
Orang yang berada di depan Vivian tersenyum miring kemudian ia mengambil jepit rambut tersebut.
"Kamu cukup pintar dan licik ternyata," ucapnya sembari melepaskan alat perekam suara tadi dari jepit rambut tersebut. Setelah itu ia memindahkan alat tadi ke sebuah bolpoin yang untuk memutar suara Puri yang sudah berhasil Vivian rekam.
Vivian berdecak kala mendapat pujian tersebut.
"Aku tidak butuh pujian kamu, Azlan. Aku hanya butuh gajiku kamu naikan," tutur Vivian yang membuat Azlan terkekeh kecil.
"Tenaga saja tak perlu khawatir. Gaji kamu bakal aku naikkan dua kali lipat nanti," ucap Azlan. Yap, Vivian adalah orang suruhan Erland tapi dia saat ini harus berhadapan dengan Azlan yang memang mengetahui rencana Erland sejak sang empu menghubungi Vivian tadi siang. Dan sang empu sekarang entah kemana hilangnya, katanya hanya keluar sebentar tapi sampai satu jam itu anak tak kunjung kembali ke markasnya.
Kini Azlan memutar rekaman suara tadi kemudian mendengarkan suara Puri dengan telinga yang ia tajam kan agar tak satu pun pembicara rubah betina itu ia lewatkan. Hingga pada saat Puri mengatakan jika ia menyuruh seseorang untuk melenyapkan Edrea pada malam hari, pikirannya langsung tertuju ke kejadian tempo hari yang juga tengah ia tangani dan sampai saat ini belum juga menemukan titik terang juga.
Dan sudah bisa dipastikan bahwa kejadian itu adalah ulah Puri. Pikirannya kini kembali fokus kedalam rencana Puri selanjutnya.
Di rekaman tersebut terdengar jelas walaupun Azlan tebak suara itu sudah sangat lirih atau mungkin hanya berbisik saja. Dan kemungkinan jepit rambut itu Vivian gunakan di atas daun telinganya hingga suara Puri terekam jelas disana.
__ADS_1
"Gue berencana buat hancurin Edrea saat kita melakukan kunjungan alam yang biasa pihak sekolah adakan saat murid kelas 11 naik ke kelas 12 dan biasanya acara itu dilaksanakan setelah ujian kenaikan kelas. Kita sekarang baru melakukan ujian itu. Tapi tinggal 2 hari lagi ujian itu akan selesai dikerjakan," ucap Puri dengan jeda beberapa saat hingga sang empu kembali bersuara.
"Gue mau orang suruhan lo nyulik dia saat gue berhasil menjebak dia dalam perangkap kita nanti. Suruh dia buat hancurin wanita itu, kalau perlu bunuh dia atau setidaknya buat hidupnya hancur seperti suruh mereka buat merebut kesucian Edrea. Gue yakin itu orang masih perawan. Dan dengan orang suruhan lo lakuin hal itu gue pastikan Edrea akan gila setelahnya," sambung Puri yang berhasil membuat otak Azlan mendidih seketika. Tangannya sudah terkepal erat hingga kuku-kuku jarinya terlihat memutih. Dan sedetik kemudian terdengar dobrakan keras bukan karena Azlan meninju meja atau lainnya, melainkan suara itu ulah dari Erland yang baru kembali, tanpa permisi sang empu langsung mendobrak pintu tersebut yang untungnya sudah tahan banting.
Vivian dan Azlan yang tadi tengah serius kini mengalihkan pandangannya kearah Erland karena terkaget dengan suara yang cukup nyaring tersebut.
Sedangkan Erland yang di tatap oleh kedua manusia berbeda jenis kelamin itu hanya bisa nyengir sembari berjalan menghampiri mereka berdua tak lupa ia sudah menutup kembali pintu yang ia dobrak tadi.
"Kamu bisa gak sih kalau mau masuk permisi dulu atau kalau tidak bisa permisi setidaknya buka pintu dengan normal," keluh Vivian yang sudah jengah dengan kedua saudara kembar itu yang selalu saja membuat jantungnya berdebar kencang, bukan karena jatuh cinta lho ya tapi karena di buat syok dan kaget terus menerus dengan mereka. Untung saja dirinya tak memiliki riwayat sakit jantung jika dia punya, mungkin sudah lama ia tak berada di dunia ini lagi.
"Sorry aku buru-buru soalnya," tutur Erland dengan memperlihatkan cengirannya lagi, lagi dan lagi. Vivian hanya bisa mendengus kemudian mengalihkan pandangan kembali kearah Azlan.
"Semuanya beres kan?" tanya Erland. Azlan melirik sekilas ke arah saudara kembarnya itu kemudian ia melempar bolpoin tadi kearah Erland dan dengan sigap Erland menangkap bolpoin tadi.
"Gue cuma tanya kali. Gak harus di lepar pakai bolpoin segala," geram Erland tak terima dan baru saja ia ingin membalas lemparan tadi, tangannya dicegah oleh Vivian.
__ADS_1
"Di bolpoin itu ada rekaman suara Puri. Jangan main lempar-lemparan lagi sebelum kalian berdua yang aku lempar ke laut biar dimakan hiu sekalian," ucap Vivian. Jangan heran kenapa Vivian bisa seberani ini dengan kedua jagoan Daddy Aiden bahkan wanita itu tak segan-segan untuk mengancam mereka berdua, ya karena Vivian sudah sangat lama bekerja dengan kedua laki-laki tampan tersebut bahkan mereka berdua sudah menganggap Vivian seperti Kakaknya sendiri, menggantikan sosok Aila yang tak pernah ia lihat sebelumnya bahkan triplets hanya mengenal sosok Alia dalam foto bayi yang terlihat pucat dan mendengar cerita dari keduanya orangtuanya saja. Dan jika Aila masih hidup mungkin umurnya akan sama dengan umur Vivian saat ini. Usia Vivian dan triplets hanya terpaut 4 tahun saja sehingga membuat Azlan maupun Erland tak terlalu canggung dengan wanita cantik di ruangan yang sama dengan mereka saat ini.
Erland tampak mencebikkan bibirnya saat mendengar omelan Vivian yang sangat menyebalkan menurutnya, kemudian ia dengan ogah-ogahan memutar perekam suara tersebut. Padahal sebelumnya ia hanya perlu mendengar cerita saja bukan mendengar secara langsung rekaman itu yang nantinya hanya akan membuat dirinya mengantuk saja.
Dan saat dirinya telah selesai mendengar setiap kata di rekaman tersebut reaksi Erland tak berbeda dengan Azlan malah dirinya sekarang dengan tanpa permisi mengebrak meja di depannya yang lagi-lagi membuat kedua orang yang berada diruang yang sama dengannya terperanjat kaget.
"Astagfirullah," geram Vivian.
"Lama-lama tangan kamu, aku potong juga nih," sambungnya.
"Ck, jangan ngomel-ngomel mulu. Tahan bentar bisa kan, soalnya aku lagi emosi ini. Dan kalau aku lagi emosi dan dengar kamu ngomel bawaannya pengen robek mulut kamu soalnya," jawab Erland yang langsung mendapat pelototan tajam dari Vivian.
"Berani robek mulutku, aku sunat lagi kamu. Biar habis sekalian," tutur Vivian.
Azlan yang mendengar adu mulut diantara kedua orang di hadapannya kini hanya bisa memijat kepalanya sendiri. Niatnya ingin berdiskusi mengenai masalah yang Edrea alami sekaligus memikirkan cara melenyapkan Puri eh bukannya mendapatkan solusi yang terbaik, dia malah harus mendengarkan pertengkaran yang tak ada manfaatnya sama sekali. Buang-buang waktu saja, batin Azlan.
__ADS_1
"Kalau kalian berdua masih ingin bertengkar. Aku gak akan segan-segan bawa kalian ke ruang bawah tanah untuk aku jadikan makanan para buaya disana," peringat Azlan dengan muka seriusnya. Kedua orang yang tadi terus saja membuat kepala Azlan pusing kini dengan kompak mengatupkan mulut mereka setelah mendengar ancaman dari Azlan. Tapi tak urung mata mereka saling menatap sengit satu sama lain.