
Edrea mengerjabkan matanya beberapa kali saat ia masih saja terbengong dengan otak yang terus ia coba untuk mengingat masa kecilnya itu.
Dan baru saja ia menengadahkan kepalanya menatap kedua abangnya, matanya terbelalak seketika saat tangan Azlan mengepal erat dan kepalan tangan itu kini melayang kearah Erland.
Entah apa kejadian selanjutnya yang membuat suasana semakin tak kondusif seperti saat ini. Yang Edrea ingat terakhir kali Azlan bilang, jika Erland tetap nekat ingin memberitahu masa kecil Edrea, maka dia sama saja akan membunuh Edrea secara perlahan. Dan setelahnya Edrea terhipnotis dengan pikirannya sendiri tanpa memperhatikan situasi sekitar.
Edrea kini berdiri dari duduknya saat Erland sudah mulai membalas pukulan dari Azlan tadi.
"Abang! Stop!" teriak Edrea yang mampu menghentikan aktivitas keduanya.
"Kenapa malah jadi begini sih? Padahal Rea kan tadi cuma mau tanya tentang masa kecil Rea doang bukan mau lihat kalian gulat begini. Kalau sampai Daddy tau kalian berdua saling adu jotos, Rea pastiin Daddy akan menghukum kalian berdua," ujar Edrea berhasil membuat Azlan dan Erland saling melepaskan cengkraman mereka di baju masing-masing.
"Udah ya, jangan berantem lagi. Sekarang kalian duduk dan jangan kemana-mana. Rea ambil P3K dulu buat ngobatin lebam kalian," tutur Edrea sembari menuntun Azlan dan Erland kemudian ia mendudukkan tubuh keduanya di atas karpet bulu dikamar tersebut. Sebelum akhirnya ia beranjak keluar kamar tersebut untuk mengambil kotak P3K.
Saat Edrea telah keluar, Azlan maupun Erland langsung memutar tubuh mereka untuk tak saling tatap satu sama lain. Bahkan diantara keduanya tak ada yang punya niatan untuk memulai pembicaraan atau lebih tepatnya mereka lagi mode musuhan.
Tak berselang lama, Edrea kini kembali masuk kedalam kamar Azlan lalu setalahnya ia mendudukkan tubuhnya di depan kedua abangnya itu.
"Hadap Rea sini," ujar Edrea yang tak dituruti oleh Azlan maupun Erland. Mereka berdua sama sekali tak bergeming dari posisi sebelumnya.
Edrea berdecak saat tak ada salah satu dari mereka yang menghadap kearahnya. Hingga akhirnya ia kini bertindak dengan mengerahkan seluruh tenaganya memaksa tubuh Azlan dan Erland menghadap dirinya.
"Huft kalian ini malam-malam bikin pekerjaan Rea bertambah aja," ucap Edrea sembari menatap kearah Azlan dan Erland.
"Tetap dalam posisi seperti ini sampai Rea selesai ngobatin luka kalian," tutur Edrea yang sama sekali tak mendapat tanggapan dari keduanya. Tapi walaupun begitu Edrea tetap melakukan apa yang telah ia ucapkan tadi.
Dan dengan penuh kehati-hatian juga ketelatenan, Edrea mengobati lebam di wajah kedua abangnya. Walaupun sesekali terdengar suara rintihan dari dua laki-laki itu, Edrea tatap saja memaksa mereka untuk tetap tak memberontak kepadanya.
"Dah selesai," ucap Edrea dengan tersenyum manis. Lalu setelahnya ia menatap lekat mata Azlan dan Erland.
"Rea tanya sekali lagi, apa Abang mau ceritain masa kecil Rea?" tanya Edrea.
Azlan maupun Erland kini hanya terdiam tak ingin menjawab pertanyaan dari Edrea tadi. Hingga membuat Edrea menghela nafas.
"Ya sudah kalau tidak ada yang mau cerita. Rea gak papa kok. Asalkan kalian gak saling pukul lagi seperti tadi," ujar Edrea.
Dan tanpa Azlan juga Erland duga Edrea kini mendekati tubuh mereka dan memeluknya dengan sangat erat.
"Rea sayang kalian berdua. Jadi Rea mohon jangan berantem lagi ya. Entah itu karena Rea atau karena masalah lain. Rea gak suka lihat kalian saling menyakiti satu sama lain. Kalian tau saat kalian seperti tadi, hati Rea sakit," ucap Edrea.
Lalu setalah mengucapkan perkataannya tadi, Edrea kini melepaskan pelukannya.
"Rea ke kamar dulu bang. Selamat malam," ujar Edrea diakhiri dengan ia mengecup singkat pipi Azlan dan Erland.
Saat Edrea ingin beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba lengannya ada yang mencekal. Dan hingga itu membuat dirinya kini menolehkan kepalanya.
"Kenapa bang? Apa ada luka lainnya yang belum Rea obati?" tanya Edrea kepada Azlan.
__ADS_1
Azlan menggelengkan kepalanya tapi tatapan matanya kini tertuju kearah gelang Edrea yang diberikan oleh Leon tadi.
"Dari siapa?" tanya Azlan.
"Apa? Gelang ini?" bukannya langsung menjawab Edrea malah bertanya balik.
"Hmmmm," jawab Azlan dengan deheman.
"Oh kalau gelang ini tadi dikasih sama Leon," ujar Edrea yang langsung membuat kedua abangnya langsung menatap kearah Edrea. Lalu setalahnya keduanya langsung memeriksa gelang tadi.
"Kenapa sih bang? Apa ada yang salah sama gelang ini?" tanya Edrea yang tak habis pikir dengan tingkah mencurigakan dari Azlan dan Erland tadi.
Tapi pertanyaannya tadi sama sekali tak mendapat jawaban dari keduanya yang masih fokus dengan gelang yang masih melingkar di tangannya itu.
Hingga terdengar helaan nafas dari dua laki-laki tadi dan bertepatan dengan itu, Azlan dan Erland melepaskan lengan Edrea.
"Rea," panggil Azlan.
"Kenapa lagi?"
"Gue bakal kasih sesuatu ke lo. Tapi janji lo harus tetap ingat sama kita dan keluarga lo yang lain," ujar Azlan.
"Apaan sih? Emang sesuatu itu apa? Seberapa bahayanya sesuatu itu sampai bisa buat Rea lupa ingatan?" tutur Edrea.
"Hmmm mungkin benda ini untuk orang lain biasa aja tapi buat lo bisa menghilangkan ingatan lo," ujar Azlan.
Dan tak berselang lama, Erland telah kembali membawa satu kotak kecil ditangannya.
"Nih," ucap Erland sembari mengulurkan kotak itu kearah Edrea dan langsung diterima oleh sang empu.
"Ini apa?" tanya Edrea.
"Lo akan tau saat lo buka kotak itu," ujar Erland yang sudah duduk di belakang Edrea dan setelahnya ia memeluk tubuh adiknya itu dengan erat. Sedangkan Azlan kini ikut merapatkan tubuhnya lalu ia ikut memeluk tubuh Edrea dari samping.
"Lah-lah ini pada kenapa sih? Kok tiba-tiba meluk gini?" tanya Edrea.
"Udah gak usah banyak tanya. Langsung buka aja," tutur Azlan yang membuat Edrea berdecak tapi pada akhirnya tangannya kini terulur untuk membuka kotak tersebut dan bertepatan dengan itu Azlan dan Erland semakin mengeratkan pelukannya dengan mata yang tertutup rapat, tak lupa mereka juga berdoa didalam hati untuk Edrea. Karena mereka benar-benar tak ingin melihat Edrea kembali ke masa-masa sulitnya.
Sedangkan Edrea yang sudah membuka kotak tadi pun ia menatap isi didalamnya dengan teliti. Dan ia baru menyadari jika isi didalam kotak itu yang merupakan gelang, memiliki desain yang sama persis dengan gelang yang di berikan oleh Leon tadi.
"Kok gelangnya sama bang?" tanya Edrea yang membuat Azlan dan Erland kini membuka kembali mata mereka lalu perlahan melapaskan pelukannya.
"Rea," panggil Erland yang membuat Edrea menolehkan kepalanya.
"Kenapa bang Erland? Kalian tuh kenapa sih? Aneh banget sumpah dari tadi," geram Edrea.
"Lo masih ingat kita?" tanya Erland.
__ADS_1
"Abang ish. Rea gak amnesia lho," ucap Edrea frustasi. Dan hal itu membuat Azlan dan Erland menghela nafas lega.
"Udah ya please jangan bertingkah aneh lagi. Bikin frustasi aja," sambung Edrea.
"Hehehe ya maaf. Lagian kita juga parno tau Re," ujar Erland yang membuat Edrea memutar bola matanya malas.
"Terserah lah. Tapi ini kenapa gelangnya sama persis?" tanya Edrea.
"Lah lo gak ingat sama gelang ini?" tanya Azlan.
"Ingat apaan lagi. Astagfirullah bang, beneran ya kalau gue udah frustasi, gue lempar lo dari sini."
"Maaf-maaf. Mau gue jelasin?" tawar Azlan yang diangguki setuju oleh Edrea.
"Tapi---"
"Tapi jangan sampai gue lupa sama keluarga. Sampai hafal gue sama kata-kata itu," ucap Edrea yang dibalas cengiran dari kedua abangnya itu.
"Buruan!" perintah Edrea.
"Iya-iya ish. Sabar," tutur Azlan.
"Jadi gini, gelang yang lo pakai sekarang dengan gelang ini sebenarnya satu-kesatuan. Lo lihat hiasan separuh bunga aster yang lo pakai sekarang itu bisa digabungkan dengan separuh bunga aster yang ada di gelang itu. Coba aja kalau lo gak percaya," ucap Azlan.
Edrea yang sudah benar-benar penasaran pun kini ia mengambil gelang yang ada di kontak tadi dan setalahnya ia dengan susah payah melepaskan gelang di tangannya. Setalah keduanya kini sudah berada di genggamannya, Edrea mulai menggabungkan kedua hiasan tadi dan benar saja apa yang dikatakan oleh Azlan tadi, kini kedua separuh bunga tadi menyatu dan membentuk satu bunga yang utuh.
"Lah kok bener bang," ucap Edrea kegirangan.
"Bukan cuma disitu aja Re. Coba sekarang kali lihat nama dibalik bunga itu," timpal Erland yang langsung membuat Edrea bergerak dan mulai memeriksa tulisan dibalik hiasan bunga tadi.
"El & Edne," ucap Edrea.
"El, siapa bang?" tanya Edrea yang membuat kedua abangnya kini melongo tak percaya.
"Lah lo udah lupa dan gak tau sama sekali siapa El itu?" Edrea dengan polosnya menggelengkan kepalanya.
"Dah lah, Re. Bodoamat, pikir aja sendiri. Capek gue," ucap Azlan sembari merebahkan tubuhnya diatas karpet bulu itu.
"Kalian keluar dari kamar gue sana. Gue mau tidur, jangan ada yang ganggu," usir Azlan yang sepertinya sudah lelah menjelaskan semuanya ke Edrea yang justru malah membuat dirinya emosi sendiri.
"Eh eh eh gak bisa gitu dong. Ini belum jelas lho ceritanya," ujar Edrea.
"Bodoamat. Sana buruan pergi," usirnya lagi sembari menendang-nendangkan kakinya kearah dua kembaran itu. Dan hal itu membuat keduanya mencebikkan bibirnya lalu setalahnya mereka bergegas keluar dari kamar tersebut sebelum sang empu nanti ngamuk.
Dan saat keduanya sudah berada diluar kamar Azlan, Erland menghentikan langkah Edrea yang ingin menuju ke kamarnya.
"Jangan di paksain buat ingat semuanya. Pelan-pelan saja karena gue gak mau kejadian dimasa lampau ke ulang lagi. Dan satu lagi, gelang itu hanya secuil dari banyaknya barang kenang-kenangan masa kecil lo. Gue harap lo gak cari barang-barang lainnya itu sebelum Daddy atau Mommy yang ngasih tau sendiri ke lo," ujar Erland.
__ADS_1
"Gue ke kamar dulu. Good night," sambung Erland diakhiri dengan mengecup kening Edrea lalu setalahnya ia melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya meninggalkan Edrea yang tengah menghela nafas berat.