
Azlan yang baru paham kenapa Erland memintanya untuk berhenti secara mendadak setelah melihat kejadian di depan matanya itu, ia tampak terkejut namun juga bersyukur setidaknya saudara kembarnya itu segera sadar akan hal tersebut jika tidak sudah di pastikan mereka berdua akan tewas seketika di dalam mobil tersebut. Tapi yang membuat Azlan berpikir keras adalah siapa yang melakukan itu semua? Bukannya sedari tadi mobil yang mereka pakai, tak keluar dari area rumahnya? Jika ada penyusup yang masuk kedalam rumah, Azlan akan mengacungkan jari jempolnya kepada pelaku yang sudah berani-beraninya bermain api dengan dia juga keluarga besarnya.
Lamunan Azlan kini teralihkan saat ia merasakan tepukan di bahunya yang ternyata dilakukan oleh Erland.
Dan dengan helaan nafas Azlan menolehkan kepalanya kearah Erland.
"Kita sekarang harus bagaimana? Lanjut ke kantor Daddy atau pulang buat cari tau siapa yang sudah naruh boom di mobil? Karena gue yakin orang itu sekarang masih di rumah," ucap Erland.
"Kita pulang. Dirumah Mommy juga sendirian. Gue takut orang yang berniat jahat ke kita punya niatan yang sama dengan Mommy," ujar Azlan yang tampak khawatir bahkan ia sekarang segera mengeluarkan ponselnya yang untungnya berada di saku jaketnya. Lalu setelahnya ia mencoba menghubungi sang Mommy.
"Hp lo ada kan?" tanya Azlan yang diangguki oleh Erland.
"Pesan taksi online. Dan satu lagi, bukti itu masih lo pegang kan? Gak ikut ke bakar sama mobil itu?"
"Bukti masih aman di tangan gue," jawab Erland yang diangguki oleh Azlan.
Azlan terus mencoba menelepon Mommy Della sedari tadi bahkan sampai ia sudah masuk kedalam taksi online yang Erland pesan sebelumnya.
"Come on Mom. Angkat telepon Azlan," geram Azlan yang teleponnya tak kunjung di angkat oleh Mommy Della.
"Tenang bang, Mommy pasti lagi sibuk sama perawatan wajahnya itu sampai tidak mau di ganggu oleh siapapun," ucap Erland mencoba untuk menenangkan abangnya sekaligus dirinya sendiri yang juga ikut khawatir dengan kondisi di rumahnya saat ini terutama dengan Mommynya.
Beberapa menit telah berlalu, taksi yang di pesan oleh Erland sudah tiba di tempat mereka sekarang dan tanpa mengulur waktu lagi, keduanya langsung masuk kedalam taksi tersebut. Taksi itu terus melaju hingga berhenti di sebuah rumah yang tampak sepi tak seperti biasanya. Dan hal tersebut membuat Azlan langsung keluar dari mobil tersebut kemudian segera berlari masuk kedalam rumah tersebut. Sedangkan Erland yang ingin ikut berlari menyusul Azlan, langkahnya terhenti saat suara sopir taksi tersebut masuk kedalam pendengarannya.
"Hey hey hey bayar dulu! Enak aja main kabur begitu saja. Emang saya beli bensin gak pakai uang apa?" ucap sopir taksi tersebut yang berhasil membuat Erland mendekatinya kembali.
"Hehehe maaf pak, saya lupa," ujar Erland sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Lalu setelahnya tangannya merogoh saku celananya yang untungnya ada selembar uang 100 ribu yang terselip disana.
__ADS_1
"Ini Pak uangnya, kembaliannya buat bapak saja," tutur Erland sembari menyerahkan uang tadi kearah sopir taksi yang langsung di terima oleh sopir tersebut.
"Nah gini kek dari tadi. Terimakasih ya," ujar sopir taksi tersebut yang diangguki oleh Erland.
"Udah beres semua kan pak? Kalau sudah saya mau kedalam boleh kan?" tanya Erland.
"Lah kalau mau masuk ya masuk saja. Saya juga mau pergi, mau ambil orderan lagi," ucap sopir tersebut. Lalu tanpa menunggu Erland menimpali ucapannya tadi, ia langsung saja pergi dari hadapan Erland yang membuat laki-laki tersebut berdecak sebal. Sebelum akhirnya ia menyusul Azlan yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah tersebut.
Azlan yang sudah memasuki rumah mewah tersebut, tampak tak ada seorang pun disana. Bahkan para art dan bodyguard yang sebelumnya selalu ada dimana-mana. Sekarang rumah itu tampak kosong tak berpenghuni.
"Mommy!" teriak Azlan sembari kakinya berlari menuju ke kamar sang Mommy. Dan saat ia membuka pintu itu, ia sama sekali tak menemukan Mommy Della bahkan seluruh ruangan di kamar tersebut sudah ia lihat satu persatu.
"Mommy, kamu dimana?" teriak Azlan seperti orang kesetanan.
Erland yang baru sampai di rumah tersebut pun ia segera menghampiri Azlan yang sudah kembali turun dari lantai dua rumah tersebut.
"Gimana? Mommy ada di kamarnya?" tanya Erland yang di jawab gelengan kepala oleh Azlan.
Tapi lagi-lagi saat mereka berdua sudah berada di rumah tersebut, lagi-lagi yang mereka rasakan adalah kesunyian.
"Mommy!" teriak keduanya saat mulai memasuki rumah kedua tersebut.
Mereka terus mencari di seluruh ruangan di rumah tersebut tapi lagi-lagi mereka tak menemukan satu orang pun disana.
"Shitt, telepon Daddy sekarang!" perintah Azlan yang langsung di turuti oleh Erland.
Dua kali sambungan telepon tersebut terhubung, akhirnya Daddy Aiden mengangkat telepon tersebut.
📞 : "Ada apa?" tanya Daddy Aiden to the point.
__ADS_1
"Daddy pulang sekarang! Mommy bahkan seluruh orang di rumah ini sepertinya tengah di culik seseorang!" jawab Erland dengan suara lantangnya.
Daddy Aiden yang tadinya baru serius mengerjakan pekerjaannya, setelah mendengar hal tersebut tangannya dengan otomatis berhenti bahkan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
📞 : "Kamu jangan bercanda ya Er," tutur Daddy Aiden.
"Buat apa Erland bercanda Dad. Erland dan bang Az saja sekarang lagi mencari keberadaan mereka. Dan untuk kronologinya, nanti Erland kasih tau kalau Daddy sudah disini," ucap Erland.
📞 : 'Baiklah. Daddy pulang sekarang. Kalian tetap disana dan jangan kemana-mana dulu. Cari di sekitar rumah," ujar Daddy Aiden.
"Iya Dad. Kita akan cari di sekitar sini," tutur Erland. Dan setelahnya terdengar sambungan telepon tersebut terputus.
...****************...
Beberapa menit telah berlalu, Daddy Aiden kini baru saja sampai di kediamannya dan pada saat itu juga ia langsung bisa merasakan hal yang sama seperti yang kedua anaknya itu rasakan sebelumnya.
"Mommy kalian sudah ketemu?" tanya Daddy Aiden saat dirinya sudah masuk kedalam rumah tersebut.
Azlan dan Erland yang tadi tengah terduduk di ruang tamu dengan wajah khawatir, kini keduanya langsung berdiri saat melihat sang Daddy sudah sampai di rumah itu.
"Dad," panggil keduanya.
"Katakan, apa kalian sudah menemukan Mommy kalian?" tanya ulang Daddy Aiden yang dijawab gelengan kepala oleh keduanya.
"Kita sudah mencoba mencari di sekitar rumah bahkan semua CCTV yang ada di rumah ini sudah kita lihat tapi hasilnya tetap saja nihil. Karena ternyata CCTV disini tidak berfungsi mulai dari tadi pagi," ucap Erland.
"Dan saat kita tadi ke ruang CCTV kita menemukan bercak darah dimana-mana. Entah bercak darah itu darimana dan milik siapa. Kita tidak tau pastinya. Tapi kemungkinan bercak darah itu dari pengawas CCTV yang entah di bunuh atau mereka lukai saat mereka ingin memulai aksinya ini," sambung Erland.
"Sial! Kenapa kita bisa kecolongan seperti ini? Dan kalian tadi kemana sampai ninggalin Mommy di rumah sendiri?" tanya Daddy Aiden.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Dad, karena kita tidak tau jika akan terjadi seperti ini, kita tadi meninggalkan Mommy sendiri karena kita ingin menyusul Daddy ke kantor. Tapi saat di perjalanan mobil yang kita pakai meledak. Dan dari situ kita mulai mencurigai kalau ada seseorang yang tengah merencanakan sesuatu untuk keluarga kita," ucap Azlan yang sedari tadi diam saja.
"Dan mungkin orang yang melakukan ini semua ada kaitannya dengan seseorang yang ada di balik lambang ini," sambung Azlan sembari menyerahkan dua bukti yang mereka berdua miliki kepada Daddy Aiden.