The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 348


__ADS_3

Sesuai dengan yang dikatakan oleh Daddy Aiden sebelumnya, jika setelah selesai melakukan makan malam, mereka akan membahas permasalahan yang tengah melanda Zico. Dan kini mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga. Awalnya Azlan, Erland juga Leon tak ingin bergabung dengan mereka karena terus terang saja mereka masih kesal dengan Zico entah karena kejadian satu tahun yang lalu ataupun kejadian yang baru terjadi beberapa jam berlalu itu. Lagian mereka bertiga juga masih memasang mode waspada, takut-takut jika Zico masih memiliki niat jahat kepada mereka terutama Edrea yang kini tengah di peluk posesif oleh calon suaminya itu, walaupun Edrea terus saja bergarak berusaha melepaskan pelukan dari Leon, laki-laki itu justru semakin membuat Edrea tak bisa bernafas saja. Dan karena Edrea masih menginginkan nyawanya alhasil Edrea membiarkan Leon memeluknya.


Sebenarnya tak hanya Leon yang melakukan hal tersebut melainkan Azlan pun juga sama halnya dengan Leon yang kini dia juga tengah memeluk istrinya dengan posesif. Dan setiap adegan romantis dari dua pasangan itu tak luput dari pandangan orang-orang di sana. Terutama Erland yang kini tengah mendengus sebal.


"Bisa tidak kalian itu jangan bermesraan dulu. Gak malu apa dilihat banyak pasang mata disini," gerutu Erland yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azlan maupun Leon.


"Kalau iri bilang. Jomblo sih, makanya cari pacar," timpal Azlan yang benar-benar membuat hati Erland sakit mendengarnya. Sebenarnya sangat gampang baginya mencari kekasih tapi sayangnya hatinya masih berantakan dan ia tak ingin memanfaatkan perempuan manapun hanya untuk ia jadikan pelariannya saja dan berakhir ia menyakiti hati perempuan tersebut. Oh, no itu bukan jati diri seorang Erland Drake Abhivandya yang masih memiliki hati nurani jika berniat menyakitkan seorang wanita.


"Sudah-sudah. Kalian ini mau berantem tidak lihat situasi dulu. Daddy ngumpulin kalian disini tuh buat bahas masalah Jio. Bukan untuk mendengarkan adu bacot kalian," ucap Daddy Aiden yang sudah jengah ketika pulang kerumah ia harus di suguhi oleh kelakuan anak-anaknya yang selalu saja bertengkar tiada henti.


"Huh, abaikan mereka, Jio. Kita fokus ke masalah kamu saja. Jadi bisa ceritakan sekarang apa masalah yang lagi menimpa kamu?" timpal Mommy Della dengan tatapan mata lurus kearah Zico yang kebetulan tengah duduk di depannya dengan Vivian disampingnya.


Zico yang mendapat pertanyaan itu pun ia kini mengigit bibir bawahnya. Ia benar-benar takut jika dirinya mulai bercerita dan mereka semua tau permasalahannya, ia justru akan di salahkan dan berakhir mereka akan benci padanya terutama Vivian. Mengingat Vivian, ia kini mengalihkan pandangannya kearah perempuan yang kini juga tengah menatapnya dengan salah satu alisnya yang terangkat, perempuan itu seolah-olah juga menantikan ceritanya.


Dan hal tersebut membuat Zico kini menghela nafas dengan kedua mata yang tertutup untuk menetralkan dirinya sendiri yang tengah gugup.


Tapi sesaat setelahnya, matanya kembali terbuka dan dengan kedua tangan yang saling bertautan, Zico mulai angkat suara.


"Sebelumnya Jio mau minta maaf ke kalian semua. Terutama Mommy, Daddy dan Kak Vivian," ucap Zico dengan menatap ketiga orang yang ia sebutkan tadi secara bergantian.


"Lho kenapa harus pakai minta maaf segala? Jio tidak salah sama sekali. Jadi jangan minta maaf lagi," ujar Mommy Della yang diangguki setuju oleh Vivian ataupun Daddy Aiden.


"Tapi Jio salah Mom," tutur Zico.


"Lah memangnya Jio salah apa? Bukannya Jio hanya ingin cerita masalah Jio dengan kita semua. Dan menurut Mommy itu tidak salah, malah justru bagus karena kamu mau terbuka dengan kita semua. Iya kan Dad?" Mommy Della menyenggol lengan Daddy Aiden.


"Iya, apa yang dikatakan Mommy benar Jio. Kalau mau curhat apapun dan mengatakan masalah kamu dengan kita, kita bersedia mendengarkannya," ujar Daddy Aiden.


"Tapi masalah Jio ini menyangkut dengan kalian semua," tutur Zico yang membuat semua orang di sana tertegun mendengarnya. Tapi beberapa saat setelahnya Mommy Della dan Daddy Aiden mengembalikan ekspresinya seperti sedia kala.


Sedangkan Vivian yang tak tega dengan adiknya yang sepertinya tengah gugup pun ia kini meraih tangan Zico dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Lanjutkan ceritanya. Kakak tidak akan marah sama sekali dengan kamu. Apapun masalahnya Kakak ada disini untuk Jio dan tidak akan pernah meninggalkan Jio. Katakan masalahnya sayang, agar hati kamu lega," ucap Vivian dengan mengelus lengan Zico. Dan perlakuan Vivian tadi justru membuat mata Zico kini berkaca-kaca.


"Kak." Vivian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum untuk menimpali ucapan dari Zico tadi.


"Percaya sama Kakak. Saat kamu menceritakan permasalahanmu ini, kita semua tidak akan ada yang marah sama kamu," ujarnya yang terus menyakinkan Zico agar laki-laki itu bisa mengutarakan niatnya tadi. Walaupun ia belum tau permasalahan yang tengah menimpa Adiknya itu karena Zico tipe orang yang selalu memendam masalahnya sendiri dan ketika Zico tadi ingin menceritakan masalahnya kepada orang-orang, disitulah Vivian merasa senang karena setidaknya Zico kini sudah mulai terbuka dengan orang sekitarnya.


Lagi-lagi Zico kini memejamkan matanya sebelum ia menatap kearah Mommy Della dan Daddy Aiden yang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.


"Masalah Jio ini berkaitan dengan cerita 22 tahun yang lalu," ujar Zico dengan menatap lekat kearah Mommy Della dan Daddy Aiden yang sama-sama mengerutkan keningnya.


"22 tahun yang lalu? Lah bukannya umur Lo sekarang masih 18 tahun? Kalau gitu 4 tahun sebelum Lo lahir, Lo udah traveling dulu dong dan bikin masalah di dunia," sela Erland yang langsung membuat seluruh pasangan mata menatapnya. Dan hal tersebut membuat dirinya menjadi canggung.


"Ya elah si ogep. Main mutus cerita orang aja. Tungguin dia kelar ceritanya baru disanggah," timpal Edrea sembari melempar bantal sofa kearah saudara kembarnya itu yang untungnya bisa Erland tangkap jika tidak bantal itu pasti mendarat di wajah tampannya. Dan ulah Edrea tadi membuat Erland berdecak sebal.


Sedangkan Zico, ia hanya bisa menghela nafas. Sudah susah-susah dirinya merangkai kata-kata dan tiba-tiba saja susunan kata itu hilang dengan seketika saat Erland memutus ucapannya tadi. Tapi tak apa, ia akan mencobanya lagi.


"Sebenernya ini bukan murni masalah Jio melainkan masalah orangtua Jio," ucap Zico.


"Hmmm lebih tepatnya lagi ini masalah Mama."


Damn, Mommy Della dan Daddy Aiden yang tau siapa ibu dari Zico pun mereka langsung mengatupkan bibir mereka rapat-rapat bahkan mereka kini menegakkan tubuhnya.


"Ehemmm. Lanjutkan," perintah Daddy Aiden.


Zico berdehem sesaat untuk menetralkan kegugupannya yang semakin menjalar memenuhi otaknya.


"22 tahun yang lalu Mama saya melakukan suatu hal yang sangat-sangat keji. Menabrak seorang wanita yang saat itu ingin menyebrang jalan setelah membantu seorang nenek. Entah kenapa Mama saya waktu itu melakukan hal tersebut yang jelas saya hanya tau jika beliau dendam dengan sepasang suami istri yang hidupnya jauh lebih bahagia dari dirinya. Hingga tanpa perasaan beliau melancarkan aksinya setelah mengetahui jika wanita itu tengah sendirian. Dan dengan kecepatan kencang beliau menabrak wanita itu hingga terpental beberapa meter dari tempat sebelumnya. Dan setelah beliau mencelakai wanita itu, beliau langsung kabur begitu saja. Menghilangkan semua bukti yang akan membuat pihak kepolisian ataupun suami dari wanita itu mengetahui dirinyalah sang pelaku dari penabrakan itu. Hingga saat dirinya sudah menghilangkan semua bukti-bukti itu, beliau justru kembali lagi ke tempat kejadian. Bahkan beliau juga mengikuti kemana wanita itu di bawa pergi. Dan saat wanita itu telah sampai di rumah sakit, beliaulah yang justru menunggu wanita itu sebelum pihak keluarga datang ke rumah sakit tersebut. Tapi beliau bukan menunggu untuk mendengarkan berita baik melainkan beliau sangat berharap mendengar hal buruk terjadi kepada wanita itu. Dan benar saja, harapan beliau terkabul saat dia mendengar jika wanita yang ia tabrak tadi koma dan dalam keadaan kritis bahkan satu nyawa juga berhasil dia rengut sebelum dirinya dilahirkan ke dunia. Ya, wanita itu tengah hamil besar saat beliau menabraknya. Dan hal itu benar-benar membuat beliau bahagia bukan main," cerita Zico panjang kali lebar dengan mata yang terus tertuju kearah Mommy Della.


Sedangkan Mommy Della dan Daddy Aiden yang mendengar cerita dari Zico yang sangat sama dengan cerita masa lalu mereka pun terlihat keduanya kini tengah tertegun dan saling berpegangan tangan satu sama lain.


"Tapi sepertinya tuhan masih sayang dengan keluarga yang kehancurannya sangat Mama saya tunggu itu, pasalnya saat Mama saya tengah berbahagia, tak berselang lama kebahagiaan itu lenyap saat salah satu dokter yang membantu menangani korban keluar dengan membawa seorang bayi mungil di gendongannya. Awalnya beliau bingung bayi siapa yang tengah digendong oleh dokter tersebut padahal saat itu di ruang UGD hanya ada satu pasien dan itu adalah wanita yang ia tabrak tadi. Bahkan beliau sendiri juga sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika janin yang berada di dalam perut wanita itu sudah tidak bernyawa. Hingga saat dirinya menyusul dokter tersebut yang ternyata tengah menuju ke ruang khusus bayi, beliau menemukan sebuah fakta jika bayi yang berada di dekapan dokter tersebut merupakan bayi yang sebelumnya sudah dianggap meninggal olehnya bahkan sudah di nyatakan meninggalkan juga oleh para dokter tadi. Ya, bayi itu berhasil kembali bernafas. Dan hal itu benar-benar membuat Mama saya tak menyukai hal tersebut sehingga beliau berinisiatif untuk menukar bayi cantik milik wanita tadi dengan bayi lainnya yang sudah meninggal. Entah bagaimana beliau bisa melakukan penukaran bayi itu, yang saya tau beliau sangat senang saat dia berhasil menukar bayi tadi walaupun beberapa saat setelahnya aksinya itu langsung membuat gempar seisi rumah sakit karena ada yang kehilangan mayat bayi perempuan. Tapi beliau mana peduli dengan hal tersebut. Yang terpenting apa yang beliau inginkan sudah tercapai walaupun belum maksimal," ucap Zico dengan menghela nafasnya membayangkan betapa kejamnya aksi ibunya waktu itu.

__ADS_1


"Dan tidak berhenti sampai disitu saja beliau berniat jahat, karena saat beliau sudah membawa pergi bayi mungil tadi. Beliau memiliki niat jahat lainnya yaitu membuang bayi itu ke dalam jurang. Tapi saat beliau ingin melakukan hal tersebut, entah apa yang menggetarkan hati beliau sehingga niatnya tadi terhenti dan tak jadi ia lakukan. Hingga beliau menemukan cara lain yaitu menitipkan bayi itu ke panti asuhan. Tapi lagi-lagi saat beliau sudah menyerahkan bayi itu ke tangan pengurus panti dan saat beliau ingin pergi dari tempat itu, tiba-tiba saja beliau tak tega mendengar suara tangis bayi itu. Hingga akhirnya beliau kembali mengurungkan niatnya. Dan berakhir bayi itu beliau bawa pulang kerumah, dimana saat itu Mama sudah menikah dengan Papa. Awalnya Papa yang melihat istrinya membawa bayi digendongnya, Papa kaget mengingat jika Mama tidak mengandung waktu itu. Tapi Papa yang awalnya sudah berpikir negatif tentang Mama dan juga marah dengan Mama, akhirnya Papa luluh juga saat Mama menjelaskan tentang bayi yang ia bawa dengan cerita yang tentunya bohong. Tapi Papa tetap percaya hal tersebut hingga beliau memberikan saran agar bayi itu mereka rawat untuk menggantikan sosok Kak Agas yang beberapa bulan sebelumnya meninggal dunia. Dan Mama yang waktu itu tak memiliki pilihan lain pun beliau juga setuju akan hal tersebut. Hingga mereka berdua merawat dan membesarkan bayi itu seperti anak kandung mereka sendiri. Ralat, hanya Papa saja yang memperlakukan dia seperti anak kandungnya sendiri, tidak dengan Mama," sambung Zico yang langsung merasakan genggaman ditangannya mengerat kuat.


Ia kini mengalihkan pandangannya kearah Vivian yang kini tengah berkaca-kaca.


"Jio," ucap Vivian dengan suara yang sangat lirih.


Zico yang tak tega melihat Vivian bersedih pun ia langsung membawa tubuh Vivian kedalam pelukannya.


"Maafin Jio, Kak. Maaf," ucap Zico dengan air mata yang sudah tak bisa ia cegah lagi untuk membasahi pipinya begitupun dengan Vivian yang baru mengetahui fakta tersebut, jika dirinya bukan anak kandung dari orangtuanya dulu. Dan ia yakin cerita yang tengah Zico tadi ucapkan merupakan kisah dirinya, karena anak perempuan di keluarganya yang dulu hanyalah dirinya.


Vivian kini mencengkram kuat baju yang tengah Zico kenakan itu.


"Kenapa Jio baru ceritain ini semua sekarang?" ucap Vivian dengan sesegukan.


"Maaf Kak, maafin Jio," ujar Zico yang tidak bisa mengucapakan kata-kata lain lagi selain kata maaf. Ia juga benar-benar menyesal telah memendam semuanya sendiri setelah beberapa tahun saat ia mengetahui hal tersebut yang membuat dirinya hampir gila itu.


Daddy Aiden dan Mommy Della yang selama Zico bercerita merasakan ketegangan yang teramat sangat itu pun kini mereka mencoba menetralkan kembali diri mereka masing-masing. Bahkan Daddy Aiden kini berdehem yang membuat semua orang disana kini menatap kearahnya, selain dua pasang Kakak Adik yang masih saling berpelukan itu.


"Ehemmm, Daddy paham apa yang kamu tadi ceritakan Jio. Jadi untuk memecahkan masalah ini Daddy mau dengar langkah apa yang akan kamu lakukan agar masalah ini cepat selesai," ucap Daddy Aiden yang membuat Zico melepaskan pelukannya tadi dari tubuh Vivian tapi jari jemarinya masih menggenggam tangan perempuan yang masih tertunduk menyembunyikan tangisannya itu.


"Jio ingin menyerahkan Kak Vi ke keluarga kandungnya," ujar Zico yang membuat Vivian kini menatap dirinya.


"Oke jika begitu, apa kamu tau siapa dan dimana orangtua kandung Vivian itu berada?" tanya Daddy Aiden yang langsung mendapat anggukan kepala dari Zico.


"Baiklah kalau begitu, Daddy sama Mommy akan menemani kamu untuk menemui keluarga kandungan Vivian. Mau sekarang atau besok saja? Kalau sekarang biar Daddy sama Mommy siap-siap dulu," ujar Daddy Aiden dengan mengelus punggung Mommy Della agar istrinya itu segara sadar dari lamunannya.


"Tidak perlu Dad," cegah Zico yang membuat Daddy Aiden mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Daddy Aiden heran.


"Hmmmm karena kita sekarang sudah ada di rumah keluarga kandungan Kak Vi," jawab Zico yang membuat seluruh pasangan mata menatap kearah Zico dengan tatapan berbeda-beda. Begitupula dengan Mommy Della yang tadinya menundukkan kepalanya karena ingatan masa lalunya itu kembali berputar memenuhi otaknya pun kini wanita paruh baya itu juga ikut menatap manik mata Zico, menunggu penjelasan lebih lanjut dari anak laki-laki didepannya itu.

__ADS_1


__ADS_2