The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 69


__ADS_3

Mommy Della kini masuk kedalam kamar dengan berlari kecil mendekati sang suami yang tengah sibuk memakai kemeja kerjanya.


"Dad," panggil Mommy Della. Daddy Aiden menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Dad, tau gak?" Daddy Aiden mengkerutkan dahinya kemudian menggedikkan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan yang ambigu tersebut.


"Mom rasa ada sesuatu sama kedua jagoan kita," ucap Mommy Della sembari membantu Daddy Aiden memasangkan dasinya.


"Sesuatu apa sih?" tanya Daddy Aiden yang mulai terpancing dengan pembicaraan Mommy Della.


"Mom curiga kalau mereka berdua lagi jatuh cinta," tutur Mommy Della dengan menepuk-nepuk kemeja Daddy Aiden setelah selesai memasangkan dasi tadi.


"Masak sih. Kok Dad gak percaya ya. Ya soalnya mereka berdua tuh gak ada ekspresi wajah sama sekali, datar terus kayak triplek. Entah tuh dua orang nurun siapa, kalau nurun kita kan gak mungkin karena kita apalagi aku kan baik hati, ramah, penuh ekspresi dan gak sombong lagi." Mommy Della memutar bola matanya malas.


"Iya, ramah dan penuh ekspresi kalau di rumah aja, tapi kalau udah diluar nauzubillah amit-amit sebelas dua belas sama anak sendiri. Jadi jangan tanya lagi kenapa mereka seperti itu. Kalau sampai tanya lagi, aku akan beliin kamu kaca yang jumbo biar kamu ngaca disana," tutur Mommy Della. Kemudian ia segera keluar dari kamar tersebut menuju ruang makan, menghampiri kedua jagoannya.


Saat dirinya sampai di ruang makan, kedua jagoannya itu tak lagi sarapan melainkan mereka berdua tengah memainkan ponselnya bahkan sesekali mereka senyum-senyum sendiri.


"Aduh anak lakiku pada kenapa sih?" gumam Mommy Della lirih dengan terus menatap kedua buah hatinya itu bergantian bahkan sepertinya kehadirannya tak mereka rasakan.


Saat Mommy Della terus memperhatikan Azlan dan Erland, tampak Daddy Aiden berjalan menuju kearah ruang makan dan saat sampai yang ia lihat pertama kali adalah Azlan dan Erland yang masih sama seperti yang dilihat Mommy Della tadi.


Daddy Aiden kini perlahan mendudukkan tubuhnya di kursi makannya. Kemudian menggeser kursi tadi hingga mengikis jarak antara dirinya juga Mommy Della.


"Mereka berdua udah gila?" tanya Daddy. Mommy Della melirik sekilas kearah Daddy Aiden setelahnya kembali menatap dua orang laki-laki di depannya itu.


"Sepertinya begitu," jawab Mommy Della.


"Mengerikan, kita memelihara dua makhluk yang kewarasannya sudah sedikit menghilang," tutur Daddy Aiden yang dijawab anggukan kepala oleh Mommy Della.


Keduanya kini terdiam dan terus menatap lurus kearah Azlan dan juga Erland. Hingga Edrea dengan mengendap-endap menghampiri mereka semua dengan pikiran yang jahil tentunya.


"Dorrrr!" teriak Edrea memenuhi rumah tersebut dan hal tersebut membuat keempat orang yang sedari tadi tengah berdiam diri di ruang tersebut tampak terkaget. Bahkan jika Erland dan Azlan tak memegangi ponselnya dengan erat, sudah dipastikan ponsel tersebut melayang jauh dari jangkauan mereka.

__ADS_1


"Hahahaha," tawa Edrea, menertawakan ekspresi semua orang yang tertangkap kamera ponselnya.


"Astagfirullah Rea!" kesal Mommy Della.


"Kamu ini bisa gak diam sebentar gitu? jahil terus. Untung Mom sama Dad gak punya riwayat sakit jantung kalau punya udah end dari dulu dan kamu bakal gak punya orangtua lagi. Kamu mau?" Edrea nyengir kuda sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Mommy Della hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi tingkah Edrea.


Edrea kini duduk di sebelah Mommy Della sembari matanya menatap kedua Abangnya yang jika ia jahili pasti akan marah-marah. Tapi kenapa sekarang tampak beda? Bahkan setelah Mommy Della berhenti memarahinya, kedua Abangnya kembali sibuk dengan ponsel di genggaman tangannya masing-masing.


"Mom, mereka kenapa sih?" Mommy Della menggedikkan bahunya tak tau.


Edrea tampak berdecak dan baru saja ia ingin melakukan aksinya untuk kedua kalinya, Mommy Della lebih dulu menghadangnya. Kalau tidak dihadang bisa-bisa perang dunia di pagi hari terjadi.


"Duduk!" perintah Mommy Della.


Edrea mencebikkan bibirnya kemudian ia menuruti apa yang diperintahkan oleh sang Mommy tadi.


"Kalian berdua berhenti main hpnya. Sarapan dulu," ucap Mommy Della.


"Tumben nurut," batin Mommy Della.


Kemudian satu keluarga tersebut menikmati sarapan mereka masing-masing hingga di tengah-tengah makan mereka, bunyi ponsel Edrea terdengar nyaring.


Edrea membelalakkan matanya saat melihat nama Zico terpampang di layar ponselnya. Tapi karena ia merasa tak enak mengangkat telepon di saat sarapan dengan keluarganya, Edrea tak mengangkat telepon tersebut.


"Kenapa gak diangka?" tanya Mommy Della.


"Hehehe gak penting Mom." Mommy Della mengangguk lalu melanjutkan acara makannya.


Dan baru beberapa suap, lagi-lagi dering ponsel Edrea berbunyi tapi saat ini hanya notifikasi pesan saja bukan telepon seperti sebelumnya. Edrea menatap satu persatu anggota keluarganya yang tak memperhatikan dirinya. Setelah itu baru ia membuka pesan dari Zico tadi.


📨 Zico : Keluar dong Rea. Gue udah di depan rumah lo nih. Gue sengaja kesini buat ngajak lo berangkat bareng kesekolah. Tapi kalau lo belum selesai berkemas, gak usah buru-buru. Gue akan setia nunggu lo sampai selesai.


Edrea yang tadinya tengah membaca pesan tersebut sambil minum pun akhirnya air yang ada di dalam mulutnya dan belum sempat ia telan, menyembur keluar semua dan untungnya semburan itu ia arahkan ke samping kirinya yang tak ada makanan dan tak ada orang disana.

__ADS_1


Keempat orang tadi dengan serempak mengalihkan pandangannya kearah Edrea yang tampak tengah bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Daddy Aiden.


"Anu itu Dad hmmm gini aduhh, Edrea berangkat sekolah sekarang," tutur Edrea sembari beranjak dari duduknya dan segera memakai hoodienya kemudian menyambar tasnya.


"Tapi sarapan kamu belum habis lho," ucap Mommy Della.


"Rea udah kenyang Mom. Rea berangkat dulu." Sepanik-paniknya dia, ia tak pernah melewatkan untuk mencium anggota keluarganya itu satu persatu.


"Assalamualaikum," teriak Edrea sembari berlari menjauhi mereka.


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.


"Kirain tadi anak kita yang masih normal dan waras cuma Edrea tapi ternyata ketiganya sama aja, gak ada yang benar," bisik Daddy Aiden.


"Iya ya aduh, salah pergaulan kayaknya." Daddy Aiden menganggukkan kepalanya.


Untuk beberapa saat di ruangan tersebut kembali sepi hingga suara Erland memecahkan kesunyian disana.


"Mom, Dad. Erland berangkat dulu assalamualaikum," ucap Erland sembari mencium kedua telapak tangan orangtuanya tak lupa mencium pipi mereka.


"Azlan juga berangkat dulu. Assalamualaikum," tutur Azlan yang menyusul Erland mencium kedua telapak tangan orangtuanya dan mencium pipi mereka.


"Waalaikumsalam, kalian hati-hati dijalan," ucap Mommy Della dan juga Daddy Aiden yang hanya dijawab dengan acungan jempol keduanya.


Daddy Aiden kini tersenyum lebar kearah Mommy Della saat kedua jagoannya sudah tak terlihat lagi.


"Kamu tau gak sayang. Aku hari ini lagi bahagia banget sampai mau nangis saking bahagianya," ucap Daddy Aiden.


Mommy Della mengerutkan keningnya.


"Azlan akhirnya mau nyium aku juga setelah penantian cukup panjang. Astaga aku bahagia sekali hari ini." Mommy Della kini menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Meratapi nasibnya yang memiliki keluarga yang cukup berbeda dari keluarga pada umumnya. Unik, absurd dan penuh huru hara tapi keluarga kecilnya itu sangat mengasikan.

__ADS_1


__ADS_2