
Azlan kini tengah tersenyum ceria dengan sesekali melirik ke buket bunga juga boneka yang telah ia siapkan untuk sang kekasih dan kini mobilnya telah sampai di pelataran lingkungan rumah Zea.
"Terimakasih Pak," ucap Azlan saat pagar rumah tersebut dibukakan oleh salah satu satpam disana yang di balas dengan anggukan kepala oleh satpam tadi.
Dan baru saja mobil itu berhenti tepat di depan rumah tersebut, juga Azlan baru saja keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya mendekati pintu. Tangannya yang akan ia gunakan untuk menekan bel rumah tersebut, ia urungkan saat dirinya mendengar keributan didalam rumah tersebut. Umapatan demi umpatan bahkan pecahan benda-benda pun terdengar nyaring di telinga Azlan.
Senyum yang sedari tadi mengembang di bibirnya kini hilang entah kemana. Dan dirinya tambah khawatir saat terdengar suara bentakan yang menyangkut nama Zea dalam nada suara tersebut padahal sebelumnya ia samar-samar mendengar Zea berusaha menjadi penengah dari pertengkaran kedua orangtuanya.
Tubuhnya mematung sempurna saat mengetahui kekacauan dalam rumah tersebut yang mungkin selama ini dirasakan oleh Zea. Ia tau jika Zea anak broken home, tapi hal ini sudah sangat parah sekali untuk mental anak remaja seperti Zea.
Khawatir? tentu saja. Siapa yang tidak khawatir jika sang kekasih didalam menjadi salah satu bahan pertengkaran itu. Tapi jika ia menyelinap masuk kedalam rumah tersebut, sama saja ia tak punya sopan santun, toh masalah mereka bukan masalahnya yang mengharuskan ia ikut campur dalam hal itu.
Keterbengongannya kini tersadar saat suara pintu utama rumah itu terbuka dengan kasar yang membuat dirinya langsung menatap orang tersebut. Dan tanpa sepatah katapun orang tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Zea, menarik tangan Azlan untuk segera menjauh dari pintu utama tersebut tak memperdulikan dua orang tadi meneriaki namanya.
"Jalan sekarang Az!" perintah Zea penuh dengan permohonan yang terpancar dari matanya.
Dan karena tak tega, Azlan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut juga kedua orangtua Zea yang tengah menatap kepergian anaknya itu.
Sedangkan Zea, ia sekarang menundukkan kepalanya sembari menutup wajahnya untuk menyembunyikan tangisannya dari Azlan.
"Nangis aja jangan ditahan," ucap Azlan sembari mengelus lembut kepala Zea.
"Hiks, aku capek Az. Aku pengen hilang dari bumi ini," tutur Zea.
Azlan yang mendengar perkataan ngaco dari Zea pun segera menepikan mobilnya dan setelah mesin mobil tersebut mati, Azlan langsung melepas seat beltnya lalu memeluk tubuh Zea untuk memberikan ketenangan pada gadis pujaannya itu.
"Hey tenang lah. Jangan bicara seperti itu. Dan akan aku pastikan ucapanmu itu tidak akan pernah tercapai. Kamu lelah boleh tapi jangan sampai berniat untuk bunuh diri dan melenyapkan diri kamu dari dunia ini. Aku memang tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan, penderitaan yang kamu terima selama ini dan masalah yang selalu menghantui diri kamu. Aku tidak merasakan itu semua tapi jika kamu memilih untuk mengakhiri hidup kamu, aku akan sangat menentang hal itu. Dan sudah pernah aku bilang sebelumnya dengan kamu berniat untuk mengakhiri hidup kamu, masalah itu tidak akan pernah selesai malah akan semakin parah. Dan aku juga sudah berulang kali bilang sama kamu kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, cerita sama aku, Ze. Aku sekarang sudah jadi pacar kamu dan akan aku pastikan jika aku juga akan menjadi pendamping kamu selamanya. Sekarang tenang oke, hilangkan pikiran kamu untuk mengakhiri hidup kamu dan kamu sekarang boleh pukul aku sampai kamu puas biar kamu sedikit lega," tutur Azlan sembari melepas pelukannya dan kini ia merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menerima pukulan dari Zea.
Dan Zea yang memang sangat ingin meluapkan emosinya pun langsung memukul tubuh Azlan membabi buta yang membuat sang empu sesekali meringis. Tak bisa dipungkiri pukulan dari Zea lumayan membuat tubuhnya merasakan sakit.
__ADS_1
Setelah merasa puas, Zea langsung memeluk tubuh Azlan dengan begitu erat.
"Maaf, hiks," ucap Zea.
"Kenapa harus minta maaf hmmm? Kan aku tadi yang minta. Udah ya sekarang jangan nangis lagi dan aku punya sesuatu buat kamu," tutur Azlan sembari menghapus air mata Zea.
"Sesuatu, apa?"
"Senyum dulu dong. Kalau kamu gak senyum, jangan harap kamu tau sesuatu itu." Dengan terpaksa Zea menampilkan senyumannya.
"Nah gini kan jadi tambah cantik, sayangku," gemas Azlan sembari mengacak rambut Zea lalu dia mulai meraih buket bunga dan boneka yang ia taruh di kursi belakang kemudian ia memberikannya kepada Zea.
"Suka?" tanya Azlan saat melihat binar mata yang berbeda dari Zea.
Dengan antusias Zea menganggukkan kepalanya. Lalu tak Azlan sangka, Zea kini memajukan wajahnya dan langsung mengecup pipinya yang membuat Azlan tertegun ditempat.
"Thanks you," ucap Zea yang hanya diangguki oleh Azlan dengan suasana hati yang begitu gembira. Jika didepannya tak ada Zea, mungkin ia sekarang sudah jingkrak-jingkrak tak jelas. Tapi untungnya ia masih bisa mengontrol dirinya untuk tak mempermalukan dirinya sendiri dihadapan sang kekasih.
"Mau jalan kemana?" tanyanya yang membuat Zea menoleh kearahnya dan saat itu mata Azlan melebar sempurna kala melihat lebam di pipi kiri Zea.
Ia menyentuh pipi tersebut dengan sangat lembut tapi ia tak akan bertanya untuk sekarang penyebab dari lebam di pipinya itu. Karena ia tak akan membuat hati Zea sedih lagi.
"Katakan kamu mau kemana hmmm? Akan aku antar kamu walaupun sampai ujung dunia sekalipun." Zea terkekeh kecil mendengar ucapan hiperbola dari Azlan.
"Hmmmm ke pantai aja yuk. Biar pikiranku lebih tenang lagi," tutur Zea yang langsung membuat Azlan bersikap hormat kepada Zea.
"Siap nona negara," ucap Azlan dengan tegas dan berlagak sebagai abdi negara.
"Kok Nona negara? bukannya ibu negara ya?" tanya Zea penasaran.
__ADS_1
"Kalau mau jadi ibu negara, besok kita ke KUA."
"Ngapain?"
"Ya nikah lah. Biar panggilan nona negara berubah menjadi ibu negara juga ibu dari anak-anakku kelak. Gimana mau?" Zea memutar bola matanya malas, mulai lagi topik pembahasan laki-laki itu menjurus ke pernikahan.
"Tunggu 6 tahun lagi," ujar Zea yang membuat Azlan melongo tak percaya.
"Kelamaan sayang kalau harus nunggu 6 tahun lagi. Bisa-bisa kamu direbut orang lain. Gak, aku gak akan pernah ikhlas. Jika sekali kamu punyaku maka seterusnya kamu juga punyaku sampai nyawa di tubuhku terpisah dengan ragaku," tutur Azlan yang tiba-tiba merubah raut wajahnya menjadi serius.
"Tenang aja sih, aku juga gak ada niatan buat pergi dari kamu atau berpaling sekalipun. Dan 6 tahun tuh gak akan lama, percaya deh sama aku." Azlan menggelengkan kepalanya.
"Gak. 6 tahun tuh tetap lama. Dan kamu harus nikah sama aku kalau kita sudah lulus dari sekolah. Titik dan gak ada bantahan," tutur Azlan tak ingin diganggu gugat.
"Lho kok maksa."
"Bodoamat aku gak peduli, yang penting lulus sekolah aku nikah sama kamu," ucap Azlan sembari menjalankan kembali mobilnya menuju lokasi yang diinginkan Zea sebelumnya.
"Ih amit-amit punya pacar gini amat," gumam Zea sembari mengelus perut ratanya dan hal itu masih tertangkap oleh penglihatan dari Azlan.
"Aku belum nembakin kecebong aku ke rahim kamu lho, kok udah main jadi aja," celetuk Azlan.
"Kecebong? Rahim? Dan apanya yang jadi?" tanya Zea yang tak paham arah pembicaraan dari Azlan tadi.
Kini tangan kiri Azlan bergerak untuk mengelus perut Zea yang semakin membuat sang empu heran.
"Bukannya di dalam sini ada anak kita? tapi aku belum nembakin kecebong aku lho sayang. Kenapa babynya udah jadi aja sih? kan jadi gak sabar aku." Zea yang sekarang sudah tau arah pembicaraan dari Azlan pun segera menepis tangan laki-laki itu.
"Astaga. Pikiran kamu, Azlan! Stop ya jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Sekarang fokus kedepan!" geram Zea kemudian ia memalingkan wajahnya ke tepi jalan.
__ADS_1
Sedangkan Azlan yang tadi sempat melihat semburat merah muda di pipi sang kekasih pun kini terkekeh kecil. Seru juga mengerjai seorang perempuan. Dan mungkin mulai hari ini, mengerjai Zea akan menjadi hobi baru buat Azlan untuk kedepannya.