The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 177


__ADS_3

Saat Edrea mulai mendekati para guru juga orangtua Puri tadi, semua tatapan mata mereka langsung tertuju kearah Edrea terutama Mama Puri yang sekarang sudah kembali berdiri dan menghampiri Edrea.


"Oh ini perempuan yang udah fitnah kamu tadi?" tanya Mama Puri kepada sang anak sembari menujuk kearah Edrea saat wanita itu sudah berada di depan Edrea.


"Hiks, iya Ma, dia orangnya. Hiks Puri takut, Pa," ucap Puri lalu ia memeluk tubuh Papanya yang sepertinya sudah di penuhi amarah juga sama seperti sang istri.


"Kamu tenang aja sayang. Disini ada Papa dan Mama yang akan bela kamu. Dan Papa akan pastikan jika perempuan itu akan di DO dari sekolah ini," ucap Papa Puri sembari menatap kearah kepala sekolah yang sekarang tengah menundukkan kepalanya.


Sedangkan Mama Puri kini melihat penampilan Edrea dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkannya.


"Cih, penampilannya kayak berandalan gini. Pantas aja gak punya sopan-santun dan etik," cibir Mama Puri.


"Maaf sebelumnya. Jika anda berbicara masalah etika dan sopan-santun, saya sedari kecil sudah diajarkan itu oleh orangtua saya. Dan justru etika dan kesopan-santunan anda juga anak anda yang perlu dipertanyakan," balas Edrea tanpa rasa takut sedikitpun.


Mama Puri yang merasa tersinggung pun ia langsung melayangkan tangannya kearah Edrea tapi belum sempat tangan itu mendarat di pipi mulus Edrea, sang empu lebih dulu menggenggam lengan Mama Puri dengan cengkraman yang begitu kuat.


"Aws," ringis Mama Puri saat Edrea menambah tekanan di lengannya itu.


"Tindakan anda ini sudah menjadi bukti jika memang benar anda lah disini yang tidak memiliki etika dan sopan-santun," ujar Edrea sembari melepaskan tangan tersebut dengan kasar lalu tanpa basa-basi lagi ia melangkahkan kakinya menuju ke kursi yang masih kosong.


"Kurang ajar. Awas saja kamu. Akan aku hancurkan masa depan kamu nanti," gumam Mama Puri sembari memegangi lengannya yang terdapat bekas kuku Edrea.


"Saya tunggu hal itu terjadi nyonya," ucap Edrea yang tadi sempat mendengarkan gerutuan dari Mama Puri.


Dan kini Edrea telah mendudukkan tubuhnya di samping Puri lebih tepatnya hanya terhalang satu kursi yang di peruntukan untuk Mama Puri yang sekarang tengah melangkah kakinya menuju kursinya tadi dengan tatapan tajam kearah Edrea. Edrea yang melihat hal itu pun membalas tatapan mata Mama Puri tadi, dengan tersenyum miring.


"Baik, semuanya sudah berkumpul disini tapi sebelum kita memulai perunding ini, saya mau bertanya ke Edrea terlebih dahulu. Orangtua kamu kenapa tidak bisa dihubungi?" tanya kepala sekolah.


"Ya pastinya takut lah dan malu punya anak berandalan seperti ini." Bukan Edrea yang menjawab melainkan Bu Erni yang di setujui oleh Mama Puri.


Edrea yang mendengar ucapan itu, ia tak menghiraukannya sama sekali.


"Orangtua saya kebetulan lagi ada urusan, Pak dan kemungkinan memang beliau tidak bisa hadir disini hari ini. Tapi walaupun tidak ada orangtua saya yang mendampingi saya disini. Saya akan terima apapun keputusan dari pihak sekolah dan untuk keluarga saya nanti biar saya yang menjelaskan kepada mereka dan saya yakin keluarga saya terutama orangtua saya mengerti keadaan ini," ucap Edrea dengan sopan.


"Baiklah kalau begitu kita mulai saja untuk mencari solusi dari masalah ini," tutur kepala sekolah tersebut.


"Saya disini sebagai orangtua Puri mengajukan jika anak ini harus dikeluarkan dari sekolah ini karena sudah berniat mencelakai siswa lain juga telah mencemarkan nama baik siswa tersebut," ucap Papa Puri yang sedari tadi hanya terdiam saja.


"Maaf, mohon izin untuk menyangga ajuan dari Tuan yang terhormat," ucap Edrea sembari mengangkat tangannya.


"Silahkan Edrea," tutur kepala sekolah tersebut.


"Jika saya di keluarkan dari sekolah ini dengan percuma karena tak ada bukti yang memberatkan saya. Apakah Puri juga akan di keluarkan dari sekolah ini juga? Karena kita semua belum tau bukan kejadian yang sebenarnya kecuali saya juga Puri. Jadi agar keduanya tak ada yang merasa dirugikan, jika tuan menginginkan saya di keluarkan di sekolah ini maka anak anda juga harus dikeluarkan," ujar Edrea sembari menatap kearah Puri.

__ADS_1


"Satu lagi, saat para guru tadi melihat kita bukankan kalian semua melihat jika lengan saya terluka cukup dalam dan pisau itu berada di dekat Puri? Jadi dilihat dari situ saja bukti pelakunya lebih kuat kearah Puri bukan?" tutur Edrea.


Puri kini menggelengkan kepalanya sembari menatap kearah orangtuanya.


"Bukan Puri yang lukai dia. Tapi dia sendiri, pisau yang udah digunakan untuk melukai dirinya itu sebelumnya dia gunakan untuk berniat membunuhku. Kalian harus percaya sama aku. Aku mana mungkin melakukan hal keji seperti ini dengan orang lain. Dan kamu, kenapa kamu tega fitnah aku terus-menerus padahal aku tidak punya salah bahkan tidak pernah mengusik hidup kamu. Hiks aku salah apa sama kamu. Papa, Mama, tolongin Puri hiks. Aku gak mau terus di sakiti sama dia Ma, Pa," tutur Puri yang membuat Edrea memutar bola matanya malas.


Mama Puri kini memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Edrea dan sebelum Edrea membaca pergerakannya, tangan Mama Puri kini menampar pipi Edrea dengan cukup keras. Dan bertepatan itu pula pintu ruangan tersebut terbuka yang menampilkan Azlan juga Erland yang kini semakin memancarkan aura membunuhnya.


"Berani-beraninya anda menampar adik saya!" Tutur Azlan dengan suara rendanya.


Semua orang disana kini mengalihkan pandangan mereka kearah dua laki-laki tampan yang sekarang sudah mulai mendekati mereka semua tak terkecuali Edrea yang kini terbengong. Kenapa bisa dua abangnya itu ada disini? Padahal jelas-jelas Edrea tadi pagi melihat mereka berdua kesekolah. Tapi kenapa mereka sekarang justru ada disini? Pakaian yang digunakan Azlan dan Erland pun juga pakaian biasa yang masih terlihat sopan dengan atasan yang dilapisi jaket hitam bukan seragam sekolah mereka.


"Bang Az, bang Er. Kenapa kalian ada disini?" tanya Edrea dengan tampang polosnya.


"Gantiin Mom sama Dad," jawab Erland dengan mata yang kini mulai menatap kearah lengan Edrea yang di perban lalu tatapannya kini beralih kearah Puri yang tadi sempat menatap kagum kearah Azlan juga Erland.


"Apakah orang itu yang melukai lenganmu?" tanya Erland yang justru membuat Edrea kini ketakutan bahkan untuk menelan salivanya sendiri pun ia kesusahan. Karena kalau kedua Abangnya itu sudah memancarkan aura menyeramkan seperti ini ditambah panggilan lo, gue diganti aku, kamu maka tandanya level kemurkaan mereka benar-benar sangat tinggi. Yang akan berakibat fatal kepada orang yang telah membuat mereka murka seperti ini. Maka dari itu Edrea tadi tak berniat memanggil kedua Abangnya atau Adam untuk menggantikan Mommy Della juga Daddy Aiden karena ketiganya lebih menyeramkan dibanding amukan Daddy Aiden.


"Bang udah lah, kita duduk aja yuk sekarang. Jangan mancing keributan," tutur Edrea yang merasa tak enak dengan kepala sekolah disana yang kini hanya bisa terdiam.


Tapi sepertinya Azlan dan Erland tak memperdulikan ucapan dari Edrea tadi dan justru keduanya kini menghampiri Puri yang tengah memeluk sang Papa.


"Jangan dekat-dekat dengan anak saya!" teriak Mama Puri sembari berlari kecil kearah Azlan juga Erland dan saat sudah sampai ia menghadang jalan keduanya.


"Oh jadi anda ibu dari gadis ini, eh sudah bukan gadis lagi melainkan wanita itu," ujar Erland sembari menunjuk kearah Puri.


"Mama!" teriak Puri sembari berlari kearah Mamanya diikuti sang Papa yang kini telah mengepalkan tangannya.


"Lepaskan tangan kamu dari Mama!" teriak Puri sembari berusaha melepaskan tangan Azlan dari rahang Mamanya yang tak mendapat gubrisan sama sekali oleh Azlan bahkan Erland yang berada di dekat Azlan pun tak berniat untuk menghentikan aksi saudara kembarnya itu. Sedangkan Edrea, ia masih berdiri kaku ditempat begitu juga para guru yang berada disana.


"Anak kurang ajar!" kini teriakan Papa Puri yang memenuhi ruangan tersebut dan setalah ia sampai di samping Azlan, ia melayangkan pukulan kearah Azlan tapi sayang, Erland lebih dulu menghalau pukulan tersebut bahkan kini bogeman dari Erland yang mendarat di pipi Papa Puri.


"Papa!" teriak Puri histeris.


"Anda berdua boleh menghina saya tapi jika anda menghina adik saya maka saya tidak akan tinggal diam," ujar Azlan yang semakin mengeratkan cengkramannya.


Sedangkan Erland, ia ingin kembali melayangkan bogeman lagi kearah Papa Puri tapi niatnya itu terhentikan saat suara seseorang mengintruksi mereka berdua.


"Azlan, Erland. Hentikan!" teriak orang tersebut yang membuat kedua laki-laki tampan itu melepaskan mangsa mereka.


"Saat ini kalian lolos dari maut, tapi saya tidak pastikan saat kalian keluar dari ruangan ini nyawa kalian masih berada di raga kalian," ucap Azlan.


Edrea yang tadi terdiam pun kini ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara tadi.

__ADS_1


"Mati sudah. 3 singa ada disini sekarang," batin Edrea sembari memijit pelipisnya.


Ya, orang yang datang adalah Adam juga Vivian. Entah darimana ketiga abangnya juga Vivian tau masalah yang ia hadapi sekarang. Yang jelas Edrea tidak menghubungi mereka semua sama sekali.


"Kamu gak papa?" tanya Vivian sembari mengelus rambut Edrea.


"Aku sih gak papa kak, tadi cuma luka aja. Tapi aku mohon bantu aku buat menghentikan mereka bertiga," mohon Edrea saat melihat ketiga abangnya itu sudah berjejer rapi menghadap kearah keluarga Puri.


"Aduh bukannya gak mau bantu, Re. Tapi masalahnya Kakak juga takut sama mereka kalau udah ngamuk gini," ujar Vivian.


Saat Edrea dibuat pusing dengan ketiga abangnya itu, Erland kini tengah membisikkan sesuatu kepada Adam.


"Bang, bisa gak jas dokter Abang di copot dulu?" bisik Erland.


Adam kini menatap ke badannya sendiri dan benar saja ia lupa melepas jas dokternya itu.


"Abang lupa. Lagian tadi Abang juga buru-buru kesini," ujar Adam sembari melepas jasnya itu. Lalu setelahnya ia melemparkan jas tadi kearah Edrea yang langsung ditangkap oleh sang empu.


"Pegangin sebentar," ucap Adam lalu setelahnya ia menatap kearah tiga orang didepannya itu.


"Jelaskan kenapa kalian tadi berbuat seperti itu dengan mereka?" tanya Adam kepada Azlan dan Erland.


"Pertama, anak mereka mencelakai Edrea berkali-kali," ujar Azlan.


"Omong kosong. Edrea lah yang udah nyelakain dan berusaha melenyapkan aku," ucap Puri memutus ucapan dari Azlan tadi.


"Oh ya? Jika memang benar apa yang anda katakan maka sebutkan apa saja yang sudah Edrea lakukan ke diri anda," tantang Erland.


Dan dengan berani Puri melangkah kakinya untuk berhadapan langsung dengan ketiga laki-laki tampan itu, karena baginya ini lah kesempatan bagus untuk mendapat simpati dari orang-orang disekitarnya terutama ketiga laki-laki didepannya saat ini.


"Pertama, Edrea pernah membulliku karena aku tidak secantik dia. Kedua, dia pernah menyiramku dengan kuah bakso saat di kantin sekolah. Dan ketiga, sebelum dia berniat membunuhku tadi saat ditanam belakang, Edrea sebenarnya sudah ingin menusukku menggunakan pecahan kaca saat pertandingan basket tadi tapi untungnya aku bisa mengelak saat itu. Dan tak hanya itu saja, Edrea sering melakukan ancaman kepadaku jika tak melayani dirinya dan menuruti ucapannya. Hiks aku benar-benar diperlakukan seperti budak oleh Edrea," tutur Puri diakhiri dengan tangis buayanya.


"Pintar sekali membolak-balikkan fakta," ucap Edrea tak terima.


"Kamu, diam! karena apa yang dikatakan dari mulut anak saya itu selalu benar. Dia tidak pernah berbohong. Jadi kamu diam saja, dasar anak sialan!" bentak Papa Puri yang sepertinya bogeman dari Erland tadi tak membuatnya takut.


Dan hal itu lagi-lagi memancing ketiga laki-laki didepannya itu dan kini ketiganya sudah mengepalkan tangannya. Siap untuk menghabisi laki-laki tua di depan mereka.


"Siapa yang anda sebut sebagai anak sialan, Tuan?" tanya seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut dengan langkah gagahnya diikuti oleh seorang wanita yang memasang wajah datar tanpa menyunggingkan senyumnya sedikitpun kepada orang-orang disana.


...****************...


Segini dulu ya, bonus up-nya. Karena author lagi gak mood buat nulis sebenarnya gara-gara eps yang sebenarnya ke hapus semuanya.

__ADS_1


Dan eps ini udah panjang banget hampir 2000 kata kurang sedikit benar-benar kurang dikit. Jadi sabar ya, besok masalahnya selesai kok. Dan maaf kalau author selalu berbelit-belit dalam membuat cerita. Harap di maklumi ya sayang, karena author masih amatiran dalam menulis dan jika 1 bab di jadiin satu terus masalah selesai, kepanjangan, dan mungkin bab dicerita ini hanya 10 bab aja. Dan kalau ada yang typo dalam penulisannya langsung ingatkan author, biar author langsung benerin hehehe 🤭


Thanks semuanya, see you next eps bye 👋


__ADS_2