The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 358


__ADS_3

Beberapa saat pelukan kedua manusia berjenis kelamin berbeda dan berumur terpaut sangat jauh itu terlepas. Mommy Della kembali angkat suara.


"Oh ya hampir saja Mommy lupa, kalau bukan cuma Edrea dan Leon saja yang akan mengadakan acara pernikahan tapi Azlan juga." Zico tampak terkejut sesaat sebelum ia menetralkan keterkejutannya itu.


"Azlan juga mau nikah Mom?" tanya Zico memastikan jika apa yang ia dengar tadi tak salah.


Mommy Della kini menganggukkan kepalanya.


"Iya, bahkan ijab kabul sudah terlaksana beberapa bulan yang lalu," ujar Mommy Della.


"Hah? Beberapa bulan yang lalu? Berarti saat dia masih sekolah, Azlan sudah nikah?" lagi-lagi Mommy Della menganggukkan kepalanya.


"Ya begitulah. Karena ada satu dan lain hal makanya acara ijab kabul saat itu kita laksanakan. Lagian gak baik juga pacaran lama-lama nanti malah nambah banyak dosa," ujar Mommy Della.


"Iya juga sih. Tapi kalau Rea sama Azlan nikah berarti Erland juga ikut nikah dong?" tanya Zico dengan polos. Ia tak tau saja jika manusia kutub satu itu sekarang menjadi sad boy.


Dan gara-gara pertanyaannya tersebut kini Mommy Della tertawa terbahak-bahak, membayangkan muka memelas Erland dulu saat cintanya hanya di jadikan permainan saja.


"Hahaha, dia mau nikah sama siapa? Dia saja belum bisa move on dari cinta tak terbalaskannya itu," ucap Mommy Della.


"Maksud Mommy?" Zico tak paham dengan ucapan dari Mommy Della tersebut.


Mommy Della kini menghentikan tawanya.


"Gini Mommy akan ceritakan kisah percintaan dia. Jadi dia itu sebenarnya dulu suka sama satu perempuan, kata Rea perempuan itu juga satu sekolahan dengan dia. Nah saat dia bucin, sebucin-bucinnya ehhh ternyata dia cuma di jadikan tempat mata-mata sama perempuan itu. Dan jadilah sad boy dia. Apalagi saat dia tau jika perempuan itu adalah pacar dari musuhnya. Buhhh tambah nangislah dia. Hahahaha," gelak tawa Mommy Della kembali terdengar.


"Kasihan banget kan dia," sambung Mommy Della tanpa menghentikan tawanya.


Dan tanpa mereka ketahui, percakapan dari dua orang tersebut didengar oleh seseorang yang sekarang tengah berdiri diambang pintu kamar Zico.


"Ehemmm," dehem orang tersebut yang sudah membuka pintu kamar tersebut dengan lebar.


Dua orang itu kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara dan dengan seketika Mommy Della langsung menghentikan tawanya, sedangkan Zico, ia kini nyengir tak merasa berdosa sedikitpun kepada seseorang yang masih berdiri diambang pintu tersebut yang ternyata adalah Erland, orang yang mereka bicarakan tadi.


"Bagus ya Mommy sekarang jelekin Erland di belakang," ucap Erland sembari melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut lebih dalam lagi.


"Lah siapa yang jelekin kamu. Orang Mommy bicara apa adanya, sesuai fakta yang ada. Dan Mommy juga gak melebih-lebihkan dalam bercerita. Semuanya sama persis seperti yang kamu alami dulu," ujar Mommy Della dengan menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah anak laki-lakinya itu yang sekarang berdiri didepannya.

__ADS_1


"Ck, tapi kan Mommy gak harus cerita ke orang lain juga. Kalau Mommy cerita seperti tadi kan, Erland ngerasa kalau Mommy lagi merendahkan harga diri Erland di hadapan orang lain," ucap Erland dengan suara lirih di akhir kalimat.


"Mana ada Mommy merendahkan harga diri kamu. Mommy cuma cerita kisah cinta kamu aja kok gak lebih," ujar Mommy Della.


"Itu sama aja Mom. Mommy mah, Ck menyebalkan. Erland gak mau tau pokoknya sekarang Erland mau ngambek sama Mommy," tutur Erland.


"Ya udah sih kalau mau ngambek ya ngambek aja. Mommy gak perduli, wlekkk." Mommy Della menjulurkan lidahnya kearah Erland yang membuat anaknya itu semakin memberengut kesal.


Dan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Erland kini berbalik badan lalu berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Mentang-mentang udah punya anak baru, anak yang lama udah kayak barang gak di pakai. Di buang jauh-jauh. Terlupakan!" teriak Erland yang sudah berada di luar ruang kamar tersebut. Sebelum akhirnya Erland sudah tak terlihat lagi di pandangan mereka berdua.


Mommy Della yang tadi hanya bercanda pun ia terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedangkan Zico yang sekarang merasa tak enak dengan Erland pun ia segara menggenggam tangan Mommy Della hingga membuat wanita paruh baya tersebut menatap kearahnya.


"Mom, Mommy gak mau nyamperin Erland?" Mommy Della menggelengkan kepalanya untuk menimpali pertanyaan dari Zico tadi.


"Tapi Erland lagi marah sama Mommy lho," ujar Zico yang langsung mendapat elusan di punggung tangannya.


"Mommy!" Mommy Della yang mendengar hal tersebut pun ia kini menyunggingkan senyumannya.


"See, kamu dengar sendiri kan. Dia gak akan lama-lama marah sama Mommy," ujar Mommy Della sembari berdiri dari duduknya.


"Mommy! bantu Erland cari flashdisk!"


"Iya tunggu sebentar. Mommy otw kesana!" balas Mommy Della dengan suara yang tak kalah nyaring dengan suara Erland.


Dan setelah mengatakan hal tersebut Mommy Della kembali menatap kearah Zico yang melongo mendengar teriakan-teriakan dari orang-orang di rumah tersebut. Ia benar-benar merasa jika dirinya sekarang bukan lagi berada di dalam sebuah rumah mewah melainkan ia merasa jika dirinya tengah berada di tengah hutan yang harus berbicara lantang jika ingin berkomunikasi kepada seseorang dari kejauhan.


"Mommy nyamperin dia dulu ya, sebelum anak Mommy yang paling manja itu nanti mencak-mencak dan mengobrak-abrik isi kamarnya," ucap Mommy Della sembari mengusap kepala Zico dengan sangat lembut. Bahkan saking lembutnya, Zico berimajinasi sebelum dirinya tertidur, Mommy Della memeluk tubuhnya dan memberikan usapan lembut yang sama seperti yang ia rasakan saat ini dengan nyanyian tidur yang dulu Vivian sering lakukan saat dirinya masih kecil. Pasti jika ia mendapat hal tersebut, tidurnya akan sangat nyenyak lagi. Tapi sayangnya ia tak berani meminta Mommy Della melakukan hal tersebut. Ia masih sadar akan posisinya di rumah dan keluarga tersebut yang hanya sebatas anak angkat, tidak lebih dari itu.


Dan hal tersebut membuat Zico menghela nafasnya sekarang, apalagi saat ia merasakan usapan di kepala sudah tidak ada lagi. Dan saat dirinya menegakkan kembali kepalanya, ternyata Mommy Della sudah tak ada di hadapannya. Dan karena itu membuat Zico kembali menghela nafas sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur king sizenya.


"Ma, Jio kangen Mama. Jio pengen di peluk Mama saat Jio tidur. Jio mau bermanja-manja sama Mama seperti Erland yang sering manja dengan Mommy Della. Ma, Jio pengen lihat wajah Mama, Jio pengen cium Mama, Jio juga pengen genggaman tangan Mama. Ma, Jio tau kita tidak akan pernah bisa bertatap muka, tapi Jio harap Mama mau menemui Jio didalam mimpi Jio. Ma, I Miss You so much," gumam Zico dengan menatap langit-langit di kamarnya dengan air mata yang entah sejak kapan keluar dari matanya. Merindukan seseorang yang sudah tiada di dunia memanglah sangat menyakitkan, bukan hanya tidak bisa melihatnya secara langsung, mendapat kabar darinya pun tidak akan pernah ia dengar. Dan hal tersebut benar-benar menyesakan di dadanya. Hingga tak terasa mata yang sedari tadi mengeluarkan cairan bening itu perlahan menutup. Mengisyaratkan sang pemilik mata telah terlelap.


...****************...

__ADS_1


Sedangkan disisi lain saat Mommy Della dan Erland sudah keluar dari kamar laki-laki itu dan juga sudah menemukan barang yang dicari oleh Erland. Bertepatan dengan langkah kaki mereka berada di anak tangga terakhir, Edrea dan Leon sudah kembali ke kediaman mereka dengan wajah Edrea yang sangat-sangat tak enak di pandang. Sangat-sangat kusut dengan kerucut di bibirnya.


Bahkan tanpa menyapa mereka berdua yang kini tengah berdiri di ujung tangga paling bawah, Edrea hanya melewati mereka berdua begitu saja menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada. Sedangkan Leon, laki-laki itu juga memilih untuk masuk kedalam kamarnya yang kebetulan berada di lantai bawah rumah tersebut.


Mommy Della dan Erland yang sedari tadi melihat gerak-gerik sepasang calon pengantin itu pun kini mereka saling pandang satu sama lain.


"Mereka kenapa Mom? Perasaan tadi pagi mereka masih nempel satu sama lain kek prangko. Tapi kok sekarang tiba-tiba jadi kayak orang musuhan begini," ujar Erland yang tampak bingung sendiri.


Mommy Della yang juga tak tau apa yang sedang terjadi antara anak gadisnya dengan calon menantunya itu pun ia menggedikkan bahunya.


"Mommy juga gak tau Er. Mungkin mereka lagi cek cok dikit. Biasalah kalau orang mau nikah itu banyak gangguannya," ujar Mommy Della sembari berjalan menuju ke arah sofa di ruang keluarga diikuti oleh Erland yang tadi niatnya untuk segera kembali ke kantor tapi karena rasa keponya, ia mengulur waktunya, sebentar saja juga gak papa kan ya? Toh 5 menit lagi sudah waktunya makan siang, pikirnya.


"Gangguan? maksud Mommy?" tanya Erland sembari mendudukkan tubuhnya disamping Mommy Della yang sedang menyalakan televisi didepannya.


"Ya biasa gangguan orang yang mau nikah. Kayak nanti tiba-tiba ada satu sifat pasangan yang bikin ilfil, ada cek cok perkara selera tentang urusan wedding mereka yang gak sama, atau tiba-tiba ada mantan yang ngajak balikan, atau juga ada orang yang dulu salah satu dari calon pengantin itu tiba-tiba deketin mereka, atau ada juga rasa cinta mereka tiba-tiba hilang gitu aja. Pokoknya banyak banget sih rintangannya disaat mau nikah tuh, karena kan itu juga bujukan setan. Setan kan gak mau kalau manusia berjalan di tempat semestinya, maunya mereka membuat manusia terus tersesat dijalan yang salah. Makanya para setan-setan menggoyahkan hati pasangan calon pengantin agar mereka batal nikah dan berakhir mereka akan musuhan dan juga mereka akan cari pasangan lalu berakhirlah mereka akan melakukan dosa lagi. Jadi orang yang mau nikah tuh harus kuat dengan bujuk rayu setan kalau sampai gak kuat, ya sudah lah semuanya hancur gitu aja," ujar Mommy Della menjelaskan yang sekarang membuat Erland mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Berati Rea sama El tadi mereka lagi di uji gitu?" Mommy Della kini menolehkan kepalanya kearah sang putra yang tampak tampan berkali-kali lipat saat memakai baju formal seperti saat ini.


"Hmmmm, sepertinya memang gitu," ucap Mommy Della.


"Berarti kalau begitu Mommy sama Daddy dulu juga melewati rintangan itu juga dong?" Mommy Della tampak berpikir sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu rintangan apa yang dulu Mommy sama Daddy hadapi?" tanya Erland yang sekarang tengah kepo dengan kisah romansa dari kedua orangtuanya itu.


"Dulu Mommy sama Daddy sempat ngerasain ilfil satu sama lain. Pokoknya ilfil banget, padahal apa yang kita lakukan dulu tampak biasa aja sebelum menuju ke jenjang yang lebih serius. Tapi semuanya berubah jadi menjijikkan saat kita melakukan hal yang dulu biasa-biasa aja. Dan lebih parahnya lagi, orang yang dulu sempat Mommy suka muncul di depan Mommy yang akhirnya rasa itu kembali muncul dong sampai bikin Daddy kamu dulu cemburu setengah mati. Kita juga sempat cekcok perkara WO doang. Tapi untungnya kita bisa melewati itu semua dan berakhirlah Mommy sama Daddy menikah sampai sekarang dan udah ada buntut empat lagi di tambah dua belum lagi anak mantu. Berapa tuh jadinya buntut Mommy? banyak banget kan?' Erland yang sedari tadi mendengarkan cerita dari Mommy Della pun ia menganggukkan kepalanya.


"Tapi Erland masih penasaran Mom. Kalau dulu mau nikah, Mommy sempat ngerasain hal-hal yang seperti Mommy ucapkan tadi. Habis nikah gimana? Masih ilfil dan yang lainnya gak?" Mommy Della menggelengkan kepalanya.


"Gak. Malah yang tadinya bikin ilfil jadi balik lagi, kayak biasa aja. Yang tadinya Mommy hampir gak cinta sama Daddy, cinta itu kembali lagi. Pertengkaran juga kayak angin lalu, gak di bahas lagi. Ya gitulah pokoknya semua keraguan didiri Mommy tentang Daddy kamu lenyap gitu. Entahlah Mommy juga sempat heran juga. Tapi balik lagi, yang menyebabkan keraguan di hati Mommy dulu adalah setan. Jadinya ya sudah tidak heran lagi setelahnya," ucap Mommy Della. Lagi-lagi Erland hanya mengangguk-anggukkan kepala. Setidaknya ia sekarang sudah mendapat sedikit pelajaran tentang sebelum pernikahan yang penuh rintangan itu. Jadinya saat dirinya nanti akan melangsungkan pernikahan yang entah akan terjadi kapan, Erland nantinya bisa menyikapi perubahan sikap dari pasangannya ataupun dirinya sendiri.


"Oh ya ngomong-ngomong kamu kok gak balik ke kantor?" tanya Mommy Della yang berhasil membuyar lamunan Erland.


Erland yang mendapat pertanyaan dari ibu negara pun ia segera melihat jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya itu.


"Ini udah jam makan siang Mom," jawab Erland yang otomatis membuat Mommy Della menolehkan kepalanya kearah jam yang tertempel di dinding tak jauh dari tempatnya saat ini. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh putranya itu yang tadi sempat ia anggap hanya alasan saja untuk tidak kembali ke kantor.


"Ya udah kalau gitu kamu makan di rumah saja," ucap Mommy Della yang diangguki setuju oleh Erland. Dan setelah mendapat persetujuan dari sang empu, Mommy Della kini mematikan televisi di depannya itu kemudian dengan menggandeng lengan Erland, ia berjalan menuju ke ruang makan. Dan Erland yang sebelumnya ingin merajuk tenang masalah Mommy Della membocorkan aibnya ke Zico tadi tiba-tiba lenyap begitu saja entah kemana perginya dan tergantikan dia justru sekarang tengah manja dengan Mommynya itu.

__ADS_1


__ADS_2