The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 141


__ADS_3

Kini triplets sudah bergabung kembali dengan ketiga orang sebelumnya yang sekarang sudah berdiri dihadapan para anak buah Zico. Dan Vivian kini menjongkokan tubuhnya tepat disalah satu laki-laki yang membuat mata Edrea melebar dengan sempurna.


"Wehhh si Om kang sopir taksi kw ternyata juga ikut kumpul disini. Kirain ikut kabur sama bos Om. Gimana kabarnya Om, sehat? semoga aja gak deh. Biar buruan mati aja dari pada nyusahin orang mulu," ujar Edrea.


"Dia sopir yang kamu maksud?" tanya Mommy Della yang langsung diangguki oleh Edrea.


Mommy Della kini ikut duduk di samping Vivian kemudian tanpa mereka duga, tangan Mommy Della melayang hingga mendarat di pipi laki-laki itu bahkan suara tamparan itu sangat nyaring masuk kedalam indra pendengaran mereka.


"Awsss." Bukan laki-laki itu yang meringis melainkan Daddy Aiden lah yang bersuara sembari tangannya memegangi kedua pipinya. Walaupun bukan dia yang terkena tamparan Mommy Della tapi dia seakan-akan merasakan sakit yang tengah dirasakan oleh laki-laki itu.


"Daddy ngapain coba? alay," tutur Edrea yang untungnya tak didengar oleh sang Daddy. Sedangkan Azlan dan Erland hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Daddy Aiden dan mendengarkan gerutuan dari adik mereka, berbeda dengan Vivian yang kini melongo tak percaya melihat aksi Mommy Della. Wanita yang terlihat anggun itu ternyata bisa menampar orang lain dengan keras bahkan sampai sudut bibir laki-laki itu mengeluarkan darah segar. Ia baru tau sekarang jika dibalik tubuh anggun, cantik dan feminim tersembunyi sifat menyeramkan, bar-bar dan badas di diri Mommy Della. Dan kemampuan tampar-menampar Mommy Della perlu ia acungi jempol karena sampai saat ini ia belum pernah membuat lawan bahkan lawannya seorang laki-laki mengeluarkan darah saat terkena tamparannya.


Dan kini Mommy Della mencengkram erat rahang laki-laki itu.


"Lancang sekali kamu nyulik anak saya. Ada hak apa kamu melakukan hal itu hah?" geram Mommy Della.


Laki-laki itu terdiam tak berani angkat bicara karena ia sadar yang ia hadapi sekarang bukanlah orang sembarangan ditambah ketiga singa jantan yang cukup terkenal dikalangan para penjahat lainnya diluaran pun ikut bergabung dengan mereka.


"Kamu punya mulut bisa buat bicara bukan? katakan sekarang apa hak kamu buat nyulik anak saya? Jika kamu cuma di beri tugas oleh bos sialanmu itu setidaknya pikir-pikir lagi jika apa yang akan kamu kerjakan itu tak ada manfaatnya. Punya otak juga tak pernah kamu gunakan cuma buat pajangan saja," sambungnya dengan tangan yang sudah terlepas dari rahang laki-laki tadi tapi kini berpindah untuk menoyor kepala laki-laki tersebut berkali-kali.


Daddy Aiden kini mendekati Mommy Della.


"Sudah sayang. Bukan saatnya untuk marah-marah. Kita fokus ke tujuan awal saja," ucap Daddy Aiden sembari menggelus rambut Mommy Della yang ajaibnya bisa membuat Mommy Della dengan seketika mengatupkan bibirnya dan tampak lebih tenang dari sebelumnya.


Mommy Della kini memilih untuk berdiri dari jongkoknya lalu memundurkan kakinya beberapa langkah kebelakang. Dan setelahnya tempatnya tadi digantikan oleh Daddy Aiden.


"Katakan dimana Zico sekarang?" tanya Daddy Aiden dengan tatapan mematikan dan penuh intimidasi.

__ADS_1


Laki-laki itu masih terdiam dan sesekali ia berusaha untuk menelan salivanya dengan susah payah.


"Katakan saja!" perintah Vivian yang sudah muak dengan keterdiaman laki-laki didepannya itu.


Tapi laki-laki itu masih saja tak ingin membuka suaranya hingga beberapa menit telah berlalu. Dan hal itu membuat Daddy Aiden berdecak sebal.


"Baiklah kalau kamu tak ingin mengatakan keberadaan Zico, mungkin besok pagi atau bahkan hari ini juga keluarga kamu akan mengetahui pekerjaan kamu yang asli," ancam Devano.


"Oh ya ucapan saya tadi bukan hanya sekedar ancaman saja tapi bisa saja terjadi karena saya sudah mengantongi semua informasi tentang kamu dan keluargamu semuanya," sambung Daddy Aiden.


Laki-laki itu yang sudah sadar sedari tadi dengan ucapan Daddy Aiden pun kini menggelengkan kepalanya.


"Saya mohon jangan usik ketenangan keluarga saya," pinta laki-laki itu.


"Jika kamu tak mau ucapan saya tadi terjadi maka katakan dimana Zico sekarang!" gertak Daddy Aiden.


"Saya tidak tau keberadaan bos Zico sekarang tuan," jawabnya.


"Saya benar-benar tak tau, bahkan semua orang disini juga tidak ada yang mendapat kabar dari bos," ujarnya.


Daddy Aiden berdecak karena saat ia melihat dengan tajam mata dari laki-laki itu ia tak mendapat kebohongan disana.


"Kalau mereka semua yang ada disini gak tau dimana Zico berada terus kita cari tau lewat siapa lagi?" tanya Edrea.


Semua orang disana terdiam, mereka juga tak tau harus dari mana mereka akan mencari keberadaan Zico hingga suara Azlan memecahkan keheningan di ruangan tersebut.


"Dad." Daddy Aiden mengangkat salah satu alisnya saat dirinya sudah menatap wajah Azlan.

__ADS_1


"Coba periksa ponsel mereka satu-persatu," tutur Azlan.


"Kenapa harus ponsel sih bang?" tanya Erland yang belum paham dengan ucapan dari Azlan tadi.


"Ck, karena dari sana kita bisa cari tahu letak Zico dengan mengirim pesan ke Zico-nya langsung atau anak buahnya yang ikut sama dia," jawab Azlan.


Erland pun menganggukkan kepalanya setelah itu ia beranjak dari tempatnya tadi dan mulai membantu Daddy Aiden yang lebih dulu mencari ponsel para penghuni rumah Zico itu. Diikuti dengan yang lainnya kecuali Mommy Della yang dilarang keras oleh Daddy Aiden untuk menyentuh tubuh orang-orang disana. Memang bucin sampai DNA bapak-bapak satu ini.


"Ketemu!" teriak Erland sembari mengangkat salah satu ponsel yang ia temukan di balik toxedo bodyguard Zico. Kelima orang tadi kini mendekati Erland yang sudah mulai mengotak-atik ponsel yang ia temukan.


"Ini isi hp si Om pasti banyak film bluenya," celetuk Erland.


"Masalahnya hpnya pakai password," sambung Erland sebelum terkena timpukkan sepatu dari Mommy Della.


"Hey Om passwordnya apaan?" tanya Edrea.


"019283," jawabnya dengan menundukkan kepalanya. Ia malu dengan ucapan dari Erland yang menuduhnya mengoleksi film dewasa tapi memang yang dikatakan oleh Erland tadi ada benarnya tapi tak sebanyak yang ada dipikiran Erland kok.


Erland yang sudah mendapat jawaban pun langsung memasukkan angka-angka tadi hingga ponsel yang berada di genggamannya menampilkan tampilan utama ponsel tersebut.


Dan tak membuang-buang waktu lagi, dengan gesit Erland menuju ke suatu aplikasi chat sejuta umat dan melihat satu-persatu pesan diaplikasi itu hingga tangannya berhenti bergerak saat Erland melihat satu pesan yang belum terbuka dan baru beberapa menit masuk kedalam ponsel tersebut. Erland segera membuka pesan tadi dan membacanya dengan teliti. Terlihat senyum miring di wajah tampannya.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba. Kita gak perlu susah-susah buat chat satu-satu manusia di kontak ini karena petunjuk dimana Zico berada sudah kita dapatkan," ucap Erland.


"Tapi tempat ini setau Erland sangat terpencil dan jauh dari kota. Mungkin jika kita kesana butuh waktu 2 hari atau paling cepat 1 setengah hari lah," sambungnya.


Semua orang disana saling tatap satu sama lain kemudian dengan serempak menjawab...

__ADS_1


"Tak masalah," ucap mereka.


"Let's go kita mulai menuju ke lokasi pelaku," timpal Edrea dengan teriakan gembiranya. Entah senang karena keberadaan Zico sudah mulai ada hilalnya atau mungkin ia senang karena pada akhirnya ia bisa bepergian jauh lagi seperti sebelum-sebelumnya.


__ADS_2