
Setelah menyelesaikan semua ujian untuk hari ini Edrea terlihat sudah keluar dari kelasnya dan tak ia sangka ternyata di depan kelas tersebut sudah ada Zico yang menunggunya. Edrea yang melihat hal itu pun langsung menghampiri Zico dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Ehemm, udah nunggu dari tadi?" tanya Edrea yang sudah berada di samping Zico yang terduduk di kursi dekat pintu kelasnya.
Zico yang tadi tengah bermain ponsel pun kini langsung mematikan layar ponsel tersebut dan menoleh ke arah Edrea.
"Belum lama kok kan bel baru beberapa menit lalu bunyi," jawab Zico sembari berdiri dari duduknya.
"Baiklah, kalau gitu gue mau nagih janji lo tadi pagi." Zico tersenyum kemudian mengacak rambut Edrea setelah itu ia mengambil tangan Edrea untuk ia gandeng menuju kantin sekolah tersebut yang sudah terlihat begitu ramai.
Edrea tak menolak tangannya di genggam oleh Zico dan ia mengikuti langkah sang empu hingga mereka berdua sampai di kantin sekolah tersebut.
"Lo duduk disini aja. Gue yang akan antri dan pesan baksonya," ucap Zico yang diangguki kepala oleh Edrea. Setelah mendapat persetujuan dari Edrea, ia langsung pergi untuk memesan bakso yang diinginkan Edrea.
Saat Zico sudah melenggang pergi, Edrea mengedarkan pandangannya hingga ia melihat salah satu murid yang tadi pagi menjadi topik pembicaraan dirinya juga kedua Abangnya. Siapa lagi kalau bukan Puri. Ia terlihat baru memasuki kantin tersebut dengan gengnya tapi untuk saat ini ia tak menghampiri Edrea dan tak mencari masalah kepadanya atau mungkin mereka tak melihat kehadiran Edrea yang berada di kantin itu juga.
"Gak biasanya tuh orang lihat gue gak langsung cari masalah atau otaknya lagi ngebul karena habis menghadapi ujian matematika tadi. Tapi bagus juga, kalau diam gitu gak cari masalah mulu kerjaannya," gumam Edrea. Dan karena ia ingat sesuatu ia langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka camera ponselnya kemudian ia langsung mengarahkan kamera tersebut kearah Puri yang kebetulan tengah duduk menghadap kearahnya.
Setelah mendapat foto Puri, tangan lentiknya itu langsung mengirim foto tersebut ke kedua Abangnya.
...****************...
Di SMA Balerix, Azlan dan Erland juga telah selesai mengerjakan ujiannya dan mereka berdua juga baru berada di kantin sekolah bersama kedua wanita yang telah mengisi hati mereka yang sudah lama tak terisi itu.
Dan saat notifikasi pesan masuk ke dalam dua ponsel milik Azlan dan Erland, keduanya langsung melihat siapa orang yang mengirimnya pesan dan setelah tau jika itu dari si bontot, mereka berdua dengan kompak langsung membuka pesan tersebut. Hal tersebut membuat Kayla juga Zea mengernyitkan keningnya, pesan dari siapa yang membuat kedua orang yang masih mereka gantung perasaannya itu dengan buru-buru membukanya. Penasaran memang tapi keduanya tak berani untuk mengintip atau sekedar bertanya. Masih sangat segan untuk mereka lakukan.
__ADS_1
Setelah membuka pesan, Azlan menoleh ke arah Erland memastikan jika si empu juga mendapatkan pesan tersebut dari Edrea.
Erland yang mengerti tatapan abangnya itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Sebelum jari-jemarinya kembali sibuk dengan ponselnya entah apa yang Erland lakukan hanya dirinya yang tau.
Setelahnya ia kembali menikmati makan siangnya itu dengan ketiga orang yang saling diam tak berbicara sepatah katapun karena mereka juga tengah menikmati makanan mereka masing-masing.
...****************...
Kembali ke Edrea, ia masih menunggu Zico datang membawa pesanannya. Dan setelah menunggu 10 menit akhirnya orang yang ia tunggu, oh wait maksudnya bakso yang ia tunggu datang juga.
"Silahkan tuan putri," ucap Zico sembari menaruh satu porsi bakso di hadapan Edrea tak lupa ia tadi juga sudah memesan minuman sesuai dengan request Edrea tadi pagi.
Edrea berbinar menatap bakso di depannya dengan asap yang masih mengepul. Ia segera memberikan beberapa tambahan seperti sambal dan sebagainya di dalam satu porsi bakso tersebut.
Sedangkan Zico yang melihat Edrea menuangkan 5 sendok sambal kedalam bakso langsung menghentikan tangan Edrea saat sang empu ingin menuangkannya lagi.
Edrea kini mengerucutkan bibirnya dan mau tak mau ia harus mengikhlaskan tempat sambal yang sedari tadi ia pegang direbut secara paksa oleh Zico dan dijauhkan darinya.
"Ya elah, satu sendok lagi lah Zic," pinta Edrea.
"Enggak. Lihat tuh di mangkuk bakso lo, warnanya aja udah merah gitu. Gak ada nambah-nambah lagi pokoknya," tolak Zico.
"Ayo lah. Ini belum seberapa. Pedasnya juga paling biasa aja buat gue. Satu sendok lagi ya please." Edrea menyatukan kedua telapak tangannya untuk memohon ke Zico tak lupa ia juga mengeluarkan jurus andalannya yaitu puppy eyesnya.
Tapi sepertinya Zico sama seperti kedua Abangnya yang tak akan terpengaruh dengan jurus andalannya itu.
__ADS_1
"Jangan pakai ekspresi kayak gitu. Kalau gue bilang enggak berarti gue gak akan kasih dan nurutin permintaan lo. Itu juga buat kebaikan diri lo sendiri Rea. Udah jangan bawel lagi. Buruan makan sebelum dingin," tutur Zico.
Edrea tambah mengerucutkan bibirnya.
"Ck, pelit banget sih lo. Orang yang jualan bakso aja gak ngelarang gue buat habisin sambalnya," gerutu Edrea.
"Rea!" Edrea tak lagi protes sekarang setelah Zico menatap tajam kearahnya. Laki-laki itu tak ada bedanya dengan laki-laki pada umumnya, sangat menyebalkan bagi Edrea.
Dengan perasaan dongkol, Edrea langsung melahap baksonya. Tak peduli masih panas atau tidak, ia hanya perlu melampiaskan kekesalannya saja sekarang.
Zico yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
Di tengah-tengah mereka menyantap bakso, terlihat beberapa gerombolan orang mendekati meja tersebut.
"Gue boleh gabung?" tanya salah satu diantaranya. Edrea dan Zico dengan kompak menatap orang tersebut.
"Leon," panggil Edrea. Leon tersenyum.
"Hay Re. Gue boleh gabung kan? meja disini udah penuh semua soalnya," tutur Leon. Edrea mengedarkan pandangannya dan benar saja apa yang di katakan oleh Leon tadi bahwa meja di kantin tersebut telah penuh semua. Bahkan anggota band yang selalu bersama dengan Leon saja mencar semua untuk mencari meja yang masih kosong.
"Silahkan," ujar Edrea yang langsung mendapat tatapan dari Zico.
"Thanks." Leon kini duduk di samping Edrea setelah menaruh makanannya diatas meja tersebut.
"Lo bisa gak duduk di samping gue aja," tutur Zico yang menatap tak senang kearah Leon.
__ADS_1
"Di kursi sebelah Lo itu nanti di isi sama teman gue yang baru pesan makanannya," ucap Leon dengan santai.
Tak berselang lama, Jojo menghampiri meja Edrea dan langsung duduk begitu saja di samping Zico yang membuat laki-laki itu semakin terganggu saja dengan kedua laki-laki yang tak tau malu nimbrung di mejanya dan Edrea.