The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 342


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang Zico kemarin katakan bahwa hari ini tepat di sore hari ia dan Vivian akan menuju ke rumah yang dulunya ia anggap musuh itu.


"Kakak pulangnya jam berapa sih?" tanya Zico dengan seseorang yang berada di sebrang telepon.


📞 : "Pulang kayak biasanya paling jam 5," jawab Vivian.


"Ck, apa Kakak lupa kalau hari ini kita harus kerumah Daddy Aiden. Kakak pulang sekarang juga!" ucap Zico tak mau tau dengan kerempongan yang tengah terjadi di butik sang Kakak.


📞 : "Ck, Jio. Sekarang masih jam 2 lho. Lagian kita janjiannya sore. Kalau ini mah masih siang," ujar Vivian benar adanya. Karena hari ini memang masih terlalu siang untuknya dan kemarin kedua orang itu telah berjanji untuk mengunjungi rumah keluarga Abhivandya setelah Vivian pulang kerja. Karena tadi malam, tiba-tiba saja ada klien yang ingin bertemu dengannya untuk membicarakan tentang desain gaun yang akan kliennya itu gunakan juga gaun beberapa anggota keluarganya yang lain sehingga yang awalnya Vivian membuat janji dengan Zico pukul 3 sore, akhirnya harus di undur karena permasalah itu. Dan Adiknya itu setuju-setuju saja dengan pengunduran waktu dari Vivian.


Tapi sekarang adiknya itu justru terus menerus menerornya dengan bertanya kapan dirinya akan pulang. Hufttt sangat menyebalkan bagi Vivian.


"Tapi Jio---"


📞 : "Kakak masih sibuk Jio. Kakak juga harus ketemu sama klien bentar lagi. Lagian kalau kita ke rumah Daddy, pasti kita juga gak akan ketemu sama beliau," ujar Vivian yang memutus ucapan Zico sebelumnya.


"Haishhh ya sudahlah. Tapi Jio gabut di rumah. Jio mau nyamperin Kakak kesana. Gak ada penolakan!" ucap Zico. Dan tanpa menunggu suara Vivian untuk menjawab ucapnya tadi. Zico langsung memutus sambungan telepon keduanya.

__ADS_1


Vivian yang mendapat teleponnya di putus sepihak oleh Zico pun ia mengomel tanpa henti sebelum akhirnya salah satu karyawannya menepuk pundaknya.


"Kak," panggil karyawan itu yang membuat Vivian terperanjat kaget.


"Astaga Asti ngagetin aja. Ada apa?" tanyanya.


"Hehehe maaf Kak. Aku kesini cuma mau ngasih tau kalau Kakak sudah ditunggu klien di bawah," jawabnya yang mendapat anggukan kepala oleh Vivian.


"Baiklah, suruh mereka masuk saja kesini," ujar Vivian yang diangguki karyawannya tadi sebelum ia beranjak dari ruang kerja khusus untuk Vivian. Dan saat karyawan itu keluar, Vivian segera mempersiapkan beberapa desain yang semalam ia kerjakan.


"Benar-benar gak ada yang berani masuk," gumam Zico dengan menatap ke sekeliling ruangan tersebut sebelum dirinya bergegas menuju ke salah satu lemari di ruangan tersebut untuk mengambil sesuatu yang ia perlukan.


Dan hanya butuh beberapa menit saja, Zico telah menemukan apa yang ia cari sedari tadi. Dan saat dirinya ingin beranjak dan menutup kembali pintu lemari tersebut, matanya tak sengaja menatap sebuah foto yang memperlihatkan 4 orang yang terlihat sangat bahagia. Ia mengambil foto tersebut dan saat ia menatap wajah orang-orang di foto itu ia menyunggingkan senyumannya.


"Ma, Pa. Jio kangen," ucapnya dengan mengelus kedua orang dewasa di dalam foto tersebut.


"Jio rindu sama kalian. Jio pengen curhat lagi sama Papa. Jio juga pengen lihat senyum Mama langsung yang selama Jio hidup di dunia tidak pernah Jio lihat. Jio juga pengen di peluk Mama saat Jio lagi sedih dan hilang arah. Jio pengen ketemu Mama, walaupun itu sangat mustahil, tapi setidaknya tolong temuin Jio di dalam mimpi," gumam Zico tanpa mengalihkan pandangannya kearah wanita yang tengah menggendong seorang bayi dengan senyum yang merekah. Dan hal tersebut membuat Zico sekarang justru menitihkan air matanya.

__ADS_1


Jika semua orang menganggap Zico orang yang sangat tegar dan masih banyak lagi nilai negatif yang para masyarakat ataupun para readers dulu tuduhkan kepadanya, itu salah besar, justru Zico memiliki sifat sebaliknya. Memang ia tegar di luar tapi ia hancur di dalam. Ia laki-laki yang sangat rapuh dan butuh sandaran akan hidup yang begitu sulit untuknya. Hingga akhirnya ia menemukan sosok dirinya yang lain yang justru membuat semua orang benci kepadanya.


Beberapa saat setelahnya ia mengalihkan pandangannya kearah laki-laki yang tengah menggendong seorang anak perempuan yang ia yakini itu adalah Vivian.


"Pa, Jio sekarang sudah besar. Jio juga sudah membuktikan ucapan yang Jio katakan dulu kalau Jio ingin memiliki perusahaan yang sangat besar seperti perusahaan milik Papa dulu. Jio sekarang berhasil Pa, Jio berhasil," ucap Zico dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya bahkan sesekali air mata itu menetes membasahi kaca figura di genggamannya itu.


"Pa, Ma. Jio sekarang sudah dewasa dan mungkin sekarang waktunya Jio untuk mengungkapkan semuanya. Maafin Jio, Ma, Pa yang tidak bisa menepati janji Jio yang satu ini. Tolong maafin Jio yang sudah lancang melakukan hal ini. Karena Jio sudah benar-benar tidak kuat menyembunyikannya lagi. Semakin lama Jio menyembunyikannya, hati Jio akan semakin hancur. Sekali lagi Jio minta maaf Ma, Pa. Semoga kalian memaafkan Jio disana," ujar Zico dengan mengamati dua orang didalam foto tersebut.


"Jio sayang kalian berdua," sambungnya lalu mencium kedua orang di foto tadi.


Cukup lama ia mengenang foto-foto di dalam ruangan tersebut dengan sesekali memutar ingatannya kembali saat dirinya dan Vivian selalu mengganggu Papa mereka saat lagi berkerja hingga berakhir, mereka akan terkena hukuman dengan gelitikan di tubuh mereka berdua dari sang Papa dan berakhir mereka bertiga akan bercanda gurau di ruangan tersebut. Sungguh ruangan yang banyak menyimpan kenangan.


Zico menghela nafas dengan menghapus kasar air matanya yang sedari tadi menetes. Dan karena dirinya tak ingin terlalu lama bersedih dengan mengenang masa lalunya itu, akhirnya Zico memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dan saat dirinya sudah di luar ruangan tersebut ia kembali menguncinya.


Dan sesuai dengan ucapannya tadi, jika Zico saat itu juga akan pergi menemui Vivian yang masih berada di butik milik perempuan tersebut.


Didalam perjalanannya, ia menyetir seperti orang kesetanan. Entah kenapa dirinya bisa seperti itu yang pasti perasaannya sekarang justru tak tenang. Dan pikirannya terus saja mengintruksi dirinya agar ia menjalankan mobilnya secepat mungkin agar segera sampai di tempat kerja Vivian. Ia bahkan tak mempedulikan orang-orang yang tengah mengumpati dirinya dan beberapa polisi telah mengejarnya tadi hingga polisi itu ketinggalan jauh darinya dan berakhir tak ada lagi yang mengejarnya. Ia benar-benar tak peduli dengan situasi di sekitar jalanan yang tengah ia lewati itu. Karena yang ada di dalam benaknya sekarang adalah ketemu dengan Vivian secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2