tuh mau tanya, apa saat Rea kecil, Rea pernah berteman sama Leon?" tanya Edrea yang berhasil membuat kedua saudara kembarnya itu menghentikan aktivitasnya dan kini mereka berdua langsung memutar tubuhnya menghadap Edrea yang tengah duduk tepat di belakang mereka berdua.
"Biasa aja kali lihatnya. Jangan kayak gitu," ucap Edrea sembari menutup mata Azlan dan Erland menggunakan telapak tangannya yang membuat kedua orang itu kini mengerjabkan matanya dan berdehem sesaat.
"Jawab lah bang. Apa Rea dulu pernah temenan sama Leon saat Rea kecil?" tanya Edrea.
"Seingat lo gimana?" bukannya langsung menjawab Azlan justru kembali bertanya.
"Hmmm Rea gak ingat kalau Rea pernah berteman sama Leon. Tapi yang bikin aneh tuh sebutan Edne kan hanya diketahui orang-orang rumah dan beberapa teman Rea waktu kecil aja, tapi Leon beberapa kali pernah manggil Rea dengan sebutan itu. Makannya Rea tadi tanya Abang masalah pertemanan Rea waktu kecil," ujar Edrea yang membuat Azlan dan Erland menghela nafas.
"Ya kalau lo gak ingat, berarti lo juga gak pernah temenan sama Leon," ujar Azlan.
"Tapi dia panggil Rea dengan sebutan Edne, bang. Gak mungkin juga kan dia tanya panggilan Rea waktu kecil sama kalian. Mau buat apa juga dia tau tentang panggilan itu?" tutur Edrea.
__ADS_1
"Biar makin akrab lah. Lagian Leon juga sahabat kita berdua jadi gak heran lah kalau dia tau nama kecil lo itu. Dan kemungkinan dia tau saat kita gak sengaja cerita tentang lo dan keceplosan pakai nama panggilan kecil lo itu," ucap Azlan.
Edrea terdiam karena apa yang di katakan oleh Azlan tadi ada benarnya juga. Tapi kali ini ia yakin jika Azlan tengah berbohong padanya saat laki-laki itu menghindari tatapan matanya dan itu semua sudah mampu Edrea baca.
"Bang, jangan coba-coba bohong sama Rea. Ayolah ceritain dikit aja. Rea kepo banget lho ini," ujar Edrea dengan menggoyangkan lengan Azlan.
"Stop Rea! Abang gak tau masa kecil lo," tutur Azlan dengan intonasi suara yang meninggi. Dan hal itu membuat Edrea melepaskan tangannya dari lengan Azlan. Lalu setalahnya ia mengalihkan pandangannya kearah Erland yang sedari tadi hanya terdiam saja.
"Bang, please ceritain masa kecil Rea dikit aja. Habis itu Rea gak ganggu kalian lagi deh. Janji," ucap Edrea dengan puppy eyesnya. Erland yang tak tega dengan Edrea pun kini ia menghela nafas sebelum dirinya angkat suara.
"Lo beneran mau tau?" tanya Erland yang diangguki antusias oleh Edrea.
"Oke gue akan nunjukin sesuatu ke lo. Tapi lo harus janji dulu sama gue. Setalah lo lihat hal ini, lo harus tetap ingat keluarga lo lagi," ujar Erland yang membuat Edrea mengerutkan keningnya.
"Er, lo apa-apaan sih. Gue gak setuju lo kasih tau ke dia," cegah Azlan.
"Bang, dia udah gede sekarang. Dia juga perlu tau hal ini," ucap Erland yang benar-benar tak tega melihat Edrea yang terus bertanya-tanya di pikirannya tanpa mendapat jawaban apapun.
"Gue tetap gak setuju! Lo pikir dengan lo nunjukin hal itu, Rea bakal baik-baik aja? Gak Er, kita udah pernah lihat dengan mata kepala kita sendiri gimana menderitanya Rea saat dia tau hal itu dan berakhir dia akan lupa lagi sama kita semua bukan cuma lo tapi gue, Daddy, Mommy, Oma, Opa dan semua orang di keluarga kita. Lo mikir semua konsekuensi itu gak Er? Jangan bertindak gegabah kalau lo gak mau lihat adik lo sendiri menderita," tutur Azlan dengan tatapan tajamnya yang ia arahkan ke Erland.
"Tapi dia juga berhak tau bang!" tutur Erland.
"Iya, dia berhak tau. Tapi setalahnya lo bakal bunuh Rea secara perlahan!" bentak Azlan dengan melempar tatapan sengitnya kearah Erland yang dibalas tatapan tajam oleh sang empu.
Sedangkan Edrea yang melihat keributan dari kedua abangnya itu pun hanya bisa terbengong dan bingung saat dia mendengarkan setiap perkataan dua abangnya itu yang sama sekali tak ia pahami sedikitpun.
__ADS_1