The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 323


__ADS_3

Mata Edrea terus menatap kearah Callie yang sedari tadi berada di dalam gendongan Alice bahkan anak itu yang tadinya menangis kencang kini terdiam saat Alice mulai menggendongnya tadi. Dan hal tersebut membuat Edrea berpikir sangat keras karena Callie ini merupakan anak yang sangat susah sekali untuk akrab ke orang baru tapi entah kenapa dia sekarang malah lengket dengan perempuan itu. Hingga tatapan Edrea beralih menatap kearah seorang laki-laki yang baru ia sadari jika wajahnya mirip dengan Callie walaupun kemiripan mereka tidak 100% tapi Edrea masih bisa menyamakan wajah kedua orang itu. Bahkan laki-laki yang terlihat dingin itu juga ikut menenangkan Callie dan berakhir ia berhasil mengembalikan mood baik Callie.


Edrea terus menatap interaksi laki-laki itu dengan Callie hingga pikirannya tiba-tiba memutar ulang memori dimana Leon menceritakan siapa Callie sebenarnya. Dan hal tersebut membuat Edrea melebarkan matanya. Ia benar-benar baru sadar sekarang jika laki-laki yang bersama dengan Callie itu adalah ayah kandung anak itu yang juga merupakan Kakak kandung Leon.


"Pantas saja Callie langsung akrab begitu sama laki-laki itu," gumam Edrea yang masih bisa didengar oleh Mommy Della yang sedari tadi tengah cemas menunggu dokter yang sedari tadi tak kunjung juga keluar dari ruang ICU.


"Laki-laki siapa yang kamu maksud?" tanya Mommy Della dengan suara yang sangat lirih sembari ia menolehkan kepalanya kearah Edrea. Tapi sebelum Edrea menjawab pertanyaannya tadi, Mommy Della lebih dulu mengikuti arah pandang Edrea yang tengah tertuju kearah tiga orang yang tengah bercanda gurau tak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Kamu sudah tau Re?" tanya Mommy Della yang berhasil membuat Edrea mengalihkan pandangannya kearah sang Mommy.


"Tau apa?" tanya Edrea yang tak paham dengan arah ucapan dari Mommy Della tadi.


"Ck, tentang Callie sama---" belum sempat Mommy Della menyelesaikan ucapannya, Edrea lebih dulu memotong ucapannya itu.


"Iya Mom, Rea udah tau kalau laki-laki itu ayah kandung dari Callie kan?" Mommy Della menganggukkan kepalanya.


"Darimana kamu tau tentang itu?" tanya Mommy Della penasaran.


"Dari El, tapi yang El ceritakan tentang kisah cinta dari orangtua Callie dengan ucapan dari kakaknya waktu ingin membunuh tuan Grissham beda banget. Mungkin El tidak mau terlalu menceritakan detail hubungan mereka karena itu sifatnya pribadi kali ya? Tapi sekarang Rea udah tau cerita yang sebenarnya dan setelah melihat keakraban Callie sama ayahnya, Rea jadi ikut bahagia Mom," tutur Edrea dengan mengalihkan pandangannya kembali kearah tiga orang tadi dengan senyumannya. Dan hal tersebut membuat Mommy Della ikut tersenyum dengan tangan yang ia gerakkan untuk mengelus rambut Edrea.


"Tapi Mom, Rea penasaran siapa perempuan itu?" tanya Edrea.


"Oh perempuan itu adalah---" lagi-lagi ucapan Mommy Della harus terpotong saat terdengar suara pintu ruang ICU terbuka.


"Apa disini ada yang namanya Edrea?" tanya dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut yang membuat Edrea langsung berdiri dari duduknya.


"Saya dok, kenapa ya?" tanya Edrea.


"Silahkan masuk," ucap dokter tadi yang membuat Edrea kebingungan tapi saat dirinya menatap kearah Mommy Della, sang Mommy menganggukkan kepalanya. Dan hal tersebut membuat Edrea dengan ragu melangkahkan kakinya mendekati dokter tadi.


"Silahkan," ucap dokter itu lagi saat Edrea sudah berada di depannya. Edrea menganggukkan kepalanya lalu dengan menundukkan kepalanya ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut karena ia benar-benar takut jika harus melihat hal yang tak ia inginkan di ruangan tersebut.


Dan saat dirinya sudah masuk kedalam dan pintu itu juga sudah tertutup rapat, suara seseorang membuat Edrea menegakkan kepalanya kembali.


"Edne," panggilan dari suara tadi membuat Edrea menatap binar kearah seseorang yang merupakan pemilik suara tadi.


"El," ucap Edrea dengan air mata yang sudah siap untuk menetes.


Leon yang sudah sadar itu pun ia tersenyum kearah Edrea yang masih menatapnya dari kejauhan.


"Come baby," ucap Leon dengan suara yang masih terdengar sangat lemah sembari tangannya ia ulurkan kearah Edrea.


Edrea yang melihat sang kekasih sudah membuka matanya kembali dan suara yang selalu ia rindukan selama satu bulan ini sudah kembali ia dengar, ia segera berlari kearah Leon dan setelah ia sampai ia memeluk tubuh kekasihnya itu.


"Hiks, kenapa kamu tidurnya lama banget sih? Aku khawatir tau ih," omel Edrea dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung lagi.


"Stttt nanti dulu ngomelnya. Aku lagi mau lihat keadaan kamu," ucap Leon sembari melepas pelukan Edrea tadi dan setelah terlepas ia menatap tubuh Edrea dari atas sampai bawah.


"Mutar," perintah Leon.

__ADS_1


"Mutar?" tanya Edrea tak paham.


"Iya, kamu mutar dulu," ujar Leon.


"Buat apa?"


"Ck, mutar dulu bentar sayang," tutur Leon yang membuat Edrea menghela nafas, awalnya ia ingin terharu karena melihat kekasihnya telah kembali, biar seperti pasangan yang terlihat romantis. Eh ternyata kekasihnya itu justru membuat dirinya kini sebal dengan segala perintahnya yang Edrea tak paham apa tujuan laki-laki itu meminta dirinya untuk memutar tubuhnya. Tapi perintah Leon tadi tak urung Edrea lakukan dan ia sekarang memutar tubuhnya perlahan.


Dan setelah Edrea menyelesaikan perintah Leon, laki-laki itu kembali berucap, "Kesini sayang." Edrea kini melangkahkan kakinya mendekati Leon kembali.


"Dekatan sini, aku mau bisikin sesuatu ke kamu," ujar Leon yang lagi-lagi langsung dituruti oleh Edrea. Dan saat Edrea mendekatkan wajahnya ke wajah Leon, tanpa Edrea duga Leon justru mengecup pipinya.


"Good girl," ucap Leon sembari mengacak rambut Edrea. Edrea yang kini tersadar setelah mendapat kecupan itu pun ia langsung memukul lengan Leon dengan sangat keras.


"Aws kenapa di pukul sih sayang? Sakit tau, apa kamu gak kasihan sama aku yang masih lemah gini?" ujar Leon dengan kerucutan dibibir pucatnya.


"Bodoamat, salah siapa modus. Malu tau El, dilihat dokter sama suster," ucap Edrea dengan menundukkan kepalanya.


"Ck, disini cuma ada kita berdua tau sayang," ujar Leon yang membuat Edrea langsung mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan itu dan benar saja para dokter dan suster sudah tak ada di ruangan tersebut dan hanya menyisakan dirinya dan juga Leon disana.


"Lho mereka kemana?" tanya Edrea heran.


"Ish kenapa kamu malah peduli sama mereka sih? Sedangkan pacarannya sendiri aja gak di peduli sama sekali. Mana tadi kena pukulan lagi, padahal baru juga sadar. Kamu mah gitu sayang. Apa sekarang udah gak sayang lagi sama aku? Apa udah ada yang lain dihati kamu? Ih kamu mah tega sama aku," tutur Leon dengan wajah yang terlihat sangat murung.


Edrea yang mendengar hal tersebut pun dengan spontan ia menepuk bibir Leon yang justru membuat laki-laki itu merengek.


"Tuh kan kena lagi. Dah lah ayang aku udah gak sayang lagi sama aku," tutur Leon sembari merubah posisi terbaringnya yang sekarang membelakangi Edrea.


"Tuh kan. Mommy Della, Edne udah gak sayang lagi sama Leon. Hiks. Edne jahat!" teriak Leon yang seketika membuat Edrea panik. Dan dengan cepat ia memeluk tubuh kekasihnya itu.


"Stttt jangan teriak-teriak. Ini dirumah sakit," ucap Edrea.


"Bodoamat. Aku gak peduli. Kamu lepasin pelukan kamu. Aku gak mau kamu peluk. Kamu jahat," berontak Leon.


"Ih kok gitu?" tanya Edrea sembari melepaskan pelukannya tadi. Ia takut jika Leon terus memberontak jarum infus yang masih tertancap di tangan Leon akan kenapa-napa nantinya.


"Kamu jahat udah mukul aku dua kali dan ngomelin aku dari tadi. Kamu jahat," rengek Leon tanpa merubah posisinya yang membelakangi Edrea. Dan ucapan dari Leon tadi membuat Edrea menghela nafasnya.


"Baiklah-baiklah. Aku minta maaf atas tindakan aku tadi. Aku tadi refleks sayang. Maafin aku ya," ucap Edrea dengan mengelus rambut Leon.


"Gak mau. Aku gak mau maafin kamu," tolak Leon.


"Lho kok gitu? Ya sudah gini saja, aku harus apa biar kamu gak marah lagi sama aku?" tanya Edrea yang berhasil membuat Leon membalikkan tubuhnya kembali.


"Cium," ucap Leon. Edrea menganggukkan kepalanya lalu setelahnya ia mengecup singkat kening Leon tapi laki-laki itu justru kini kembali merengek seperti anak kecil.


"Bukan disitu lho," tutur Leon yang membuat Edrea menghela nafas sebelum gadis itu mengecup kedua pipi Leon. Tapi lagi-lagi Leon kembali merengek dan hal tersebut membuat Edrea kesal sendiri.


"Ish, sayang mah," rengek Leon.

__ADS_1


"Astaga apa lagi sih sayang?" tanya Edrea frustasi.


"Bukan disitu juga lho."


"Lha terus dimana?" tanya Edrea yang masih mencoba bersabar.


"Disini." Leon menunjuk bibirnya.


"Kalau disitu belum boleh sayang. Ganti aja sama yang lain ya," bujuk Edrea. Enak saja first kissnya ingin Leon ambil begitu saja kan belum tentu laki-laki yang menyandang status sebagai kekasihnya itu nantinya akan menjadi suaminya, dan Edrea menginginkan jika yang harus merebut first kissnya itu adalah suaminya. Jadi jangan harap Leon akan mendapatkan hal berharganya itu sebelum mereka menikah nanti.


"Gak mau. Pokoknya aku mau itu," ujar Leon.


"Gak boleh," tolak Edrea.


"Aku mau itu pokoknya, titik," ucap Leon kekeuh.


"Ya udah kalau kamu tetap minta itu. Aku keluar dari sini," ujar Edrea. Kemudian ia memutar tubuhnya, bersiap untuk pergi dari samping Leon. Tapi belum juga ia melangkahkan kakinya tangan Leon sudah lebih dulu bertengger di pergelangan tangannya.


"Jangan pergi," ucap Leon.


"Apa sih pegang-pegang? Awas ih aku mau keluar, ngapain juga aku disini sedangkan orang yang aku temuin malah ngambek sama aku," tutur Edrea sembari berusaha melepaskan cengkeramannya tangan Leon.


"Sayang, jangan pergi. Aku udah gak ngambek lagi kok," ujar Leon.


"Halah bohong."


"Gak sayang. Aku gak bohong. Aku gak ngambek lagi sama kamu. Kalau kamu gak percaya lihat sini coba," ucap Leon yang membuat Edrea kini menolehkan kepalanya kearah Leon yang sekarang tengah melebarkan senyumannya.


"Baiklah aku percaya kalau kamu gak ngambek lagi tapi jangan minta yang aneh-aneh kayak tadi. Kalau kamu masih minta yang aneh-aneh, aku yang akan ngambek dan marah sama kamu. Mengerti," ujar Edrea yang langsung diangguki oleh Leon.


"Iya sayang aku mengerti. Tapi aku minta kamu jangan tinggalin aku sendirian disini," ucap Leon dengan puppy eyesnya dan hal tersebut membuat Edrea tersenyum gemas melihat wajah Leon saat ini.


"Iya, aku gak akan ninggalin kamu," ujar Edrea yang membuat Leon kini bisa menghela nafas lega. Tidak lucu kan setelah satu bulan dirinya di pisahkan dengan kekasihnya karena kondisinya itu, ia harus di tinggalkan begitu saja saat dirinya tersadar. Kalau sampai hal tersebut terjadi, malang sekali nasib Leon. Tapi untungnya kekasihnya itu sangat pengertian kepadanya lebih tepatnya merasa kasihan dengannya alhasil kekasihnya itu mensetujui permintaannya tadi.


"Kalau gitu. Aku boleh minta sesuatu gak sama kamu?" tanya Leon dengan hati-hati.


"Boleh tapi jangan aneh-aneh," jawab Edrea.


"Gak aneh-aneh kok. Aku cuma minta kamu peluk aku sekarang. Kamu tau sayang aku tuh kangen banget sama kamu. Selama aku disini setiap kali kamu datang dan bercerita aku cuma bisa dengar suara kamu saja tapi aku tidak bisa memeluk atau membuka mataku untuk melihat wajah kamu. Dan itu benar-benar sangat menyiksaku. Aku rindu kamu sayang, aku benar-benar sangat rindu kamu," ucap Leon yang membuat Edrea langsung memeluk tubuh Leon.


"Aku juga rindu sama kamu sayang," ucap Edrea sembari menyenderkan kepalanya di dada bidang kekasihnya itu sebelum dirinya kembali menjauhkan kepalanya saat ia ingat luka yang didapatkan Leon saat kejadian itu berada di dada laki-laki tersebut.


"Ih kenapa dilepas? Katanya tadi kamu rindu sama aku," protes Leon.


"Iya memang aku rindu sama kamu sampai aku lupa kalau luka kamu itu letaknya di dada. Pasti sakit ya karena aku tadi menyenderkan kepalaku di dada kamu. Maaf, aku tadi lupa sayang. Maaf ya, dan biar aku panggil dokter dulu buat periksa luka kamu, aku takut kalau luka kamu kembali terbuka. Aku tinggal sebentar," ucap Edrea dan lagi-lagi saat dirinya ingin beranjak dari samping Leon, laki-laki itu kembali mencekal lengannya bahkan dengan tarikan kecil yang membuat tubuh Edrea terhuyung dan berakhir jatuh kembali ke dalam pelukan Leon.


"Sayang," ucap Edrea panik karena tubuhnya itu mendarat di dada Leon.


"Stttt diam sayang. Jangan berontak. Aku sudah tidak kenapa-kenapa. Semua luka yang aku dapatkan sudah sembuh, sudah tidak sakit lagi. Percaya sama aku dan untuk menyempurnakan luka ini aku tidak butuh dokter lagi tapi aku hanya butuh kamu, butuh pelukan kamu seperti ini. Tetap disampingku sayang, jangan pernah tinggalkan aku. Dan terimakasih karena selama aku dirawat disini kamu selalu menemaniku dan dengan sabar menungguku untuk kembali. Terimakasih atas kesetiaanmu kepadaku. Terimakasih atas cinta yang tulus yang kamu berikan kepadaku. Dan masih banyak lagi hal-hal yang kamu lakukan untukku yang hanya bisa aku balas dengan ucapan terimakasih. Dan satu lagi, terimakasih kamu sudah bertahan saat waktu itu aku sudah tumbang. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu sampai kejadian itu berakhir," ucap Leon dengan mata yang menatap kearah wajah Edrea sembari tangannya ia gunakan untuk mengusap pipi kekasihnya itu.

__ADS_1


Edrea yang mendengar ucapan Leon yang menurutnya sangat romantis itu pun ia hanya bisa meneteskan air matanya sebelum dirinya kini ikut berbaring di satu brankar bersama Leon lalu kemudian ia memeluk tubuh kekasihnya itu. Ia tak ingin berpisah lagi dengan Leon entah apapun keadaannya ia berjanji akan bersama dengan Leon walaupun banyak cobaan yang nantinya akan mereka hadapi tapi Edrea tak akan pernah melepaskan Leon untuk sekarang ataupun untuk masa depan. Begitu juga dengan Leon yang tak ingin melepaskan Edrea, sudah cukup dirinya dipisahkan dengan kekasihnya itu dan ia janji tak akan membiarkan siapapun merusak hubungannya hingga membuat mereka kembali berpisah. Jika hal itu terjadi jangan salahkan jika Leon akan murka dan melenyapkan orang yang sudah lancang itu. Tak peduli jika ia bertentangan dengan siapapun orangnya, tak peduli pangkat orang itu apa yang terpenting hubungan dirinya tetap aman tanpa gangguan orang lain lagi seperti sebelumnya.


__ADS_2