
Edrea terus saja mencari barang miliknya diruangan tersebut dengan sesekali mendapat lirikan mata dari Leon.
Hingga akhirnya Leon menghentikan lirikannya saat Edrea kini berbalik arah dengan senyum yang mengembang.
"Untung aja masih ketemu," ujar Edrea sembari menatap benda yang ternyata gelang persahabatannya dengan Leon.
"Jika sudah ketemu. Silahkan keluar," usir Leon yang berhasil membuat Edrea menghilangkan senyumannya.
"Lo ngusir gue?" geram Edrea dengan melangkahkan kakinya mendekati Leon.
"Hmmm." Ucapan dari Edrea tadi hanya mendapat deheman dari laki-laki tersebut. Dan hal itu benar-benar membuat Edrea tak tahan lagi dengan sikap Leon yang menurutnya sangat-sangat berubah.
Dan saat Edrea sudah berada di depan Leon, ia dengan sengaja mengebrak meja kerja Leon dengan sangat keras. Dan gebrakan tadi membuat Leon terperanjat kaget hingga tatapannya kini beralih menatap kearah Edrea.
"Lo apa-apaan sih?" geram Leon.
"Lo yang apa-apaan. Dari tadi pagi gue perhatiin lo kayak orang PMS, sewot mulu sama gue. Kalau lo punya masalah tuh cerita, gue bakal dengerin keluh kesah lo. Bukan kayak gini, tiba-tiba diemin gue, ngusir gue terus dari tadi, padahal dihari sebelumnya lo justru nempel gue mulu, jauh dikit aja gak mau sampai bikin alasan kalau Callie gak mau jauh dari gue alhasil lo dan Callie tidur dirumah gue, padahal yang gak mau jauh dari gue tuh lo bukan Callie. Tapi sekarang lo kelihatan kayak mau menjaga jarak sama gue. Kenapa El? apa gue punya salah sama lo? katakan El karena gue gak suka ada orang yang diemin gue kayak gini!" ucap Edrea.
"Udah, udah selesai bicaranya? Kalau udah silahkan keluar!" ujar Leon sembari menunjuk kearah pintu keluar.
"Gak. Gue gak mau keluar kalau lo belum kasih tau gue masalah lo yang sebenarnya, yang bikin lo berubah seperti ini," tutur Edrea kekeuh.
"Pergi!" perintah Leon.
"Gak!" tolak Edrea.
__ADS_1
"Edne!" peringat Leon dengan suara rendahnya.
"Gue gak mau pergi El, sebelum lo kasih tau alasan lo jadi kayak gini tuh karena apa?" kekeuh Edrea.
"Pergi!"
"Gak!"
"Pergi Edne!" sentak Leon yang sudah mulai kehabisan kesabarannya.
Dan karena sentakannya tadi membuat Edrea kini tertegun di tempat dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca. Ia bukanlah tipe perempuan yang kuat dengan suara bentakan dari seorang laki-laki yang sudah lama ia kenal.
Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Edrea perlahan mudur dari hadapan Leon sebelum akhirnya ia berlari pergi dari ruangan tersebut dengan tangan yang terus bergerak menghapus air matanya.
Sedangkan Leon yang melihat reaksi dari Edrea tadi pun ia kini mengusap wajahnya dengan kasar sebelum dirinya bergegas untuk mengikuti Edrea yang sayangnya perempuan itu sudah tak ada lagi diarea restoran tersebut. Dan sudah bisa Leon pastikan jika Edrea kini hanya memiliki satu tempat tujuan yaitu kesekolah. Dan hal tersebut kini membuat Leon langsung tancap gas kearah sekolahannya.
"Kalian semua ada yang tau kemana Edrea sekarang?" tanya Leon dengan suara yang sangat keras. Dan pertanyaannya tadi membuat semua teman-teman sekelasnya menggelengkan kepalanya.
"Ck, ya udah thanks," ujar Leon sembari berlari lagi menuju ke kelas Azlan dan kelas Erland.
Tapi sayangnya saat dirinya belum sampai dikelas dua laki-laki tersebut, bel masuk berbunyi yang membuat dirinya berdecak sebal sebelum dirinya kini kembali kearah kelasnya. Karena tanpa ia melanjutkan pencariannya tadi, ia dan Edrea nantinya juga akan bertemu di satu kelas yang sama. Dan ia baru sadar jika apa yang ia lakukan tadi, berlari kesana-kemari hanya membuang-buang tenaga dan waktu saja.
5 menit, 10 menit hingga guru pembimbing pelajaran telah masuk ke kelas tersebut, Edrea sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Hingga hal tersebut membuat Leon khawatir seketika ditambah nomor Edrea sama sekali tidak bisa ia hubungi.
Dan karena kekhawatirannya itu sangat menggangu, Leon kini mengangkat tangannya saat nama Edrea tak di ucapkan seorang guru saat beliau mengabsen murid di kelas tersebut.
__ADS_1
"Ya, ada apa Leon?" tanya guru tersebut.
"Maaf pak, saya mau tanya murid yang bernama Edrea Dwyne Abhivandya kemana ya? Bahkan bapak tadi juga tidak mengabsen dirinya," ujar Leon.
"Ohhhh Edrea," ucap guru tersebut yang langsung diangguki oleh Leon.
"Dia sedang absen karena sakit," tutur guru tersebut yang membuat Leon kini membelalakkan matanya.
"Sakit? Sejak kapan dia sakit? Perasaan tadi baik-baik saja. Apa karena terjadi sesuatu di jalan saat dirinya pergi dari resto tadi? Arkhhhh tidak. Tidak mungkin jika dia kenapa-napa saat ini. Dia pasti baik-baik saja. Ya dia baik-baik saja," batin Leon.
Leon terus saja bergelut dengan pikirannya yang sedang mode negatif itu hingga guru yang sudah mulai menerangkan pelajaran itu pun hanya Leon abaikan begitu saja. Bahkan dengan diam-diam tangannya kini terus bergerak, mencoba untuk terus menghubungi Edrea. Tapi sayangnya usahanya itu lagi-lagi tak membuahkan hasil sedikitpun.
Hingga tak terasa waktu cepat berlalu, 2 mata pelajaran telah usai mereka lewati. Dan saat guru yang mengajar tadi sudah keluar dari kelas tersebut, Leon yang sudah memastikan jika tidak ada guru mapel di jam berikutnya masuk, Leon kini menyambar tasnya lalu setelahnya ia berlari keluar dari kelas tersebut, tanpa memperdulikan jika orang-orang di kelasnya terutama ketua kelas tengah meneriaki namanya.
Leon terus saja bergerak menuju ke gerbang belakang sekolah tersebut dengan mata yang terus aktif melihat kondisi di sekitarnya. Hingga ia berhasil lolos keluar dari area sekolah tersebut. Dan tanpa memperdulikan mobilnya yang masih didalam area sekolah, Leon langsung menghentikan sebuah taksi yang melaju di depannya untuk mengantarnya ke rumah keluarga Abhivandya.
"Terimakasih Pak, ini ongkosnya, kembaliannya ambil saja," ujar Leon saat mobil itu sudah berhenti tepat di depan rumah mewah yang ia tuju tadi. Lalu tanpa banyak bicara ia langsung keluar dari taksi tersebut.
Sedangkan supir taksi yang sudah senang karena mendapat uang lebih pun, senyuman yang tadi tercetak jelas di bibirnya kini hilang seketika setelah ia selesai menghitung uang pemberian dari Leon tadi.
"Kembalian apaan, orang uangnya pas gini," gumam supir taksi tersebut dengan gelengan kepalanya. Dan setelah memastikan jika uang pemberian dari Leon tadi benar-benar tak ada lebihnya bahkan ia sampai memeriksa seluruh dalam mobilnya, takut saat Leon ingin memberikan uang lebih kepadanya ternyata uang tadi jatuh. Tapi sayangnya tak ada uang sedikitpun yang jatuh di tempat tersebut. Alhasil ia hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya pergi dari tempat tersebut.
...****************...
***Jika mau double up kasih LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH.... jika kalian tidak mau, it's okey no problem.
__ADS_1
See you next eps bye 👋***