
Leon terus berlari menelusuri jalanan yang tak jauh dari restoran miliknya itu dengan mata yang aktif melihat ke sekeliling jalanan tersebut.
"Kemana sih mereka?" gumam Leon yang sudah tak tenang bahkan pikirannya kini tak bisa ia ajak bekerjasama, selalu saja berpikir negatif tentang keadaan kedua perempuan kesayangannya itu. Terlebih, ponsel milik Edrea yang sedari tadi ia coba untuk hubungi, ponsel tersebut tak aktif.
"Come on, berpikir yang positif," geram Leon sembari menjambak rambutnya frustasi.
"Apa jangan-jangan mereka lagi ke taman. Ya, mereka pasti ke situ," sambung Leon, lalu setelahnya ia kembali berlari menuju ke sebuah taman yang memang tak jauh dari restoran itu.
Hanya butuh beberapa menit saja, Leon akhirnya sampai di tempat tujuan. Dan saat ia sampai, ia mengedarkan pandangannya hingga akhirnya ia menemukan dua orang yang sedari tadi ia cari itu.
"Edne!" teriak Leon.
Edrea yang merasa dirinya dipanggil pun ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara tadi. Dan belum sempat ia mempersiapkan dirinya untuk menerima pelukan dari Leon, tubuh laki-laki itu lebih dulu mendarat di pelukannya dan hal itu membuat Edrea hampir saja terjatuh ke belakang.
"Kenapa gak bilang dulu kalau mau pergi?" ucap Leon tanpa melepaskan pelukannya itu.
"Lah emang harus bilang dulu gitu sama lo?" bukannya langsung menjawab atau setidaknya meminta maaf karena sudah membuat Leon khawatir, Edrea justru bertanya balik.
Leon berdecak sembari melepaskan pelukannya tersebut.
"Ya harus lah. Lo tau, gue panik saat gak lihat lo sama Callie di ruangan tadi," ujar Leon.
"Mana ponsel lo juga gak aktif lagi. Ck, menyebalkan," sambung Leon yang kini membuat Edrea meringis memamerkan deretan giginya.
"Hehehe ya maaf, ponsel gue habis daya baterainya," ujar Edrea sembari menunjuk ponselnya yang sedari tadi berada di genggamannya itu.
"Ck, lain kali kalau mau keluar, ngomong dulu sama gue. Biar gue gak panik kayak tadi," ujar Leon.
"Lain kali? Emangnya gue mau tinggal di ruangan itu lagi nanti dan seterusnya? Gak kali, gue mau pulang," tutur Edrea.
"Ya maksud gue tuh kalau lo suatu saat mau menginap di sana lagi," ucap Leon.
"Tapi gue gak mau menginap disana lagi. Disana ruangan kecil, hirup oksigen aja rebutan. Mana bisa gue betah tidur disana lagi," ujar Edrea sembari duduk di salah satu kursi di taman tersebut yang lebih dulu di duduki oleh Callie.
"Kalau lo mau gue menginap lagi, harusnya tuh di rumah mewah yang disetiap ruangannya itu sangat luas. Biar kita gak rebutan oksigen lagi dan kalau gue sama Callie mau main gak harus capek-capek keluar rumah. Iya kan Cal?" sambung Edrea dengan niatan untuk menjahili Leon saja.
__ADS_1
Callie yang sedari tadi tengah asik makan-makan ringan pun kini ia menoleh kearah Edrea.
"Iya," jawab Callie.
"Tuh Callie aja satu pendapat sama gue," ujar Edrea dengan bangga.
Leon kini memutar bola matanya malas lalu ia menjongkokan tubuhnya di depan Callie.
"Daddy tanya sama Callie. Cal tadi mengiyakan ucapan Mommy, memangnya Callie tadi mendengarkan keseluruhan dari ucapan Mommy tadi?" tanya Leon yang mendapat gelengan kepala oleh Callie.
"Memangnya Mommy tanya apa? Callie tadi tidak memperhatikan, hanya dengar perkataan terakhir Mommy saja," ucap Callie sembari menatap kearah Edrea.
Edrea yang tadi mengembangkan senyumannya, senyuman itu luntur saat Callie ternyata tak mendengar ucapannya sedari tadi.
"Mommy tadi bertanya apakah rumah Daddy kecil?" tanya Leon mewakili Edrea.
"Tidak. Rumah Daddy besar. Sangat besar. Mommy sih sibuk terus jadi tidak pernah pulang kerumah. Jadinya lupa sama rumahnya sendiri," ujar Callie yang justru menyalahkan Edrea.
Edrea yang mendengar hal itu pun kini ia mengerutkan keningnya.
"Ck, yang kita tinggali itu bukan rumah tau Cal, tapi hanya sebuah ruangan kecil," tutur Edrea.
"Tapi---"
"Sudah-sudah. Jadi begini Edne, sayang. Selama ini gue tinggal bukan di ruangan yang tadi malam kita tempati itu tapi gue tinggal di salah satu rumah di kota ini. Dan kenapa ruangan itu gue desain seperti sebuah kamar, ya karena kalau gue capek kerja gue bisa langsung tidur disana," tutur Leon.
"Dan setelah ini, kita ke rumah itu. Biar lo tau tempat tinggal calon suami lo ini," sambung Leon yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.
"Belum tentu gue mau nikah sama lo," ujar Edrea sembari berdiri dari duduknya dan mulai berjalan mendahului kedua orang tersebut.
"Kita lihat saja nanti," tutur Leon yang telah mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Edrea sembari dirinya menggendong tubuh Callie.
...****************...
Dan sesuai dengan yang Leon katakan tadi, setelah mereka bertiga sarapan pagi, ketiganya langsung menuju ke rumah milik Leon.
__ADS_1
Edrea yang baru turun dari dalam mobil pun sempat tertegun melihat kemewahan rumah tersebut.
"Lo gak lagi salah alamat kan?" tanya Edrea.
"Gak lah. Ngapain salah alamat segala. Gue juga gak gila kali harus berpura-pura menjadi pemilik rumah ini di depan calon istri sendiri. Udah yuk masuk aja. Callie juga mau berangkat ke sekolah soalnya," ujar Leon yang membuat Edrea tersadar.
"Astaga. Gue lupa kalau hari ini bukan weekend. Arkkhhhhhhh," ucap Edrea dan saat dirinya ingin pergi dari samping Leon. Leon dengan sigap menghadang jalan Edrea.
"Mau kemana?"
"Pulang lah. Gue mau ke sekolah juga," ujar Edrea.
"Gak usah repot-repot buat pulang segala. Seragam sekolah lo udah gue siapin di dalam," tutur Leon.
"Lagian kalau lo mau pulang dulu, waktunya gak akan ke kejar. Ini udah jam 6 lebih soalnya," sambung Leon sembari memperlihatkan layar ponselnya kearah Edrea.
Edrea kini berdecak sebal.
"Ck, ya udah. Buruan masuk dan kasih tau gue dimana seragam sekolah gue," ujar Edrea dengan menarik-narik lengan Leon.
Leon yang melihat tingkah Edrea pun terkekeh kecil tapi ia terus mengikuti langkah Edrea tersebut.
Dan baru saja Edrea berada di depan pintu masuk, ia menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Leon.
"Callie dimana?" Leon memberikan kode kepada Edrea lewat matanya.
"Dia aman, udah ditangani sama baby sitternya," ujar Leon yang membuat Edrea menghela nafas lega. Setidaknya ia tak ribet sendiri nanti untuk menyiapkan keperluan sekolah untuk Callie dan dirinya.
"Jadi gimana. Mau masuk gak ini?" tutur Leon.
"Masuk. Tapi bisa gak, tuh para mbak-mbak disuruh pergi dulu. Gue gak enak lewatin mereka saat mereka nunduk gitu. Gue bukan ratu kerajaan soalnya," ujar Edrea.
Leon kini mengedarkan pandangannya ke para pekerja rumahnya. Sebelum dirinya mulai angkat suara.
__ADS_1
"Kalian semua boleh kembali ke aktivitas kalian masing-masing," perintah Leon. Dan tanpa hitungan detik semua perkeja rumah tersebut mulai meninggalkan tempat tadi.
"Mereka sudah pergi. Dan kita masuk sekarang," ujar Leon sembari menggandeng tangan Edrea. Dan kedua orang tadi kini melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah itu tanpa melepaskan gandengan tangan tersebut.