
Kini hari yang telah di tunggu-tunggu oleh Azlan dan Zea tiba. Dimana di hari ini adalah hari resepsi pernikahan mereka dan akan mengakhiri hubungan rahasia itu di hadapan semua orang terutama teman-teman mereka yang waktu itu menuduh keduanya melakukan zina.
Dan Azlan yang sudah siapa mengenakan tuxedo putih kini tengah menunggu sang istri untuk keluar dari ruang ganti.
"Ck, lama," decak Azlan. Ia benar-benar tak sabar melihat Zea menggenakan gaun putih pilihannya. Pasti istrinya itu sangat cantik, batin Azlan.
Azlan kini menoleh saat mendengar suara pintu disampingnya itu terbuka dan langsung memperlihatkan wajah Zea di balik pintu tersebut. Sebenarnya tak hanya ada Zea saja yang berada di balik pintu itu, melainkan ada 2 orang lainnya yang menjadi MUA acara resepsi keduanya. Tapi Azlan mana peduli dengan mereka karena pusat perhatiannya kini kearah Zea. Bahkan ia juga tak menyadari jika dua orang tadi sudah keluar dari ruang ganti itu.
Azlan yang melihat penampilan sang istri tampak melongo takjub melihat keindahan yang berada di depan matanya. Tak salah memang firasatnya tadi jika istrinya itu sangat cantik memakai gaun panjangnya dengan rambut yang di cepol keatas dihiasi mahkota yang ada di atas kepala sang istri. Dan hal tersebut membuat Zea terlihat sangat-sangat lah anggun sekaligus cantik.
Sedangkan Zea yang sedari tadi di tatapan tanpa berkedip oleh Azlan pun ia kini mendengus kesal.
"Jangan lihatin aku mulu. Bentar lagi acaranya mau di mulai," ujar Zea menyadarkan Azlan.
Azlan yang sudah tersadar pun ia kini mengerjabkan matanya. Lalu dengan deheman sesaat, ia semakin mendekat kearah Edrea.
"Sayang," panggil Azlan. Zea yang memang memiliki porsi tubuh yang lebih pendek dari Azlan pun ia menengadahkan kepalanya untuk menatap manik mata suaminya itu.
"Satu kata yang menggambarkan kamu hari ini." Zea mengerutkan keningnya, menunggu ucapan Azlan selanjutnya.
"Beautiful. Walaupun setiap hari memang kamu sangat cantik. Tapi untuk hari ini aura kecantikanmu benar-benar keluar. Dan aku rasa lebih baik kita membatalkan acara resepsi ini saja deh." Zea yang mendengar hal tersebut pun ia melongo di buatnya.
__ADS_1
"Jangan ngaco. Kamu udah ngeluarin uang banyak buat acara ini dan dengan mudahnya kamu mau batalin gitu aja, yang benar saja," ujar Zea tak setuju dengan niat suaminya itu. Jika memang Azlan tak mau mengadakan pesta pernikahan, kenapa dia baru bilang dengan Zea? Toh dirinya juga tidak keberadaan dengan keputusan Azlan itu, karena dia cukup sadar diri saja. Dulu suaminya itu sudah banyak merogoh uang hanya untuk membebaskan dirinya dari orangtuanya yang toxic itu. Masak iya sekarang dia meminta untuk merayakan pesta pernikahan mereka semewah ini. Ia benar-benar tak ingin resepsi ini terjadi sebenarnya, tapi gara-gara paksaan dari kedua mertuanya dan juga sang suami dengan berat hati ia menerima.
Tapi lihatlah sekarang, suaminya itu justru ingin membatalkan acara yang sungguh membuat siapa saja menangis gara-gara melihat nominal yang harus di keluarkan keluarga Abhivandya hanya untuk mengadakan acara ini. Sungguh tak habis pikir!
"Ck, suruh siapa kamu cantik begini. Aku tuh gak mau kecantikan kamu di lihat semua tamu undangan apalagi para mata buaya jantan. Pasti dengan terang-terangan mereka nanti akan melihat kamu tanpa berkedip sedikitpun. Aku gak suka kamu di lihatin orang lain, sayang. Karena yang boleh lihat kecantikan kamu itu cuma aku aja gak boleh yang lain," rengek Azlan seperti anak kecil. Bahkan ia kini tak segan-segan menyandarkan kepalanya di bahu dan menyembunyikan wajahnya di leher sang istri.
Zea yang melihat Azlan sudah dalam mode manja dan posesif pun ia kini menghela nafas.
"Tapi acaranya beberapa menit lagi akan dimulai, mungkin semua tamu undangan juga sudah datang. Dan kalau kamu membatalkan acara ini secara mendadak, kamu nanti hanya akan bikin keluargamu malu. Aku juga tidak mau jika gara-gara niatanmu itu, keluarga kamu nanti akan menjadi buah bibir semua orang. Aku gak mau itu terjadi, sayang," ucap Zea dengan suara yang super lembut sembari tangannya kini mengusap punggung suaminya yang masih setia berada di posisi sebelumnya.
"Tapi aku gak rela kamu di lihatin orang lain," ujar Azlan.
"Kalau gak rela wajah aku diliatin banyak orang, pakaiin karung goni sekalian buat nutup wajah aku ini. Menyebalkan sekali laki satu ini, untung aja aku sayang. Huh," batin Zea meronta-ronta ingin mengucapkan hal tersebut tapi ia takut, Azlan nanti benar-benar melakukannya. Bukan masalah untuknya jika harus mengunakan benda itu, tapi masalahnya dia nanti akan semakin di buat kelimpungan dengan aksi Azlan yang mencari benda itu yang tak mungkin laki-laki itu temukan di sekitar gedung hotel ini. Dan Zea yakin jika laki-laki itu tak menemukan benda tersebut, Azlan justru akan uring-uringan dan berakhir merengek bahkan menangis seperti anak kecil. Dan sifat Azlan yang satu itu akan membuat kepalanya pusing tujuh keliling, entah mulai dari kapan suaminya itu bertingkah manja dan seperti anak kecil begini kalau dengannya. Bahkan sosok menyeramkan dan cool yang selalu terpatri di wajah Azlan, Zea sudah tidak melihatnya lagi.
"Apa?"
"Aku akan tutup wajah aku dengan bunga ini jika aku lihat atau kamu lihat seseorang yang tengah memandangku. Gimana?" Azlan tampak terdiam dan menimbang-nimbang ide dari Zea tadi.
Hingga perhatian keduanya beralih menuju ke pintu utama ruangan tersebut yang sudah terbuka dan menampilkan wajah Edrea yang tengah menyembul dari balik pintu itu.
"Bang, Kak. Acaranya sudah mau di mulai. Kalian sudah harus turun ke bawah sekarang," ucap Edrea yang memberikan informasi kepada sepasang suami istri itu.
__ADS_1
"Oke Re, kita sebentar lagi akan turun. Terimakasih udah ngasih info," ujar Zea dengan senyuman di bibirnya.
"Sippp Kak. Gue kebawah sekarang. Kalian jangan lama-lama, semua tamu undangan sudah banyak yang datang soalnya." Zea menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Edrea tadi.
"Eh btw, Kak Zea cantik banget. Gue aja tadi hampir lupa gender karena saking terpesonanya dengan kecantikan Kakak. Dan gue yakin bukan hanya gue aja yang terpesona dengan kecantikan Kakak tapi semua orang yang lihat nanti akan melebarkan matanya tak percaya saat melihat Kakak yang seperti bidadari turun dari surga." Zea terkekeh saat mendapat pujian dari adik iparnya itu.
"Berlebih banget sih Re mujinya. Tapi gue tetap berterimakasih sama Lo." Edrea menganggukkan kepalanya sembari mengacungkan jari jempolnya.
"Apa yang gue omongin tadi emang jujur Kak. Gak ada yang gue lebih-lebih kan. Haishhhhh udah dulu deh Kak ngobrolnya. Anak bayi gue udah merengek minta di susuin kayaknya," ujar Edrea saat tangannya sudah di tarik-tarik oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan bayi besarnya alias Leon.
Zea yang mendengar hal tersebut pun ia terkekeh di buatnya, karena ia tau siapa yang di maksud bayi itu oleh Edrea.
"Ya udah susuin sana gih daripada nanti rewel dan berakhir ngambek. Nanti lebih susah bujuknya," ucap Zea.
"Iya Kak, ini juga gue mau otw nyusuin dia dulu. Bye Kak." Edrea melambaikan tangannya sebelum pintu ruangan itu tertutup kembali.
Dan setelah Edrea pergi dari hadapan mereka berdua, Zea kini kembali menatap kearah Azlan.
"Gimana? Kamu setuju dengan ideku tadi kan?" tanya Zea. Azlan tampak mendengus, sebelum ia menganggukkan kepalanya.
"Tapi awas aja kalau mata kamu balas tatapan mata mereka. Akan aku kurung kamu di kamar selama 1 tahun gak boleh keluar kemanapun," ujar Azlan yang membuat Zea tersenyum dengan gelengan tipis di kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah sayang. Aku akan menuruti apa yang kamu katakan. Kalau gitu, udah gak ada masalah lagi kan? Kalau gak ada ayo, kita turun ke bawah. Jangan buat Mommy dan Daddy serta keluarga kamu marah gara-gara terlambat untuk turun," ucap Zea yang lagi-lagi ia langsung mendengar helaan nafas dari Azlan.
"Iya-iya kita ke bawah sekarang," ujar Azlan akhirnya. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Azlan langsung mengkode Zea untuk melingkarkan tangannya di lengannya. Zea yang paham akan hal tersebut pun ia langsung melakukan apa yang di kode suaminya tadi. Dan saat tangan Zea sudah melingkar indah di lengannya, Azlan segera melangkahkan kakinya bersama Zea di sampingnya yang tengah menatapnya dengan senyum manisnya.