
Saat semua orang yang berada di sekolah tengah bersenang-senang, berbeda dengan Puri yang tengah menggerutu dalam hati sembari dia terus menjalankan mobilnya menuju rumahnya. Sedangkan sang Mama, masih saja marah-marah dan tak terima harga diri keluarganya diinjak-injak begitu saja oleh orang lain. Bahkan ia sampai sekarang tak percaya dengan ucapan sang suami jika perusahaannya bangkrut.
"Kamu tenang aja. Mama akan bantu kamu buat balas semua perbuatan anak sialan itu. Mama masih tidak terima dengan kesombongan yang mereka perlihatkan ke kita tadi. Dan setelah kita sampai di rumah, Mama akan telepon pengacara juga akan membuat laporan akan tindakan keluarga itu atas tuduhan pencemaran nama baik. Biar tau rasa mereka," ujar Mama Puri yang hanya di abaikan begitu saja oleh sang anak. Karena sedari tadi Puri hanya fokus dengan pikirannya yang masih saja berniat untuk melenyapkan Edrea dari muka bumi ini. Entah bagaimana pun caranya, ia harus berhasil.
Tak berselang lama setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka berdua telah sampai di rumah mewah mereka. Dan seperti biasa mereka berjalan dengan sombongnya melewati beberapa art yang diharuskan berbaris rapi untuk menyambut si Nyonya dan Nona rumah mereka.
"Dimana tuan kalian?" tanya Mama Puri kepada salah satu art yang masih membungkukkan badan mereka.
"Tuan belum pulang kerumah Nyonya," jawab art tersebut tanpa merubah posisinya.
Mama Puri tampak berpikir sejenak. Kemana suaminya itu pergi? padahal dia tadi lebih dulu meninggalkan sekolahan Puri, tapi kenapa laki-laki itu belum juga sampai di rumah? Ah mungkin suaminya tengah pergi kekantor, pikir Mama Puri. Dan tanpa mengucapkan terimakasih atau mengucapakan sepatah kata lagi, Puri dan juga Mamanya melanjutkan langkah mereka menuju ke lantai dua di rumah tersebut.
"Ma, Puri ke kamar dulu," pamit Puri saat keduanya baru menginjakkan kakinya di lantai dua tersebut.
Mama Puri pun tersenyum kemudian tangannya terulur untuk mengelus rambut Puri dengan lembut.
__ADS_1
"Istirahatlah. Jangan pikirkan masalah tadi, biar Mama yang tanganin semuanya. Kamu tinggal terima beres saja," tutur Mama Puri.
Puri pun mengangguk sembari tersenyum lalu ia memeluk tubuh sang Mama.
"Terimakasih Ma," ucap Puri.
"Sama-sama sayang. Mama akan melakukan apapun untuk kamu. Udah sama pergi istirahat." Puri kini melepaskan pelukannya tadi kemudian ia mencium pipi sang Mama sebelum ia berjalan menuju kamarnya.
"Anak ini sweet sekali. Huh orang-orang yang sudah bikin dia nangis tadi, akan aku pastikan semuanya dapat pelajaran yang setimpal," tutur Mama Puri diakhiri dengan menghentak kakinya. Lalu ia pun juga turut menuju ke kamarnya.
Puri yang baru saja masuk kedalam kamar pribadinya itu pun langsung mengunci pintu tersebut kemudian ia langsung membanting tas sekolahnya dan mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan semua barang-barang yang ada dikamar tersebut kini sudah berserakan di lantai.
"Gue gak akan pernah lepasin lo sebelum lo mati di tangan gue, Edrea. Gue benci sama lo. Arkhhhh!" teriak Puri sekencang-kencangnya. Dan untungnya kamarnya itu kedap suara jika tidak semua tindakannya tadi pasti sudah bisa didengar oleh semua orang yang ada di rumah tersebut yang berakibat semua orang itu akan panik.
Setelah puas meluapkan semua kekesalannya tadi, Puri kini merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya. Ia sudah tak peduli dengan sekitarnya yang sudah seperti kapal pecah itu. Ia kini menatap langit-langit kamarnya dengan bayangan wajah Edrea disana yang tengah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Tunggu ajal menjemput lo, Rea. Dan pada saat itu juga senyum memuakkan itu akan musnah begitu juga semua yang lo miliki," tutur Puri dengan mata yang penuh dengan kebencian.
...****************...
Sedangkan disisi lain, tepatnya di perusahaan milik keluarga Puri, Handoko kini tengah terduduk lesu dengan penampilan yang acak-acakan.
Suasana didalam ruang kerjanya itu pun tak jauh berbeda dari suasana kamar Puri tadi, sama-sama seperti kapal pecah. Bahkan yang biasanya di atas meja kerjanya itu ada beberapa berkas kerjasama sekarang justru tumpukan berkas pengunduran diri dari karyawannya juga beberapa berkas dari perusahaan lain yang memutuskan kerjasama mereka. Juga suasana perusahaan yang biasanya sedari pagi selalu ramai orang yang berlalu lalang, juga suara ketukan keyboard kini sunyi. Benar-benar terasa seperti perusahaan yang sudah tak beroperasi lagi.
Walaupun tadi sempat terjadi demo besar-besaran karena para karyawan menuntut gaji mereka, hal itu masih bisa di tangani dan di bubarkan, dengan cara Handoko yang berusaha berdiskusi dengan salah satu karyawannya yang ikut demo tadi dengan ia meminta waktu untuk membayar semua gaji karyawan dikarenakan tindakan mereka tadi secara mendadak. Dan ia berjanji akan mengusahakan gaji mereka terbayar di akhir bulan tersebut. Alhasil dari diskusi tersebut, perwakilan karyawan tadi mensetujuinya dengan syarat-syarat tertentu yang dia ajukan. Dan dengan berat hati Handoko mengiyakan semua persyaratan tersebut. Hingga akhirnya semua karyawan yang tengah berdemo dapat teratasi dan saat itu juga seluruh karyawan di pulangkan.
Handoko kini mengusap kasar wajahnya diakhiri dengan ia menjambak rambutnya agar rasa pusing yang ia rasakan saat ini bisa sedikit berkurang. Tapi nyatanya, justru membuat dirinya semakin pusing saat banyang-banyang kebangkrutan sudah di depan matanya dan selalu menghantuinya.
"Hilang, semua yang sudah aku rintis dari awal kini hilang begitu saja," gumam Handoko.
"Arkhhhh. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Semuanya sudah habis tak tersisa. Uang simpanan perusahaan pasti akan habis untuk mengganti rugi semua perusahaan lain dan juga untuk menggaji semua karyawan di perusahaan ini. Sedangkan uang pribadi mana mungkin cukup untuk modal perusahaan ini agar kembali bangkit lagi," sambungnya dengan tatapan kosong yang lurus kedepan.
__ADS_1
"Arkkhhhhhhh. Ini semua gara-gara anak sialan itu, anak durhaka, anak tidak tau terimakasih. Jika saja dia tak berulah dan sekolah dengan benar pasti semuanya akan baik-baik saja. Sudah dua kali dia membuatku rugi besar-besaran karena dia selalu mencari masalah dengan anak pengusahaan yang cukup terkenal. Tapi kali ini bukan hanya rugi tapi hidupku benar-benar hancur seiring dengan hancurnya perusahaan yang telah aku rintis dari nol ini," tutur Handoko sembari matanya menatap keseluruhan penjuru ruangan tersebut yang mungkin akan menjadi hari terakhir untuknya di perusahaan yang selalu ia bangga-banggakan itu. Bahkan air matanya kini telah menetes karena sedih, kecewa, sebal, marah dan masih banyak lagi perasaan campur aduk di hatinya yang semakin lama semakin besar saja.
Tapi beberapa detik setelahnya, Handoko kini bangkit dari duduknya lalu tangannya menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya. Dan dengan kepalan erat ditangannya, Handoko melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan perusahaannya itu.