
Setelah beberapa saat aku di seret oleh mereka, tak lama kemudian akhirnya kami sampai di sebuah bangunan tua yang sudah tak terpakai.
Bangunan itu terlihat sudah tidak di tinggali selama beberapa dekade. Di tambah lagi, area sekitar sini sangat sepi sehingga membuatku sangat pas untuk menghajar anak - anak ini.
"Anu, kenapa kalian membawaku ke sini?"
Saat aku bertanya, salah satu dari mereka terlihat marah.
"OI, TIDAK USAH BANYAK TANYA, CEPAT MASUK SAJA SIALAN!"
Ucapnya sambil menendang punggungku, hingga membuat aku terlempar masuk ke dalam.
"~~Ughh!!"
[Master, apa kau baik - baik saja?]
(Yaa, tenang saja.) jawabku.
Jujur saja, aku pernah merasakan perlakuan seperti ini waktu aku di Tangkap oleh orang - orang yang tidak ku kenal.
Namun, Ketika Para Bocah ini memperlakukanku seperti ini. Entah kenapa membuatku merasa Ingin....
(MEMBUNUHNYA.)
Ucapku sambil tatapanku memancarkan cahaya.
Di lain sisi. Ketika aku mencoba untuk bangun, salah satu dari mereka lansung menarik rambutku ke atas, setelah itu ia melihat ke arah Teman - temannya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan, pada Bocah ini?"
"Tunggu dulu, aku akan panggil semuanya ke sini."
"Hah, buat apa kita panggil mereka?"
"Buat apa?..APA KAU LUPA BOCAH ITU PUNYA PELINDUNG, APA KAU MAU KITA BERNASIB SAMA SEPERTI MEREKA?"
(Pelindung?)
Karena aku tertarik dari ucapan itu, aku mencoba berpikir apa maksudnya.
Namun, saat aku sedang berpikir, anak yang menarik Rambutku terlihat kesal dari ucapan Temannya.
Sehingga tanpa menunggu lama ia mencoba melayankan sebuah pukulan tepat di wajahku.
"SUDAHLAH, BIAR AKU YANG AJAR DULUHAN NI BOCAH!!"
Sesaat pukulannya itu hampir mengenai wajahku. Aku dengan tenang memiringkan kepalaku ke samping. Sehingga pukulannya itu lansung lewat tepat di samping telingaku.
"APA!!"
Tanpa pedulikan ekspresinya yang kaget aku lansung menarik rambutnya dan dengan kuat aku hantam wajahnya dengan lututku.
BUKK!!
"~UGHHH!!"
Aku menghantam Wajahnya bukan hanya sekali tetapi beberapa kali. Hingga hidungnya sampai mengeluarkan Banyak Darah.
BUKK!!...BUKK!!...BUKK!!...
"~~AGHHHHH!!"
Pada saat aku melihat kalau ia mulai kehilangan kesadaran. Aku memberinya serangan terakhir yaitu. Dengan Kuat aku membenturkan kepalanya ke bawah Lantai.
BUKKK!!
"....."
Saat anak itu dah kehilangan kesadaran, 9 temannya yang melihat itu, lansung kaget dan tertekun.
Mereka tidak pernah menyangkah kalau aku mengalahkan temannya semudah ini. Bahkan hanya dalam waktu sesingkat itu.
Namun, tanpa pedulikan itu, perlahan aku berbalik ke arah Mereka. Setelah itu dengan tenang aku melap darah yang ada di pipiku. Sambil menatap mereka semua dengan tajam.
"Sekarang, kenapa kalian diam saja di situ, CEPAT MAJU SINI BRENGSEET!!"
Melihat tingkah ku yang tiba - tiba berubah membuat salah satu dari mereka lansung menyadari sesuatu...
"Kau,...jangan bilang sejak awal kau tidak punya pelindung?"
"Pelindung? Apa maksudmu?"
Saat aku bertanya, dua di antara mereka Terlihat kesal dan lansung mencoba menyerang...
"BOCAH SIALAN, TIDAK USAH SOK KUAT!!"
Ketika Salah satu dari pukulan mereka hampir mengenai pipiku. Aku dengan tenang mencoba menghindarinya dengan mundur beberapa langkah. Hingga bersandar di tembok.
Namun, sesaat aku bersandar sebuah pukulan datang lagi tepat di depan mataku. Sehingga aku dengan cepat menghindarinya ke arah samping dan membuat pukulan tersebut menghantam tembok di belakangku.
BUKK!!
"~~AGHHHHH!!"
Melihat ia sedang kesakitan, Tanpa membuang waktu, aku lansung memukul perutnya dengan kuat. Hingga membuatnya mengeluarkan darah dari mulut.
Tetapi, aku tidak berhenti sampai disitu, sebab sebelum ia jatuh ke tanah, aku lansung megenggam rambutnya dan membenturkan wajahnya ke sebuah tembok.
BUKK!!
"~UGHHHH!!"
Melihat kalau ia sudah tidak sadarkan diri, aku mencoba melepaskan Rambutnya.
__ADS_1
Namun, sesaat aku mau lepaskan. Tiba - tiba aku merasakan sebuah serangan datang dari dua arah. Di kira dan belakang.
Sehingga mau tidak mau aku menggunakan wajah temannya untuk menahan serangan di kiri.
Sedangkan Serangan di belakang, aku menahan pukulannya dengan tanganku.
""APA!!""
Sesaat Anak A dan Anak B Terkejut. pukulan dari Anak A, yang kutahan di belakang, perlahan ku genggam Ibu jarinya. Setelah itu aku lansung mematakan ibu jarinya Tersebut.
KREIKKKK!!
"~ARGHHHHHHHHHHHHH!!"
Sesaat semua temannya merasa merinding mendengar jeritan anak A.
Tanpa pedulikan itu, aku lansung melihat ke arah Anak B. Dimana pukulannya saat ini mengenai wajah temannya sendiri, yang saat ini ku pegang.
Saat aku perhatikan, anak B sepertinya masih terkejut, dengan situasi di depannya.
Mungkin ia tidak pernah mengirah kalau ia akan memukul temannya sendiri.
Namun, tanpa pedulikan itu aku lansung menendang punggung temannya ke arah depan.
Sehingga membuatnya terlempar dan menabrak anak B, hingga membuatnya terjatuh ke tanah.
"~~Ughhh"
Ketika anak B sedang di tindih oleh temannya yang tidak sadar. Ia mencoba memindahkannya.
Namun, sesaat ia baru mengangkat temannya, dengan kuat aku lansung menendang lehernya layaknya menendang sebuah Bola di tanah.
BUKKK!!
"~~Aghhh!!"
Karena aku mendang tepat di tenggorokannya, sehingga ia jadi susah bernafas dan terbatuk - batuk di bawah sana.
"~~COUGH!!..COUGH!!..COUGH!!..COUGH!!...COUGH!!"
Sambil terbatuk, ia terus mengeluarkan Air liur, di tambah tubuhnya terus kejang - kejang layaknya orang yang mau mati, namun.....
[Master, apa anda membunuhnya?]
(Tidak, aku hanya menghalangi saluran pernafasannya sebentar. Palingan ia hanya pingsan saja.)
[Hmm, baguslah kalau begitu,...jika anda membunuhnya, anda tau sendiri apa yang akan terjadi pada keluarga anda kan?]
(Yaa, aku tau itu.) jawabku lansung.
Setelah aku bicara dengan PIX, aku melihat ke arah Anak A yang ibu jarinya ku patahkan tadi.
Dimana ia saat ini sedang berlutut di tanah sambil menahan ibu jarinya yang sakit.
Saat ia membisikkan itu. Aku lansung memanggilnya.
"WOY!"
Sesaat ia berbalik ke arahku, aku dengan kuat lansung melayankan sebuah tendangan tepat di wajahnya, hingga membuatnya lansung terlempar dan pingsan di sana.
(Yosh, 4 dah tumbang sekarang...)
Sambil memikirkan itu, aku melihat ke arah 6 temannya, yang hanya diam saja di sana.
Dimana mereka semua sedang terdiam sambil memperhatikan 4 temannya yang sudah kuhajar habis - habisan dan Pingsan di tanah.
Di tambah lagi wajah mereka di penuhi oleh darah, Kecuali satu orang, yaitu, temannya yang saat ini masih kejang - kejang.
"WOI!"
Saat aku memanggil mereka, mereka semua lansung melihat ke arahku dengan marah.
Namun. Tanpa pedulikan itu aku lanjut bicara..
"Kalian,...kenapa Kalian diam saja di situ, cepat maju sini PENGECUT!!"
Mendengar aku memanggilnya Pengecut membuat mereka semua tidak bisa menahan amarahnya. Dan lansung berlari ke arahku.
"BOCAH, JANGAN BESAR KEPALA!!"
"AKU AKAN HANCURKAN WAJAHMU SIALAN!!"
"MATILAAAAAAAH!!"
Sesaat Mereka semua berlari ke arahku, aku menatap mereka dengan tenang sambil bibirku melengkun seperti bulan sabit.
"Heh😏"
Setelah itu aku juga berlari ke arah mereka sambil Loncat tinggi, di mana Lututku berada tepat di depan wajah mereka.
__________________________________
_______________________
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya aku dah mengalahkan mereka semua dan saat ini aku sedang duduk di lantai sambil di kelilingi oleh tubuh mereka yang tidak sadar.
Begitupun dengan orang kejang - kejang tadi, yang saat ini sudah pingsan di sana, sambil mengeluarkan air busa dari mulutnya.
"Fuu, akhirnya selesai juga."
[Kerja bagus Master,...meski begitu kali ini Master tidak terlihat lelah yah?]
"Yaa, kau benar. Mungkin karena aku sering memaksakan diriku latihan, sehingga tubuh ini mulai kuat di bandingkan sebelumnya."
__ADS_1
jawabku dengan tenang.
Karena biasanya, setiap kali aku bertarung aku cepat sekali kelelahan. Bahkan 3 orang yang ku lawan saat itupun aku sangat lelah.
Namun kali ini berdeda. meskipun aku menghadapi 10 orang. tetapi aku tidak lelah sama sekali. Bahkan nafasku tidak karuan seperti sebelumnya.
Di tambah lagi aku merasa kalau aku masih bisa melanjutkan pertarungan, jadi...
tap!!...tap!!...tap!!...
(Akhirnya datang juga!!)
Sesaat memikirkan itu, aku mendengar beberapa suara langkah kaki sedang menuju ke bangunan ini.
Meskipun mereka belum terlihat namun aku dah tau siapa mereka. Mereka adalah orang - orang yang di hubungi tadi oleh Anak - anak ini.
Meski aku tidak tau ada berapa banyak mereka, namun, tanpa sadar bibirku lansung melengkun seperti bulan sabit, sambil wajahku terlihat senang.
PIX yang melihat itu terlihat bingun dan mencoba bertanya.
[Master. Kenapa kau senyum - senyum sendiri?]
(Heh, jangan bilang kau tidak sadar PIX?)
[Sadar? Apa maksud-!!]
'Mu' ingin ucap PIX. Namun sebelum ia mengucapakan itu, ia lansung berhenti, sebab dari luar bangunan, ia juga mendengar beberapa suara Langkah
Kaki sedang menuju kesini.
[Ma-Master, ini...]
"Heh, akhirnya kau sadar juga benar, WAKTUNYA LANJUT KE RONDE 2"
Sambil terlihat senang, perlahan aku berdiri, setelah itu aku melihat ke arah pintu masuk bangunan ini. Dimana beberapa anak SMA mulai masuk kedalam.
Setelah mereka semua sudah masuk, aku perhatikan kalau jumlah mereka 2 kali lipat dari anak yang tadi.
Meski begitu, bukannya aku takut, aku dengan tenang menatap tajam mereka semua.
Sedangkan Di sisi lain, ketika mereka semua melihat, kalau teman - temannya yang kuajar tadi, sudah di penuhi darah di lantai. Mereka semua terlihat kaget.
Bahkan mereka bisa melihat ada beberapa bekas darah di tembok yang sedang menetes ke bawah.
Meskipun mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka semua lansung melihat ke arahku dengan marah.
"Bocah, Apa Kau Yang Lakukan Ini?"
"Menurutmu?"
"CEPAT JAWAB SAJA, APA KAU YANG LAKUKAN INI!!"
Saat ia teriak aku lansung meyipitkan mataku sambil menatapnya dengan tajam.
"Oi, tidak usah teriak - teriak, kalau kau mau tau, kalau begitu,..MAJU SINI SIALAN!"
Mendengar ucapanku membuat mereka semua menjadi Geram dan lansung berlari ke arahku.
[Master, apa anda ingin menghadapi mereka semua secara lansung?]
(Tentu saja tidak. Mana mungkin aku bisa mengalahkan mereka semua sekaligus.)
[Kalau begitu, apa yang anda lakukan?]
"Soal itu,..TENTU SAJA KITA AKAN LARI!"
Sambil mengucapkan itu, aku lansung berlari ke arah Tangga. Setelah itu aku mengambil tempat sampah yang ada di dekat sana dan lansung melempar ke arah mereka.
BUKKK!!
"~Ughh,..SIALAN, JANGAN LARI BOCAH!"
Tanpa pedulikan teriakan itu, aku lansung berlari naik ke atas tangga.
Saat aku berlari di tangga, aku melihat salah satu dari mereka sudah hampir mendekatiku dan mencoba menarik bajuku.
Sayangnya, dengan cepat aku menghindari tangannya tersebut. Sehingga membuatmya kaget.
"Eh!"
Namun, tanpa berhenti sampai di situ, aku dengan kuat lansung menedang wajahnya. Sehingga membuatnya terjatuh sambil menabrak beberapa temannya yang sedang naik di tangga.
BUKK!!
~Ughh,...~Aghh,....~Arghh....
"~~Ughh!! Bocah ini, OI JANGAN LARI PENGECUT!"
"PENGECUT? KIRA - KIRA SIAPA YANG PENGECUT DI SINI, AKU ATAU KALIAN BRENGSEET!!"
Mendengar teriakanku membuat mereka semua tambah geram dan lansung mengejarku sekuat tenaga.
Sayangnya ketika aku melihat kursi di tangga aku lansung melempar kursi tersebut ke arah mereka sehingga menghambat laju mereka lagi.
"Oi, OI, OI, BUKANKAH KALIAN ADA BANYAK, MASA TIDAK BISA MENANGKAPKU, APA KALIAN INI BENCONG?"
"~BOCAH INI..."
Sambil melihat mereka semua marah, aku memperhatikan ada beberapa anak yang kena Kursi tadi sedang tidak sadarkan diri di tangga.
Namun, tanpa pedulikan itu aku terus berlari ke atas tangga. Sambil sesekali memperhatikan mereka.
(Bagus, Kejarlah aku, Karena sebentar lagi,..AKU AKAN BANTAI KALIAN SEMUA, SATU PERSATU.)
__ADS_1
ucapku, Sambil tatapanku terlihat memancarkan cahaya di balik bayangan.