The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 138


__ADS_3

Mereka kini sudah mulai beraksi lagi dengan menelusuri setiap rak buku di dalam ruangan tersebut, ruangan yang mereka yakini merupakan ruang kerja bagi si pemilik rumah.


Setiap buku yang ada disana mereka buka satu persatu, siapa tau Zico menaruh sesuatu di balik buku-buku tebal itu.


Cukup lama mereka mengobrak-abrik ruangan itu tapi tak ada tanda-tanda apapun di ruangan tersebut.


"Astaga dari pagi sampai siang begini satu pun kita gak dapat info tentang si brengsek itu," keluh Erland.


"Daripada ngeluh gitu mending kita langsung pindah ke ruangan lain," ucap Vivian yang masih semangat 45. Ia juga sangat penasaran siapa orang di balik penculikan Edrea yang juga merupakan orang yang sudah mengawetkan mayat ayahnya itu.


Dan tanpa mendengar perkataan dari orang-orang disana yang masih duduk di sofa ruangan tersebut, Vivian lebih dulu keluar dari sana.


"Ikuti!" perintah Daddy Aiden. Dengan ogah-ogahan keempat orang lainnya pun mengikuti langkah Daddy Aiden yang sudah mulai ikut keluar dari ruangan tersebut.


Kini mereka sudah bergabung dengan Vivian yang tengah menatap pintu yang cukup besar di depannya.


"Jangan bilang kalau pintunya lagi-lagi dikunci," ucap Azlan yang sudah memiliki firasat buruk jika dirinya akan mendobrak pintu lagi untuk yang ketiga kalinya. Vivian yang tadi sudah memeriksa knop pintunya pun menoleh kearah Azlan dengan cengiran di bibirnya.


Azlan yang mengerti akan hal itu pun berdecak sebal dan tanpa bicara lagi, Azlan menyeret tangan Erland dan sang Daddy untuk segera berancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut.


"Erland gak mau tau habis ini harus ada tukang pijat datang ke rumah," ucap Erland dan disetujui oleh dua orang laki-laki lainnya setelah itu ketiganya langsung mendobrak pintu tersebut dengan sekali dobrakan.


"Ini rumah perasaan gelap mulu. Pantesan yang punya, hidupnya juga gelap gak berwarna," gerutu Azlan sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu terlebih dahulu untuk mencari saklar lampu di ruangan tersebut disusul yang lainnya.


Setelah lampu di ruangan tersebut menyala, Daddy Aiden dan Mommy Della sama-sama terdiam di tempat begitu juga dengan Vivian. Sedangkan triplets menatap ke sekeliling ruangan tersebut. Bahkan Azlan malah mendekati salah satu foto yang cukup besar yang terpajang di ruangan yang mirip kamar itu.


"Yang nyulik lo yang mana?" tanya Azlan sembari melihat foto tersebut. Foto yang menampilkan 3 orang didalamnya dan foto itu juga sepertinya sebuah foto keluarga tapi terlihat hanya sebuah editan saja.

__ADS_1


"Yang depan," jawab Edrea.


Azlan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Orang kayak gini, pernah lo taksir? burem mata lo. Masih kalah jauh sama Leon," timpal Erland.


Edrea mencebikkan bibirnya.


"Ya kan, Rea sukanya pakai hati bang bukan pakai mata. Dan orang suka itu juga gak bisa di paksain. Mau itu wajahnya jelek ataupun ganteng kalau suka ya gas aja lah," tutur Edrea.


"Toh itu juga masa lalu. Buat sekarang gak dulu deh, jomblo lebih nikmat," sambungnya.


Azlan dan Erland sama-sama memutar bola matanya malas. Ia tak percaya dengan ucapan dari Edrea. Walaupun ia tau Edrea tak pernah pacaran selama ini tapi bukan berarti tidak pacaran juga tidak memiliki pria cadangan. Terlebih adik perempuan satu-satunya itu masih termasuk kedalam perempuan centil apalagi jika bertemu dengan yang good looking sudah dipastikan ia akan mengejar laki-laki itu hingga dapat.


Saat triplets tengah mencibir satu sama lain, berbeda dengan kedua orangtuanya yang sekarang baru tersadar dari keterkejutan mereka dan keduanya kini saling berpandangan. Mereka paham sekarang arah dari pertanyaan dari Edrea semalam dan semua ingatan tentang kejadian masa lalu yang telah hilang itu kembali lagi berputar di kepala mereka berdua.


Pandangan keduanya terputus karena Daddy Aiden kini menoleh kearah Vivian yang masih mematung di tempat tapi air matanya sudah mengalir membasahi kedua pipinya.


Vivian yang dipeluk pun kini membalas pelukan Daddy Aiden dengan sangat erat pula. Ia masih syok dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ketahui hari ini.


Sedangkan yang lainnya yang tak paham akan situasi saat ini pun hanya melihat kearah dua orang yang saling berpelukan itu.


"Ini kenapa jadi melow gini sih?" tanya Erland yang tak mendapatkan jawaban dari orang-orang di sekitarnya hingga ia berdecak kesal lalu ia memilih untuk menelusuri setiap ruangan disana diikuti dengan kedua saudaranya yang lain dan membiarkan ketiga orang itu diam dengan pikiran masing-masing.


Hingga beberapa saat kemudian Erland menemukan sesuatu dibalik kaca rias dikamar tersebut.


"What the hell!" teriak Erland yang membuat semua orang menoleh kearahnya bahkan pelukan Daddy Aiden dan Vivian terlepas.

__ADS_1


"Gila, benar-benar psikopat," ucap Azlan setelah bergabung dengan Erland.


"Keluarga kita jadi incaran dia juga ternyata, anjir," tutur Erland. Ia geleng-geleng kepala saat melihat kumpulan foto yang tercetak dibalik kaca rias tersebut dan beberapa foto itu ada muka keluarga mereka yang masih bersih tak mendapat coretan sama seperti foto-foto lainnya yang sudah mendapat coretan silang dengan tinta merah. Bahkan di atas kumpulan foto itu terdapat tulisan yang berbunyi, "I Will Kill You"


Edrea yang sebelumnya sudah tau rencana Zico untuk membunuh semua anggota keluarga itu hanya terdiam, ia juga terkejut saat melihat foto orang lain disana dan kemungkinan orang-orang yang di foto tersebut nyawanya sudah melayang di tangan Zico.


Sedangkan Daddy Aiden, Mommy Della dan Vivian yang juga kepo akan penemuan dari Erland tadi kini mereka bertiga ikut merapat dan disitulah Vivian kembali menangis sembari menutup wajahnya.


"Maaf," ucap Vivian di sela-sela tangisannya.


Keempat orang selain Daddy Aiden yang selalu berada disampingnya sembari mengelus lengan Vivian pun mengerutkan keningnya tak paham akan permintaan maaf dari perempuan tersebut.


"Maaf, maaf karena aku tidak bisa mendidik adikku dengan baik," tutur Vivian lagi yang membuat keempat orang tadi tambah bingung.


"Maksud kamu apa sih Kak? Rea gak paham suer deh," ucap Edrea.


Vivian menyingkirkan tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi wajahnya dan kini ia menatap satu persatu orang-orang disana.


"Orang yang nyulik kamu itu adalah adikku yang sudah lama menghilang, Rea," tutur Vivian dengan kepala tertunduk.


"Maaf hiks," sambungnya yang tak akan pernah bosan ia katakan kepada keluarga Daddy Aiden akan kelakuan Zico yang ternyata adalah adik dari Vivian.


"Ja---jadi Zico adik Kakak?" tanya Edrea memastikan.


Vivian menganggukkan kepalanya yang membuat semua orang tak bisa berkata-kata lagi.


"Kenapa kamu gak bilang dari tadi Vi? kalau kamu bilang pasti kita langsung tau identitas dia tanpa ngobrak-abrik isi rumah ini!" geram Azlan.

__ADS_1


"Hiks aku juga gak tau Az jika pelaku itu adalah adik aku sendiri. Terlebih kalian juga gak kasih tau nama pelaku penculikan itu sebelumnya bahkan menyinggung nama Zico saja tidak," tutur Vivian.


"Bahkan aku aja lupa muka adik aku sendiri karena udah lama kita gak ketemu dan mungkin jika tadi tidak ada foto ini aku gak akan pernah sadar jika foto laki-laki ditengah itu adalah Zico. Tapi karena foto ini diedit dengan foto kedua orangtuaku, aku baru tau jika dia adalah adik aku," sambung Vivian sembari menujuk ke foto yang didatangi oleh Azlan sebelumnya.


__ADS_2