
Edrea mendekati pintu kamar itu dan membukanya secara perlahan. Untung saja Zico tadi membawa kunci kamar tersebut yang sampai sekarang masih tertancap di pintu tersebut dan hal itu memudahkan Edrea untuk keluar dari kamar itu tanpa harus mengulur waktu buat menyambungkan beberapa kain yang akan ia gunakan untuk terjun dari lantai tiga hingga menginjak tanah yang resiko kematiannya sangat tinggi.
Pintu kamar itu kini terbuka sedikit, Edrea menyembulkan kepalanya secara hati-hati guna untuk melihat situasi di depan kamar tersebut yang ternyata masih saja ada dua bodyguard disana.
Edrea berdecak sesaat sembari memutar otaknya untuk berpikir. Jika ia menyerang keduanya secara bersamaan pasti tidak mungkin. Otak Edrea yang seakan mengerti bahwa dirinya tengah genting pun dengan cepat merespon dan memberikan sebuah ide yang cukup membantu buat Edrea. Ia pun segera masuk kembali kedalam kamar tersebut dan menuju kesebuah lemari kecil yang didalamnya terdapat berbagai macam parfum khas laki-laki.
"Baru sadar sama koleksi parfum tuh orang ternyata banyak juga. Dari yang harganya ratusan ribu sampai jutaan," ucap Edrea dengan menatap satu persatu jejeran parfum dihadapannya hingga matanya melihat dua merek parfum yang sering di pakai oleh kedua saudara kembarnya.
"Lah ada juga yang sama seperti punya kedua Abang gue. Ambil ah, kayaknya masih baru juga. Itung-itung buat oleh-oleh. Lumayan kan jadi mereka gak ngeluarin uang jutaan rupiah buat beli parfum lagi. Dan mending uang itu dikasih buat gue aja. Jadi uangnya gak terbuang sia-sia," tutur Edrea sembari tangannya mengambil berbagai parfum yang ia taksir harganya jutaan itu termasuk kedua parfum yang sama persis seperti punya Azlan juga Erland dan dengan gesit ia memasukkannya di dalam tas yang sama dengan tas yang ia gunakan untuk menampung yang ia curi kemari. Entah mengapa jiwa pencurinya menggebu-gebu selama satu hari terkurung di rumah tersebut. Tapi Edrea mah orangnya bodoamat, yang penting dia untung bukan buntung. Toh itu juga jadi konsekuensi orang yang menculiknya, siapa suruh menyekapnya di dalam rumah dan kamar yang mewah seperti ini, bukan di salah satu gudang terbengkalai saja.
Back to topic... Tangan Edrea kini sudah memegang dua buah parfum ditangan kanan dan kirinya sedangkan pisau serta garpunya tadi ia simpan di saku celananya.
Edrea kembali melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya lagi.
"Sttttt om botak, lihat sini dong," bisik Edrea setelah dirinya menongolkan kepalanya diantara kedua bodyguard tadi.
Salah satu bodyguard yang mendengar bisikan Edrea pun menoleh kesumber suara dan dengan gesit Edrea langsung menyemprotkan parfum tadi kearah mata bodyguard yang berada disisi kanannya.
"Arkhhhh," erang bodyguard tersebut yang membuat temannya menyadari keberadaan Edrea disana.
__ADS_1
"Hihihi good morning om," sapa Edrea sebelum ia menyemprotkan kembali parfum tadi kearah mata bodyguard yang berada di sebelah kirinya.
"Arkhhhh, sialan," umpatnya sembari memegangi matanya yang terasa sangat perih.
"Hehehe maaf ya om, tangan Rea licin. Niatnya sih mau kasih parfum ke baju om eh meleset ke mata. Jadi di maafin aja ya om. Dan Rea mau pamit pulang nih. Thanks udah jagain Rea secara ketat selama disini. Love you om," tutur Edrea diakhiri dengan membogem wajah kedua bodyguard tersebut hingga membuat keduanya meringis kesakitan. Perih dimatanya belum sembuh eh ditambah sakit di pipi mereka karena bogeman tadi. Edrea tersenyum puas kemudian ia berlari menuju lantai bawah sembari tangannya sibuk menyembunyikan kedua parfum tadi kedalam kantong kecil yang berada di sisi kanan dan kiri tas yang ia bawa. Ia yakin di lantai itu lebih banyak bodyguard yang berkeliaran dan benar saja, baru dirinya menginjakkan kakinya di lantai bawah rumah tersebut, sudah ada bodyguard yang menghentikkan langkahnya.
"Tunggu! jangan bergerak, tetap di tempat!" teriak bodyguard tadi yang membuat Edrea memutar bola matanya malas tapi ia tetap berdiri tegak di tempat hingga bodyguard tadi sudah berada di hadapannya.
"Lho kok bisa kabur?" tanya bodyguard tadi yang sepertinya syok.
"Ya bisa lah om. Tinggal buka pintu terus keluar apa susahnya," tutur Edrea terlihat santai.
"Berani-beraninya kamu kabur. Tangkap dia dan bawa masuk lagi ke kamar Tuan!" perintah bodyguard tadi ke kedua temannya yang lain.
"Kita beda gender om jadi dilarang mendekat," ucap Edrea.
Dua bodyguard tadi tampak meringis merasakan kebas di tangan mereka. Bukan karena mereka lemah tapi kaki Edrea sekarang memakai sepatu boot yang jika di gunakan untuk menendang musuh, lumayan juga rasa sakitnya.
"Berani-beraninya kamu!" geram satu bodyguard yang Edrea tebak ketua dari dua bodyguard tadi.
__ADS_1
"Lah om kenapa saya harus takut sama kalian. Bahkan kalian saja jauh di bawah saya. Jadi kita tuh gak level." Ketua bodyguard tersebut tampak mengepalkan tangannya kuat dan tanpa aba-aba kepalan tangan tadi melayang menuju wajah Edrea tapi sayangnya kepekaan Edrea tengah aktif sehingga kepalan tadi bisa ia tangkap.
"Wow wow wow, santai om santai. Jangan main kasar dong sama cewek. Malu tau sama pedang om tuh," ucap Edrea sembari menujuk kearah sensitif seorang pria.
Ketua bodyguard tadi tambah geram dan kakinya siap ia layangkan kearah perut Edrea tapi sayang gerakan Edrea lebih cepat dari kaki tadi, sehingga membuat ketua bodyguard itu gagal kembali untuk melumpuhkan gadis didepannya itu dan malah tangannya yang kini merasakan sakit karena Edrea memutar tangan tersebut hingga kebelakang tubuh ketua bodyguard tersebut bahkan tadi sempat terdengar bunyi patahan yang mungkin bunyi itu dari tulang ketua bodyguard tadi.
"Upsss, maaf gak sengaja om. Om sih pakai mau nendang Rea segala jadi patah kan tangannya sekarang," ujar Edrea dengan melepaskan tangannya dari lengan bodyguard tersebut.
Dan baru saja ia berdiri tegap, tubuhnya kembali diserang secara bersamaan oleh dua bodyguard tadi.
Satu pukulan berhasil mendarat di kepala bagian belakang Edrea. Bohong jika kepala itu tak merasakan pusing saat ini karena pukulan yang teramat keras tadi, tapi Edrea mengerjabkan matanya untuk tetap membuat dirinya tersadar setelah matanya tadi tampak berkunang-kunang.
"Sialan si Om mah. Beraninya keroyokan," tutur Edrea yang sudah kembali tersadar setelah tubuhnya seperti kaku tadi.
"Banyak bacot kamu," sentak salah satu bodyguard tadi.
"Ya elah kan mulut-mulut Rea sendiri om. Rea juga gak nyewa bibir om buat wakilin Rea ngomong. Ya udah deh kalau om mau duel sama Rea, Rea akan jabanin. Sini-sini serang Rea sini." Edrea menggerak-gerakkan tangannya, menantang kedua bodyguard tadi. Keduanya yang sudah mulai tersulut emosi pun langsung menyerang Edrea secara bersamaan.
Edrea yang sudah tau akan penyerangan itu pun segera mengambil sebuah pisau yang sedari tadi di sakunya. Saat kedua bodyguard tadi sudah mengayunkan tangan mereka kearah Edrea, Edrea terus menepisnya hingga ia mendapat momen yang tepat untuk menusuk salah satu bodyguard yang tampak lengah.
__ADS_1
Satu tusukan berhasil mendarat di perut bodyguard tersebut dan dengan gesit Edrea mengalihkan pisaunya kearah satu bodyguard yang lainnya yang masih membabi buta menyerangnya tapi sayang setiap serangan orang itu tak mampu mendarat di tubuh Edrea.
Pisau tadi Edrea ayunkan hingga berhasil menyobek lengan bodyguard tadi. Dan saat Edrea tengah berusaha melumpuhkan satu bodyguard yang terkena goresan pisau di lengannya tadi, di sisi belakang sudah ada satu bodyguard baru yang tengah menodongkan pistol kearah Edrea, siap untuk menembak gadis yang tengah berduel dengan temannya itu.