
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dimana sesuai dengan ucapan Daddy Aiden tadi untuk menjelaskan kenapa dirinya dan juga sang istri bisa tiba-tiba muncul di sekolah Edrea saat sang anak tengah mendapat masalah, dan kini semuanya akan ia ceritakan dengan berkumpulnya mereka di ruang keluarga saat ini. Bahkan Adam dan juga Vivian turut ikut bergabung dengan mereka.
"Berhubung semua orang sudah berkumpul disini maka sesi tanya jawab di mulai," tutur Daddy Aiden dengan berlagak seperti seorang guru saja dan hal itu membuat keempat anaknya memutar bola matanya malas kecuali Mommy Della dan Vivian yang justru tengah menahan tawanya.
"Kenapa muka kalian kecut begitu hmmm? ada yang salah sama ucapan Daddy tadi?" tanya Daddy Aiden.
"Gak, gak ada yang salah Dad," tutur Edrea.
"Kalau gak ada yang salah, buruan tanya. Keburu Daddy badmood nanti," ucap Daddy Aiden yang membuat Edrea menghela nafas.
"Iya-iya Rea tanya sekarang, kenapa Daddy sama Mommy bisa datang ke sekolah tadi? Padahal hari sebelumnya Dad sama Mom masih di Rusia," tanya Edrea.
Daddy Aiden kini tersenyum sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
"Sebenarnya Dad sama Mom udah terbang dari kemarin setelah Daddy dan Mommy telepon ke Vivian sama Adam. Dan emang kita sengaja gak bilang ke kalian semua, biar surprise gitu. Eh taunya sampai rumah bukannya kita ngasih surprise ke kalian tapi justru kita yang dapat surprise dari Rea," ujar Daddy Aiden diakhiri dengan cebikan di bibirnya.
Edrea yang merasa bersalah pun hanya bisa nyengir kuda sembari tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehehe maaf Dad, Mom. Kan Rea juga gak tau kalau Rea hari ini dapat masalah," tutur Edrea.
"Tidak perlu minta maaf, karena dengan hal itu Daddy bisa mengetahui wajah gadis yang selalu mencelakai kamu. Dan dari situ juga Daddy bisa bergerak untuk memberi pelajaran kepada dia," ujar Daddy Aiden.
__ADS_1
"Dad, sepertinya panggil gadis tidak cocok untuk dia," sela Erland yang membuat kedua orangtuanya mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu?" tanya Mommy Della penasaran.
"Ya dia kan sudah tidak gadis lagi ngapain masih di panggil gadis, dia lebih cocok di panggil wanita sewaan atau semacamnya," jawab Erland yang justru membuat Mommy Della langsung melempar bantal sofa kearahnya. Dan alhasil bantal tersebut mendarat tepat di wajah Erland.
"Astaga Mom. Kenapa muka Erland di lempar pakai bantal segala sih?" ucap Erland sembari mengambil bantal tadi yang terjatuh ke lantai.
"Kalau Mom mau mukul mulut kamu, tangan Mom gak sampai. Bisa-bisanya punya mulut perkataannya gak dijaga ih. Jangan begitu lagi gak baik," ujar Mommy Della.
"Kan yang Erland ucapkan tadi apa adanya. Bukan sekedar omongan yang menjurus ke finah," tutur Erland yang terus mencari pembelaan.
"Apa adanya, apaan? Gak mungkin anak seumuran sama Edrea sudah tidak gadis lagi. Mom gak percaya. Dan palingan kamu cuma ngaco aja," ucap Mommy Della yang masih tak percaya.
"Memangnya kamu sudah lihat yang sebenarnya gitu? atau jangan-jangan kamu yang udah bobol ke gadisannya. Wah anak ini udah gak bener," tuduh Mommy Della sembari beranjak dari duduknya untuk menghampiri Erland.
"Eh eh eh gak ya, enak aja Erland dituduh begituan sama wanita itu lagi. Amit-amit deh. Dan Mom perlu tau kalau Erland masih perjaka ting-ting tanpa pernah masuk lubang buaya mana pun. Pusaka Erland hanya akan di miliki istri Erland nanti bukan yang lainnya," ucap Erland dengan cepat agar ia terhindar dari siksaan sang Mommy.
"Dan istri Erland nanti yang pasti adalah Kayla," sambung Erland dalam hati.
Mommy Della yang sudah berada di hadapan Erland pun menghentikan tangannya yang sudah siap mencubit dan menjewer telinga putranya itu. Kemudian ia menatap Erland dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Gak ada kebohongan di matanya. Berati memang dia masih perjaka," batin Mommy Della.
"Oke, Mom sekarang percaya sama kamu. Tapi jika kamu melanggar ucapanmu tadi dan sampai Mommy tau. Mommy pastiin pusaka kamu gak akan pernah bisa berdiri lagi setalahnya, biar tau rasa sekalian," tutur Mommy Della yang membuat Erland dengan reflek menutup pusakanya.
Sedangkan yang lainnya kini tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Erland yang tampaknya tengah membayangkan pusakanya hilang dari tubuhnya mungkin atau malah di potong-potong menjadi beberapa bagian, pasalnya beberapa saat setalah Mommy Della berkata seperti tadi, Erland langsung bergidik ngeri.
"Sudah-sudah kita kembali ke pembahasan awal. Biarkan dia mau masih gadis atau bukan, itu menjadi urusan dia bukan kita," ucap Daddy Aiden yang kini membuat semua orang yang tadi tertawa kini terdiam dan mulai memperhatikan Daddy Aiden kembali.
"Pertanyaan dari Edrea tadi sudah Daddy jawaban. Apa masih ada yang mau kalian tanyakan lagi?" sambung Daddy Aiden.
"Rea masih mau tanya Dad," ucap Edrea yang langsung di persilahkan Daddy Aiden.
"Kata Daddy sama Mommy tadi, Edrea mau keluar dari sekolah Edrea yang sekarang. Apa ucapan Dad itu benar? atau hanya untuk menggertak keluarga Puri saja?" tanya Edrea. Tapi baru saja Daddy Aiden akan menjawab, bibirnya yang tadi sudah mulai terbuka kini tertutup kembali saat Azlan dan Erland lebih dulu menyelanya.
"Apa? Lo mau keluar dari sekolah itu?" tanya Azlan dan Erland secara serempak.
Edrea yang kebetulan berada ditengah-tengah kedua saudara kembarnya itu pun hanya menggedikkan bahunya.
"Ucapan Daddy tadi memang benar. Kamu akan segera Dad pindah ke sekolah lain. Dan setelah Dad sama Mom berdiskusi untuk sekolah baru kamu, kita memutusakan untuk memindahkan kamu kesekolah yang sama dengan Azlan dan Erland," ucap Daddy Aiden yang membuat Azlan dan Erland dengan cepat menatap kearahnya dengan mulut yang terbuka dan kening yang berkerut. Mungkin itu menandakan mereka akan protes dengan kesepakatan Daddynya tadi.
Sedangkan Edrea hanya bisa menghela nafas pasrah karena mau bagaimanapun ia tak bisa menolak keputusan dari kedua orangtuanya itu. Tapi ia sekarang tengah memikirkan bagaimana caranya ia berpamitan dengan teman-teman satu sekolahannya terutama Yesi dan Resti yang pastinya akan menangis bombai jika mengetahui kepindahannya itu.
__ADS_1
Awalnya dia tadi ingin langsung mengucapakan kata perpisahan kepada teman-temannya, tapi sayangnya kedua Abangnya itu terus saja meneleponnya agar dia segara menghampiri mereka dan menolong mereka dari serangan para cewek-cewek yang tengah menggedor-gedor kaca mobil mereka. Alhasil dengan berat hati Edrea menolong saudara kembarnya itu dan tanpa ia duga keduanya langsung menculiknya dan membawanya pulang begitu saja. Tanpa mengizinkan dia untuk berpamitan terlebih dahulu kepada teman-temannya itu.