
Saat sudah berada di luar ruangan tadi Edrea langsung dikerumuni oleh teman-temannya sedangkan Daddy Aiden kini tengah mencari ketiga putranya itu yang entah sekarang kemana. Leon pun juga tak menampakkan batang hidungnya.
"Nyari siapa sih Dad?" tanya Mommy Della.
"Azlan, Erland sama Adam, kemana ya tuh anak tiga?" tanya Daddy Aiden.
"Mungkin udah pulang duluan kali," jawab Mommy Della yang di balas anggukan kepala oleh Daddy Aiden. Kemudian saat Mommy Della kembali menghampiri Edrea juga Vivian, sedangkan Daddy Aiden langsung merogoh sakunya untuk mencari ponsel miliknya lalu ia segera menelepon sekertarisnya untuk membicarakan tentang penolakan kerjasama antara AWA Grup dan Haz Grup.
Saat Daddy Aiden tengah membicarakan hal itu, berbeda dengan keluarga Puri yang masih saja tak percaya dengan ucapan dari Daddy Aiden tadi.
"Udah miskin, ngaku-ngaku lagi jadi orang kaya. Lebih parahnya ngaku jadi si pemilik perusahaan monster itu. Ya kali pemilik perusahaan tampilannya kayak gelandangan seperti itu," ucap Mama Puri.
"Mana pakai ngancam mau masukin Puri ke penjara lagi. Padahal uang buat nyewa pengacara saja, aku rasa mereka tidak punya, cih. Awas saja setelah pulang dari sini aku yang akan melaporkan anak mereka, biar kapok tuh keluarga sombong," sambungnya dengan terus menggerutu tak ada habisnya.
Sedangkan Puri yang sedari tadi terus memerankan drama yang ia buat pun kini tersenyum tipis saat orangtua Edrea memilih anaknya untuk pindah dari sekolah itu. Dan hal tersebut membuat Puri kembali mendapat peluang menjadi perempuan yang selalu digadang-gadang disekolah tersebut dan yang paling penting adalah ia bisa merebut laki-laki tampan yang dulu sangat menyukai Edrea kepadanya terutama adalah Leon.
Tapi, tunggu. Orangtua Edrea tadi bilang jika Zico juga akan pindah dari sekolah tersebut? Puri yang tadinya tersenyum kini kembali murung karena Zico, si laki-laki pujaannya sudah tak berada disekolah yang sama dengannya. Terlebih dia juga tak tau alamat rumah laki-laki itu dan dia pindah sekolah kemana. Huh, menyebalkan, batin Puri.
__ADS_1
"Sepertinya masalah ini telah selesai dan keputusan saya masih sama seperti tadi jika saudari Puri mulai besok sudah resmi di keluarkan dari sekolah ini. Untuk surat resmi pengeluarannya akan menyusul nanti," ujar Galang selaku pemilik sekolah tersebut sembari mulai berdiri dari duduknya.
"Tidak bisa begitu dong. Saya benar-benar menolak keputusan ini. Enak saja anak saya yang tidak bersalah juga harus keluar dari sekolah ini. Beruntung kalian punya murid seperti Puri, sudah pintar dan sering ikut olimpiade juga tidak pernah mencoreng nama baik sekolah. Dan murid seperti ini harusnya kalian jaga baik-baik bukannya malah terlihat seperti merendahkan seperti ini dengan cara mengeluarkan dia. Lagian anak sialan itu juga sudah keluar dari sekolah ini. Jadi tak ada alasan kalian mengeluarkan Puri yang tak terbukti bersalah," ujar Mama Puri tak terima.
Galang yang sedari tadi sudah menahan amarahnya pun kini ia mengeluarkan ponselnya lalu membuka sebuah video kemudian ia melempar pelan ponselnya ke atas meja didepannya.
"Lihat pakai mata anda. Siapa disini yang benar-benar bersalah akan kasus ini. Dan karena ulah anak anda yang sama sekali tak menorehkan prestasi sedikitpun disekolahan ini, bahkan jauh berbeda dari ucapan anda tadi, kita harus kehilangan murid yang benar-benar membanggakan dan selalu menorehkan prestasinya," geram Galang.
"Omong kosong apa yang sedang anda bicarakan!" tutur Papa Puri.
"Saya tidak bicara omong kosong. Sekarang saya mohon anda berdua lihat kelakuan anak anda yang justru membalikan fakta yang sebenarnya. Dan juga lihat disekeliling anda apakah ada foto Puri yang terpajang diruangan ini? tidak ada kan. Dan justru anak yang anda katakan anak sialan itu yang lebih banyak fotonya yang terpajang diruangan ini dengan piala-piala yang ia dapatkan. Juga mungkin kalian berdua telah di bohongi oleh Puri akan prestasi dan nilainya. Jika tidak percaya saya bisa memperlihatkan kalian nilai asli Puri yang ia peroleh selama dua tahun sekolah disini juga catatan pelanggaran yang dia perbuat," ujar pemilik sekolah tersebut.
Kedua orangtua Puri kini mendekatkan tubuh mereka kemudian langsung mengambil ponsel milik Galang tadi lalu Papa Puri segera memutar video tersebut.
"Ini pastinya diedit. Mana mungkin Puri melakukan hal itu," ucap Mama Puri yang masih saja tak percaya dengan apa yang telah ia lihat barusan.
"Kalian semua jangan ada yang percaya. Puri tidak pernah melakukan hal itu. Itu pasti diedit oleh orang suruhan rubah betina itu. Hiks Puri gak salah, hiks," teriak Puri yang masih mengelak.
__ADS_1
"Jika kalian masih tidak percaya itu terserah kalian tapi keputusan saya tadi tidak bisa diganggu gugat lagi," tutur Galang sembari menyaut ponselnya dari tangan Papa Puri.
"Kalian semua sudah bermain-main dengan keluarga saya. Jadi jangan salahkan saya jika setelah ini polisi akan datang menangkap anda bapak Galang yang terhormat, karena sudah mencemaskan nama baik anak saya. Dan akan saya tegaskan jika mulai hari ini saya, Handoko Putra tidak akan pernah memberikan donasi sepeserpun kepada sekolah ini!" tegas Papa Puri dengan lantang.
"Saya terima keputusan anda tuan Handoko. Tidak masalah bagi saya kehilangan partner seperti anda. Dan akan saya tunggu polisi datang menjemput saya," tutur Galang kemudian ia bergegas keluar dari ruangan tersebut sebelum kepalanya nanti benar-benar pecah menghadapi keluarga sombong itu.
Kepergian Galang tadi membuat keluarga Puri semakin merasa harga diri mereka direndahkan bahkan Papa Puri kini memukul keras meja didepannya lalu menendang kursi yang tak jauh darinya. Sedangkan Mama Puri, wanita itu masih menenangkan Puri juga bibirnya selalu mengeluarkan umpatan demi umpatan untuk Galang.
Dan masih dalam kemurkaan keluarga tersebut, tiba-tiba saja ponsel milik Papa Puri berdering yang membuat sang empu mau tak mau menjawab telepon tersebut dengan dada yang masih naik turun, menandakan jika dia masih emosi.
"Kenapa?" tanyanya.
📞 : "Maaf sebelumnya tuan. Apakah tuan sekarang bisa kekantor? pasalnya keadaan kantor sekarang benar-benar kacau," jawab seseorang yang ternyata adalah sekertaris Papa Puri.
"Dasar, kerja tidak becus, ngurus kekacauan di kantor saja tidak bisa!" ujar Papa Puri dengan suara yang kembali meninggi.
📞 : "Tapi masalah ini benar-benar besar tuan. Karena banyak perusahaan yang tiba-tiba memutus kerjasama mereka dengan perusahaan kita dan mereka meminta kita mengganti rugi secara finansial atas bocornya rencana projects yang sudah kita diskusikan bersama. Juga pihak perusahaan AWA Grup secara resmi menolak kerja sama kita. Dan lebih parahnya lagi, rahasia kantor ini bocor dan mengakibatkan kita rugi besar bahkan hampir bangkrut. Bahkan banyak beberapa karya yang sudah mulai protes karena adanya masalah ini juga mereka meminta gaji mereka sebelum perusahaan ini benar-benar bangkrut. Dan ada beberapa karyawan yang secara mendadak mengundurkan diri dari perusahaan ini dan semua karyawan itu justru adalah karyawan yang berperan paling penting di sini," jelas sekertaris tersebut.
__ADS_1
Dan hal itu mampu membuat tubuh Papa Puri melemas. Ia tak percaya dengan apa yang telah ia dengar tadi dan ternyata benar apa yang dikatakan orangtua Edrea tadi, jika dirinya akan rugi besar-besaran bahkan sampai gulung tikar. Ia benar-benar sudah meremehkan orang yang salah, hanya karena mereka berpenampilan seperti orang biasa sampai-sampai ia tak mengenali pengusahaan hebat itu hingga karena sikapnya tadi nasibnya kini menjadi taruhannya.