The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 168


__ADS_3

Kini Edrea telah bersiap bersama dengan tim


sekelasnya untuk melakukan pertandingan melawan kelas sebelah. Dan baru saja dirinya masuk ke tengah lapangan basket bersama teman-temannya, sorak-sorai meneriaki namanya terdengar nyaring masuk kedalam pendengarannya. Bahkan laki-laki yang seharusnya berada di pihak lawan sekarang malah mendukungnya.


"Gini nih yang buat gue gak suka ikut beginian. Teriak sih boleh tapi jangan cuma manggil nama gue doang. Yang main kan bukan cuma gue tapi masih ada yang lainnya. Tolong dong sorakin juga nama pemain lain," gerutu Edrea yang hanya bisa didengar oleh teman-temannya saja.


"Harusnya lo bersyukur kali Re, ada banyak yang nyemangatin lo," ucap Wiwit diakhiri dengan kekehan kecil saat melihat wajah murung dari Edrea.


"Benar yang dikatakan Wiwit tau Re. Harusnya lo bersyukur karena dengan suporter itu, bisa buat lawan down tau apalagi dilihat-lihat banyak orang di kelas lawan kita yang justru dukung lo. Dan perlu lo tau, kita semua tuh sebenarnya gak ada yang bisa main basket, ya walaupun bisa tapi gak sejago lo lah. Kita sebenarnya ngelakuin ini juga karena paksaan, makanya pertandingan ini kita hanya bergantung ke lo." Edrea berdecak saat melihat tatapan berbinar dari beberapa teman timnya itu.


Belum sempat Edrea menimpali ucapan dari teman-temannya itu, suara peluit membuatnya menghela nafas dan mau tak mau ia harus melakukan yang terbaik untuk tim dan kelasnya.


"Bermain dengan baik dan jangan ada yang curang," ucap guru olahraga yang akan menjadi wasit dalam pemain tersebut.


Kedua tim pun menganggukkan kepala dan kini mereka saling berpencar, menuju ke tempat masing-masing dan tersisa Edrea yang ada ditengah bersama guru olahraga tadi yang sudah memegang bola basket.


"Lho ini pemain kelas 11 IPS 3 kurang?" tanya guru olahraga tersebut sembari menoleh ke segala arah.


"Maaf Pak, saya telat!" teriak seseorang dari belakang guru olahraga tadi.


Edrea mencebikkan bibirnya saat melihat orang yang ditunggu untuk memulai pertandingan tersebut ternyata adalah Puri.


"Ternyata si tomket masih hidup. Kirain udah mati," gumam Edrea.


"Baiklah. Karena semuanya sudah siap dan lengkap kita mulai permainan ini," ucap guru olahraga tersebut.

__ADS_1


Puri kini menghadap kearah Edrea dengan senyum miringnya. Edrea yang melihat hal itu pun hanya memutar bola matanya malas.


Dan tak berselang lama bola yang di pegang oleh guru olahraga tadi terlempar ke udara dan pada saat itu juga pertandingan itu dimulai.


Saat seluruh siswa-siswi di sekitar lapangan tengah asik menyaksikan pertandingan tersebut, berbeda dengan Leon walaupun matanya terus tertuju ke pemainan tersebut tapi matanya tak pernah lepas dengan pergerakan Puri. Ia sempat curiga dengan gadis eh wanita itu. Sedangkan para teman-teman Leon tak kalah hebohnya dengan para siswa yang terus meneriaki nama Edrea.


"Go go Rea go!" teriak Jojo.


"Yessss 3 point!" sorak Galuh.


"Bantai terus Rea. Babang Faisal ada di pihak lo!" kini giliran Faisal yang dengan hebohnya berteriak sembari membawa pom pom yang ia pinjam dari para cheerleader disana.


Pertandingan itu terus berlangsung dengan points tim Edrea lebih unggul dari tim Puri dan hal itu membuat Puri menggeram kesal.


Dan saat waktu pertandingan hampir selesai, Puri tersenyum misterius tanpa di ketahui oleh siapapun.


"Edne awas!" Edrea kini menolehkan kepalanya dan pada saat itu Puri sudah bersiap untuk menerkamnya dengan serpihan kaca yang berada di tangannya.


"Anjir," umpat Edrea kemudian dengan sigap ia memutar tubuhnya dan tak jadi memasukkan bola tadi ke ring melainkan bola itu ia lemparkan kearah Puri yang berhasil membuat wanita itu terjatuh dan kaca tadi terlempar menjauh dari tubuh Puri.


"Ups salah lempar," teriak Edrea yang seakan-akan ia melakukan kesalahan.


Teman satu timnya mendekati Edrea lalu menepuk pundak sang empu.


"Gak apa-apa poin kita udah jauh dari poin lawan," ujar salah satu temannya tersebut yang diangguki oleh Edrea sembari tersenyum.

__ADS_1


Sedangkan Puri yang rencananya tadi gagal pun kini menatap Edrea dengan tajam sembari dia berdiri.


Edrea tersenyum miring kearah Puri lalu ia mendekati wanita tersebut dan saat Edrea sudah berada didepan Puri, ia mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Puri.


"Tidak semudah itu buat nyelakain gue, Puri. Disekitar sini ada malaikat yang akan selalu ngelindungi gue. Walaupun gue gak tau rencana lo kedepannya tapi malaikat yang jagain gue bakalan tau semuanya. Jadi hati-hati dan good luck buat kedepannya jika masih punya niatan mau nyelakain gue lagi," bisik Edrea diakhiri dengan dua tepukan di punggung Puri. Lalu setelah membisikan hal tersebut Edrea kembali ke posisinya. Tapi sebelumnya ia mengambil serpihan kaca tadi dan membuangnya ke tempat sampah.


"Hari ini boleh gagal tapi gue pastiin di hari berikutnya lo gak bisa menghindar dari malaikat maut yang mengantari diri lo itu Edrea," gumamnya sembari mengepalkan tangannya.


Sedangkan Leon kini ia bisa bernafas lega saat melihat Edrea bisa menghindari rencana dari Puri tersebut. Dan tanpa ia ketahui bahwa para teman-teman itu kini menatap dirinya dengan kerutan di wajah mereka.


"Kenapa?" tanya Leon saat dirinya baru menyadari tatapan teman-teman itu.


"Lo yang kenapa? main teriak awas-awas segala, padahal posisinya tadi aman dan gara-gara teriakan lo yang mungkin didengar sama Rea, buat tuh gadis cantik gak jadi masukin bolanya kan," omel Jojo.


"Iya ih padahal kan tadi bisa 3 point lagi," timpal Faisal.


Leon yang mendengar omelan dari para temannya itu berdecak sebal.


"Lo semua mau tau alasan gue tadi teriak begitu kenapa?"


"Gak. Udah jelas kalau lo tadi pasti ngecoh Rea biar pihak lawan bisa rebut bola di tangan Rea saat dia lengah karena teriakan lo itu. Kan lo pasti dukung tim kelas 11 IPS 3," tutur Galuh yang langsung mendapat lemparan botol air mineral dari Leon.


"Buat apa gue dukung tim yang kalah telak gitu? Gue tadi teriak karena Rea mau dicelakai sama salah satu pemain lawan dia," ucap Leon yang membuat teman-temannya itu melebarkan matanya.


"Jangan bercanda kali, mana ada yang berani nyelakain orang di lingkungan sekolah. Jangan banyak alasan deh lo," tutur Jojo yang tak percaya dengan ucapan dari Leon tadi.

__ADS_1


"Kalau kalian gak percaya lihat didalam tong sampah yang didekati Rea tadi. Pasti didalamnya ada benda tajam yang digunakan orang itu buat nyelakain Rea," ujar Leon dengan santai.


Dan tanpa Leon duga, ketiga temannya itu benar-benar mendekati tong sampah tadi untuk memastikan jika omongan dari Leon tadi memang benar adanya bukan hanya tipuan saja.


__ADS_2