
Saat Puri dan sang Mama sudah keluar dari ruangan tersebut, Edrea berserta teman-temannya yang masih berkerumun di samping pintu ruang kepala sekolah tadi dengan tawa riangnya kini tawa mereka terhenti saat melihat Puri yang tengah memapah tubuh sang Mama.
Dan saat itu pula banyak bisikan-bisikan dari semua orang yang di lontarkan untuk Puri ditambah dengan tatapan jijik mereka.
Mommy Della dan juga Daddy Aiden yang masih disana pun kini mendekati Edrea.
"Kita pulang sekarang," ucap Daddy Aiden yang berhasil mengalihkan atensi semua orang disana.
"Dad, biarin Rea disini dulu ya. Habisin waktu sama mereka," mohon Edrea dengan mata yang berbinar dan hal itu mampu membuat Daddy Aiden menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Tapi ada dua bodyguard yang akan ngawasin kamu. Jaga diri jangan sampai terluka," ucap Daddy Aiden diakhiri dengan ia mengecup puncak kepala Edrea.
Edrea tersenyum kemudian mengangguk.
"Tenang aja Dad. Rea akan jaga diri baik-baik. Dan Rea juga perlu penjelasan kenapa Daddy sama Mommy pulang tanpa ngasih kabar dulu ke Rea," ujar Edrea sembari mencebikkan bibirnya.
"Iya nanti biar Mommy kamu yang cerita kalau kita semua udah kumpul dirumah. Untuk sekarang, Daddy sama Mommy pulang dulu, capek mau bobok," tutur Daddy Aiden yang membuat semua orang disana menahan tawa mereka. Karena tak menyangka jika laki-laki yang terlihat cuek dan dingin ternyata bisa alay juga.
"Ya udah sana gih. Hati-hati dijalan. Selamat istirahat," ujar Edrea sembari mendorong pelan tubuh kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Bye Dad, Mom." Edrea melambaikan tangannya kearah kedua orangtuanya saat mereka sudah melangkah kakinya menjauh dari Edrea.
"Bye sayang," balas mereka berdua.
Semua interaksi dari Edrea juga kedua orangtuanya tadi tak lepas dari mata tajam Puri juga sang Mama.
"Lo sekarang boleh tertawa sepuas lo, nikmatin kesenangan lo untuk sekarang karena gue akan pastiin cepat atau lambat tawa lo itu akan hilang dan berubah menjadi air mata kesedihan. Semua kesenangan yang lo nikmati saat ini akan hilang dan musnah. Dan keluarga lo akan gue pastikan akan hancur bahkan terpecah belah. Dan tak akan ada lagi seseorang yang membela lo di kemudian hari. Gue akan pastiin itu semua. Tunggu saja tanggal mainnya," batin Puri.
"Ma, kita pulang sekarang," tutur Puri sembari mulai menuntun sang Mama meninggalkan depan ruang kepala sekolah tersebut dan hal itu justru mendapat sorak-sorai dari seluruh siswa-siswi disekolahan tersebut.
"Huuuuu dasar cewek bermuka dua. Ngakunya dia yang jadi korban. Taunya dia yang justru jadi pelakunya!" teriak salah satu siswa.
"Cih, tukang drama. Suka bolak-balikkan fakta. Cih, najis!" saut seorang siswi sembari tangannya melempar sebuah botol air mineral kearah Puri.
"Wajahnya sih sok polos tapi dalamnya udah gak polos lagi. Menjijikkan. Lebih parah dari sampah sih kalau ini!"
Dan masih banyak sekali cibiran untuk Puri dari siswa-siswi disekolah tersebut dan tak hanya itu juga ia juga mendapatkan lemparan berupa botol air mineral atau hanya sekedar kertas yang dibuat bola saja. Dan perlakuan semua orang itu hanya bisa membuat Puri diam seribu bahasa. Sifat angkuh dan selalu ingin berkuasa kini hilang bagaikan ditelan bumi.
Dan saat Puri ingin menginjakan kakinya kearah lobby tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung kedepan saat ada sebuah bola basket yang mengenai badannya.
__ADS_1
Puri kini mengepalkan tangannya lalu ia memutar tubuhnya agar ia bisa melihat siapa yang berani melempar bola tadi kepadanya. Sedangkan Mama Puri yang melihat anaknya di perlakukan semena-mena oleh seluruh siswa dan siswi disana pun juga turut geram dan kini ia juga ikut memutar tubuhnya hingga mereka berdua bisa melihat wajah si pelaku yang melempar tubuh Puri dengan bola basket tadi.
"Ups, Maaf sengaja," ledek orang tersebut yang ternyata adalah Faisal.
"Sialan lo!" geram Puri kemudian ia mengambil bola basket tadi dan saat dirinya ingin membalas perbuatan dari Faisal, tubuhnya lagi-lagi terhuyung saat sebuah bola voli mengenai dadanya bahkan ia sampai terbatuk-batuk merasakan sesak di dadanya itu. Dan hal itu membuat bola yang ada ditangannya kini jatuh kelantai.
Mama Puri yang melihat itu semua pun kini menghampiri Puri.
"Dasar anak kurang ajar. Kalian semua gak diajarin sopan santun oleh orangtua kalian sehingga kalian bisa melakukan hal seperti tadi dengan seenak jidat kalian!" bentak Mama Puri yang membuat beberapa siswa didepannya kini menatap kearahnya dengan tangan yang tertekuk di depan dada mereka masing-masing.
"Mohon maaf sebelumnya ya Tante. Anda punya kaca kan dirumah? jika punya, tolong berkaca diri dulu sebelum berbicara seperti tadi. Jika anda tidak punya kaca, numpang ke tetangga buat ngaca. Anda berbicara soal sopan santun padahal anda sendiri yang tidak pernah mengajarkan anak anda semua hal tentang sopan santun dan etika. Jadi mohon sadar diri terlebih dahulu sebelum mengatai orangtua kita yang justru mengajarkan etika bersopan-santun jauh lebih baik dari anda," tutur Jojo yang tadi melempar bola voli kearah Puri.
Dan perkataan dari Jojo tadi benar-benar membuat Mama Puri seperti ditampar menggunakan kawat berduri. Sakit, tapi memang yang dikatakan oleh Jojo tadi mungkin benar adanya.
"Sayang. Ayo kita pulang," ajak Mama Puri sembari menggenggam tangan Puri lalu mereka beranjak kembali menuju ke parkiran mobil di sekolah tersebut. Dan kepergian mereka lagi-lagi di iringi dengan sorak-sorai semua orang disana hingga kedua orang tadi sudah tak terlihat lagi diarea loby sekolah tersebut.
Edrea yang melihat semua itu pun ia merasa tak tega dan kini ia berniat untuk menghentikan aksi teman-temannya itu. Karena semarah-marahnya dia dengan seseorang yang telah melukai dirinya tapi jika melihat orang tersebut mendapatkan apa yang dulu ia dapatkan, hati Edrea benar-benar merasa kasihan kepada orang tersebut tak terkecuali dengan Puri yang selalu membuat masalah bahkan sudah sering berniat menghilangkan nyawanya.
"Udah-udah kalian jangan seperti ini. Kalau kalian masih saja menghakimi Puri, kalian sama saja dong dengan dia, malah gak ada bedanya. Jadi sudah cukup jangan memojokkan dia lagi," ucap Edrea lantang yang membuat semua siswa-siswi yang masih menyoraki Puri tadi kini perlahan mulai tenang.
__ADS_1
"Lo tuh makanya jangan terlalu baik sama orang, jadinya kan lo sendiri yang rugi kalau hal semacam ini kejadian lagi," ujar Yesi yang hanya dibalas cengiran oleh sang empu.
"Udah-udah jangan dibahas lagi deh. Mending kita makan-makan aja yuk di kantin. Tenang saja semuanya gratis untuk kalian karena gue yang akan bayar. Semua orang dari adik kelas sampai Kakak kelas atau guru-guru pun juga boleh, asalkan makanan di kantin masih ada ya hehehe," ujar Edrea yang membuat semua orang kembali bersorak gembira. Dan tanpa hitungan detik dan tanpa di persilahkan dulu oleh Edrea, semua siswa-siswi disekolah tersebut berbondong-bondong ke kantin sekolah tersebut. Sedangkan Edrea yang melihat semangat dari teman-temannya itu pun tersenyum bahagia. Dan anggap saja ini semua adalah salam perpisahan dirinya untuk semua orang di sekolah tersebut.