BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
SALAH PAHAM


__ADS_3

(Uwaa Gorila nya muncul!)


Saat ini Boktis berdiri tepat di depanku sambil memandangku dengan mata kanannya yang merah dan tajam.


"Aku merasakan ada seseorang yang sedang mendekati rumahku dan saat aku cek ternyata hanya seorang anak kecil.-


-Nak apa yang kau lakukan ditempat seperti ini? Apa lagi malam - malam begini?" Tanya Boktis.


Awalnya aku sedikit ketakutan. Namun setelah menghela nafas ku, aku mulai sedikit tenang dan menjawab...


"Aku sedang mencari mu."


"Mencari ku?"


Boktis mengingat lagi orang - orang yang kemarin datang ke rumahnya. Dan berpikir....


(Jangan bilang, anak ini salah satu dari mereka?)


Boktis mencurigaiku. dalam sekejap ekspresi Boktis lansung berubah menjadi serius.


"Begitu, sepertinya kau bukan anak kecil biasa. Nak apa mungkin kau salah satu dari mereka?"


Tentu aku yang tidak tau apapun merasa kebingungan dan bertanya- tanya..


"Hah apa maksudmu?"


"Tidak usah pura - pura begitu, kau tau kan maksudku."


"Tidak, aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau kata-!!"


Sebelum aku menyelesaikan kata - kataku tiba - tiba Boktis melayangkan sebuah pukulan ke arahku. Dengan sigap aku langsung melepaskan tasku kemudian menggunakan nya sebagai perisai agar bisa mengurangi dampak dari pukulannya itu.


"~Ughhh!!"


Pukulannya sangat kuat sehingga aku lompat kebelakang untuk menjaga jarak darinya.


"Woy apa yang kau lakukan? kenapa kau tiba - tiba menyerang ku?"


"Diamlah Bocah, aku sudah memperingati kalian, jika kalian berani datang lagi ke sini maka aku akan membunuhmu."


"Hah! Sejak tadi kau ini bicara apa si?"


"Sepertinya kau masih pura - pura bodoh, kalau begitu terimalah ini."

__ADS_1


Boktis menerjang ku dan melayangkan sebuah pukulan ke arahku namun dengan cepat aku menghindarinya sehingga pukulan itu malah mengenai pohon yang berada tepat di belakang ku.


PUSSSSH!!


Saking kuatnya pukulan Boktis sampai - sampai tangannya menembus pohon itu dan melubanginya.


(Aku tau ia kuat, tapi tidak ku sangka ia sekuat ini. Jika aku sampai kena pukulan itu maka aku pasti akan langsung hancur.) Pikirku.


Boktis mengeluarkan tangannya dari dalam pohon yang barusan ia lubangi dan berbalik melihat ke arahku.


"Bocah tidak ku sangka kau berhasil menghindari pukulan ku, sudah ku duga kau ini memang bukan anak kecil biasa."


"......."


Aku diam saja sambil tetap waspada dengannya. Lalu sesaat kemudian Boktis melayangkan sebuah serangan lagi.


Dengan cepat aku menundukkan kepalaku kebawah untuk menghindari serangannya.


(~Fuuu itu hampir saja!)


Tidak berhenti sampai di situ aku juga melayangkan sebuah tendangan berputar ke arah pergelangan tangannya yang dimana membuat tangannya itu langsung terpental ke atas.


(Bagus, sekaranglah saatnya!!)


Menggunakan kesepakatan itu aku lansung berseleding di antara kedua kakinya kemudian menaiki punggungnya lalu mencoba mencekik lehernya yang dimana membuat Boktis merasa sangat kaget.


"Apa!!"


Awalnya aku pikir ini berkerja. Tapi aku lupa satu hal bahwa Pria ini adalah Monster. Ia dengan santainya menggerakkan kepalanya ke samping dan menunjukkan senyuman seringai nya padaku.


"Heh Bocah seranganmu barusan cukup bagus tapi sayangnya itu belum cukup untuk bisa mengalahkan ku."


(Sial! Jadi tidak mempan ya! Sepertinya aku harus menjauh darinya.)


Aku buru - buru melepaskan tanganku dari lehernya dan mencoba menjauh, namun dengan cepat Boktis menangkap ku sehingga membuat hp ku langsung lepas dari tanganku dan jatuh.


(Hah ini gawat!)


Tak cukup sampai di situ, Boktis juga dengan kuat melempar tubuhku keluar dari dalam hutan. Yang dimana membuat aku berguling - guling beberapa kali di tanah sampai akhirnya aku berhenti tepat di depan halaman rumahnya.


"~Ughhh!! Sial, dia tidak punya rasa ampun sedikitpun pada anak kecil."


Tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan pistolku dari dalam tas dan mengarahkannya ke depan. Dimana sesaat kemudian Boktis keluar dari dalam sana(Hutan) dan menatap tajam diriku.

__ADS_1


"Oh jadi kau bawah pistol, sepertinya kau sudah mulai serius melawanku."


Itu pasti yang Boktis pikiran. Tetapi tiba - tiba aku membuang pistol itu ke arahnya yang dimana membuat Boktis merasa kebingungan dan bertanya - tanya...


"Bocah apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuang pistol mu?"


"Apa, bukankah sudah jelas, aku tidak ingin melawan mu."


Aku mengangkat kedua tanganku ke atas seolah menunjukkan bahwa aku benar - benar tidak ingin melawan nya.


Lagi pula alasan ku datang kemari bukan untuk bertarung dengannya melainkan aku ingin minta bantuannya.


Selain itu meskipun kita bertarung sekalipun aku bisa pastikan bahwa aku pasti akan kalah. Apa lagi dengan kondisi tubuhku yang sudah menjadi seperti ini(Anak kecil.).


Bukan hanya itu saja bahkan saat itu pun, di kehidupanku sebelumnya ketika aku bertarung dengannya di pulau, aku sudah menyadari bahwa aku tidak akan bisa menang melawannya jika beradu kekuatan fisik dengannya, itulah kenapa aku gunakan cara licik itu untuk mengalahkannya yaitu dengan menguburnya hidup - hidup.


Ini juga menjadi alasan terbesar kenapa aku sangat ingin sekali merekrut dia menjadi bagian dari KSP. Karena tanpa di tes pun aku sendiri sudah mengakui kekuatannya itu.


Yaa meskipun itu kekuatan dari TUPXION sih.


"Boktis tenanglah, aku datang ke sini bukan untuk bertarung denganmu, aku datang ke sini untuk bicara denganmu."


"Kau bilang begitu, tapi kau sendiripun malah berniat membunuhku tadi di dalam(mencekik)."


"Itu karena kau terus menyerang ku makanya aku melakukan itu. Selain itu aku tidak berniat membunuhmu, aku hanya ingin membuatmu lemas agar kau bisa tenang."


"Ala Sudah cukup bicaranya, sekarang terima saja ini!"


Sekali lagi Boktis menerjang ku dan bersiap menyerang ku.


(Sial! Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain melawannya.)


Selain pistol aku juga membawa Belati di dalam tas, aku berniat mengeluarkan nya namun sebelum aku keluarkan tiba - tiba terdengar suara seorang gadis dari arah rumah(Boktis).


"PAPA BERHENTI!"


Sontak saja hal itu membuat Boktis langsung berhenti bergerak dan melihat ke arah sana, begitupun denganku.


Dimana tepat di depan pintu rumah Boktis terdapat seorang wanita dan juga seorang gadis kecil sedang berlari ke arah kami.


Wanita itu berumur sekitar 37 tahun. Ia memiliki rambut pendek berwarna ungu yang di ikat kebelakang serta terdapat juga bekas luka bakar di wajahnya. Namun meski begitu luka itu tidak terlalu terlihat karena di tutupi oleh pony nya yang panjang.


Adapun Gadis kecil itu Ia berumur sekitar 9 tahun. Ia memiliki wajah yang imut dan cerah serta mempunyai rambut panjang berwarna ungu yang sama persis dengan wanita itu, di tambah lagi bola matanya berwarna merah.

__ADS_1


Di lihat dari manapun, sudah jelas kalau Mereka berdua itu adalah Istri dan anak Boktis.


__ADS_2