
Setelah hampir 2 jam mereka menelusuri dan mengobrak-abrik kamar yang cukup luas itu tapi mereka tak mendapatkan sedikit informasi tentang identitas Zico.
"Gak ada yang penting di sini," tutur Azlan dengan merebahkan tubuhnya diatas ranjang dikamar tersebut.
"Masih banyak ruangan yang harus kita telusuri. Kamu mah nyerah dulu baru juga berjuang dikit aja udah ngerasa capek. Cih, modelan cowok begini gimana nanti nafkahi anak dan istrinya," tutur Vivian tanpa merasa canggung dengan Daddy Aiden dan Mommy Della yang tengah memperhatikannya.
Azlan mencebikkan bibirnya dan segera bangkit dari posisi tidurnya setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
"Cih ngambek kek gadis aja lo," cibir Erland.
"Bacot," teriak Azlan sembari memberikan jari tengahnya.
"Azlan!" peringat Mommy Della.
"Kelepasan Mom. Buru kalau mau lanjut, jangan banyak bicara mulu," ucap Azlan.
Erland terkekeh saat sang Mommy memperingati tingkah Azlan tadi sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya setelah itu mereka satu persatu keluar dari kamar tersebut dan mengikuti langkah Azlan yang kini telah berdiri di salah satu pintu yang berada tepat disebelah kamar tersebut.
"Mending kita pencar aja deh. Kalau gerombolan gini dan cari satu-satu ruangan dalam tiga lantai pasti lama selesainya dan gak bakal dapat-dapat bukti identitas si brengsek itu," tutur Erland memberi usulan.
"Gak perlu. Lantai satu dan dua udah di tangani anak buahku. Mereka akan cari disetiap ruangan yang ada dilantai itu. Tugas kita cuma di lantai ini dan di lantai ini juga ruangannya gak banyak. Dan aku yakin setiap ruangan luasnya mungkin hampir sama seperti kamar itu tadi dan kalau dikerjakan oleh dua atau tiga orang aja bakal butuh waktu berjam-jam. Dan lebih baik kita sama-sama carinya di satu ruangan baru pindah lagi keruangan yang lain kalau kita gak nemuin apapun diruangan itu. Biar hemat waktu juga," ucap Vivian.
Semua orang kini menatap kearah Vivian dengan kerutan di keningnya. Vivian yang paham akan keterbingungan dari orang-orang disana pun kembali angkat bicara.
"Aku tadi saat keluar dari kamar itu, aku hubungin anak buahku yang tadi sempat ikut tapi emang aku biarin diluar buat bantu kita karena menurut dari pandanganku kita gak akan pernah selesai ngobrak-abrik rumah ini sendirian. Mungkin bisa tapi butuh waktu 3 hari baru selesai," sambung Vivian.
Orang-orang disana pun menganggukkan kepalanya paham setelah itu mereka kembali fokus kearah pintu didepan. Azlan kini bergerak untuk membuka pintu tersebut dan lagi-lagi pintu itu terkunci.
"Ini gak ada yang bawa kunci cadangan dari ruangan disini kah?" tutur Azlan dengan raut memelas.
"Kalau pintunya kekunci terus yang ada badan Azlan hancur berkeping-keping nanti," sambungnya.
__ADS_1
"Astaga. Sejak kapan kamu lebay gini, Az. Mengerikan," ucap Vivian dengan begidik ngeri.
"Biar Daddy bantu kalian buat dobrak pintunya. Karena kalau kita akali pakai apapun pintunya juga gak akan bisa terbuka karena pintu itu menggunakan smart key," tutur Daddy Aiden sembari menunjuk dibawah knop pintu yang masih dalam genggaman Azlan.
"Jadi ini di dobrak lagi?"
"Iya lah. Jangan banyak ngeluh Azlan. Kamu tuh anak laki-laki. Gitu aja ngeluh mulu. Ini gak seberapa dibandingkan nanti kamu cari nafkah dan lain sebagainya buat keluarga kamu nantinya," tutur Daddy Aiden.
"Dari tadi bahas nafkah dan keluarga mulu. Giliran izin buat nikah gak diizinin. Emang dasar," gerutu Azlan sembari melangkahkan kakinya menuju kearah Daddy Aiden dan Erland yang sudah mengambil ancang-ancang.
"Ngomong mulu dari tadi. Buruan bertindak!" geram Mommy Della yang benar-benar sudah lelah mendengar suara dari para laki-laki itu.
Azlan dan dua laki-laki lainnya kini mengatupkan mulutnya tak berani lagi untuk membuka suara dan dengan aba-aba dari Mommy Della akhirnya mereka bertiga kini mulai mendobrak pintu tersebut hingga pintu itu terbuka.
"Sampai rumah harus pijat ini," tutur Erland sembari memijat lengannya yang terasa sakit itu sembari jalan memasuki sebuah ruangan yang cukup gelap dan hanya sebagian saja yang terlihat karena mendapat sinar dari luar ruangan tersebut hingga Edrea menghidupkan lampu diruang tersebut barulah mereka melihat keseluruhan isi didalam ruangan tadi.
Ruangan yang penuh dengan buku, kertas yang berhamburan, guci yang cukup besar di dua sudut, satu buah meja, 3 kursi juga ada satu set sofa yang berada diruangan tak kalah hitam dari kamar tadi. Tapi ada yang lebih menarik lagi dari pada itu semua yaitu adanya satu pintu yang tampak mengintip dari belakang salah satu rak buku disana dan itu baru Vivian yang melihatnya.
Azlan yang tak sengaja melihat pergerakan dari Vivian pun, ia kini mengikuti arah pandang dari perempuan itu. Dan saat melihat objek yang sama seperti Vivian, Azlan juga melangkahkan kakinya sedangkan yang lainnya hanya terbengong di tempatnya.
"Tolong bantu geser rak buku ini dong," pinta Vivian saat melihat Azlan sudah berdiri disampingnya.
Azlan pun menganggukkan kepalanya dan ia mulai membantu Vivian untuk menggeser rak buku tersebut. Daddy Aiden dan Erland tak tinggal diam, mereka juga ikut bergerak untuk membantu Azlan dan Vivian hingga rak buku itu sudah menyingkir dan kini pintu yang Vivian lihat tadi telah sepenuhnya terlihat.
Vivian tak ingin mengulur waktu lagi, ia segera membuka pintu tersebut tapi lagi-lagi tak bisa, dan hal itu membuat semua orang disana berdecak sebal.
"Sepertinya ini memerlukan tombol khusus untuk membuka pintunya. Coba cari dimana tombol itu berada mungkin masih disekitar sini," tutur Vivian. Mereka pun segera bergerak mencari tombol yang mereka curigai berkaitan dengan pintu tersebut.
Edrea yang sering membaca sebuah cerita yang penuh teka-teki pun kini mulai melancarkan aksinya sesuai dengan bacaannya itu dengan melihat dibalik lukisan yang ada disana. Siapa tau memang disitulah tombol itu disembunyikan oleh Zico. Tapi hingga tulisan terakhir Edrea tak mendapatkan apa-apa hingga ia dengan inisiatif menggeser guci yang hampir sama dengan tinggi badannya itu dengan susah payah.
"Dapat!" jerit Edrea kegirangan.
__ADS_1
Semua orang pun langsung merapat kearah dirinya dan saat Edrea menekan tombol tersebut, pintu itu seketika berbunyi...
"Welcome in secret room."
Setalah mendengar suara tersebut mereka kembali kearah pintu tersebut dan mulai membukanya.
"Kosong, gak ada apa-apa. Ck percuma. Buang-buang waktu aja," gerutu Erland.
Mungkin itu pemikiran dari Mommy Della, Azlan, Erland dan juga Edrea tapi tidak dengan Vivian dan Daddy Aiden yang kini keduanya tengah melangkah lebih dalam lagi kedalam ruangan itu hingga mereka menemukan cahaya merah di pojok ruangan tersebut.
"Tombol lagi?" gumam Vivian.
"Coba kamu tekan." Vivian mengangguk dan kini tangannya bergerak untuk menyentuh tombol tersebut dan betapa terkejutnya mereka semua saat di tengah-tengah lantai itu bergerak dan menampilkan sebuah tangga yang mengarah ke sebuah ruangan lagi di bawah lantai tersebut.
"Wow. Amazing," ucap Erland dengan bertepuk tangan ringan tak terkecuali dengan Azlan yang juga ikut bertepuk tangan dengan apa yang ia lihat saat ini dan hal-hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Sedangkan Edrea, ia hanya bisa melongo. Sebegitu misteriuskah Zico. Ia benar-benar baru tau kenyataan itu saat ini juga.
"Siapin flash ponsel kalian buat penerangan," perintah Daddy Aiden yang langsung dilakukan oleh semua orang disana.
"Dan kamu sayang, kesini. Jangan jauh-jauh dari aku," ucap Daddy Aiden. Semua orang terkecuali Vivian memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya Daddy Aiden bucin diwaktu menegangkan seperti saat ini. Sedangkan Vivian hanya tersenyum melihat keromantisan kedua manusia itu. Bahkan ia sempat berandai-andai jika orangtuanya masih ada mungkin mereka akan sama bucinnya seperti kedua orangtua Triplets. Tapi ya sudah lah, semuanya sudah menjadi takdir untuknya dan orangtuanya yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
"Apa kalian lihat-lihat? masuk buruan. Dad sama Mom dibelakang," tutur Daddy Aiden. Triplets yang tak ingin mengulur waktu pun kini mulai menuruni anak tangga bersama dengan Vivian.
Edrea yang takut akan kegelapan pun menggenggam tangan Vivian dengan erat.
"Tenang, gak usah takut ada aku disamping kamu, didepan kamu ada abang-abang kamu dan di belakang kamu ada orangtua kamu. Gak perlu takut, oke. Bentar lagi kita sampai di bawah setalah itu kita cari saklar buat hidupin lampu disana," bisik Vivian untuk menenangkan Edrea.
Edrea hanya menganggukkan kepalanya tapi genggaman tangannya tak terlepas dari tangan Vivian hingga mereka kini menginjakkan kakinya di lantai ruangan tersebut.
"Az, Er. Pegangin adik kalian. Biar aku cari saklar lampunya," tutur Vivian dan tanpa menunggu lama kedua laki-laki itu sudah berada disisi kanan dan kiri Edrea saat Vivian sudah bergerak mencari saklar lampu diruang tersebut.
__ADS_1
Dan setelah Vivian mendapatkannya dibantu dengan sinar ponselnya yang remang-remang, ia segera menyalakan lampu diruangan tersebut. Saat lampu menyala, tubuh mereka seketika membeku ditempat saat melihat seluruh isi di ruangan tersebut.