
Untuk beberapa menit triplets berada di rumah sakit menemani Adam yang masih harus istirahat beberapa saat untuk memulihkan kondisinya kembali. Hingga Edrea yang bosan pun mulai angkat suara.
"Bang, kita pulang aja yuk," ajak Edrea.
"Emang bang Adam udah enakan?" tanya Azlan sembari menoleh kearah Adam yang sudah mendudukkan tubuhnya di atas brankar.
"Udah," jawabnya.
"Kuat jalan sendiri sampai parkiran kan?" tanya Edrea.
"Abang disini dulu. Masih ada urusan yang harus Abang selesai," ujar Adam.
"Heh siapa suruh Abang masih harus kerja hmmm? pulang sekarang sebelum Rea suruh bang Az sama bang Er seret Abang pulang," tutur Edrea dengan suara nyaringnya.
"Tapi masih ada satu pasien lagi Rea," ucap Adam.
"Kan ada dokter lainnya disini. Minta tolong sama salah satu dokter kan gak masalah. Jangan ngeyel!" tegas Edrea yang membuat Adam menghela nafas berat.
"Ya udah iya, Abang pulang sama kalian," final Adam kemudian ia perlahan turun dari atas brankar yang langsung didekati oleh triplets.
Dan saat ketiga orang tersebut berada didepan Adam, Erland langsung menengadahkan tangannya.
"Apa?" tanya Adam tak paham.
"Kunci mobil Abang. Gak mungkin kan dalam kondisi Abang seperti ini harus nyetir sendiri?" Lagi-lagi Adam harus mengalah kemudian ia merogoh saku celananya lalu ia melempar kunci mobil tersebut kearah Erland yang langsung di tangkap oleh sang empu.
__ADS_1
Dan setelahnya barulah keempat orang tersebut keluar dari ruangan tersebut tapi sebelum Adam benar-benar pergi dari rumah sakit tersebut, ia menghampiri salah satu rekan dokternya untuk membantunya memeriksa satu pasiennya yang dengan tangan terbuka langsung diterima oleh dokter tersebut.
"Udah?" tanya Edrea saat dirinya melihat Adam baru keluar dari ruangan dokter tadi yang dijawab dengan anggukan kepala oleh sang empu.
"Btw bang, cantik juga tuh dokter. Dan Rea lihat-lihat kayaknya dokter itu ada rasa sama Abang," goda Edrea saat mereka kembali melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil yang disana sudah ada Azlan dan Erland.
"Sok tau banget kamu," tutur Adam sembari mencubit pipi Edrea dengan gemas.
"Aku bukan sok tau lho bang. Tapi emang dari gerak gerik dan lirikan mata dokter tadi tuh seakan-akan berbicara jika dia mengagumi Abang lebih tepatnya ke suka sih." Adam hanya menggedikkan bahunya dengan ocehan Edrea yang menurutnya tak mutu itu.
"Lagian ya bang. Abang tuh umurnya udah 25 tahun dan umur segitu tuh udah pas buat nikah," ujar Edrea.
"Masih terlalu muda Rea buat laki-laki kalau nikah di umur segitu. Toh Abang juga belum mikir ke situ. Fokus karir, bikin bangga Dad sama Mom dulu. Perkara jodoh nanti kalau saatnya udah tiba, Abang juga bakal nikah," tutur Adam.
Edrea mendengus, ia sepertinya tau apa yang mendasari Abang angkatnya itu tak menjalin hubungan yang serius dengan perempuan lagi beberapa tahun ini.
"Jangan bahas begituan Rea," ucap Adam.
"Oh ayo lah bang, Kak---" Adam kini menatap Edrea dengan tatapan tajamnya.
"Sudah Abang katakan, jangan bahas perkara jodoh dan lain sebagainya. Paham!" ucap Adam dengan tegas yang membuat nyali Edrea langsung menciut kemudian ia mengangguk patuh.
Adam yang melihat wajah ketakutan dari Edrea pun dengan segera ia memeluk tubuh Edrea.
"Maaf, Abang kelepasan. Lain kali jangan bahas lagi ya cantik," ucap Adam dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Edrea menganggukkan sembari membalas pelukan dari Adam.
"Ditungguin dari tadi eh taunya malah pelukan begini," ujar Azlan. Edrea dan Adam kini melepaskan pelukannya lalu menatap kearah Azlan dan Erland yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.
"Abang cemburu karena gak dapat pelukan dari Rea? ya udah sini-sini biar adil, Rea peluk kalian satu-satu. Gantian ya tapi jangan rebutan." Edrea kini berlari mendekati kedua kembarnya sembari merentangkan tangannya.
Tapi saat tubuhnya hampir menyentuh tubuh Azlan, sang empu lebih dulu menahan kening Edrea mengunakan tangannya. Sehingga pelukan tadi tak sampai di tubuhnya.
"Jauh-jauh sana. Lo banyak virus," tutur Azlan sembari mendorong pelan kening tadi yang membuat Edrea mundur beberapa langkah. Bahkan terlihat kerucutan di bibirnya. Tapi kini ia beralih kearah Erland dan saat dirinya ingin memeluk Erland, sang empu sudah lebih dulu berlari dan masuk kedalam mobil Adam.
"Ck, tadi aja cemburu tapi giliran mau di peluk pada kabur. Gimana sih?" ucap Edrea sembari menghentakkan kakinya.
"Mereka itu hanya gengsi aja Rea. Disini kan banyak orang, jadi kalau mau peluk mereka berdua harus nunggu sepi dulu. Udah ah kita pulang sekarang, Abang masih pusing masalahnya." Edrea kini bergegas memegangi lengan Adam dan memapahnya hingga sampai disamping mobilnya dan setelah memastikan jika Adam sudah nyaman didalam mobil tersebut, Edrea baru beranjak dan masuk kedalam mobil Azlan.
Tak berselang lama, kedua mobil itu mulai berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut.
Hingga beberapa menit kemudian mobil itu telah sampai di pelataran rumah keluarga Abhivandya.
"Abang kekamar dulu," pamit Adam setelah masuk kedalam rumah tersebut ke triplets yang sekarang tengah terduduk di sofa ruang tamu.
Triplets pun menganggukkan kepalanya lalu barulah Adam menuju kamarnya yang berada dilantai atas tepat disamping kamar Azlan.
Dan saat dirinya sudah masuk kedalam kamar yang jarang sekali ia tempati itu, ia langsung menuju ke arah lemari kaca dikamar tersebut. Ia menghela nafas saat melihat salah satu foto yang terpajang rapi disana dan tangannya kini bergerak membuka lemari tersebut untuk mengambil barang tadi. Saat dirinya sudah mendapatkannya, ia kini menuju kearah balkon kamar dan mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi disana sembari memandangi foto tadi.
Tangannya kini bergerak untuk mengelus foto tersebut, sebuah foto seorang gadis cantik dengan balutan dress berwarna putih dengan rambut yang tergerai indah ditambah hiasan bando bunga di kepalanya dan disamping wanita itu terdapat seorang pria yang tengah menatapnya dengan penuh kasih sayang, senyum juga ketampanan selalu melekat di dirinya bahkan tangan dari keduanya saling berpegangan erat seolah-olah mereka tak ingin meninggalkan satu sama lain.
__ADS_1
Dan kini sudut bibir Adam tertarik keatas, membuat sebuah senyuman manis diwajahnya.
"I miss you. Really really miss you. And i always love you," tutur Adam dengan air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya kemudian ia kini mencium foto gadis tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Dan setelah puas mencium foto tadi, Adam berpindah memeluk bingkai foto tadi dengan tatapan lurus kedepan. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Hanya Adam yang tau.