
"Lo bawa mobil sendiri hari ini?" tanya Zico setelah ia selesai menyantap makanannya.
Edrea yang juga sudah selesai mengisi perutnya pun menatap kearah Zico yang kebetulan berada di depannya.
"Enggak. Gue tadi diantara orang rumah," jawab Edrea.
"Ya udah pulangnya biar gue yang antar," tutur Zico.
Baru saja Edrea ingin menjawab, suara Leon lebih dulu mengalihkan pembicaraan tadi.
"Oh ya Rea, nanti ada perkumpulan anak band untuk bahas soal perform kemarin sekalian kita mau bahas untuk merayakan kesuksesan kita kemarin," tutur Leon. Jojo yang sedari tadi hanya terdiam sembari menikmati drama antara ketiga orang yang mungkin sedang dalam masalah cinta segitiga itu kini membelalakkan matanya.
"Perkumpulan anak band?" tanya Jojo tiba-tiba. Pasalnya seingat dia, hari ini tak ada acara berkumpul dengan anak-anak band lainnya. Jika ada kenapa dirinya tidak diberi tahu terlebih dahulu? Dan kenapa sangat mendadak sekali?
Leon kini dengan sengaja menginjak kaki Jojo agar sang empu diam dan tak bersuara lagi.
"Awsss," rintih Jojo sembari menjauhkan kakinya dari injakan kaki Leon tak lupa tetapnya sekarang telah bertemu dengan tatapan tajam dari Leon. Ia nyengir takut saat melihat sang bos berekspresi sangat mengerikan dan ia sepertinya tau ucapan bosnya tadi hanya untuk alibi saja agar Edrea tak pulang dengan Zico.
"Lo kenapa Jo?" tanya Edrea heran.
"Ah enggak, tadi hanya ada semut yang gigit kaki gue," tutur Jojo. Edrea pun manggut-manggut percaya bergitu saja dengan ucapan Jojo kemudian ia langsung menoleh kearah Leon.
"Harus hari ini kumpulnya?" tanya Edrea. Leon menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Edrea tadi.
Edrea tampak menghela nafas. Ia takut jika ia ikut bergabung dengan anak-anak band lainnya kedua Abangnya akan marah kedirinya. Tau sendiri kedua Abangnya itu sekarang dalam mood yang tak bisa diajak kerja sama.
Edrea kini menggeser duduknya hingga mepet ke arah Leon. Kemudian ia berbisik tepat di telinga Leon.
"Gue gak bisa mastiin bisa ikut kumpul gak. Soalnya gue belum izin ke bang Az sama bang Er. Mereka berdua lagi dalam mode singa sekarang."
Setelah membisikkan kata-kata itu, Edrea kembali ke posisinya semula tanpa mengalihkan pandangannya kearah Leon.
Sedangkan Leon, ia tengah sibuk mengetik sesuatu kemudian setelah selesai ia langsung menujukan ketikannya tadi ke hadapan Edrea. Edrea pun langsung membaca setiap kalimat yang terpampang di layar ponsel Leon.
"Hubungin dulu mereka. Minta izin ke mereka. Jika masih tak di izinkan. Gak papa Lo gak ikut, asal jangan pulang dengan Zico. Lo bakal repot sendiri nanti."
Edrea kini mengerutkan keningnya. Apa yang dimaksud dia akan repot sendiri saat diantar pulang oleh Zico? Ah, sudahlah tidak perlu di pikirkan. Otaknya tadi sudah terkuras habis oleh mata pelajaran yang sangat di benci semua orang terutama dirinya, masak iya dirinya harus disuruh mikir lagi. Bisa-bisa otaknya itu nanti akan keluar asap, pikir Edrea.
__ADS_1
Ia menganggukkan kepalanya kearah Leon setelah itu ia langsung mengambil ponselnya kembali dan mengirim pesan untuk Azlan dan Erland.
Disetiap interaksi diantara keduanya, tak lepas dari tatapan sengit dari Zico. Bahkan ia sudah mengepalkan tangannya dengan sesekali ia menggertakkan giginya.
Tak berselang lama, notifikasi pesan masuk kedalam ponsel milik Edrea dan dengan cepat Edrea langsung membuka pesan tersebut yang ternyata dari Azlan dan Erland. Satu-persatu dia membuka pesan tadi dan raut wajahnya kini berubah jadi murung saat dirinya tak diizinkan untuk berkumpul dengan teman-temannya oleh kedua Abangnya. Memang sangat kompak Azlan dan Erland membuat Edrea jadi badmood seketika.
"Gimana?" tanya Leon lirih.
Edrea menggelengkan kepalanya.
"Mereka gak kasih izin," jawab Edrea.
"Ya sudah gak papa. Yang penting ingat kata-kata gue tadi," ucap Leon.
Lagi-lagi Edrea hanya bisa mendengus, kemudian mengangguk. Lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Zico yang berada di depannya.
"Zic," panggil Edrea. Zico yang tadi menatap Leon kini beralih kearah Edrea dengan ekspresi yang sudah berubah.
"Kenapa?"
"Hmmm, gue gak bisa pulang sama lo hari ini. Masalahnya orang rumah udah otw buat jemput gue," ucap Edrea.
Edrea menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu gue ke depan dulu. Bentar lagi paling sampai orang yang jemput gue. Baksonya udah Lo bayar kan Zic?"
"Udah beres semuanya. Gue juga mau kedepan. Kita bareng aja," ucap Zico sembari beranjak dari duduknya di ikuti oleh Edrea dan Leon.
"Gue juga mau kedepan. Ada barang penting yang ketinggalan di mobil," ujar Leon.
"Ya udah kita kesana bareng-bareng. Jojo ikut gak?" tanya Edrea.
Jojo yang sedari tadi tak berani berucap sepatah katapun setelah kakinya diinjak oleh Leon, kini langsung mendangakan kepalanya.
"Enggak deh. Kalian aja, gue masih mau makan soalnya, belum kenyang," alasan Jojo.
Edrea menganggukkan kepalanya, kemudian ia melangkahkan kakinya terlebih dahulu dari pada kedua laki-laki yang mengikuti dirinya dari belakang. Bahkan dirinya sekarang terlihat seperti sedang membawa dua bodyguard untuk melindungi dirinya.
__ADS_1
Tak berselang lama, mereka bertiga sampai di lobby sekolah dan di sanalah Edrea, Zico dan Leon harus berpisah karena Edrea akan lurus kedepan menuju depan gerbang sekolah sedangkan dua laki-laki itu harus kearah parkiran mobil disekolah tersebut.
"Gue duluan ya. Bye," ucap Edrea sembari melambaikan tangan ke Zico dan Leon yang dibalas lambaian juga oleh keduanya.
"Hati-hati dijalan," tutur mereka berdua dengan serempak.
Edrea yang mendengar hal itu pun terkekeh geli. Dan setelah Edrea sudah menjauh, Zico dan Leon saling beradu tatapan tajam sebelum mereka pergi menuju mobil mereka masing-masing.
Sedangkan Edrea kini tengah menunggu Azlan menjemputnya dan seperti yang ia katakan tadi bahwa mobil Azlan dari kejauhan sudah terlihat di mata indahnya itu. Saat mobil Azlan berhenti di depan Edrea dan sang empu sudah masuk, mobil Zico baru keluar dari area sekolah sedangkan Leon, ia sudah kembali lagi dengan teman-temannya yang masih betah di kantin sekolah tersebut.
Dan saat mobil Azlan itu pergi dari depan sekolah tersebut, tak berselang lama ada seorang wanita yang menghampiri satpam yang kebetulan tengah berjaga disamping gerbang sekolah tersebut.
"Maaf Pak," ucap wanita tersebut yang mampu mengalihkan pandangan satpam tersebut.
"Iya neng ada apa?" tanya satpam ramah.
"Ah saya cuma mau tanya. Apakah anda kenal dengan siswa disini yang namanya Puri?" tanyanya.
"Neng Sapuri Cintya Putri?" Wanita tersebut tampak terdiam sesaat.
"Emang nama Puri disini berapa ya Pak kalau boleh tau?"
"Setau saya cuma satu neng." Wanita itu tampak menghela nafas kemudian ia merogoh saku celana dan setelah itu ia menunjukkan foto Puri ke satpam tersebut dari ponselnya.
"Orangnya ini pak. Saya hanya tau nama panggilannya saja," ucapnya.
"Ah iya, ini neng Puri yang namanya tadi saya sebut." Wanita tersebut tampak mengangguk.
"Oh ya, ada perlu apa ya anda mencari neng Puri?" sambungnya.
"Hanya ingin bertemu saja Pak. Karena kemarin dia sudah menolong saya sekalian mau berterimakasih dengannya," tutur wanita tersebut dengan senyum manis.
"Oh ya kalau boleh tau, Puri sudah pulang belum ya Pak?"
"Hmmm sepertinya belum neng. Saya yang sedari tadi disini belum lihat mobil neng Puri keluar. Mungkin lagi santai-santai di sekolah ini. Neng mau masuk?"
Wanita itu tampak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tak usah Pak, saya nunggu disini saja." Satpam tersebut tampak mengangguk-anggukan kepalanya.