The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 62


__ADS_3

Zea perlahan memasuki kelas Azlan setelah ia mencari keberadaan laki-laki itu di penjuru sekolah tadi.


"Permisi, apa ada Azlan disini?" tanya Zea kepada seluruh penghuni kelas tersebut.


"Azlan baru saja keluar," jawab salah satu siswa disana. Zea pun mengangguk sembari tersenyum.


"Thanks ya buat infonya," ucap Zea. Kemudian dengan segera ia melangkahkan kakinya, tapi baru saja beberapa langkah bunyi bel masuk berbunyi dan membuat Zea menghentikan langkahnya.


"Haish, kenapa udah bel aja sih," geram Zea tapi sesaat kemudian ia memutar tubuhnya menuju ke kelas.


Bertepatan saat dirinya masuk kedalam kelas, Azlan baru kembali dari kamar mandi dan segera masuk kedalam kelasnya untuk memulai pelajaran pertamanya itu.


...****************...


Kini istirahat kedua telah dimulai dan Zea yang sedari tadi pagi hingga siang ini belum menemukan keberadaan Azlan pun segera berlari menuju ke kelas Azlan agar ia tak kehilangan jejak laki-laki tersebut. Tapi sayang saat dirinya sudah disana, orang yang ia cari ternyata sudah kembali menghilang.


Zea mendengus kesal dan dengan menghentakkan kakinya ia pergi dari kelas tadi menuju perpustakaan, tempat terakhir yang akan ia kunjungi untuk mencari Azlan. Jika ditempat itu ia belum menemukan Azlan, ia sudah tak akan mencari laki-laki tampan tersebut.


Kini Zea telah sampai di depan pintu perpustakaan tersebut dan ia mengintip isi didalam perpustakaan itu yang tampak ramai.


"Ck, kalau cuma cari dari sini aja kapan ketemunya," gumam Zea. Setelah itu ia bergegas masuk kedalam perpustakaan yang selama 2 tahun ia bersekolah di SMA Balerix baru pertama ini dia berkunjung di ruangan yang bernama perpustakaan itu. Menurutnya berkunjung di perpustakaan hanya untuk orang-orang pintar saja, bukan untuk orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk berpikir terlalu dangkal sepertinya. Dan perpustakaan juga membuat dirinya pusing hanya karena melihat buku-buku di sana.

__ADS_1


Perlahan dan dengan teliti Zea menelisik setiap orang yang berada disana dan setiap lorong ia selalu melihatnya. Hingga matanya kini menemukan sosok manusia tampan yang sedari tadi ia cari tengah duduk di kursi paling pojok dengan buku di depannya.


Zea segera menghampiri Azlan dengan senyum merekah. Setelah sampai, ia mendudukkan tubuhnya di depan Azlan yang hanya dibatasi oleh meja saja.


"Ehem," dehem Zea sembari melihat kearah Azlan yang tingkat ketampanannya semakin bertambah jika tengah serius seperti saat ini.


Azlan yang masih tetap fokus pun tak menggubris deheman dari Zea yang belum ia sadari keberadaannya.


"Az," panggil Zea dengan lirih takut jika suaranya tadi mengganggu orang lain.


Azlan masih bergeming dan terus melanjutkan aktivitas membacanya. Sedangkan Zea kini berdecak sebal, kemudian ia mencondongkan tubuhnya agar bisa meraih buku yang tengah mencuri perhatian Azlan sedari tadi.


Saat buku tersebut sudah berpindah tangan, Azlan baru mengalihkan pandangannya dan menatap orang yang berani-beraninya mengganggu ketenangannya. Dan saat dia tau orang tersebut adalah Zea, ia hanya berdecak lalu beranjak dari duduknya.


"Hehehe maaf maaf, lanjutin aja bacanya," ucap Zea saat beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan tak senang. Setelahnya ia langsung bergegas menghampiri Azlan yang sibuk memilih-milih buku di salah satu rak di depannya.


"Azlan," panggil Zea. Azlan masih bungkam tak ada niat untuk menjawab panggilan dari Zea.


"Ck, Lo kenapa sih, tiba-tiba diam, ngilang, dan kayak ngambek gitu dari tadi pagi? Gue ada salah kah sama lo?" tanya Zea. Tapi Azlan lagi-lagi tak menjawab pertanyaan itu.


"Az, jawab kek. Satu kata aja gak papa asal jangan diam kayak gini. Gak enak tau Az. Kalau gue ada salah sama lo, gue minta maaf. Dan ini buku lo gue balikin." Zea menyerahkan kembali buku yang tadi ia rebut kearah Azlan. Tanpa hitungan detik Azlan menampik buku tersebut agar menjauh dari dirinya bahkan buku tadi sekarang terlepas dari tangan Zea.

__ADS_1


Zea menatap wajah Azlan yang seakan-akan tak peduli dengan dirinya karena sudah fokus kembali dengan buku baru yang ia temukan. Ia menghela nafas sebelum mengambil buku tadi dan saat dirinya ingin mengembalikan buku tersebut di tempatnya, tak sengaja ada seseorang yang tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga membuat dirinya terhuyung, jatuh kelantai dan karena tak kesengajaannya pula, buku yang ada di rak yang sama dengan buku tadi terjatuh dan diperkirakan akan mendarat mengenai dirinya yang sudah pasrah dengan semua itu. Ia hanya menutup matanya sembari melindungi kepalanya.


Brukkk!!


Suara buku jatuh terdengar di telinganya namun anehnya ia tak merasakan sakit sedikitpun. Perlahan matanya kini terbuka dan seketika ia menatap ke sekeliling yang terdapat banyak buku jatuh disana kemudian ia menengadah wajahnya menatap keatas yang ternyata ada Azlan disana dan kemungkinan buku tadi mengenai tubuh Azlan yang melindunginya.


Zea segera berdiri dari lantai tersebut.


"Lo gak papa kan?" tanya Zea. Azlan tak menjawab, ia langsung membereskan kekacauan tadi dan setelah selesai ia segera pergi keluar dari ruangan tersebut.


"Azlan!" teriak Zea sembari berlari menghampiri Azlan yang sudah menjauh darinya.


"Az, lo kenapa sih?" teriak Zea frustasi. Biarkan saja siswa/siswi di sekolah itu mengira dirinya gila karena sudah berteriak-teriak tak jelas seperti tadi.


Azlan yang mendengar teriakkan tadi sempat berhenti sesaat tanpa menoleh kearah Zea. Zea pun kembali berlari hingga sampai di depan Azlan.


"Gue capek cari lo dari tadi dan saat gue udah nemuin lo. Lo malah diemin gue kayak gini. Kalau gue punya salah, gue minta maaf dan kalau lo udah gak mau temenan sama gue lagi, gue janji ini terakhir kalinya gue ganggu lo. Dan makasih buat semua kebaikan lo sama gue." Azlan masih saja diam membisu.


Zea menghela nafas. Mungkin memang Azlan sudah lelah berteman dengannya yang hanya bisa merepotkan saja, pikir Zea.


"Sekali lagi gue minta maaf dan terimakasih sama lo. Kalau lo butuh gue, lo temuin aja gue atau telepon gue. Gue dengan senang hati akan bantu lo kalau lo lagi ada masalah. Tapi gak mungkin sih kalau lo ada masalah terus bilang ke gue sedangkan lo sendiri udah bisa menangani itu sendiri tanpa bantuan gue yang memang gak ada gunanya ini hehehe," ucap Zea sembari terkekeh untuk menghibur dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu Az, sampai nanti bye," pamit Zea sembari melangkahkan kakinya yang terasa berat meninggalkan Azlan yang masih terdiam di tempat tadi.


Dan saat dirinya sudah di pertengahan jalan, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Zea sempat memberontak tapi setelah ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan orang tadi, dirinya terdiam dan mengikuti langkah orang tersebut yang ternyata membawanya ke atas rooftop sekolahan itu.


__ADS_2