
"Maksud lo banyak orang yang lagi mengincar nyawa Rea?" tanya Azlan yang langsung diangguki oleh Erland.
"Hanya filing gue yang mengatakan itu. Tapi kita coba cocoklogi aja deh. Nih ya kalau dalang dari masalah ini cuma satu orang yang kasusnya tengah lo tanganin dan merupakan yang pertama mencoba mencelakai Rea dengan cara sangat mainstream, gak mungkin dalam waktu berdekatan dalang yang sama akan menyuruh anak buahnya untuk langsung bergerak lagi. Apalagi anak buahnya yang mengikuti Rea tadi malam masuk jurang yang kemungkinan semuanya sudah tewas. Jika dalang dari masalah yang pertama tetap melakukan masalah yang kedua, menurut gue gak mungkin sih. Karena biasanya orang yang berusaha untuk menghancurkan satu pihak dan rencananya sudah gagal, maka dalang dari semua itu akan berpikir dan membuat cela untuk menyerang orang incaran mereka kembali," ucap Erland.
Azlan terdiam sesaat. Jika di logika dengan pikiran dan pengalamannya, maka apa yang dikatakan oleh Erland tadi memang ada benarnya juga. Sebodoh-bodohnya dalang dari masalah itu, ia pasti akan bergerak setelah beberapa hari kemudian.
"Mungkin benar apa yang lo katakan tadi. Dalang dari masalah ini bukan hanya satu orang melainkan lebih dari itu. Tapi pasalnya yang buat gue heran kenapa dalang itu menginginkan nyawa Rea? Apa tuh dalang sama Rea ada dendam kusumat yang terpendam?" tanya Azlan bingung.
"Gue juga gak tau. Selama ini Rea aman-aman aja, baru kali ini dia mendapat masalah yang mengerikan seperti ini," jawab Erland.
Azlan tampak menghela nafas berat kemudian ia berdiri dari duduknya.
"Kita besok tanya kedia, siapa saja yang sudah dia jahili selain kita," ucap Azlan. Lalu ia mulai melangkah kakinya keluar dari markas tersebut sebelum disetujui oleh Erland.
Erland yang melihat abangnya itu ngeloyor begitu saja hanya bisa mengidikan bahunya, kemudian ia juga keluar dari markas tersebut menyusul Azlan yang sudah bersiap untuk kembali kerumah.
...****************...
Tak terasa cahaya bulan yang sudah bertugas semalam terganti dengan cahaya matahari yang telah menyambut semua orang untuk melakukan aktivitasnya kembali. Tak terkecuali dengan keluarga Daddy Aiden dan Mommy Della yang sudah bersiap ingin meninggalkan rumah tersebut dan hari ini adalah hari dimana triplets melakukan ujian untuk menentukan kenaikan kelas mereka.
"Ngerjain yang benar. Kalau sampai kalian gak naik kelas, malu-maluin. Gak sebanding sama kelakuan kalian yang bar-bar dan ugal-ugalan,," tutur Daddy Aiden. Padahal ia tau seberapa tinggi tingkat kepintaran dari ketiga anaknya itu.
Triplets yang mendengar ocehan dipagi hari dari sang Daddy pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk pergi kesekolah.
Azlan dan Edrea sudah lebih dulu masuk kedalam mobil yang sama. Dan tak berselang lama Erland bergabung dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Lho kok sama bang Erland juga?" tanya Edrea sembari menoleh ke kursi belakang mobil Azlan.
"Emang kenapa? gak boleh hah? suka-suka gue lah mau berangkat sama siapa, naik mobil apa dan jam berapa. Lo gak perlu ikut campur hidup gue," tutur Erland tanpa memberi peluang Edrea untuk menimpali ucapannya.
"Terserah lo lah. Gue tadi juga cuma tanya. Ngegas mulu jadi orang," geram Edrea.
Azlan yang mendengar pertengkaran dari mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari mulai menjalankan mobilnya menuju sekolah Edrea.
Setelah pertengkaran itu tak ada lagi yang memulai pembicaraan hingga akhirnya Azlan yang ingat akan sesuatu, ia kini mengangkat suaranya.
"Rea," panggil Azlan.
Edrea yang tadinya fokus dengan ponselnya kini menoleh ke arah Azlan yang berada di sebelahnya.
"Kenapa bang? mau kasih uang jajan? kalau mau kasih siniin aja dompet Abang biar Rea ambil sendiri. Jadinya fokus Abang gak kebagian nanti," ucap Edrea penuh antusias.
"Mata duwitan ya lo. Gak, gak ada uang jajan buat lo. Ini baru tanggal 15, masih 15 hari lagi jatah lo. Mau uang lo yang udah gue, Erland, dan Daddy kasih diawal bulan ini udah habis, Abang gak peduli dan gak akan kasih uang tambahan lagi. Mau Lo sampai nangis darah kek atau apalah, gue tetap gak akan peduli! Bisa-bisa uang gue habis ke lo semua sebelum istri dan anak gue nikmati jerih payah gue selama ini," cerocos Azlan.
Edrea kini mencebikkan bibirnya.
"Ya kalau gak mau ngasih uang terus kenapa Abang tadi panggil Rea? Ganggu aja," tutur Edrea.
"Gue cuma mau tanya. Lo disekolah ada masalah sama teman lo gak?" Erland yang tadinya tidak peduli dengan dua orang yang berada di kursi depan pun kini mengalihkan pandangannya ke mereka berdua saat Azlan membahas hal yang telah mereka sepakati tadi malam.
"Kenapa Abang tiba-tiba tanya begituan?" tanya Edrea curiga.
__ADS_1
"Cuma mau tau aja kelakuan lo di sekolah kayak gimana. Lo kan kalau dirumah kelakuannya sebelas dua belas sama kayak setan, siapa tau di sekolah kelakuan lo lebih parah dari itu."
"Heh enak aja nagatain kelakuan gue kayak setan. Cewek cantik, anggun, baik hati dan tidak sombong, bagaikan bidadari yang turun dari khayangan begini kok disamain sama makhluk gaib. Kurang ajar banget punya Abang," tutur Edrea dengan dramatis.
"Serah lo. Buruan kasih tau gue. Lo punya masalah sama teman lo gak. Atau ada salah satu murid, guru, penjaga kantin, atau penjaga sekolah yang pernah Lo sakiti hatinya?" Edrea tampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk dagunya.
"Hmmm sepertinya gak ada tuh. Rea kan anak baik jadi gak ada orang yang Rea sakiti hatinya di sekolah," jawab Edrea.
"Anjir PD banget lo," timpal Erland.
"Apaan sih lo. Ikut campur aja," ucap Edrea tak mau kalah.
"Udah lah jangan berantem didalam mobil gue. Kalau kalian masih mau bertengkar lagi, gue gak akan segan turunin kalian berdua," ancam Azlan yang sudah muak dengan pertengkaran mereka berdua.
Keduanya kini mengatupkan mulutnya kembali setelah mendapat ancaman dari Abang mereka. Beberapa saat setelah ketenangan dirasakan oleh Azlan, ia kembali bersuara lagi.
"Lo yakin gak punya musuh di sekolah?" tanya Azlan memastikan.
"Iya bang." Azlan menghela nafas saat mendengar kepastian dari Edrea itu.
"Ya udah kalau gitu. Lo harus tetap jaga diri lo, jangan sampai membuat masalah ke siapapun, Lo ngerti?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Eh tapi ada satu orang yang selalu bikin masalah sama Rea lho bang kalau disekolah," ucap Edrea tiba-tiba yang membuat kedua Abangnya itu melihat kearahnya, bahkan Erland sudah mendekatkan tubuhnya di antara kedua saudara kembarnya.
"Siapa orang itu?" tanya Erland.
__ADS_1
"Hmmm sebenarnya bukan hanya satu tapi sekelompok orang yang di ketuai oleh wanita yang digadang-gadang sebagai ratu kecantikan disekolah. Nama wanita itu Puri," jawab Edrea.
Azlan dan Erland kini saling pandang sesaat sebelum kembali menatap Edrea, lalu kedua laki-laki tampan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan mobil Azlan sedari tadi sudah berhenti di depan gerbang sekolah Edrea.