
Seperti yang sudah di prediksi oleh Edrea tadi malam. Tepat hari ini, pagi ini, Erland ingin pergi ke sekolah dan ingin membawa mobilnya karena ia akan merencanakan sesuatu ditambah hari ini juga hari dimana perpisahan kakak kelas SMA Balerix, maka dari itu Erland membutuhkan mobilnya untuk mengangkut barang-barang yang akan di bawanya.
Tapi saat dirinya sudah berada di garasi dan menghampiri mobilnya, bertapa kagetnya Erland saat melihat mobilnya tengah terparkir dengan kondisi yang sangat mengiris hati Erland.
"Astaga, nih mobil kenapa kok bisa kayak gini? perasaan, gue gak pernah pakai nih mobil," gumam Erland sembari mengingat terakhir kali ia memakai mobil tersebut.
"Gue rasa terakhir kali gue pakai nih mobil, keadaannya baik-baik aja gak kayak gini. Selain gue emang siapa lagi yang pakai?" ucap Erland dan matanya melebar sempurna saat mengingat tadi malam mobilnya tak berada di garasi bertepatan malam itu Edrea juga tak ada di rumah dan sudah dipastikan tebakannya sekarang menuju ke Edrea.
Erland kini melangkah masuk kedalam rumah kembali dan segera mencari keberadaan Edrea.
"Edrea! sini lo!" teriak Erland lantang sehingga bisa terdengar hingga lantai dua rumah itu.
Edrea yang tadinya tengah menghabiskan sarapannya dan saat mendengar teriakkan dari Erland tadi kini ia langsung beranjak menghampiri Mommy Della untuk berlindung di samping kursi sang Mommy.
Mommy Della yang melihat tingkah Edrea dan teriakan lantang dari Erland tadi kini menatap Daddy Aiden dengan tatapan penuh tanya.
Sedangkan Daddy Aiden yang juga tak tau menahu masalah yang di timbulkan oleh anak perempuan satu-satunya itu hanya bisa menggedikkan bahunya.
"Edrea! kalau lo gak kesini sekarang jangan harap uang bulanan dari gue ngalir ke rekening lo lagi!" teriak Erland lagi yang menunggu kehadiran Edrea di ruang tamu.
"Rea, kesana dulu. Abang Er kenapa itu cariin kamu sampai teriak-teriak begitu? jangan ngomong kalau kamu jahilin dia lagi," ucap Mommy Della dengan menatap Edrea yang masih di posisi sebelumnya dengan tatapan mengintimidasinya.
"Rea gak jahilin bang Er kok, suer deh. Hanya saja," ucapan Edrea menggantung membuat Mommy Della dan Daddy Aiden semakin penasaran.
"Edrea! gue hitung sampai tiga kalau lo gak kesini jangan salahkan gue atas apa yang bakal gue lakuin ke lo nanti!" Edrea menggigit bibir bawahnya saat mendengar ancaman yang kesekian dari Erland. Masalahnya kedua Abangnya kalau mengancam dan tak dituruti oleh Edrea sudah dipastikan ancaman itu bukan sekedar di omongan Azlan maupun Erland tapi ancaman itu akan berlaku, bahkan lebih parah dari ancaman sebelumnya. Tega memang tapi itulah cara Azlan dan juga Erland mendidik Edrea agar adik bontotnya itu tak bisa semena-mena dengan orang lain walaupun itu anggota keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Satu!" Edrea semakin panik saat Erland mulai menghitung waktu yang dia berikan untuk Edrea.
"Buruan temuin sana. Nanti kalau ancaman Abang kamu itu di berlakukan, kamu sendiri yang nyesel nanti," tutur Daddy Aiden.
Mommy Della mengangguk saat Edrea menatap kearahnya.
"Dua!" teriak Erland untuk yang kesekian kalinya. Edrea membelalakkan matanya dan dengan memberanikan diri ia keluar dari persembunyiannya.
"Ti---" belum sempat Erland menyelesaikan perkataannya, suara Edrea menghentikkannya.
"Abang bentar, gue otw kesana!" teriak Edrea yang kini sudah berlari menuju tempat Erland berada.
Saat Edrea sudah sampai didepan Erland, Erland segera meraih tangan Edrea dan membawanya sang empu ke garasi mobil. Setelah sampai disamping mobil Erland, Edrea hanya bisa menggigit bibir bawahnya saja.
"Katakan apa yang terjadi semalam!" tutur Erland dengan tegasnya.
"Jangan coba-coba bohong sama Abang, Rea! katakan yang sebenarnya!" gertak Erland yang membuat Edrea semakin gugup.
Erland tau jika adiknya itu tengah berbohong kepadanya. Dilihat dari goresan di mobilnya saja ia sudah tau perkara yang menimpa Edrea kemarin malam. Jika hanya terlalu mepet dengan tembok saat parkir tidak mungkin juga goresan itu ada di dua sisi body mobil itu. Apalagi terdapat beberapa penyok di bagian tertentu.
"Gue udah jujur lho bang. Bener suer tak kewer-kewer, Edrea gak bohong," tutur Edrea sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf V ke arah Erland.
Erland yang tak sedang bermain-main itu kini menggenggam kedua jari Edrea tadi.
"Lo tau kan apa yang paling Abang benci?" tanya Erland dengan dingin.
__ADS_1
Edrea mengangguk dengan takut.
"Coba katakan hal apa yang Abang benci?"
"Kebohongan," jawab Edrea dengan wajah yang tertunduk karena saking takutnya melihat wajah Erland yang sudah seperti ingin makan orang saja.
"Kalau lo tau hal itu maka jangan pernah lo bohong sama Abang. Cepat katakan!" gertak Erland untuk kedua kalinya.
Azlan yang baru masuk kedalam garasi dan melihat adik bontotnya itu sedang disandera oleh Erland dan ia juga sempat mendengar sedikit perbincangan keduanya kini ia mendekati mereka berdua.
"Ada apa ini?" tanya Azlan.
Edrea yang tadinya menunduk kini menegakkan kembali kepalanya dan menatap Azlan dengan berbinar. Edrea kini menghentakkan tangannya yang masih di genggam oleh Erland agar terlepas dari genggaman itu, setelahnya ia berlari menuju kearah Azlan dan bersembunyi di belakang tubuh kekar Abang pertamanya itu. Jangan tanya Mommy Della dan Daddy Aiden kemana. Mereka berdua tak akan ikut campur mengenai permasalahan yang hanya menyangkut ketiga anak mereka. Toh jika mereka bertengkar hebat, beberapa saat setelahnya juga akan kembali akur. Tapi jangan salahkan jika orang luar yang mengusik putra dan putrinya, sudah dipastikan Daddy Aiden maupun Mommy Della tak akan pernah memberi ampun kepada orang yang dengan berani mengusik buah hati mereka.
Azlan menatap sekilas kearah Edrea kemudian mengalihkan pandangannya kearah Erland yang masih menampakkan sisi dinginnya dengan mata yang masih tertuju kearah Edrea.
"Kenapa?" tanya Azlan mencoba menengahi mereka berdua. Karena ia tau jika Erland sudah menampilkan sisi dinginnya dirumah maka yang di lakukan Edrea sudah melampaui batasannya.
"Lo lihat mobil gue," ucap Erland. Azlan mengangguk dan ia juga tampak terkejut dengan kondisi mobil Erland itu.
"Dia tadi malam yang bawa mobil ini dan ketika gue tanya sama dia, dia ngaku kalau goresan ini terjadi karena dia terlalu mepet saat parkir," sambungnya.
Azlan memincingkan alisnya dan perlahan mendekati mobil Erland, meninggalkan Edrea yang kini berdiri di tepatnya tadi tanpa berani menatap Erland.
Setelah Azlan melihat-lihat mobil tersebut secara detail, ia kini memutar tubuhnya dan mengahadap kearah Edrea.
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya!" perintah Azlan yang sepertinya ia juga memiliki firasat yang sama dengan Erland.
"Mati deh lo Rea. Meraka berdua kayaknya udah tau penyebab mobil itu jadi mengenaskan seperti ini. Haish kenapa hanya melihatnya saja mereka bisa tau sih. Arkh kenapa juga gue punya saudara kembar yang super jenius kalau masalah beginian. Huhuhu Mommy, Daddy selamatkan Edrea," batin Edrea menjerit meminta tolong ke siapa saja yang bisa menolongnya.