
Zea memejamkan matanya sedari tadi dengan tubuh yang mulai lemas, ia pun yakin sepertinya wajahnya sekarang sudah mulai pucat. Bohong jika ia tak merasakan lelah luar biasa yang melandanya sedari tadi, bukan hanya itu saja melainkan ia benar-benar lemas karena jujur saja Zea belum makan sedari siang karena kejadian pagi tadi yang membuatnya lupa akan hal tersebut dan hanya terfokus kepada orang-orang disekitarnya.
Zea terus memejamkan matanya dengan segala macam doa yang ia panjatkan dari dalam hatinya dan sesekali ia mengintruksi dirinya sendiri untuk tetap terjaga kesadarannya.
Mata Zea kini terbuka perlahan saat ia mendengar ada deruman mobil yang berhenti di jalanan tepat di depan bangunan yang ia gunakan untuk sembunyikan.
"Tolong jangan lagi," gumam Zea dengan merapatkan tubuhnya sampai pojok ruangan sempit itu. Ia takut jika mobil yang berhenti itu adalah mobil para penjahat tadi yang kembali mencarinya.
Zea terus terdiam dengan tubuh bergetar saat suara langkah kaki semakin mendekat kearah persembunyiannya itu. Bahkan saking takutnya dengan apa yang akan terjadi selanjutnya karena Zea tidak mungkin untuk kabur lagi, ia menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup kedua telinganya dan dengan mata yang terpejam ia menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan kakinya tadi.
Debar jantung Zea semakin memacu dengan cepat saat mendengar pintu bangunan tadi berkali-kali dicoba untuk terbuka dari luar. Hingga...
Brakk!
Satu kali dobrakan pintu itu terbuka bertepatan dengan itu pula bayangan seseorang menghalangi cahaya rembulan menerangi Zea yang sedang bergetar ketakutan.
"Tolong jangan sakiti saya. Pergi kalian! pergi!" teriak Zea dengan histeris tanpa merubah posisinya tadi.
"Pergi kalian, jangan ganggu saya!" ucapnya lagi saat orang yang berada didepan pintu tadi kini mendekati dirinya.
"Hey sayang. Tenang, ini aku," ujar seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga Zea. Dan hal tersebut membuat Zea perlahan menegakkan kepalanya. Dan saat tatapan lelahnya itu bertabrakan dengan tatapan teduh seorang laki-laki yang sudah beberapa bulan ini menyandang status sebagai kekasihnya itupun, ia langsung memeluk tubuh Azlan dengan sangat erat.
Azlan yang merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak becus menjaga Zea sesuai dengan perintah Mommy Della dan Daddy Aiden, ia membalas pelukan dari kekasihnya itu tak kalah erat dari Zea dengan sesekali ia mencium puncak kepala Zea.
"Aku takut," ucap Zea dengan suara lirihnya dan bergetar.
__ADS_1
Azlan yang mendengar itu hatinya benar-benar terasa sakit dan dengan lembut ia mengelus surai Zea.
"Maaf sayang. Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu. Maaf," tutur Azlan penuh penyesalan.
"Tapi sekarang kamu tidak perlu takut lagi, disini sudah ada aku yang akan melindungi kamu entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan menjadi perisai untukmu," sambungnya tepat di telinga Zea.
Tapi sayangnya baru saja Azlan mengucapakan hal tersebut Zea yang sudah benar-benar tak kuat pun perlahan tubuhnya melemas dan berakhir ia tak sadarkan diri di pelukan kekasihnya.
Azlan yang menyadari hal tersebut pun ia semakin panik di buatnya.
"Sayang," panggil Azlan dengan merubah posisi Zea agar Azlan bisa melihat wajah kekasihnya yang sudah pucat itu.
"Sayang jangan bercanda. Ayo bangun!" ucap Azlan sembari menepuk-nepuk pipi Zea berharap jika gadisnya segera tersadar dari pingsannya. Tapi sayangnya apa yang ia lakukan tadi tak berefek apapun kepada Zea.
Hingga tatapannya kini beralih ke lengan Zea dan beberapa luka yang berada di tubuh Zea dan hal tersebut membuat Azlan mengepalkan tangannya.
Dan saat Azlan berjalan dengan tubuh Zea berada di gendongannya itu membuat semua pasang mata yang melihat tubuh Zea terkulai lemas langsung memancarkan kilatan amarah di balik bola mata mereka terlebih Leon yang sekarang mencengkeram kuat stir mobilnya.
Edrea yang berada di samping Leon dan melihat perubahan ekspresi wajah kekasihnya itu, tangannya kini bergerak untuk mengelus lengan Leon agar laki-laki itu menurunkan sedikit emosinya.
"Zea bakal baik-baik saja," ujar Edrea dengan lembut dan hal tersebut membuat Leon kini mengalihkan pandangannya kearah Edrea yang tengah menampilkan senyumannya itu. Dan ucapan dari Edrea tadi hanya dibalas dengan senyuman tipis dari Leon tapi walaupun begitu didalam hati laki-laki tersebut sama sekali tak meredakan api amarahnya.
Disisi lain, Adam yang melihat calon adik iparnya tengah tidak baik-baik saja pun ia segara keluar dari mobilnya menuju ke mobil Azlan.
"Bisa minggir sebentar," ucap Adam yang mampu mengalihkan perhatian dari Azlan yang sedari tadi menatap Zea dengan genggaman tangannya.
__ADS_1
Azlan yang paham kenapa Adam mendekatinya pun ia segera memberikan ruang untuk Adam agar laki-laki itu leluasa untuk memeriksa Zea.
Adam tampak menghela nafas setelah ia memeriksa denyut nadi Zea yang tampak melemah itu.
"Az, ke mobil Abang sekarang. Ambil kotak berwarna hitam dan kerdus sedang di dalam bagasi belakang. Cepat!" perintah Adam yang langsung di turuti oleh Azlan. Ia segera berlari menuju kearah mobil Adam untuk mengambil apa yang di ucapkan oleh laki-laki tadi.
Sedangkan Daddy Aiden yang melihat gerak-gerik dari Azlan pun ia segera turun di ikuti oleh Leon dan Edrea yang berada di mobil berbeda. Ia benar-benar khawatir akan keadaan Zea bahkan ia tak peduli jika ada bahaya yang mengintai mereka yang terpenting sekarang adalah keselamatan Zea karena gadis itu juga yang tau persembunyian orang yang tengah menyekap para keluarga Abhivandya.
"Bagaimana?" tanya Daddy Aiden yang sudah merapatkan dirinya di mobil Azlan.
"Denyut nadi dia melemah," ucap Adam.
Dan baru saja bibir Adam mengatup, Azlan sudah kembali dengan membawa satu box berukuran sedang dan satu kardus.
"Bang, gue mohon bantu dia buat tetap di dunia ini," ucap Azlan saat dirinya sudah menaruh dua benda tadi disamping Adam.
"Abang akan berusaha Az. Tapi Abang juga tidak janji akan hal itu karena Ab Loang hanya memberikan pertolongan mendadak dengan peralatan apa adanya tidak seperti dirumah sakit. Tapi walaupun kita sekarang kerumah sakit, Abang tidak menjamin dia akan bertahan sebelum sampai di sana karena tau sendiri disini jauh dari rumah sakit ataupun keramaian," ujar Adam sembari memberikan penanganan kepada Zea.
Sedangkan Azlan yang mendengar hal tersebut pun ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Azlan tidak mau tau. Selamatkan dia, bang!" ucap Azlan.
"Iya Azlan. Abang lagi berusaha ini," tutur Adam. Dan perlahan tangannya kini membuka balutan di lengan Zea dan pada saat itu juga ia menghela nafas panjang.
"Shittt!" umpat Azlan saat ia juga melihat luka tersebut yang tak asing untuknya.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara keluarga lo sialan!" geram Azlan yang sudah menatap wajah Leon yang sedari tadi berada di belakangnya.
"Kalau lo gak balik lagi di hidup kita, ini semua tidak akan pernah terjadi lagi. Dan sekarang lihat! buka mata lo! Orang yang bahkan tidak memiliki urusan sama keluarga lo justru sekarang menjadi korban dari kekejaman mereka! Bukan hanya Zea saja yang menjadi korban satu-satunya yang tak tau menahu urusan ini tapi banyak orang yang bukan siapa-siapa dan tidak salah sama sekali juga turut menjadi korban! Dan satu lagi, jika terjadi sesuatu dengan Mommy sampai tubuh Mommy terluka, gue gak akan segan-segan buat bunuh lo!" sambungnya sembari menunjuk wajah Leon.