
Selain sekolah kini Erland juga terpaksa harus bolak-balik ke kantor pusat milik sang Daddy. Bukan untuk bermain seenaknya saja, melainkan ia disana mendapat pelatihan khusus mengenai dunia bisnis dari Daddy Aiden dengan alasan jika tahta yang sekarang di tempati oleh Daddy Aiden akan jatuh ke tangan Erland entah cepat atau lambat. Awalnya Erland menolak mentah-mentah hal tersebut karena mengingat jika dirinya memiliki beberapa usaha yang ia jalankan sendiri. Jika dirinya akan menggantikan posisi Daddy Aiden nantinya bagaimana dengan usahanya sendiri masak otaknya harus bercabang banyak untuk memikirkan semua pekerjaan itu. Bahkan sampai terjadi perdebatan kecil di beberapa hari lalu.
Flashback on
"Come on, Dad. Erland tidak bisa menerima tawaran Daddy. Erland sudah punya usaha sendiri. Jika Erland bekerja di kantor Daddy, gimana dengan usaha Erland? Erland gak mau gara-gara ini, usaha yang sudah Erland rintis dari nol harus terbengkalai begitu saja." Erland menatap mata tajam nan teduh dari Daddy Aiden yang juga tengah menatapnya.
"Urusan itu saja kenapa kamu pikirin dengan berat? Tinggal cari orang yang kamu percaya untuk menjalankan usahamu itu dan kamu cuma perlu menerima laporan dari orang itu mengenai perkembangan usaha kamu. Toh kamu juga memiliki banyak teman, suruh saja salah satu dari mereka untuk menjadi tangan kanan kamu," ucap Daddy Aiden.
"Tapi belum tentu mereka mau Dad."
"Kamu saja belum pernah nawarin sama mereka. Mana bisa mereka mau kalau begitu. Mencoba saja belum, kok sudah ada jawaban." Daddy Aiden mencebikkan bibirnya. Anak laki-lakinya itu benar-benar sangat menyebalkan. Tinggal mengiyakan tawarannya tadi kan semuanya tidak perlu membahasnya sampai panjang lebar penuh alasan seperti ini, pikir Daddy Aiden.
Sedangkan Erland, ia kini menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Tapi Erland takut orang yang Erland tunjuk nanti untuk mengambil alih usaha Erland, dia justru mengkhianati Erland," tutur Erland dengan kekhawatiran yang sekarang hinggap di pikirannya.
"Jangan berpikir buruk kepada orang lain. Itu tidak baik Erland. Dan bukannya Daddy tadi memberi sarang ke kamu untuk memilih salah satu teman kamu yang sekiranya bisa kamu percaya. Tapi jika nanti temanmu itu tetap berkhianat pecat saja dia, suruh ganti rugi atas semua yang telah dia lakukan. Dan sebelum kamu memperkerjakan orang itu, buat surat perjanjian yang akan menguntungkan kamu nantinya jika dia benar-benar berkhianat," ujar Daddy Aiden memberi nasihat.
Lagi-lagi Erland menghela nafas sebelum dirinya kembali angkat suara.
"Kenapa harus Erland sih Dad? Kenapa bukan bang Adam, bang Azlan atau Rea. Mereka kan juga anak Daddy." Daddy Aiden memutar bola matanya malas.
"Jangan mengumpati Daddy, jika kamu tidak mau kualat nantinya. Dan perlu kamu tau Azlan dan Edrea juga Leon, mereka juga akan mendapatkan pelatihan khusus dari tangan kanan Daddy di tempat yang nantinya akan mereka tempati. Jadi jangan drama menjadi orang yang paling tersakiti lagi," ucap Daddy Aiden yang membuat Erland memutar bola matanya malas dengan cebikkan di bibirnya.
Flashback off
Erland kini menghela nafas saat semua tatapan kekaguman tertuju kearahnya. Dan ini lah yang membuat dirinya benar-benar tak pernah punya selera jika harus menginjakkan kakinya di kantor milik Daddy Aiden ataupun milik keluarga besarnya, pasalnya para karyawan genit secara bergantian akan mencoba menggodanya. Benar-benar sangat memuakkan untuk Erland.
__ADS_1
Apalagi saat ia melihat ada beberapa karyawan di sana yang berpakaian sangat seksi, memperlihatkan lekuk tubuhnya dan gundukan daging kembar itu. Dan hal tersebut benar-benar membuat Erland geram sendiri. Bahkan tak urung ia memiliki niat untuk menendang para perempuan bermake-up tebal saat mereka ingin mendekatinya, tapi sayangnya ia masih sadar jika sang Mommy tak pernah mengajarkan ia menyakiti seorang wanita. Jadinya lebih baik ia menyimpan rasa geramnya itu daripada ia di cap sebagai laki-laki pengecut nanti. Tapi perlu di ingat jika mereka sudah kelewat batas maka Erland tak akan segan-segan untuk melukai mereka.
Erland melangkahkan kakinya dengan cepat hingga ia menghela nafas lega saat ia sudah masuk ke lift yang akan mengantar dirinya menuju ke lantai dimana ruangan Daddy Aiden berada.
Saat ia berada di dalam lift dan menunggu lift itu terbuka, Erland mengerutkan keningnya saat matanya menatap siluet seseorang di pantulan kaca yang tertempel mengelilingi sisi dalam lift tersebut. Dan saat ia menolehkan kepalanya kearah belakang tubuhnya, matanya menatap seseorang yang tubuhnya hanya sebatas dadanya saja tak sampai, benar-benar sangat pendek sekali, batin Erland.
"Kenapa anda di belakang saya?" tanya Erland dengan suara dinginnya yang selalu ia tunjukkan kepada orang lain.
"Maaf," ucap orang tersebut dan tanpa menegakkan kepalanya ia menggeser tubuhnya, menjauh dari belakang tubuh Erland.
Erland yang melihat pergerakan dari orang tersebut hanya menggelengkan kepalanya sebelum dirinya kembali berdiri tegak tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Hingga pintu lift di depannya terbuka. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, ia langsung keluar dari lift tersebut tanpa mengucapakan kata perpisahan kepada orang yang ia temui di dalam lift tersebut atau hanya melirik saja ia tak lakukan.
Dan kepergian dari Erland tadi membuat orang tadi menghembuskan nafas lega. Ia benar-benar takut saat dirinya tadi satu lift bersama seseorang yang menurut gosip yang beredar akan menggantikan posisi CEO tempatnya berkerja saat ini dan katanya orang itu memiliki sifat dingin tak tersentuh dan tatapan tajam bak pedang yang siap menghunus siapa saja di hadapannya. Dan benar, setelah ia tak sengaja bertemu dengan laki-laki itu semua gosip yang beredar ia akui benar adanya. Bahkan hanya beberapa menit saja ia berada di dekat laki-laki itu, nyawanya terasa sudah diujung tanduk, saking aura mematikan yang dipancarkan dari calon CEO itu sangat kuat. Dan dari situlah ia berharap tidak lagi berdekatan dengan laki-laki itu sekarang ataupun selamanya, jika dirinya masih menginginkan nyawanya tetap di dalam raganya.
__ADS_1