
Saat Edrea dan Leon telah sampai di depan para siswa-siswi yang berkumpul di tengah lapangan itu, seluruh pasang mata langsung tertuju kearah mereka berdua. Dan tak sedikit orang yang salah fokus dengan genggaman tangan keduanya. Hingga hal itu menimbulkan bisik-bisik manja dari para siswa.
Sedangkan Edrea yang tak nyaman dirinya ditatap seperti itu oleh semua orang pun kini ia memundurkan tubuhnya sedikit kebelakang.
"Kenapa?" tanya Leon sembari menolehkan kepalanya kearah Edrea.
Edrea menggelengkan kepalanya.
"Kalau gak kenapa-napa jangan mundur kayak gitu. Sini," ujar Leon dengan menarik tangan Edrea pelan. Edrea kembali berdiri tepat di samping Leon.
Sedangkan Leon yang melihat Edrea seperti tengah nervous pun ia semakin mengeratkan genggaman tangannya itu. Dan setelahnya ia kembali menatap kearah semua orang di hadapannya.
"Mohon perhatiannya!" teriak Leon yang langsung membuat semua orang yang tadinya tengah berbisik-bisik kini mengatupkan bibir mereka.
"Gue tadi nyuruh kalian buat berkumpul di lapangan ini karena Edrea ingin mengatakan sesuatu yang penting ke kalian!" ucap Leon dengan lantang dan setelahnya pandangannya kembali menatap Edrea yang sekarang tengah mengerutkan keningnya.
"Kok gue?" tanya Edrea yang sepertinya lupa tujuannya pergi kesekolah hari ini.
"Ya terus harus diwakili gue gitu buat ngomong tentang kepindahan lo? Kalau lo gak keberatan, gue sih oke aja," tutur Leon.
"Ah gak, gak usah. Biar gue aja yang pamitan sama mereka," ujar Edrea. Leon pun menganggukkan kepalanya lalu setalahnya ia mempersilahkan Edrea untuk mulai angkat suara.
Edrea kini menghela nafas berulangkali untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya ia mulai angkat suara.
"Hay semua. Gue disini mau bicara sesuatu yang mungkin gak penting sama sekali untuk sebagai dari kalian tapi setidaknya dengan gue ngomongin ini, gue akan lega setalahnya," ujar Edrea dengan sengaja menjeda ucapnya itu sembari melirik kearah Leon. Leon pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya guna untuk menyemangati Edrea.
"Huft. Oke gue akan to the point ke kalian. Bahwa tujuan Leon ngumpulin kalian semua disini karena gue mau pamit ke kalian semua," tutur Edrea yang lagi-lagi membuat semua orang berbisik-bisik manja tak terkecuali dengan dua sahabatnya itu.
"Lah kok Rea pamitan sama kita? Emangnya dia mau kemana? Ih kok gitu, sedih nih gue," ucap Resti.
__ADS_1
"Iya ih, kenapa Rea gak bilang dulu sama kita kalau dia pamitan mau kemana gitu? Jahat banget sih," timpal Yesi.
"Kalian berdua bisa diam gak sih? Pertanyaan kalian itu nantinya juga akan tau jawabannya kalau Rea udah ngasih tau lanjutan perkataannya itu," ucap Jojo yang merasa terganggu dengan obrolan kedua sahabat Edrea itu. Dan ucapnya itu membuat kedua orang tadi memelototkan matanya tapi saat mereka ingin menimpali ucapan dari Jojo tadi, teriakan Edrea lebih dulu masuk kedalam indra pendengaran mereka.
"Mungkin kalian semua bertanya-tanya gue mau kemana? Kenapa pakai pamitan segala? Dan masih banyak lagi pertanyaan kalian yang gak bisa gue dengar. Jadi jawaban dari pertanyaan kalian cuma satu, gue mau pindah dari sekolah ini setelah penerimaan raport besok," ujar Edrea yang langsung membuat semua orang disana heboh terutama para fanboy Edrea yang tak terima dengan kepindahan Edrea itu.
"Kenapa harus pindah sekolah segala sih Re? Kenapa gak nunggu sampai lulus aja? Nanggung tau Re," protes seorang siswa yang berada di bagian depan dan pernyataannya itu disetujui oleh para fanboy Edrea yang lain.
"Sebenarnya gue sih mau-mau aja belajar disekolah ini sampai lulus. Tapi setalah didiskusikan dengan keluarga, gue tetap harus pindah. Berat memang ninggalin sekolah ini terutama ninggalin teman-teman semua. Tapi ini sudah menjadi keputusan bersama. Gue juga mau ngucapin terimakasih ke kalian karena udah bisa nerima gue sebagai teman kalian. Terimakasih udah dukung gue selama gue ada olimpiade. Dan terimakasih yang udah kasih kado gue setiap pagi," tutur Edrea diakhiri ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan sesuatu yang ingin keluar dari matanya.
Leon yang melihat hal itu pun langsung melepaskan genggaman tangannya tadi dan berganti menjadi ia merangkul pinggang Edrea yang membuat sang empu sempat terperanjat kaget.
"Gue begini buat penyemangat dan penenang lo," bisik Leon. Edrea yang tau jika itu semua hanya akal-akalan Leon pun ia menghela nafas. Tapi memang benar apa yang dikatakan Leon tadi karena dengan pelukan dari Leon itu, tiba-tiba hatinya menghangat dan menjadi tenang kembali.
Edrea memejamkan matanya sesaat sebelum melanjutkan ucapnya tadi.
"Dan gue mau minta maaf ke kalian kalau selama gue sekolah disini sering ngerepotin kalian, sering bikin ulah sama kalian, sering ngelukain kalian dengan ucapan atau tindakan gue, gue benar-benar minta maaf," ujar Edrea yang membuat air matanya yang ia tahan sedari tadi akhirnya keluar juga.
"Gak, gak akan. Kalian semua akan tetap gue ingat. Kita juga masih bisa kumpul-kumpul di luar sekolah kan. Jadi gue gak ada niatan sama sekali buat lupa sama kalian," tutur Edrea dengan suara bergetar.
"Nah tuh lo juga tau kalau kita masih bisa kumpul bareng. Jadi udah ya jangan pada melow lagi terutama lo, Re. Kalau lo nangis gini bikin hati gue rasanya seperti diiris-iris. Sakit Re, jadi jangan nangis lagi ya. Kita pelukan aja sini buat salam perpisahan kita," sambungnya sembari ia mulai melangkahkan kakinya menuju kearah Edrea dengan kedua tangannya yang terentang.
Tapi saat dirinya hampir saja menyentuh Edrea, Leon lebih dulu memeluk Edrea dan menjadikan punggungnya sebagai penghalang pelukan siswa tadi.
"Mau apa lo? Jangan aneh-aneh ya. Balik ke tempat lo tadi!" tutur Leon dengan tegas. Dan hal itu membuat siswa tadi tampak kecewa karena apa yang ia inginkan tak terpenuhi. Namun mau tak mau ia akhirnya mengikuti apa yang dipertahankan oleh Leon tadi.
"Rea sekarang sudah selesai kasih pengumuman ke kalian. Jadi kalian sekarang boleh bubar!" perintah Leon tanpa melepas pelukannya. Setalah perintah dari Leon itu terdengar, seluruh siswa satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut.
Dan setelah semua orang itu kini perlahan membubarkan diri, berbeda dengan para sahabat Edrea dan Leon yang sekarang justru mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"Ehemmm, pelukannya boleh di pending sebentar?" sela Yesi saat mereka semua sudah berada didekat Leon dan Edrea.
Edrea yang sepertinya baru tersadar akan aksi Leon itu pun dengan sekuat tenang mendorong tubuh Leon hingga pelukan itu terlepas.
"Pelukan mulu kek prangko," cibir Galuh yang hanya di anggap angin lalu oleh Leon.
"Lo beneran mau pindah, Re?" tanya Resti dengan mata yang berkaca-kaca tak lupa tangannya kini sudah menggenggam tangan Edrea. Edrea tersenyum sembari menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Ih kenapa harus pindah sih. Kalau lo pindah kita gimana coba? Gak ada lagi orang yang suka rela ngasih kita contekan nanti," ujar Resti yang mendapat sikutan dari Yesi.
Edrea terkekeh setelah mendengar keluhan dari sahabatnya itu.
"Mulai sekarang kalian harus lebih giat lagi belajarnya. Karena gue yakin setalah ini gak ada yang mau kasih contekan ke kalian," ujar Edrea.
"Ck, belajar itu berat tau Re, hanya orang-orang kuat saja yang bisa melakukan hal itu," tutur Resti.
"Makanya mulai hari ini dibiasakan belajar. Kalau kalian ada kesulitan bisa tanya ke gue. Walaupun kita udah gak satu sekolah kan teori pelajarannya masih sama," ucap Edrea yang masih mencoba memberikan semangat ke dua sahabatnya itu. Tapi ucapan dari Edrea itu hanya mendapat helaan nafas berat dari kedua sahabatnya.
Disisi lain, Leon yang terus menatap Edrea pun tatapannya harus buyar saat Galuh menyenggol lengannya.
"Gak usah galau gitu. Toh lo juga tau alamat rumahnya kalau kangen tinggal samperin aja," ucap Galuh.
"Bener tuh. Jadi gak usah sok galau begitu wajahnya. Eh btw gue kira lo tadi ngumpulin semua anak-anak gara-gara mau nembak Rea," tutur Faisal.
"Kalau gue nembak dia yang ada dia mati dong nanti," timpal Leon.
"Ck, maksudnya tuh gak nembak pakai pistol tapi lo mengungkapkan perasaan suka lo ke Rea," ujar Faisal. Leon tampak terdiam tak menimpali ucapan dari Faisal tadi. Hingga membuat teman-temannya bingung sendiri.
"Leon, woy. Bengong aja lo, kesambet baru tau rasa," ucap Jojo dengan menepuk lengan Leon yang membuat Leon kini tersadar dari pikirannya.
__ADS_1
"Belum saatnya karena gue masih ada suatu hal yang harus gue selesaikan dulu," ujar Leon yang tak ingin mengambil resiko jika menjadikan Edrea kekasihnya saat ini juga. Karena ia takut jika Edrea akan kembali terluka gara-gara dirinya.