
Dua mobil yang ditumpangi oleh Azlan juga Erland kini telah berhenti disalah satu rumah besar. Lokasi rumah tersebut memanglah sangat jauh dari jangkauan masyarakat sekitar. Hanya ada lahan kosong di kanan, kiri dan belakang rumah tersebut. Kecuali di depan rumah itu yang langsung berhadapan dengan jalan yang sangat sepi, hanya sesekali ada kendaraan yang lewat.
Baru saja mereka berdua turun dari mobil mereka masing-masing, sudah disambut hangat oleh anak buah Azlan yang kebetulan tengah berjaga dan membukakan pintu untuk kedua bosnya itu.
Dengan langkah tegap ditambah aura yang sangat mematikan, keduanya kini masuk kedalam rumah yang dijadikan markas Azlan tersebut yang lagi-lagi disambut dengan para anak buah mereka berdua yang sudah berkumpul di sana.
"Kita mulai sekarang!" perintah Azlan dengan tegas, setelah ia duduk di sofa yang sudah disediakan oleh anak buahnya.
Perwakilan anak buah Azlan juga Erland tampak saling pandang sesaat, sebelum akhirnya anak buah Azlan lah yang maju terlebih dahulu dengan menyerahkan kertas lembaran yang berisi hasil penyelidikan mereka. Setelah itu ia kembali mundur beberapa langkah. Lalu ia mulai menjelaskan secara rinci hasil penyelidikan itu.
"Dari hasil penyelidikan saya dan tim selama satu hari penuh ini, kita hanya bisa menyimpulkan bahwa mobil itu mamang sempat masuk kedalam jurang tepat yang tuan Azlan tunjukkan ke kita. Dengan bukti goresan di beberapa batang pohon yang ada di bawah jalan itu, juga terdapat patahan ranting yang belum sepenuhnya jatuh ketanah. Dan jika diamati lebih cermat lagi di jalan raya itu, masih ada bekas gesekan ban mobil dengan aspal. Bisa disimpulkan juga saat sebelum masuk ke jurang, sang pengemudi mengerem secara mendadak dan sangat kuat yang berhasil membuat goresan itu." Anak buah Azlan tampak mengambil nafas sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Untuk dari kapan dan mulai darimana nona Edrea diikuti mobil penguntit itu, belum bisa kami simpulkan karena benar-benar jejaknya sangat sulit kami temukan. Juga masalah pistol, kami tak menemukan senjata api itu, bahkan jejak peluru yang digunakan untuk menembak nona Edrea, kami juga tak menemukannya. Semua Cctv juga sudah kita cek satu persatu tapi sayang Cctv dimalam itu sengaja di matikan. Alhasil kita tidak bisa mengetahui nomor plat penguntit, kronologi kejadian juga orang yang menolong nona Edrea," jelas anak buah Azlan.
Azlan sudah menebak hal itu. Memang lawannya ini bukan lawan ecek-ecek yang bisa dengan mudah ia taklukan.
Tapi jika penjahat itu mengincar Edrea dan ingin melihat adik bontotnya itu hancur. Kenapa harus menghilangkan jejak yang bisa dijadikan bukti untuk memasukan Edrea ke penjara? Dan juga kenapa Cctv dijalan itu sengaja di matikan? padahal dengan adanya bukti rekaman kejadian dari Cctv itu bisa lebih memudahkan mereka menghancurkan Edrea. Tak masuk akal memang.
__ADS_1
Maka dari ini semua Azlan bisa menyimpulkan bahwa yang sengaja menghilangkan semua bukti tadi bukan lah bos dari penguntit itu melainkan orang yang menolong Edrea.
Azlan meletakkan kertas dari anak buahnya tadi diatas meja depannya.
"Apa ada yang sudah kalian rencanakan untuk melanjutan penyelidikan kasus ini?" tanya Azlan dengan santai tapi terdengar sangat menyeramkan ditelinga orang lain.
"Kita akan melihat di Cctv restauran yang terakhir kali nona Edrea kunjungi. Kita akan cek satu persatu pengunjung dari rekaman Cctv restauran itu. Siapapun yang mencurigakan maka kami akan menyelidiki orang itu lebih dalam lagi," jawab anak buah Azlan.
Azlan tampak mengangguk-anggukan kepalanya, sepertinya ia puas dengan rencana anak buahnya itu.
"Cukup baik. Dan selama kalian menyelidiki kasus ini, saya akan mendampingi kalian. Kita akan cari tau bersama-sama dalang di balik permainan ini semua," tutur Azlan dengan tatapan murka yang terlihat jelas disana.
Setelah itu kini giliran anak buah Erland yang maju untuk menghadap ke kedua bosnya. Kemudian ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh anak buah Azlan tadi yaitu memberikan bukti penyelidikan mereka. Lalu ia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Dari hasil penyelidikan saya dan tim. Kami berhasil meretas GPS mobil yang mau menculik nona Edrea tadi pagi. Dan saat kita mulai bergerak mengikuti arah yang diberikan GPS itu, kami diarahkan ke suatu jurang yang sangat lah jauh dari tempat kita saat ini. Bahkan bisa dibilang jurang yang berada di pelosok desa di kota ini. Dan dijurang itu ada sebuah sungai yang mengakibatkan kita kesusahan dalam melanjutkan penyelidikan ini tadi karena situasi yang sedang tidak mendukung ditambah air sungai lagi meluap. Jadi untuk memastikannya lagi, kita akan kembali besok dan akan melacak posisi mobil itu. Jika cuaca dan situasi mendukung kita akan turun kebawah untuk memastikan semuanya lebih lanjut," jelas anak buah Erland.
Erland menganggukkan kepalanya. Ia paham dengan keresahan para anak buahnya dan ia juga tak mau menjerumuskan anak buahnya untuk lebih cepat menghadap dengan sang pencipta. Walaupun ia sangat penasaran dengan dalang di balik itu semua apalagi dengan beraninya menyangkut pautkan adik bontot kesayangannya itu. Tapi ia tak ingin egois dangan memerintah anak buahnya untuk hari itu juga harus menemukan mobil tersebut dengan cuaca yang sedang hujan deras dari mulai tadi siang saat pencarian berlangsung, ditambah air sungai tengah meluap melampaui batas wajar. Jika ia memaksakan egonya, pasti anak buahnya akan celaka sendiri nantinya.
__ADS_1
Dan tanpa berbicara, hanya dengan tatapan matanya saja, anak buah Erland bisa tau apa yang akan di tanyakan Erland selanjutnya. Maka dari itu dengan sigap ia menjelaskan tindakan yang akan ia lakukan nanti.
"Saya dan tim sudah mendiskusikan, jika situasinya sudah benar-benar aman dan air sungai sudah tak deras lagi, kita akan mencari seseorang yang ahli dalam berenang untuk melihat kedalam air sungai itu. Karena saya yakin mobil itu memang berada di dalam sungai itu," ucap anak buah Erland.
"Baik. Lakukan yang terbaik buat kasus ini. Saya juga akan terjun langsung dalam penyelidikan ini," tutur Erland dengan tegas.
"Baik tuan," ucapnya kemudian ia kembali ke posisinya tadi.
Saat dirasa semuanya sudah tak ada yang perlu dibahas lagi, Azlan langsung membubarkan semua orang yang berada di sana.
Setelah semuanya pergi dari hadapan Azlan dan Erland, kedua laki-laki itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Siapa sebenarnya lawan mereka? Sungguh sangat kuat dan banyak akalnya juga ternyata.
"Bang, kira-kira siapa dalangnya?" tanya Erland tiba-tiba sembari merebahkan punggungnya di kepala sofa.
Azlan pun melakukan hal yang sama dengan Erland untuk menyenderkan punggungnya itu.
"Gue juga gak tau. Makanya kita lagi cari tau ini. Kalau gue udah tau, kenapa kita harus pusing-pusing cari dalang dari ini semua," geram Azlan sembari mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Ya iya sih. Toh gue tadi juga bilang dengan kata kira-kira lho bang. Jadi lo hanya perlu nebak aja. Tapi ya bang menurut filing gue, dalang dari ini semua bukan hanya satu melainkan dua orang atau bisa juga lebih." Azlan yang tadinya memejamkan matanya, kini ia membuka kembali matanya dan menoleh ke arah Erland dengan kerutan di keningnya.