The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 84


__ADS_3

"Bang kenapa gue jadi disini?" tanya Edrea yang masih penasaran. Terakhir ia ingat saat dirinya tengah membaca buku di sebuah taman di belakang sekolah dan setelah itu ia merasakan di lengan tangannya seperti ada sebuah jarum yang menembus kulitnya dan baru saja ia ingin melihat lebih jelas pelaku tadi, pandangannya jadi kabur dan ia tak tau lagi setelah itu.


"Lo tanya kita, terus kita tanya siapa? makanya kalau jadi cewek itu harus bisa jaga diri, selalu waspada dimanapun berada. Bukan malah menyepelekan hal yang berbahaya," omel Erland.


"Ck, baru aja tadi bersikap sweet sekarang udah kembali ke habitat aslinya," gerutu Edrea yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Erland.


Edrea yang takut dengan tatapan itu pun hanya bisa nyengir kuda. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Leon yang sedari tadi hanya diam dan menatapnya.


"Lho Leon juga ada disini ternyata," ucap Edrea yang di balas dengan senyuman oleh Leon.


"Ya gimana dia gak disini. Orang Leon yang bawa Lo ke rumah sakit ini. Jika tadi Leon gak lihat kejadian yang menimpa lo, entah Lo sekarang ada dimana, sedang, apa, dan berbuat apa," tutur Azlan.


"Oh Yolanda," sambung Edrea yang berniat bercanda tapi sepertinya timingnya tidak tepat karena setelah itu ia langsung di tatap dengan muka dingin oleh kedua Abangnya itu.


"Biasa aja kali mukanya bang. Oh ya Leon, gue ucapin banyak-banyak terimakasih karena Lo udah nyelametin gue dari mara bahaya," tutur Edrea dengan tulus.


"Selagi gue bisa dan tau kalau lo dalam bahaya, gue usahain bakal nolongin lo." Edrea tersenyum sembari mengacungkan kedua jari jempolnya.


"Astaga, bukan adik gue. Tolong adik lo di omongin bang. Gue mau telpon Daddy dulu," tutur Erland.


"Eh eh eh. Abang jangan telpon Daddy sama Mommy dong. Apalagi telponnya untuk ngabarin keadaan Rea sekarang." Erland yang tadi sudah mulai mencari nomor sang Daddy kini menatap Edrea dengan kerutan di keningnya.


"Kenapa emang? mereka orangtua lo yang berhak tau kondisi lo saat ini," ucap Azlan.

__ADS_1


"Ck, Rea juga tau kalau mereka orangtua Edrea. Tapi Rea gak mau mereka khawatir dengan kondisi Rea yang sebenarnya sudah sangat baik ini. Dan Rea juga gak mau kalau Daddy tau alasan dibalik Rea masuk rumah sakit saat ini. Rea takut saat Daddy tau, Daddy akan murka dan bisa-bisa Daddy melenyapkan orang-orang yang ada dibalik permainan ini. Kalau semua orang dibalik permainan ini sih gak papa, tapi yang Rea takutin Daddy nekat menghancurkan keluarganya juga yang tak tau menahu masalah ini," tutur Edrea penuh dengan kecemasan.


"Itu udah jadi konsekuensi mereka. Siapa suruh bermain-main dengan keluarga Abhivandya," timpal Erland yang sedari tadi sudah tak terima dengan kejadian yang menimpa Edrea mulai dari malam hingga siang ini yang seakan-akan tak ada habisnya.


"Ya, iya Rea juga tau hanya saja Rea takut kalau Daddy juga melenyapkan anggota keluarga pelaku. Tau sendiri kan bagaimana murkanya Daddy. Jadi Rea mohon jangan beritahu Mommy ataupun Daddy masalah ini," mohon Edrea dengan muka memelasnya.


Erland yang melihat raut wajah dari Edrea kini hatinya mulai luluh, tapi ia juga tak tenang kalau tak memberitahu masalah ini ke orangtuannya.


"Bang jadinya gimana ini?" tanya Erland kepada Azlan dengan berbisik.


Azlan menghela nafas berat. Apa yang dikatakan oleh Edrea tadi memang benar adanya. Daddy Aiden tak akan pernah melepaskan orang yang sudah menganggu keluarganya terutama anak dan istrinya. Jika orang lain masih nekat untuk sekedar mencubit sedikit kulit anak dan istrinya maka Daddy Aiden tak akan diam begitu saja. Ia akan menghancurkan orang tersebut beserta keluarga-keluarganya. Ngeri memang, tapi itulah sisi gelap Daddy Aiden yang menurun ke kedua anak laki-lakinya. Tapi syukurnya Azlan dan Erland, jika mereka mengurus sebuah kasus yang menimpa mereka sendiri atau orang-orang disekelilingnya, mereka hanya akan melibatkan pelakunya saja tanpa menyentuh orang lain apalagi keluarga pelaku yang gak tau sama sekali masalah yang tengah mereka urus itu.


"Sudahlah jangan telepon Daddy atau Mommy dulu. Kita coba nanganin kasus ini sendiri. Jika kita udah berusaha, baru kita serahkan ke Daddy," tutur Azlan yang mendapat anggukan dari Erland.


"Ya Allah bang. Jangan lebay dah, pakai merintah anak buah Abang jadi bodyguard Rea segala."


"Lebay, mulut lo kek corongan! ini bukan lebay bacot, hanya untuk waspada jika orang itu kembali lagi ingin mencelakai lo," geram Erland yang ingin sekali merobek mulut Edrea.


"Tapi ya gak harus pakai bodyguard juga kali bang," rengek Edrea.


"Lo mau apa gak, bukan urusan gue. Lo gak bisa nolak gimanapun caranya, karena Abang gak akan pernah menarik kembali kata-kata Abang tadi." Edrea mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan saat ia tak bisa merayu Erland untuk mengurungkan apa yang Abang keduanya itu tadi rencana kan.


"Ehemmm, gue pamit cabut dulu. Ada urusan yang harus gue selesaikan soalnya," tutur Leon menyela pembicaraan mereka bertiga. Erland mengangguk untuk mensetujui ucapan Leon tadi.

__ADS_1


"Ya udah hati-hati bro," balas Erland sembari bersalaman ala anak laki-laki. Kemudian Leon berpindah ke hadapan Azlan dan melakukan hal yang sama.


"Thanks udah nolong adik gue tadi," ucap Azlan sembari menepuk pundak Leon.


Leon hanya tersenyum kemudian mengangguk untuk menjawab ucapan dari Azlan tadi.


Setelah itu ia beranjak ke sisi kanan Edrea.


"Rea, gue cabut dulu. Lo buruan sehat kayak tadi pagi lagi," ucapnya.


"Gue udah jauh lebih enakan kok daripada tadi saat pertama kali membuka mata. Btw thanks ya, Lo udah nolongin gue tadi. Kalau gak ada Lo, gue gak tau nasib gue sekarang gimana di tangan mereka."


"Selagi gue bisa Re. Toh sesama manusia dan ciptaan Tuhan kita memang dianjurkan untuk saling membantu bukan." Edrea terkekeh geli mendengar penuturan dari Leon tadi.


"Sekali lagi makasih ya." Leon menganggukkan kepalanya.


"Ya udah gue cabut dulu. Assalamualaikum," pamit Leon dengan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Edrea.


"Waalaikumsalam, hati-hati," teriak mereka bertiga secara bersamaan.


Leon menoleh dan mengacungkan jempolnya kerah teman-temannya sebelum membuka pintu kamar Edrea.


Dan saat dirinya sudah keluar dari kamar inap Edrea, ekspresi wajah Leon berubah drastis. Yang awalnya tampak bersahabat, ceria dan selalu tersenyum tapi kini wajah itu berubah datar, dengan tatapan dingin ke sekelilingnya, senyum yang tadi selalu mengembang, kini tak terlihat lagi. Namun hal itu tak bisa mengurangi kadar ketampanannya yang selalu dikagumi oleh para kaum hawa. Dimanapun dan kapan pun dirinya berada pasti ada saja kaum hawa yang menatap kagum kearahnya.

__ADS_1


__ADS_2