
Zea yang sedari tadi membungkam mulutnya agar orang-orang itu tak menyadari keberadaannya pun kini jantungnya di buat berdebar saar suara langkah kaki semakin terdengar mendekatinya.
"Gue harus bagaimana ini? Tuhan, tolong bantu Zea keluar dari sini tanpa mereka tau keberadaan Zea. Dan Zea mohon lindungi Mommy Della dimanapun beliau berada," batin Zea.
Zea terus was-was dengan otak yang terus ia gunakan untuk memikirkan ide agar ia tak tertangkap oleh orang-orang itu. Hingga matanya kini terbuka lebar saat didalam kegelapan ia tak sengaja menatap sebuah tumpukan batu bata yang tertata di pojokan tempatnya bersembunyi saat ini.
"Sepertinya hanya itu yang bisa bantu gue buat keluar dari sini," batin Zea.
Dengan perlahan Zea kini melangkahkan kakinya menuju pojok tempat tersebut dan setelah sampai di samping tumpukan batu bata tersebut, Zea menatap kearah tembok yang kemungkinan tingginya mencapai 2 meter lebih yang dijadikan pagar dari area rumah itu.
Dan tanpa pikir panjang Zea kini mulai naik keatas tumpukan batu bata tersebut walaupun tampak kesusahan tapi Zea tak menyerah begitu saja hingga akhirnya ia sekarang sampai di atas tumpukan batu bata itu yang ukurannya hanya setengah dari pagar tembok tersebut.
Dan saat tangan Zea menyentuh atas pagar itu berniat untuk melanjutkan aksinya, tapi tanpa ia sadari sebelumnya jika di seluruh atas pagar tembok itu terdapat pecahan kaca yang tertanam di sana.
Zea yang tadi tak sengaja menggoreskan tangannya di pecahan kaca itu pun dengan sebisa mungkin ia menahan keterkejutannya itu.
"Aws," ucap Zea dengan sangat lirih sembari memegangi tangan kirinya yang sudah mengeluarkan darah segar dari telapak tangannya.
Tapi perhatiannya itu teralihkan dengan suara seseorang yang menginjak daun kering tak jauh darinya.
Dan hal tersebut membuat Zea menjongkokan tubuhnya agar tak terlihat oleh orang-orang tadi.
"Bercak darahnya masih ada?" tanya salah satu dari temannya itu.
"Entahlah, semakin lama bercak darah itu hilang. Dan hanya sampai disini saja. Atau jangan-jangan orang itu sudah kabur lagi dari sini saat kita lengah tadi. Wahhhhh tidak bisa di biarkan begitu saja, sebaiknya kita berpencar sekarang," ucap satu orang lainnya yang diangguki setuju oleh dua orang temannya. Dan setelah itu mereka kini berpencar menuju ke tiga arah yang berbeda-beda.
__ADS_1
Zea yang memastikan jika langkah mereka sudah menjauhi dirinya pun ia kini bisa menghela nafas lega.
"Gue harus cepat keluar dari sini. Gue harus kembali ke rumah. Kasih tau ke Daddy Aiden untuk segera menolong Mommy Della dan semua pekerjanya," gumam Zea sembari berdiri kembali dari posisi jongkoknya itu.
Dan dengan helaan nafas, ia mengayunkan sebuah belahan batu bata untuk menghancurkan pecahan kaca yang tertancap di pinggir pagar itu walaupun pecahan kaca itu tak semuanya hilang dari pagar itu tapi setidaknya sudah tak setajam sebelumnya.
Tapi karena suara pecahan itu terdengar, orang-orang yang masih berada di ruangan penyekapan tadi langsung berbondong-bondong menatap kearah sumber suara.
"Siapa disana!" teriak bos dari gerombolan orang tadi.
Zea yang mendengar hal tersebut langsung membelalakkan matanya dengan menatap kearah sumber suara walaupun ia tak bisa melihat pemilik suara tadi.
"Siapapun yang membawa ponsel atau senter bawa kesini!" perintah orang tersebut yang semakin membuat Zea gugup seketika.
Dan tanpa menunggu dirinya ketahuan oleh para penjahat itu, Zea dengan mengigit bibir bawahnya kedua tangannya terulur ke pinggir pagar tembok tersebut. Dan baru saja tangan itu menyentuh pinggir tembok tersebut, ia merasakan serpihan kaca-kaca itu menusuk telapak tangannya. Tapi hal tersebut berusaha Zea abaikan. Bahkan kaki jenjangnya itu perlahan naik di pinggir pagar tembok itu, rasa perih kembali ia rasakan di bagian kakinya yang tak memakai alas kaki itu.
Tapi baru saja ia memikirkan hal tersebut, ada sebuah cahaya mengarah ke dirinya.
"Sial! Tangkap dia!" perintah bos itu saat mereka sudah melihat keberadaan Zea.
Zea yang keberadaannya sudah tak aman lagi pun dengan memberanikan diri, ia melompat dari pembatas pagar tembok itu. Ia tak peduli jika nantinya salah satu tulangnya akan patah.
Namun bertepatan saat kakinya menyentuh tanah, dirinya kembali merasakan tusukan yang benar-benar sangat tajam di telapak kakinya itu bahkan kali ini terasa sampai ke ulu hatinya.
"Arkhhhh," desis Zea dan perlahan ia melihat kondisi kakinya yang sudah tertancap sebuah pecahan kaca yang ia yakin pecahan itu sisa dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
"Jangan lari kamu!" teriakan orang-orang tadi mengalihkan pandangan Zea yang kini menatap kearah sumber suara dimana orang-orang itu kini tengah menatap kearah Zea.
"Sial," umpat Zea sebelum tangannya bergerak untuk mencabut kaca dari telapak kakinya. Dengan sekali hentakan tangan Zea berhasil melepaskan pecahan kaca itu, kemudian dengan sebisa mungkin dan mengabaikan rasa perih serta darah yang terus mengalir di kedua tangan dan kakinya itu Zea berlari menjauhi tempat tersebut diiringi dengan suara tembakan yang mengarah ke dirinya.
Zea sebisa mungkin menghindari tembakan tersebut dengan sesekali bersembunyi di balik pohon. Hingga saat ia ingin berpindah tempat karena semakin lama orang-orang itu juga bergerak mengejarnya, salah satu peluru dari orang-orang itu berhasil mengenai lengan Zea yang membuat gadis itu mengerang kesakitan saat merasakan panas yang menusuk dagingnya, "Arkkhhhhhhh!" erangnya. Namun hal tersebut tak membuat Zea patah semangat ia terus melangkah kakinya entah kemana tujuannya saat ini yang terpenting ia bisa menjauh dari orang-orang itu.
"Jalan raya," ucap Zea saat ia melihat sebuah lampu yang menyinari sebuah jalanan. Dan ia berharap saat ia sampai di jalanan itu ia bisa menemukan sebuah kendaraan yang melintas dan menyelamatkan dirinya.
Ia semakin menambah kecepatan berlarinya hingga saat ia berada di jalanan itu, ia menoleh kearah samping kanan dan kirinya. Tak ada kendaraan satupun yang melintas disana. Ia menatap kearah belakangnya, sepertinya orang-orang tadi sedikit jauh darinya karena ia hanya bisa mendengar teriakannya saja.
"Jika memang tidak ada satupun orang yang bisa menyelamatkan gue, setidaknya gue harus ngandelin diri gue sendiri sampai orang-orang itu menyerah dengan sendirinya. Ya gue harus ngandelin diri gue sendiri. Semangat Zea, hari esok sudah menunggu lo," ucap Zea semata-mata untuk menyemangati dirinya yang sudah mulai kelelahan itu. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut, Zea kembali berlari mengikuti kata hatinya menuju ke arah kanan untuk menelusuri jalan raya itu dan baru beberapa meter saja kakinya terhenti karena matanya tak sengaja melihat sebuah bangunan yang teramat kecil kemungkinan bangunan itu bekas toilet dibalik semak-semak yang sangat rimbun itu. Dan tanpa berpikir panjang, Zea kembali berlari menuju ke tempat tersebut.
Ia tak peduli jika kaki dan tubuhnya tertusuk duri dari ilalang yang menghalanginya keberadaan bangunan tadi. Dan dengan perjuangan yang sangat menguras energi, Zea akhirnya berhasil masuk kedalam semak-semak itu dan ia segera membuka pintu bangunan tersebut kemudian menutupnya kembali.
Dan tak berselang lama, ia mendengar derum mobil dan langkah kaki seseorang yang berhenti di jalanan tepat di sebrang bangunan itu. Dan hal tersebut membuat tubuh Zea bergetar hebat, ia takut persembunyiannya itu di ketahui oleh para penjahat tersebut. Dengan bibir yang terkatup rapat, Zea terus berdoa untuk keselamatannya didalam hatinya.
"Gimana? Kalian sudah menemukannya?" tanya bos tersebut.
"Maaf bos, kita tidak menemukan keberadaannya," jawab salah satu orang disana.
"Kita juga minta maaf bos karena sudah kehilangan jejak dia," timpal satu orang lainnya.
"Sialan! Kalian memang tidak becus, menangkap seorang perempuan saja kalian tidak bisa. Kalau begini kita harus memberitahu bos gimana? Dan apa kalian mau tanggung jawab dengan semua ini?" ucap bos para penjahat itu dengan lantang.
Dan hal tersebut membuat anak buahnya menundukkan kepalanya tanpa ada yang berani menimpali ucapan dari bos mereka.
__ADS_1
"Arkkhhhhhhh! kalian ini!" geram bos tersebut sembari menunjuk kearah para anak buahnya itu. Lalu setelahnya ia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian ia membalikan badannya untuk menuju ke mobilnya kembali, tapi sebelum dirinya masuk kedalam mobil, ia menghentikan pergerakan tubuhnya itu bahkan tatapan matanya itu kembali menatap kearah para anak buahnya itu, "Kembali ke markas. Lanjutkan besok untuk pencarian perempuan itu. Dan saya tidak mau tau besok kalian sudah harus menemukan perempuan itu dalam keadaan hidup atau mati sekalipun. Kalian paham!" para anak buahnya itu tampak menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan bos mereka tadi.
Dan setelah bos itu melihat anggukan kepala tersebut, ia langsung masuk kedalam mobilnya, dan tak berselang lama mobil itu melaju meninggalkan tempat tersebut diikuti oleh para anak buahnya tersebut.