
Tak terasa ketiga wanita cantik itu kini sudah berada didalam mall dan sudah berkeliling disana dalam kurun waktu 2 jam dan sekarang ketiganya tengah beristirahat di suatu restauran di dalam mall tersebut. Sekalian mereka juga akan mengisi perut mereka yang sudah meronta-ronta ingin di beri makan.
Setelah memanggil pelayan dan memesan makanan yang mereka inginkan, mereka kembali berbincang selama menunggu makanan yang mereka pesan tadi datang.
"Huft, semoga aja makanannya gak lama," ucap Yesi yang rasa laparnya sudah tak tertahankan lagi.
"Makanya tadi nurutin apa yang gue katakan. Kelaparan sendiri kan lo. Udah di bilang makan dulu baru belanja, eh malah belanja dulu baru makan. Mana belanjanya berjam-jam lagi," tutur Edrea yang tak kalah kesal karena sempat menunda makan siangnya tadi.
"Iya tuh. Gak mikirin apa temannya udah hampir mati kelaparan," geram Resti sembari menopang dagunya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Hehehe ya maaf. Lo sendiri kan tau kalau gue udah nyampe mall gimana. Mata gue udah menyorot kesana kemari dan udah gregetan buat beli ini itu tanpa pikirin urusan perut dan lainnya," tutur Yesi dengan cengiran kudanya.
Edrea yang mendengar alasan Yesi pun hanya memutar bola matanya malas.
Tak berselang lama akhirnya makanan yang mereka tunggu-tunggu sampai juga.
"Terimakasih," ucap mereka bertiga berbarengan. Pelayan yang mengantarkan makanan tadi tersenyum manis dan mengangguk sebelum undur diri dari meja ketiga wanita itu.
Setelah pelayan tadi pergi, ketiganya langsung melahap makanan itu tanpa suara sedikitpun. Hingga di tengah acara makan mereka terdengar dering ponsel milik Edrea.
Edrea meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Halo, assalamualaikum," salam Edrea saat sambungan telepon terhubung.
📞 : "Waalaikumsalam. Lo sekarang dimana?" tanya orang yang berada di sebrang dengan suara yang terdengar khawatir.
Edrea menjauhkan ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia membelalakkan matanya kemudian ia menepuk keningnya sendiri.
"Rea lagi di mall bang," ucap Edrea dengan menggigit kukunya. Takut jika Erland memarahinya.
📞 : "Astagfirullah. Bikin orang panik aja anjir. Lain kali kalau mau kemana-mana tuh bilang biar gue sama bang Az gak kelimpungan cari lo dimana," geram Erland. Ya siapa yang tak geram jika dirinya tadi ke sekolah Edrea untuk menjemput sang empu eh malah adik perempuannya itu sudah menghilang dari area sekolah. Padahal dia sudah mewanti-wanti Edrea agar tak kemana-mana dulu. Jika adiknya itu masih mau pergi ya setidaknya izin dulu ke mereka berdua supaya mereka juga ikut mengawasi Edrea dari jarak dekat maupun jauh. Keselamatan Edrea saat ini harus selalu mereka lindungi, mengingat musuh yang menginginkan nyawa perempuan itu masih berkeliaran di mana-mana.
__ADS_1
"Hehehe maaf bang, Rea kan lupa," ucap Edrea dengan cengengesan.
📞 : "Lo tau, kita berdua tadi nyariin lo di dalam sekolah bahkan kita hampir aja ngomong sama Daddy kalau lo hilang. Lain kali kalau gue telepon itu langsung diangkat bukannya di diemin terus."
"Eh emang Abang tadi telepon Rea?" tanya Edrea dengan tampang polosnya walaupun ekspresi wajah tersebut tak bisa Erland lihat.
📞 : "Astagfirullah. Coba lo lihat riwayat panggilan lo sekarang!"
Edrea kini menjauhkan ponselnya dari telinganya dan segera menuruti apa yang di ucapkan Erland tadi tanpa memutus sambungan telepon.
Edrea meringis saat melihat 70 kali panggilan tak terjawab dari Erland dan 80 panggilan tak terjawab dari Azlan. Bahkan beberapa pesan pun juga masuk kedalam ponselnya. Setelah mengetahui itu semua, Edrea kembali menempelkan ponselnya ke telinga.
"Hehehe maaf bang, Rea gak denger kalau kalian tadi telepon Rea. Di mall kan ramai jadi harap di maklumi ya," ucap Edrea.
Terdengar helaan nafas di sebrang.
📞 : "Katakan lo sekarang di mall mana?" tegas Erland.
📞 : "Jemput lo."
"Ih gak. Rea tadi kesini sama teman Rea. Abang tenang aja deh, Rea juga gak akan kenapa-napa. Abang tunggu aja dirumah mungkin sebentar lagi Rea pulang. Ini baru makan soalnya," tolak Edrea. Bisa gawat kalau dua sahabatnya itu lihat visual kedua Abangnya. Bisa-bisa mereka nanti setiap hari kerumah Edrea untuk mencari perhatian kedua saudara kembarnya itu.
Resti dan Yesi sudah tau jika Rea punya saudara kembar tapi mereka belum pernah bertemu sama sekali walaupun keduanya sering kerumah asli Edrea tapi saat mereka mengunjungi rumah tersebut kebetulan Azlan maupun Erland sedang tak ada dirumah. Maklum mereka berdua merupakan pembisnis muda. Jadi tak heran jika mereka jarang di rumah ditambah lagi mereka tengah gencar-gencarnya melakukan pendekatan kepada gadis yang mereka sukai agar cinta mereka segera di terima oleh gadis itu.
📞 : "Kalau lo gak kasih tau lokasi lo saat ini, jangan salahkan gue kalau Daddy yang bakal kesana jemput lo. Dan juga jangan salahkan kita berdua kalau Daddy tau masalah soal malam itu. Gue yakin kalau Daddy tau masalah itu, gak akan pernah izinin lo keluar dari rumah dan akan di kurung di kamar. Walaupun lo bisa keluar juga bakal ada 10 bodyguard yang ngikutin lo walaupun di area sekolah lo sekalipun," ucap Erland.
Edrea terdiam sesaat. Mengerikan juga kalau Daddynya akan bertindak seperti itu. Hidupnya nanti akan terkekang dan tak bisa hidup bebas seperti sekerang walaupun kebebasannya masih di pantau oleh keluarganya terutama kedua Abangnya yang akhir-akhir ini sangat ketat menjaganya tapi setidaknya masih bisa dianggap normal lah dari pada di ikuti oleh para bodyguard Daddynya. Bisa-bisa orang satu sekolah mencemooh dirinya dengan sebutan anak manja dan sebagainya. Membayangkannya saja sudah membuat hidup Edrea tak tenang apalagi menjalankannya. Gak, Edrea gak akan pernah mau hal itu terjadi.
📞 : "Gimana? Lo mau Daddy tau? Kalau gitu ya sudah gue matiin telepon ini dan gue mau ke kantor Daddy buat cerita semua kejadian malam itu." Edrea yang awalnya ngalamun kini kesadaran kembali saat suara Erland terdengar di telinganya.
"Jangan dong bang."
__ADS_1
📞 : "Kalau lo gak mau gue cerita masalah itu. Buruan kasih tau lokasi lo saat ini!"
"Ck, iya-iya Rea nanti search lock deh. Tapi jangan kasih tau Daddy masalah itu," tutur Edrea.
📞 : "Buruan search lock!"
"Ih janji dulu jangan cerita ke Daddy."
📞 : "Ck, iya gue gak akan cerita kalau lo search lock sekarang," kesal Erland.
"Iya bang bentar, ah elah gak sabaran banget jadi orang. Rea tutup dulu telponnya biar Rea selesaiin makannya sebelum kalian sampai. Bye bang, assalamu'alaikum," ucap Edrea sebelum memutuskan sambungan telepon diantara mereka berdua.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Edrea buru-buru mengirim lokasinya saat ini sebelum kedua Abangnya nanti mengancamnya lagi.
Sedangkan Yesi dan Resti yang sedari tadi memperhatikan Edrea sembari menikmati makanan mereka pun kini mulai angkat bicara karena rasa kepo sudah diujung kepala mereka.
"Siapa Re?" tanya Resti.
Edrea mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.
"Abang gue," jawab Edrea sembari meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Abang lo mau kesini?" Edrea dengan lesu menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Yesi.
"Mau jemput lo?" lagi-lagi Edrea hanya mengangguk.
"Duh enak banget ya punya Abang. Kemana-mana pasti ada yang khawatirin. Jadi pengen deh punya Abang," ucap Yesi dengan membayangkan bahwa dirinya mempunyai seorang kakak laki-laki.
Edrea melirik sekilas kearah Yesi yang cengar-cengir sendirian.
"Belum tau dia gimana di posesifin sama Abang sendiri bahkan melebihi pacar. Huh tapi untungnya gue dulu belum nerima cinta Zico walaupun sebenarnya gue sayang sama dia tapi gue takut kalau dia juga sama posesifnya sama Abang gue. Kalau sampai gue nerima Zico dalam waktu dekat ini duh gak tau lagi hidup gue gimana. Pastinya di kelilingi oleh orang-orang yang super prosesif dan gue yakin hidup gue semakin tertekan nanti," gumam Edrea lirih yang hanya bisa ia dengar sendiri ucapannya tadi.
__ADS_1