
Sama seperti saat dirinya ingin masuk kedalam kamar Azlan tadi, Edrea kini lebih dulu mengetuk pintu kamar Erland dan tanpa menunggu jawaban dari sang empu, Edrea lebih dulu nyelonong masuk begitu saja hingga membuat Erland yang tengah menelepon seseorang terperanjat kaget.
Lalu karena refleks, Erland langsung mematikan sambungan telepon tadi. Bahkan senyum yang tadinya mengembang kini telah hilang saat menatap kearah Edrea yang justru hanya diabaikan begitu saja oleh sang empu. Dan Edrea malah terus fokus menatap ke sekeliling kamar Erland. Hingga membuat Erland yang tadinya duduk di atas ranjangnya kini mendekati Edrea lalu mengigit pipi adik perempuannya itu.
"Aws, sakit ih," ucap Edrea sembari mengelap bekas gigitan Erland tadi menggunakan tangannya.
Lalu setelah ia pastikan pipinya bersih, Edrea malah mencium bau di tangannya itu.
"Bau ih. Abang tadi habis makan apaan sih, jigongnya bau banget. Arkhhhh jorok," geram Edrea kemudian ia segera berlari kearah kamar mandi yang berada di kamar tersebut. Meninggalkan Erland yang tengah memandangi dirinya. Dan beberapa detik kemudian ia menggedikkan bahunya. Lalu setelahnya ia kembali ke tempat sebelumnya untuk segera mengirimkan pesan untuk seseorang yang tak lain adalah Kayla, hanya sekedar pesan permintaan maaf saja karena sudah mematikan sambungan telepon secara mendadak tadi.
Dan saat dirinya tengah asik saling membalas pesan dengan wanita pujaannya itu, Edrea telah kembali kedalam kamar tersebut setelah membersihkan tangannya tadi.
Edrea kini berdiri tak jauh dari Erland sembari matanya terus terfokus kearah saudara kembarnya itu.
"Oke fiks dia sepertinya juga punya gebetan. Udah ketauan banget dari gelagatnya seperti itu. Mandangin hp sambil senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Tapi sayangnya di kamar ini gak ada petunjuk satu pun tentang wanita yang sudah berhasil meluluhkan hati bang Er. Jadi penasaran seperti apa wajah perempuan itu yang udah menaklukkan singa jantan satu ini," batin Edrea yang masih saja berusaha untuk menemukan petunjuk dari kisah asmara Erland di kamar tersebut.
Erland yang baru menyadari Edrea telah kembali pun kini ia menatap kearah Edrea dengan tatapan tajam.
"Ngapain lo kesini? Kalau gak ada keperluan, keluar sekarang!" perintah Erland yang membuat Edrea kini menghentikan aktivitasnya tadi. Lalu setalahnya ia mendekati sang Abang.
"Hmmm gini bang, sebenarnya Rea kesini tuh ada sesuatu yang mau Rea kasih tau sama Abang," ujar Edrea sembari mendudukkan tubuhnya disamping Erland.
__ADS_1
"To the point please," ucap Erland yang membuat Edrea kini berdecak sebal dan jika bisa ia akan mengutuk Erland saat itu juga. Tidak bisakah laki-laki disebelahnya ini basa-basi terlebih dahulu, menyebalkan.
"Puri hamil," tutur Edrea singkat padat dan jelas.
"Ya terus? apa hubungannya sama gue? Dia mau hamil kek, mau dia kawin lari kek, mau dia udah punya anak kek, bukan urusan gue," ujar Erland yang tak jauh berbeda dengan respon dari Azlan tadi.
"Tapi kali ini menjadi urusan kita semua bang. Bukan cuma lo doang tapi seluruh keluarga kita," ucap Edrea.
Erland kini mengerutkan keningnya, tak paham atas ucapan dari Edrea tadi.
"Maksud lo?"
"Jadi yang lo maksud tadi, gue disuruh cari siapa ayah kandung anak Puri gitu?" Edrea menganggukkan kepalanya sebagi jawab atas pertanyaan dari Erland tadi.
"Lo yakin?" Lagi-lagi Edrea menganggukkan kepalanya.
"Ck, dia tidur sama banyak laki-laki lho, bukan cuma 2 atau 3 orang aja tapi udah puluhan. Itupun yang ada didalam negeri belum yang diluar negeri. Mau sampai kapan ngumpulin data semua orang itu?" Edrea menggedikkan bahunya.
"Rea juga gak tau. Rea disini kan hanya menyampaikan pesan dari Daddy tadi kalau Abang disuruh buat list orang yang udah pernah tidur sama Puri. Jadi Abang yang harus cari solusi bagaimana masalah ini harus terselesaikan sebelum bayi yang ada di perut Puri itu lahir," ujar Edrea yang membuat Erland mengusap wajahnya dengan kasar.
"Wanita itu ya, gak capek apa nyusahin orang mulu. Mati aja sekalian biar hidup orang lain damai dan tentram tanpa gangguan dari dia. Kampret emang tuh cabe-cabean," ucap Erland penuh dengan umapatan dan sumpah serapahnya.
__ADS_1
Edrea yang seakan-akan ikut merasakan pusingnya saudara kembarnya yang telah diberi amanat yang sangat menguras tenaga itu kini ia menepuk-nepuk pundak Erland.
"Ya udah sih bang, jalanin aja. Abang kan punya anak buah banyak tuh, nah suruh mereka bantu cariin dan ngorek informasi tentang masa lalu Puri. Abang juga gak sendirian kok, tapi bang Az juga mendapat tugas yang sama seperti bang Er," ucap Edrea mencoba menenangkan Erland yang sepertinya ingin marah itu.
"Abang juga tau sendiri kan kalau Daddy udah nyuruh kita ngelakuin sesuatu, berarti kita harus jalanin sesuai perintah beliau. Kalau kita nolak, Abang juga tau konsekuensinya bagaimana. Jadi kita sebagai anak, patuh aja lah sama ucapan orangtua kita. Hitung-hitung jadi anak berbakti," sambung Edrea yang langsung mendapat helaan nafas dari Erland.
"Oh ya satu lagi yang mau Rea katakan sama Abang," ucap Edrea yang membuat Erland kini menolehkan kepalanya kearah sang empu.
"Jangan aneh-aneh," tutur Erland.
"Gak aneh kok, Rea cuma mau pinjam hp Abang doang," ujar Edrea dengan cengirannya.
"Buat apaan? Lo juga punya hp sendiri. Pakai aja hp lo itu," tutur Erland.
"Ck, Rea tuh lupa naruh hp Rea dimana. Makanya Rea mau pinjam hp Abang tuh buat telepon hp Rea," ujar Edrea penuh dengan alasan. Padahal ia tau ponselnya itu dimana sekarang dan alasannya itu ia lakukan karena lagi-lagi ia ingin mengorek informasi tentang Erland yang sudah mempunyai pasangan seperti Azlan atau justru masih jomblo sama seperti sebelumnya.
Erland kini berdecak dan setelahnya ia langsung mengambil ponselnya yang sebelumnya tergeletak di sampingnya. Dan tanpa Rea duga, Erland bukannya langsung menyerahkan ponselnya tadi ke dirinya, justru kini sang empu tengah sibuk mengotak-atik ponsel tersebut lalu setelahnya ia melakukan panggilan ke nomor Edrea.
Lalu setelahnya ia berdiri dari duduknya.
"Ngapain masih duduk di sini. Buruan keluar, kita cari hp lo itu," ajak Erland kemudian ia langsung melenggang keluar begitu saja meninggalkan Edrea yang kini tengah menghela nafas karena apa yang ia inginkan dan yang membuat dirinya kepo maksimal itu tak bisa ia temukan di dalam kamar Erland dan mungkin bukti satu-satunya adalah di ponsel Abangnya itu.
__ADS_1