
Pagi harinya, sepasang pengantin baru itu bangun dijam 9 pagi. Dan setelah mereka membersihkan tubuh mereka, keduanya bergegas untuk keluar dari kamar hotel tersebut untuk mencari makan.
Dan baru saja mereka membuka pintu kamar itu, keduanya tampak terkejut kala melihat segerombolan orang-orang yang sangat keduanya kenali itu tengah berada di depan kamar mereka dengan cengiran di bibir mereka.
"Astaghfirullah, kalian ngapain disini?" tanya Leon ngegas kepada teman-temannya dan juga teman-teman Edrea. Semua teman-temannya bukannya menjawab pertanyaan dari Leon, mereka justru menatap sepasang pengantin baru itu dari atas sampai bawah.
Hingga suara Yesi terdengar.
"Rea, kesini coba," ucap Yesi sembari melambaikan tangan agar Edrea segera menghampirinya. Edrea yang tak tau maksud Yesi menyuruhnya untuk mendekat pun ia menolehkan kepalanya kearah Leon yang kini juga tengah menatapnya. Dan beberapa saat setelah mereka adu pandangan, keduanya menggedikkan bahunya sebelum akhirnya Edrea berjalan mendekati Yesi dan Resti.
"Kenapa?" Tanya Edrea saat ia sudah berada di hadapan kedua temannya itu.
Lagi-lagi bukannya temannya itu langsung menjawab pertanyaan Edrea, ia justru sekarang semakin mengikis jarak.
"Eh eh eh Lo mau ngapain?" tanya Edrea panik saat Resti mengintip bagian dalam tubuhnya melalui lubang kerah baju yang ia kenakan.
Leon yang melihat hal tersebut pun ia memelototkan matanya, lalu ia menarik tangan Edrea agar istrinya itu menjauh dari kedua sahabatnya yang entah mau melakukan apa kepada Edrea.
"Kalian apa-apaan, main ngintip punya bini gue segala. Kalian itu punya sendiri," ujar Leon dengan galaknya. Tapi ucapannya itu justru tak membuat kedua orang tadi takut melainkan mereka sekarang justru tengah menatap satu sama lain. Kemudian beberapa saat setelahnya tatapan keduanya kembali tertuju kearah Edrea dan Leon.
"Kalian tadi malam belum ehemmm ehemmm?" Edrea mengerutkan keningnya, tak paham apa yang di maksud oleh Resti.
"Ehemmm ehemmm apaan? Gue tadi malam tidur," jawab Edrea dengan jujur.
__ADS_1
"Maksudnya sebelum tidur kalian belum melakukan sesuatu gitu?" tanya Yesi.
"Ck, sebelum tidur ya kita mandi lah. Badan kita lengket banget setelah seharian jadi raja dan ratu," jawab Edrea yang membuat semua orang disana kecuali Leon menepuk keningnya.
"Haishhhhh yang dimaksud sama Yesi dan Resti itu kalian belum melakukan kegiatan suami istri alias malam pertama, alias buka-bukaan, alias 18+ ehhh 21+," jelas Odi yang gregetan sendiri dengan otak Edrea yang entah beneran polos atau hanya pura-pura polos itu.
Edrea yang sekarang baru tau maksud dari ucapan kedua temannya tadi ia membeo.
"Ohhh maksud itu. Ya belum lah. Emang kalian kira tenaga kita tenaga kuda. Setelah satu hari hampir 12 jam berdiri, kalian pikir itu gak capek? Capek anjir. Capek banget kaki rasanya kayak mau pisah sama badan. Dan dalam keadaan kecapekan seperti itu masih memikirkan malam pertama, yang benar saja. Belum sampai ronde satu kitanya udah menyerah duluan yang ada," ujar Edrea. Ya, mereka berdua tadi malam sangat kelelahan dan memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka daripada melakukan malam pertama. Lagian malam pertama kan bisa lain kali. Kalau langsung tancap gas, yang ada mereka semakin kelelahan dan berakhir sakit nanti.
"Ow pantes saja gak ada ****** bertebaran di leher kalian," ujar Yesi yang diangguki mereka semua kecuali Edrea dan Leon tentunya.
"Jadi kalian berdiri di depan kamar kita gara-gara mau lihat bekas itu?" Dengan serempak mereka menganggukkan kepalanya.
"Ya kan kita kepo, sebringas apa kalian berdua di kasur," ucap Hito.
"Gila. Otak kalian ini harus---" belum selesai Edrea memarahi semua orang di hadapannya itu, suara pintu di samping kamarnya terbuka dan hal tersebut membuat atensi semua orang tertuju kearah dua orang yang baru keluar dari dalam kamar tersebut. Dan sama seperti Leon dan Edrea tadi, keduanya tak kalah terkejut saat melihat semua orang menatap keduanya.
"Mereka ngapain di situ?" tanya Zea dengan bisikan di telinga Azlan. Azlan menggedikkan bahunya tak tau.
"Aku juga gak tau, sayang. Udahlah abaikan mereka saja. Lagian kamu sudah lapar kan? Jadi lebih baik kita segera pergi cari makan sebelum maag kamu nanti kambuh," ujar Azlan. Dan dengan menggenggam tangan Zea, ia mulai berjalan. Tapi saat keduanya ingin melewati segerombolan orang-orang yang sudah ia kenal itu, langkah keduanya langsung di hadang oleh mereka.
"Anjir kalian habis ngapain?" Tanya Virza heran.
__ADS_1
"Jangan bilang kalian tadi malam tidur satu kamar berdua? Kalau iya, astagfirullah bestie ingat dosa. Jangan zina karena sesungguhnya zina itu sangat di benci oleh Allah. Tobat lah wahai pemuda-pemudi laknat," ceramah Virza.
Baru saja Azlan ingin membalas ucapan dari Virza itu, Resti lebih dulu angkat suara.
"Astaga astaga astaga. Kalian bisa-bisanya ya berbuat 21+ saat kalian masih pacaran. Astaghfirullah ya Allah ya Rabbi, tolong maafkan kelakuan dua teman hamba ini ya Allah," ucap Resti dengan menengadahkan kedua tangannya seperti orang yang tengah berdoa.
"Gue gak nyangka Lo bakal ngelakuin ini Az. Zea itu anak baik-baik, kenapa kamu rusak anjir. Kalau lo mau dia, setidaknya lo nikahin dia dulu jangan langsung proses pembuatan baby. Brengsek banget lo, Az. Senakal-nakalnya gue, gue gak pernah ngelukain hal seberdosa ini. Lo bener-bener keterlaluan Az. Gue sebagai teman Lo, gue kecewa lihat kelakuan lo. Padahal Lo dulu sering ngingetin kita untuk tidak menyakiti seorang perempuan entah itu secara fisik maupun hatinya apalagi merusak kaum hawa, lo sangat-sangat melarang keras hal itu terjadi. Tapi sekarang, gue kecewa sama lo," ujar Odi. Dia memang nakal, sering mabuk-mabukan, kelayapan tengah malam, ikut tawuran dan kenakalan-kenakalan yang lainnya, tapi untuk merusak perempuan sebelum adanya ikatan pernikahan, ia pastikan hal itu tak akan pernah terjadi.
Edrea dan Leon yang penasaran kenapa semua orang menuduh Kakaknya dan Kakak iparnya melakukan hal yang tidak wajar pun ia mulai mengintip dari celah teman-temannya itu yang menutupi penglihatannya.
Dan saat matanya tertuju ke salah satu bagian tubuh Azlan dan Zea, ia terkekeh di buatnya.
"Ada apa sih?" tanya Leon tak kalah penasaran.
"Coba kamu lihat di bagian leher bang Az dan Kak Zea. Kalau dibagian leher Kak Zea emang gak terlalu kelihatan karena kemungkinan dia pintar menutupinya tapi di leher bang Az, kelihatan jelas walaupun hanya ada satu saja," jelas Edrea yang membuat Leon kini memfokuskan pandangannya kearah kedua leher sepasang suami istri itu.
"Pantas aja mereka langsung menyerbu Azlan sama Zea. Orang ****** yang pengen mereka lihat ada di leher mereka berdua," ujar Leon diakhiri kekehan.
"Mereka belum tau kah jika Azlan sama Zea udah nikah?" Edrea menggelengkan kepalanya.
"Belum. Makanya mereka langsung menuduh bang Az sama Kak Zea melakukan zina. Padahal jika mereka melakukannya, mereka malah dapat pahala bukan dosa," ujar Edrea.
"Iya aku juga tau itu. Jadi biarkan saja Azlan sama Zea yang menjelaskan kepada mereka semua. Kita jangan ikut campur dan lebih baik kita kabur saja. Capek kalau harus meladeni perkataan mereka yang sangat-sangat tidak berbobot itu," ucap Leon yang langsung diangguki oleh Edrea.
__ADS_1
Mereka berdua kini perlahan berjalan meninggalkan segerombolan orang-orang tadi yang terus memojokkan sepasang suami istri yang masih di rahasiakan statusnya itu tanpa memberikan celah untuk mereka berdua menjelaskan tentang hubungan mereka.