The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 103


__ADS_3

3 hari setelah kejadian Azlan dan Erland menghebohkan satu mall hanya untuk menjemput Edrea saja. Pada saat itu pula Edrea masih enggan untuk mencari keributan dengan kedua Abangnya itu. Bahkan saling tegur sapa saja ia enggan melakukannya. Hal itu membuat Azlan maupun Erland menghela nafas sabar dengan tingkah kekanak-kanakan Edrea.


Sama seperti sekarang ini saat satu keluarga sudah menyelesaikan acara makan malam mereka, Edrea yang selalu ikut berkumpul di ruang keluarga pun, tadi setelah menyelesaikan makannya ia langsung berpamitan ke kedua orangtuanya untuk kembali ke kamar dan hanya diangguki oleh keduanya. Mereka tak tau apa yang menyebabkan Edrea murung akhir-akhir ini bahkan saat Mommy Della ataupun Daddy Aiden mengajaknya berbicara supaya anak bontotnya itu bisa bercerita masalah apa yang tengah ia hadapi. Namun nyatanya Edrea sama sekali tak menceritakan keluh kesahnya, justru ia malah bermanja-manjaan dengan kedua orangtuanya.


"Abang punya masalah sama Rea?" tanya Mommy Della saat keheningan menyelimuti ruang keluarga.


Azlan dan Erland menolehkan kepalanya kearah Mommy Della.


"Enggak tuh," jawab Azlan.


"Erland juga gak punya masalah sama bocah itu. Emang dasar dianya aja yang kekanak-kanakan. Apa-apa harus sesuai dengan kemauan dia. Apa-apa harus ngikuti apa yang dia mau. Kebanyakan merengek kalau apa yang dia mau gak kesampaian," cibir Erland yang sepertinya tengah meluapkan kekesalan terhadap Edrea. Bukan kesal karena hal yang negatif, tapi ia kesal kenapa Edrea selalu saja bertingkah semaunya, melawan apa yang di perintahkan padahal itu juga untuk keselamatan Edrea.


"Bang Er gak boleh gitu ih. Maklumin aja toh dia begitu juga karena kalian yang selalu manjain Rea," tutur Mommy Della jujur. Sebenarnya dirinya juga Daddy Aiden tak pernah memanjakan Edrea tapi justru yang memanjangkan anak perempuan satu-satunya itu adalah Azlan dan Erland. Apa yang diinginkan Edrea pasti mereka penuhi walaupun kadang ada pertengkaran kecil tapi tetap saja mereka berdua akan mengabulkan permintaan Edrea. Jadi siapa yang harus disalahkan untuk bertanggungjawab atas sifat manja dari Edrea ini? Kedua Abangnya atau kedua orangtuanya?


"Mending kalian ke kamar dia sana. Tanya ke dia kenapa akhir-akhir ini sering murung!" perintah Daddy Aiden yang sedari tadi rebahan dengan paha Mommy Della yang menjadi bantalannya.


Azlan dan Erland yang mendengar perintah dari sang Daddy pun, mereka berdua secara serempak menghela nafas kemudian beranjak dari duduknya menuju lantai atas dimana kamar Edrea berada. Kepergian mereka berdua meninggalkan Mommy Della dan Daddy Aiden yang semakin melancarkan aksi bermesraannya.


Kini kaki kedua laki-laki tampan itu berhenti di depan pintu kamar Edrea dan dengan segera ia mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!!!


"Buka pintunya! kalau lo gak mau buka, jangan salahkan Abang kalau sampai lo nanti tidur tanpa terhalang pintu!" teriak Azlan.


Hening, tak ada jawaban dari sang empu. Sepertinya ancaman dari Azlan tadi tak mempan bagi Edrea yang sekarang tengah asik menonton drama dari negara ginseng itu.

__ADS_1


"Edrea!" teriak Azlan yang mulai tersulut emosi.


Edrea yang merasa ketenangannya terganggu pun mencebikkan bibirnya dan menutup telinganya dengan guling. Ia sama sekali tak ingin bertemu dengan kedua manusia tampan tapi menyebalkan itu.


"Oke kalau lo tetap gak mau buka. Jangan salahin Abang kalau kartu ATM yang Lo sekarang pegang akan terblokir semua!" kini giliran Erland yang mengancam Edrea. Dan sepertinya ancaman kali ini berhasil, terbukti dengan terdengarnya suara kaki yang tengah berlari menuju pintu kamar tersebut. Benar saja, pintu yang ada di hadapan Azlan dan Erland kini terbuka walaupun hanya sedikit saja.


"Kenapa?" tanya Edrea dengan wajah datarnya. Azlan dan Erland yang melihat hal itu bukannya takut mereka malah memutar bola mata malas dan kedua orang tersebut kini mendorong pintu tersebut agar pintu itu terbuka lebar. Setelah berhasil, mereka berdua langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar dengan serba-serbi warna serba pink itu tanpa izin dan permisi terlebih dahulu dari si pemilik kamar.


Edrea yang tubuhnya tadi ikut terhuyung ke belakang pun kini mengumpati kedua Abangnya itu. Untung saja dirinya tadi bisa menyeimbangkan tubuhnya jika tidak tubuhnya itu pasti akan terjatuh dan kepalanya kemungkinan akan terbentur tembok.


Kini ia menutup kembali pintu kamarnya saat melihat Azlan dan Erland sudah duduk di atas sofa di kamar tersebut dengan tangan mereka yang terlipat di depan dada tak lupa tatapan mata tajam mereka berdua mengarah ke Edrea.


Edrea menelan salivanya dengan kasar saat tubuhnya berputar dan mendapati tatapan tajam dari kedua Abangnya. Tapi hal itu tak akan menggoyahkan niatnya untuk melakukan mogok bicara dengan kedua Abangnya. Edrea perlahan menghampiri keduanya dan setelah sampai ia langsung duduk di depan mereka berdua.


Azlan dan Erland lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.


"Katakan mau lo apa?" tanya Azlan.


"Gak ada," jawab Edrea masih dengan cueknya.


Azlan tampak mengangguk.


"Ada masalah?" kini giliran Erland yang bertanya. Edrea menggelengkan kepalanya. Padahal di dalam hati ia sudah berteriak bahwa awal mulai masalah di dirinya itu karena kedua Abangnya yang sangat menyebalkan.


"Terus kenapa jadi diam?" tanya Azlan lagi.

__ADS_1


Edrea hanya terdiam, tak ingin dan tak ada niatan untuk menjawab ucapan dari kedua Abangnya itu.


"Kita berdua sebenarnya tau hal apa yang buat lo diam gini."


"Kalau tau kenapa masih nanya," ketus Edrea.


"Kita nanya hanya untuk memastikan. Lo juga, jangan mentang-mentang Abang manjain lo dari dulu, jadi semua apa yang lo inginkan terpenuhi," geram Erland.


"Rea gak pernah minta Abang untuk manjain Rea. Rea hanya ingin bebas aja dari kalian yang selalu ngekang Rea saat Rea mau kesana mau kesini sama teman-teman Rea. Rea juga mau refreshing saat otak Rea sudah mulai jenuh dengan pelajaran tanpa gangguan kalian berdua. Rea mau bebas bang, Rea mau bebas," ucap Edrea dengan suara yang sudah meninggi.


"Kita ngelakuin hal itu juga karena kita mau lindungi lo. Kita peduli sama lo. Di luar sana masih belum aman buat lo kemana-mana Rea. Masih banyak orang yang mengincar nyawa lo. Apa lo tau kejadian pada malam itu ulah siapa hah?" tak ada jawaban dari Edrea karena ia tak tau dalang dari kejadian tempo hari itu.


"Itu semua ulah teman lo. Yang sangat benci sama lo. Lo pasti kenal sama dia. Karena dia yang selalu cari gara-gara sama lo di sekolah. Dalang dari malam itu adalah Puri, Re. Puri. Kita ngorbanin waktu istirahat kita buat nyelidiki kasus lo. Pasti lo pikir kita ngelakuin hal itu dengan pamrih kan. Gak Re, kita ngelakuin hal itu karena kita berdua sayang sama lo, kita gak mau kehilangan lo. Dan saat kita berdua hanya mau lo tetap dalam pengawasan kita, lo malah seenak jidat pergi gitu aja tanpa kasih kabar ke kita. Kita hanya pengen lo duduk manis tanpa memberontak seperti ini Re." Habis sudah kesabaran Erland untuk menghadapi Edrea yang masih saja keras kepala.


Azlan menghela nafas saat mendengar perdebatan dari kedua adiknya itu.


"Udah Er. Lo tenang dulu," ucap Azlan dengan menepuk pundak Erland.


Erland kini mengalihkan pandangannya kelain arah dengan nafas yang memburu.


Sedangkan Azlan, ia kini menatap tajam kearah Edrea.


"Lo mau kebebasan bukan? Oke, gue turutin keinginan lo." Azlan kini beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar tersebut menuju kamarnya untuk mengambil kunci, surat mobil dan juga SIM milik Edrea. Setelah menemukan barang-barang tersebut, ia kembali masuk kedalam kamar Edrea. Setelah sampai ia melempar ketiga barang tersebut tepat di meja depan Edrea.


"Gue balikin mobil lo. Lo sekarang bebas mau kemana aja terserah. Kita gak akan mantau lo lagi," ucap Azlan kemudian ia kembali beranjak keluar dari kamar Edrea diikuti Erland yang juga ikut keluar dari kamar tersebut meninggalkan Edrea yang sedari tadi menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Erland tadi dan diam-diam dirinya menangis tanpa di ketahui keduanya.

__ADS_1


__ADS_2