BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
DI MALAM PENGHUKUMAN


__ADS_3

Pada saat Ayah masih berada di dalam Masion, ia mencoba memperhatikan ruangan Sekitar. Dimana ia menemukan Alat anti kamera CCTV berada tepat di bawah CCTV yang ada di sudut Ruangan.


Terlebih alat itu sepertinya juga sudah di aktifkan.


Namun tanpa menyentunya sedikitpun, ayah hanya menatap alat itu saja, dimana tatapannya terlihat sangat tenang namun tajam.


"........"


Setelah beberapa detik ayah menatap alat itu, tak lama kemudian Bibirnya melengkun seperti bulan sabit sambil berbalik ke belakang, kemudian ia berjalan keluar dari masion, dimana hanya menyisahkan ketiga anak yang sudah tidak sadar di dalam.


TAP!!...TAP!!...TAP!!...


Pada saat ayah berjalan di Luar tepatnya di halaman masion, tiba - tiba ia merasakan hawa keadiran seseorang tidak jauh di sampingnya.


saat ia mencoba melihat ke arah sana, hawa keadiran itu lansung menghilang, seolah - olah ia tidak pernah ada.


"Apa hanya perasaanku saja?"


Tanya ayah sambil terus menoleh ke arah sana.


Namun Karena hawa keadiran itu tetap tidak kunjung balik, sehingga Ayah kembali berjalan dan mulai meninggalkan masion.


___________________________________


_______________________________


Di waktu bersamaan, ketika Ayah sudah meninggalkan Masion, tepat di salah satu di balik Pohon yang berada di pinggir halaman. Terlihat aku(Leon) sedang bersandar sambil menyilangkan kedua tanganku.


Dimana aku sedang menatap awan gelap yang menutupi Cahaya bulan di atas sana sambil berkata....


"Haaa, tidak ku sangkah orang itu malah ikut campur."


Ucapku sambil mendesah, PIX yang dengar itu lansung bertanya...


[Maksud anda ayahmu?]


"Yah, padahal lagi asik - asiknya aku nonton muridku menghajar anak - anak itu, tapi heh malah ia nongol, Sialan."


Ucapku sambil terlihat Kesal, melihat itu PIX lansung tertawa dan berkata..


[Hahaha Kau benar,..tapi, berkat ia(ayahmu) anda masih bisa menjalankan Rencanakan? Lagi pula sejak awal anda tidak berniat membiarkan muridmu membunuh anak - anak itu?]


"Itu tentu sajalah, lagi pula kalau soal membunuh...BIAR AKU YANG URUS."


Ucapku dengan tatapan tajam sambil mengakhiri pembicaraan, kemudian aku berjalan ke arah masion dan masuk ke dalam.


Dimana tepat di Ruang tamu yang sangat berantakan, Terlihat Bulan sudah berada di dalam, dimana ia berdiri sambil menatap Luis yang terpapar di lantai dengan tajam.


Seolah ia tidak punya rasa kasihan seditikipun terhadap temannya. Menyadari itu, bibirku lansung melengkun sambil mencoba mendekatinya....


"Bulan bagaimana, apa semua persiapan sudah selesai?"


Pada saat aku menanyakan itu, Bulan lansung berbalik ke arahku kemudian ia berkata..


"Oh kau sudah datang,...yah semua persiapan sudah selesai, dan ini kunci mobil Luis yang kau minta."


Ucap Bulan sambil melempar Kunci mobil tersebut ke padaku. dengan tenang aku tangkap Kunci itu dan berkata...


"bagus."


Setelah itu Bulan baru sadar kalau saat ini kepalaku sedang di perbang, sehingga ia bertanya..


"omong - omong Leon, kenapa kepalamu di perban gitu, apa kau terluka?"


"yah. tadi aku berkelai dengan para berandalan."


"Eh benarkah?"


"Umm."


jawabku dengan anggukkan, kemudian aku melihat ke arah Luis dan berkata..


"dari pada itu, bisa kau cepat angkat mereka dan masukkan ke dalam Mobil? Kita harus berangkat sekarang."


"Kemana kita akan pergi?"


Ketika Bulan menanyakan itu, Aku lansung seringai kemudian aku jawab....

__ADS_1


"Heh, kita akan pergi ke tempat yang pernah kita datangi."


"Yang pernah kita datangi?.....jangan bilang.."


"Benar, kita akan masuk ke dalam Hutan itu lagi."


Ucapku sambil tatapanku terlihat memancarkan cahaya di balik bayangan. Di sisi lain Bulan yang dengar itu lansung terlihat suram, dimana ia berkata....


(kau pasti bercandakan.)


ucapnya di dalam Pikiran.


Seolah mengetaui itu aku lansung membalas dengan senyuman. Dimana membuat Bulan lansung terlihat jengkel dan mengalihkan pandanganya ke arah lain.


"Cih."


____________________________________


________________________________


Setelah aku membawa Para pembuli itu dan meninggalkan masion.


2 jam kemudian. Di sebuah tempat di tengah hutan, di sana terdapat sebuah Rumah kayu kecil yang terlihat sudah Rusak. Dimana didalamnya terdapat beberapa Orang, salah satunya adalah aku(Leon).


Saat ini aku sedang berjongkok di Samping Bulan yang sedang berdiri, sambil menyenteri ke tiga anak pembuli, yaitu Luis, Felik, Erina, yang berada di depanku.


Dimana mereka bertiga sedang terikat di sebuah tiang yang terpisah yang berada di tengah Ruangan dan terlihat belum sadar sama sekali.


"Haa ini sangat merepotkan,..Bulan bisa ambilkan air botol ku di sana."


Ucapku sambil menunjuk ke arah Tas ku yang di dalamnya terdapat sebuah Air botol yang sudah ku persiapkan.


Tanpa banyak tanya, Bulan lansung pergi mengambil Air botol tersebut dan memberikannya padaku.


"Ini."


"Makasih."


Ucapku


Setelah aku mengambil Air botol tersebut. aku kembali melihat para pembuli itu kemudian menyiram Kepala mereka dengan air Botol tersebut.


Ucapku sambil terus menyiram Kepala mereka dengan air.


"Uwaa, a-apa,...Apa yang sedang terjadi?" Tanya Luis.


"Apa - apaan ini, kenapa kita sebasah ini, dan juga di sini sangat gelap?" ucap Felik.


"Kau benar, terlebih lagi kita ada di mana ini?"


Di saat Erina menanyakan itu, baik Luis maupun Felik lansung mencoba melihat Ruangan sekitar, dimana mereka seperti sedang berada di sebuah Rumah kayu yang sudah Rusak.


Terlebih rumah ini sangat Gelap dan atapnya pun sudah bolong. Mengetaui itu, Felik pun bertanya - tanya....


"Bukankah tadi kita berada di Rumahmu Luis? Kenapa kita bisa ada di sini?"


"aku juga tidak tau, Tapi-!!"


Sesaat Luis ingin mengatakan Sesuatu, tiba - tiba wajah mereka di terangi oleh Sebuah cahaya. Dimana Cahaya tersebut berasal dari Senter yang aku pegang.


"Yo, sepertinya kalian sudah bangun."


Ketika aku mengucapkan itu, Luis terlihat sangat kesal, dimana ia berkata..


"Ughh....WOY MATIKAN ITU SEKARANG, DAN JUGA KAU INI SIAPA?"


"Aku?....seharusnya kamu kenalkan suaraku ini."


"Suaramu?"


Di saat Luis membisikkan itu, tepat di sampingnya Erina dan Felik terlihat sangat Shock, dimana mereka seperti sudah tau siapa pemilik suara tersebut.


"Su~Suara ini,...jangan bilang kamu Leon?"


Sesaat Erina mengatakan itu, Luis terlihat sangat terkejut, dimana ia lansung menggosok matanya selama beberapa kali dan mencoba melihat ke arah depan.


Dimana tepat di depannya terlihat seorang Bocah yang ia kenal sedang berdiri sambil menyenter mereka. Dimana Bocah tersebut tidak lain adalah Leon. Bocah yang pernah mereka buli.

__ADS_1


"Ka-Kau,..apa yang kau lakukan di sini?"


Di saat Luis menanyakan itu, aku lansung berjongkok di depan mereka, kemudian aku berkata....


"Soal itu kau tidak perlu tau, yang jelas,...LAMA TIDAK BERTEMU LUIS"


Ucapku sambil menepuk - nepuk pipinya, dimana Membuat Luis mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal.


"TCH,..BOCAH BERHENTILAH MELAKUKAN ITU DAN CEPAT LEPASKAN INI SEKARANG."


"Hah lepaskan? Apa kau bodoh. Siapa juga yang mau melepaskanmu,...lagi pula aku sudah susah payah membawamu kemari tau dan kau mau di lepaskan?....Huh! Tentu saja aku di bantu sama dia."


Ucapku sambil mengarahkan pandanganku ke arah samping.


Menyadari itu mereka bertiga juga lansung mengarahkan pandangannya ke arah sana, di mana tepat di dekat pintu masuk terlihat Seorang gadis sedang bersandar sambil melipat kedua tangannya.


Dimana Gadis tersebut tidak lain adalah....


"BULAN."


Ucap Erina yang terlihat sangat terkejut, begitupun dengan Luis dan Felik.


"W-Woy Bulan,..apa yang kau lakukan di sini?..tidak, yang lebih penting kenapa kau bisa bersama dengan Bocah ini?..jangan bilang kau......"


Seolah - olah tau apa yang ingin Luis katakan, aku lansung berkata..


"Benar, gadis ini,...tidak, BULAN SUDAH MENGHIANATI KALIAN SEMUA."


Sesaat mendengar itu, baik Luis, Felik maupun Erina terlihat sangat Shock, dimana mereka berdua(Luis,Felik) lansung melotot Bulan dengan sangat tajam.


Namun, berbeda dengan mereka berdua, Erina terlihat menatap Bulan dengan Rasa ingin tau, dimana ia bertanya..


"Bu~Bulan kau pasti bercandakan, tidak mungkin kamu-!!"


'Menghianati kami' ingin ucapnya, namun sebelum mengucapkan itu tiba - tiba Erina berhenti bicara saat melihat Bulan mengalihkan pandangannya ke arah Lain.


Seolah ia tidak menyangkal dengan apa yang Erina katakan.


Menyadari itu Erina lansung mengertakkan Giginya dengan kesal. Kemudian ia berahli ke arahku. Dimana ia menatapku dengan tajam dan berkata...


"BOCAH, APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN KEPADA BULAN?"


"Eh aku?"


"YAH, TIDAK MUNGKIN BULAN MENGHIANATI KAMI TANPA SEBAB."


Ucap Erina sambil menatapku dengan marah. Di sisi lain Luis dan Felik yang dengar itu lansung melebarkan mata. Seolah mereka berdua baru sadar kalau penyebab Bulan menghianati mereka kemungkinan besar adalah aku.


"I-Itu Benar, Tidak Mungkin Bulan Menghianati Kita seperti ini tanpa sebab, BOCAH KAU PASTI SUDAH MELAKUKAN SESUATU KEPADANYA KAN?"


Ketika Felik menanyakan itu, untuk sesaat aku melirik Bulan dimana tatapannya terlihat masih mengarah ke tempat lain, seolah ia tidak mau melihat ke arah kami.


Menyadari itu, aku lansung seringai, kemudian aku kembali melihat mereka bertiga dan menjawab...


"Yah kau benar, aku memang sudah melakukan sesuatu kepada Bulan,...tidak, lebih tepatnya aku mengancam ia agar menghianati kalian semua."


"A-Apa mengancam dia."


Ucap Luis yang terlihat terkejut.


"Yah."


Jawab ku secara singkat, kemudian aku berdiri dan berkata...


"Yaa apapun itu, kita lupakan saja Soal Bulan yang menghianati kalian, Sekarang kita masuk saja ke pembicaraan selanjutnya."


"A-apa yang ingin kau bicarakan?"


Ketika Erina menanyakan itu, untuk sementara aku berjalan mengambil Tasku yang ku letatkan di tepi ruangan, kemudian aku kembali ke tempat mereka dan menjawab...


"Yang ingin ku bicarakan dengan kalian ada banyak, tapi pertama - tama aku ingin bertanya...-


-PERJANJIAN APA YANG KALIAN BUAT DENGAN ORANG TUAKU, SAMPAI KALIAN MENGGUNAKAN CARA SEPERTI INI UNTUK MENGGANGGUKU?"


Tanyaku sambil memperlihatkan Sebuah pesan dari Apk Chatting Grup, yang dimana pesan tersebut membuat mereka bertiga terlihat sangat terkejut.


"I-ini kan!!"

__ADS_1


>Bersambung.......


__ADS_2