The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 23


__ADS_3

Edrea mengerjabkan matanya sembari memegangi pipinya yang nampak berdenyut hebat.


"Aw," desisnya. Ia pun kini perlahan mendudukkan tubuhnya diatas banker UKS tersebut.


Setelah itu karena rasa penasarannya akan luka yang ia terima, Edrea dengan segera meraih tasnya dan mencari keberadaan cermin kecil yang selalu ia bawa.


Ia mendekatkan cermin tersebut ke pipi sebelah kirinya dan betapa terkejutnya dia saat terdapat memar biru disana.


"Pantesan sakit banget," gumamnya. Setelah itu ia memasukkan kembali kaca tersebut.


Edrea kini menatap ke sekelilingnya. Sepi, seperti tak ada orang sama sekali di ruangan tersebut. Ia pun menghela nafas setelah itu ia bergegas untuk keluar UKS dan menuju kelasnya yang sepertinya pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu.


Saat dirinya berjalan ke kelasnya, mata Edrea tak sengaja menatap kearah lapangan sekolah yang terdapat dua laki-laki tengah berlari mengitari lapangan tersebut.


Edrea memincingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa dua laki-laki tersebut. Ia kembali berdecak saat mengetahui ternyata dua orang tadi adalah Joni dan juga Zico.


"Pasti ini gara-gara gue tadi pagi," gerutu Edrea.


Langkahnya untuk menuju ke kelas pun ia urungkan dan kini kakinya ia putar untuk melangkah menuju kantin sekolah.


Tak berselang lama ia kembali ke samping lapangan sekolah dengan membawa 2 botol minuman ditangannya.


Dengan ragu ia kini menghampiri dua orang tersebut yang sepertinya sudah selesai melaksanakan hukuman mereka.


"Ehem," dehem Edrea saat berada di dekat mereka berdua yang tengah membisukan dirinya masing-masing.


Setelah deheman dari Edrea tadi terlontar, Joni dan juga Zico secara kompak menatap Edrea yang masih berdiri.


Joni segera mendirikan tubuhnya dan menghadap kearah Edrea yang tengah tersenyum kepadanya.


"Gimana? masih sakit?" tanya Joni sembari menatap pipi Edrea yang membengkak dan biru.


"Sakit dikit aja kok. Tenang aja tar juga sembuh kan udah diobati," jawab Edrea. Joni pun mengangguk tak lupa dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Oh ya, ini minuman buat lo. Maaf karena gue, lo jadi kena hukuman," ucap Edrea sembari menyodorkan satu botol air mineral kearah Joni yang langsung di sambar oleh sang empu.


"Tenang aja. Gue hanya gak mau lihat perempuan dengan seenaknya aja di gituin sama laki-laki sombong, angkuh dan tak tau diri," tutur Joni sembari menyindir Zico yang masih diam duduk di lantai lapangan tersebut.


"Joni, udah jangan cari gara-gara lagi. Makasih juga lo tadi udah belaiin gue," ucap Edrea. Joni pun tersenyum sembari mengangguk.


"Gue ke Zico dulu ya mau minta maaf," pamit Edrea.


"Ya udah sana. Gue awasin dari sini."

__ADS_1


Edrea kini melangkahkan kakinya menuju Zico yang tengah menalikan tali sepatunya.


Tanpa berucap Edrea menyodorkan satu botol air mineral tadi dihadapan Zico. Zico yang tadinya menunduk pun kini menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Edrea namun sesaat setelahnya ia kembali acuh dan melanjutkan aktivitasnya.


Edrea menghela nafas, setelah itu ia menjongkokan tubuhnya di depan Zico.


"Ini air mineral buat lo. Gue disini gak akan ganggu lo lagi kok dan gue juga mau minta maaf atas apa yang gue lakuin selama ini ke lo yang buat lo jadi gak nyaman. Maaf juga untuk kejadian tadi pagi yang berakhir lo dapat hukuman gara-gara ulah gue," tutur Edrea tulus.


"Gue janji mulai hari ini gue akan menjauh dari lo dan gak akan ganggu hari-hari lo lagi. Sekali lagi maaf," sambung Edrea sembari menaruh botol air mineral tadi didepan Zico setelah itu ia bangkit dari jongkoknya.


"Joni, gue masuk ke kelas dulu ya. Thanks untuk semuanya," ucap Edrea dan diacungi jempol oleh Joni.


"Gue masuk kelas dulu, Zic. Maaf untuk semuanya," tutur Edrea kepada Zico yang saat ini terdiam di tempat.


Kini Edrea berjalan menuju kelasnya dengan air mata yang entah kenapa lolos begitu saja dari mata cantiknya itu.


"Huh, sakit hati ternyata gini rasanya," gumam Edrea dengan menghapus air matanya tadi.


...*****...


Jam dinding kini menunjukkan pukul 12 siang yang artinya jam istirahat telah dimulai. Seperti biasa, Azlan akan menuju perpustakaan terlebih dahulu sebelum nantinya akan menyantap makan siangnya di kantin.


Saat dirinya ingin menginjakkan kakinya masuk kedalam perpustakaan, terdengar suara nyaring dari kejauhan.


"Heyyy!" teriakan tersebut kini semakin mendekat. Azlan yang tadinya bodoamat pun kini mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ia memutar bola matanya malas saat tau siapa orang yang tengah berlari menghampirinya.


Azlan tak menanggapi ucapan dari wanita tersebut yang ternyata adalah Zea. Ia memilih untuk masuk kedalam perpustakaan dan meninggalkan Zea yang masih mengatur nafasnya.


"Astaga, tuh orang bisa nungguin gue gak sih," geram Zea dan kini ia pun ikut masuk kedalam perpustakaan, mengikuti langkah Azlan.


Azlan yang merasa dirinya diikuti pun menghentikan langkahnya dan segera berbalik arah menghadap Zea. Karena tak mengamati jalan didepannya alhasil Zea menabrak dada Azlan cukup keras.


"AW," rintihnya sembari mengelus keningnya.


"Lo itu kalau mau berhenti ngomong dulu bisa gak sih. Sakit nih jadinya kening gue," ucap Zea.


"Suruh siapa lo ngikutin gue hah?"


"Ck gue tuh gak lagi ngikutin lo tau," tutur Zea.


"Terus?" tanya Azlan dengan memincingkan alisnya.


"Gue tuh sebenernya cuma mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Zea.

__ADS_1


Azlan kini mengerutkan keningnya.


"Tapi jangan disini deh, gak enak sama yang lain tuh," bisik Zea dan kini tangannya meraih lengan Azlan untuk menuntunnya ke luar perpustakaan tersebut namun tanpa ia sadari ada tiga pasang mata yang tengah menatap interaksi keduanya.


"Sial, ini gak bisa dibiarin," ucap salah satu diantara mereka bertiga. Setelah itu ketiganya ikut keluar dari ruangan tersebut dan mengikuti Azlan dan juga Zea tadi.


Kini saat Azlan dan juga Zea sudah berada diluar bahkan sudah menjauh dari perpustakaan, Azlan dengan cepat melepaskan genggaman tangan dari Zea.


"Astaga, bisa slow gak sih lo. Bar-bar banget jadi orang," protes Zea sembari mencebikkan bibirnya.


"Cepetan!" perintah Azlan.


"Cepetan? apa?" tanya Zea tak mengerti.


"Lo tadi mau ngomong kan?" Zea mengangguk polos.


"Cepetan kalau mau ngomong, gue gak ada waktu banyak buat berhadapan dengan lo," tutur Azlan dengan dingin.


"Sok sibuk banget sih lo beruang kutub," sarkas Zea yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azlan.


"Hehehe canda doang. Biasa aja kali ngelihatinya," sambung Zea yang merasa takut dengan tatapan Azlan tadi.


Dengan diam-diam Zea melirik kearah name tag yang berada di baju seragam milik Azlan.


"Azlan Delbert A," gumam Zea.


"Apa?" tanya Azlan yang mendengar gumaman dari Zea tadi.


"Eh enggak cuma baca nama lo aja," jawab Zea dengan cengiran kuda.


Azlan menggelengkan kepalanya, sungguh wanita aneh, batinnya.


"Buruan, Lo mau ngomong apa?" Zea pun menepuk jidatnya saat ia tadi sempat lupa tujuannya untuk mencari Azlan tadi.


"Itu, gue mau minta tas gue yang ketinggalan di mobil lo," ucap Zea.


"Tas?" Zea pun mengangguk.


"Nanti gue cariin. Kalau sekarang gue gak bisa," tutur Azlan.


"Nanti kapan dong? masalahnya di tas itu ada hp sama laptop gue," ucap Zea memelas.


Azlan menghela nafas. Setelah itu ia merogoh saku celananya dan setelah mendapat apa yang ia cari, ia pun melemparkan benda itu kearah Zea yang dengan cepat ditangkap olehnya.

__ADS_1


"Tuh kunci mobil gue. Cari sendiri sana, kalau udah nanti balikin ke gue di kantin atau di kelas 11 IPA 1," ucap Azlan. Zea pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia berlari kecil meninggalkan Azlan yang masih menatap kepergiannya.


"Aneh," gumamnya. Kemudian, Azlan kini melangkahkan kakinya menuju kantin dan mengurungkan niatnya untuk mencari buku pelajaran di dalam perpustakaan tadi.


__ADS_2