The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 223


__ADS_3

Setelah membuat gempar satu sekolah selama satu hari, kini triplets sudah bersiap untuk pulang ke rumah mereka. Tapi seperti biasa, Azlan dan Erland akan mengantar pujaan hati mereka terlebih dahulu sebelum dirinya pulang.


Edrea yang awalnya ingin masuk kedalam mobilnya, kini niatnya itu ia urungkan saat ia melihat kedua Abangnya itu tengah berdiri di depan kendaraannya masing-masing.


"Bang, kok gak pulang? nungguin siapa sih?" tanya Edrea penasaran. Ya walaupun ia sudah tau bahwa kedua laki-laki itu tengah menunggu kedua gadis tadi pagi. Tapi tak apalah dirinya bertanya, sekaligus pertanyaannya tadi juga untuk mengorek informasi mengenai hubungan mereka.


"Kepo lo. Jangan tanya mulu, buruan pulang sana. Mommy udah nungguin lo di rumah tuh," ujar Azlan yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.


"Mau ngapain Mommy nungguin Rea pulang?" Azlan menggedikkan bahunya.


"Gue cuma nebak aja. Udahlah, pulang sana jangan bawel di sini," usir Azlan kembali.


"Ck, iya-iya Rea pulang sekarang. Ngomong aja kalau kalian gak mau di ganggu atau gak mau Rea tau kalau kalian udah punya pacar, dasar," cibir Edrea sembari mulai melangkahkan kakinya menuju mobilnya kembali. Sedangkan perkataannya tadi mampu membuat Azlan dan Erland kini menolehkan kepalanya kearah Edrea.


"Dia udah tau?" tanya Erland.


"Entahlah. Tapi sepertinya sih emang begitu. Ya udah lah, mau bagaimana lagi. Kita mau ngumpetin hubungan kita di belakang tuh anak juga gak akan bisa. Tau sendiri kan tingkat ke kepoan dari Rea, jika dia penasaran dengan sesuatu, dia pasti akan ngorek informasi itu sampai akar-akarnya. Apalagi kita sekarang satu sekolah sama dia, mau kita umpetin serapi mungkin akhirnya juga akan ke endus sama dia," ujar Azlan.


"Iya juga sih. Ya udah lah. Kalau dia tau, kapan-kapan kita kenalin sama mereka, biar gak ada salah paham kalau kita lagi sama Rea di sekolah ini," tutur Erland yang diangguki oleh Azlan.


Beberapa saat setelahnya, akhirnya dua perempuan yang mereka tunggu-tunggu muncul juga. Tapi anehnya mereka berdua bukannya berjalan kearah Azlan dan Erland, melainkan mereka berjalan menuju gerbang keluar dari sekolah tersebut. Bahkan mereka berdua yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka justru hanya di lirik sesaat saja tanpa say hello sedikitpun.


"Mereka kenapa? Kok cuma nglirik kita doang, gak nyamperin kesini?" tanya Erland.


"Entahlah gue rasa ada yang gak beres sama mereka. Samperin sekarang sebelum mereka pergi," ujar Azlan lalu setelahnya mereka berdua langsung menjalankan kendaraan mereka dan segera menghampiri Zea dan Kayla.


Saat mereka telah keluar dari area sekolah, mata mereka langsung tertuju kearah halte bus dimana disana hanya ada dua perempuan tadi. Dan tanpa menunggu waktu lama, mereka mendekati keduanya.

__ADS_1


"Naik!" perintah Azlan maupun Erland tanpa turun dari kendaraan mereka masing-masing. Dua perempuan tadi sama sekali tak bergeming dari duduknya. Bahkan menatap mereka berdua saja tidak. Dan hal itu membuat Azlan dan Erland kini turun dari kendaraan mereka.


"Sayang, masuk yuk. Mau pulang apa gak?" ucap Azlan dengan lembut dan saat tangannya ingin mengelus kepala Zea, tangannya lebih dulu di tepis oleh perempuan itu.


"Hey kamu kenapa sih?" tanya Azlan sembari mendudukkan tubuhnya disamping Zea, lebih tepatnya di tempat duduk yang digunakan Kayla tadi sebelum perempuan itu di bawa menjauh oleh Erland.


"Lo tanya gue kenapa? Coba lo sekali-kali ngaca, apa yang udah lo lakuin di belakang gue sampai buat gue begini," ujar Zea yang sudah mulai emosi. Azlan mengerutkan keningnya.


"Lah emang aku ngelakuin apaan di belakang kamu? Aku beneran gak tau sebab dan akibat yang udah buat kamu begini. Dulu kan aku juga sudah pernah bilang sama kamu, kalau aku buat salah entah itu apapun, bilang langsung ke aku karena kamu tau sendiri aku tipe laki-laki yang kurang peka. Jadi sekarang kamu bilang, apa yang udah aku lakuin sampai buat kamu cuek bebek begini sama aku. Ayo katakan," ucap Azlan yang justru membuat Zea kini menundukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir secara diam-diam.


"Ze, entah apa salah aku sama kamu. Aku minta maaf, aku gak akan ngulangi apa yang udah aku lakuin sebelumnya. Tapi biar aku gak ngulangi itu semua, sekarang cerita ya alasan kamu kenapa bisa bersikap begini," tutur Azlan sembari mengelus kepala Zea.


Zea dengan cepat ia menghapus air matanya lalu setalahnya ia menjauhkan tubuhnya dari Azlan.


"Jangan dekat-dekat gue. Dan kalau lo mau tau alasan gue kenapa bisa begini, buka web sekolah disana sudah jelas semuanya," tutur Zea yang membuat Azlan langsung merogoh ponselnya lalu segera membuka web yang sama seperti yang dikatakan oleh Zea tadi.


Azlan menghela nafas saat ia melihat berita terpanas hari ini disekolah tersebut yang juga merupakan alasan dari kemarahan Zea saat ini.


"Gak," tolak Zea.


"Sayang duduk. Mau aku jelasin ini semua kan?" ujar Azlan masih dalam mode sabar.


"Gak!" bentak Zea yang langsung membuat Azlan memejamkan mata sesaat sebelum ia menarik paksa tubuh Zea untuk duduk. Lalu agar perempuan itu tidak lepas, Azlan memeluk tubuh Zea dengan sangat erat. Untung saja di jalanan dan area sekolah sudah sepi jadi tak ada yang melihat aksinya itu.


"Lo apa-apaan sih. Lepas," berontak Zea.


"Kalau mau aku lepasin. Kamu diam," ujar Azlan.

__ADS_1


"Gak, lepasin gue!" geram Zea yang terus menggerakkan tubuhnya.


"Ze, diam bentar," perintah Azlan yang tak dihiraukan sama sekali oleh Zea.


"Ze, diam!" Suara datar nan dingin membuat Zea yang tadinya terus bergerak kini gerakan di tubuhnya terhenti.


Setalah memastikan Zea benar-benar berhenti, akhirnya Azlan melepaskan pelukannya tadi lalu setalahnya ia menatap lekat wajah Zea yang kini tengah mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Hadap sini," ucap Azlan sembari memegang dagu Zea dan menghadapkan wajah cantik sang kekasih kearahnya.


"Aku akan mulai jelasin semua kesalahpahaman ini ke kamu. Pertama aku tidak pernah berani dan punya niatan untuk main api di belakang kamu dengan perempuan lain karena untuk apa juga aku selingkuh segala sedangkan kamu seorang saja sudah cukup buat hidup aku. Dan yang kedua yang paling buat kamu sampai seperti ini adalah gara-gara siswi baru itu. Nah disini kesalahpahaman yang sangat besar. Kamu pasti menyangka kalau kita berdua ada something padahal tidak sama sekali, karena tidak mungkin juga aku punya something dengan seseorang yang merupakan adik kandungku sendiri lebih tepatnya saudara kembarku sendiri," jelas Azlan yang langsung membuat Zea kini mengerutkan keningnya.


"Pasti kamu bingung kan? Oke aku jelasin lagi, jadi aku sama Erland itu punya kembaran lagi nah kembaran kita berdua itu adalah siswi baru yang udah buat kamu cemburu buta begini. Dan nama dia adalah Edrea Dwyne Abhivandya. Memang kita bukan kembar identik jadi wajah kita jauh berbeda satu sama lain," ujar Azlan.


"Jadi?" tanya Zea.


"Jadi, kamu itu hanya salah paham saja sayang dan sekaligus lagi cemburu sama aku," tutur Azlan sembari mencubit pelan pipi Zea.


"Bukan masalah itu, tapi masalah siswi itu beneran saudara kembar kamu?" tanya Zea ulang.


"Iya lah, nama belakang kita sama sayang. Kalau kamu gak percaya banyak foto kita bertiga di galeri ponsel aku. Kamu sih gak pernah pegang atau kepo isi ponsel aku jadinya gak tau kan kalau aku sebenarnya punya saudara kembar 2. Nih cari sendiri fotonya. Dan besok aku kenalin secara langsung kalian berdua, biar kalian akrab sekalian," ujar Azlan sembari menyerahkan ponselnya kearah Zea. Dan tanpa menunggu lama Zea langsung menyaut ponsel tadi lalu langsung menuju ke galeri foto di ponsel tersebut.


"Gimana? Masih mau marah sama aku? Masih mau ngambek sama aku? Masih mau panggil aku dengan sebutan lo, gue lagi?" tanya Azlan yang langsung dijawab gelengan oleh Zea.


"Lagian kamu juga tadi romantis banget sih sama dia," ujar Zea dengan kerucutan di bibirnya.


"Kita emang begitu sayang. Dari kecil orangtua kita selalu ngajarin kita untuk saling menyayangi satu sama lain. Jadi ya kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Mungkin kalau orang awam yang lihat memang kita romantis banget kayak orang yang tengah pacaran tapi kalau menurut kita, apa yang kita lakukan itu biasa aja. Karena ya itu, kita sudah terbiasa. Jadi untuk kedepannya jika kita berdua lebih romantis dari ini jangan kaget ataupun cemburu karena sampai kapanpun kamu tetap yang akan menemani hari-hariku," tutur Azlan.

__ADS_1


Zea yang mendengar gombalan dia akhir ucapan dari Azlan pun tersenyum malu-malu.


"Cieee udah senyum lagi. Kalau udah senyum berarti boleh dong kasih pelukan perdamaian atas kesalahan pahaman tadi," ucap Azlan yang langsung membuat Zea kini memeluk erat tubuh sang kekasih.


__ADS_2