
Di malam hari tepatnya jam 12 malam, terlihat aku sedang baring - baring di kasur, sambil memikirkan lagi permintahan Bu Nara di pagi hari.
Dimana ia memintaku untuk membantu Bu Linda, menyelidiki apa yang terjadi di rumahnya.
Meskipun aku sudah terima permintaannya itu, tetapi....
"Haaa.. Ini benar - benar sangat merepotkan."
Ucapku sambil menghela nafas, PIX yang dengar itu lansung bertanya...
[Apanya yang merepotkan?]
"Tentu saja beberapa hal yang harus ku urus."
Jawabku tanpa melihat ke arahnya. Kemudian aku melanjutkan lagi..
"Pertama ada anak - anak itu(para pembuli) yang belum ku urus, dan yang kedua aku harus bersiap menghadapi anggotaku yang akan datang nanti-
-sedangkan yang ketiga aku juga harus memikirkan cara untuk membantu mereka(anggotaku) menghadapi orang yang sudah membunuhku.-
-di tambah lagi, aku juga harus memenui permintahan Bu Nara untuk membantu Bu Linda mengatasi masalah pertengkarang rumah tangganya. Di lihat dari manapun ini benar - benar sangat merepotkan."
Ucapku sambil terlihat lesu, PIX yang lihat itu lansung mendengus dan berkata..
[Kau benar, entah sejak kapan, tiba - tiba anda memiliki banyak sekali tugas yang harus di selesaikan.]
"Setelah di pikir - pikir, betul juga."
Jawabku dengan tenang, setelah itu untuk sementara suasana di antara kami berdua menjadi diam.
"....."
[......]
Namun beberapa detik kemudian tiba - tiba PIX mencoba mengganti topik pembicaraan.
[Baiklah untuk sekarang kita lupakan saja soal itu, yang lebih penting Master kapan anda akan bergerak?]
Di saat PIX menanyakan itu, aku terlihat kebingungan dan bertanya balik.
"Apa maksudmu?"
[Maksudku anak - anak itu, bukankah Gadis itu(Bulan) sudah menyelesaikan apa yang kau suruh(pasang Anti Kamera CCTV), itu berarti tinggal menunggu waktu saja, sampai kamu bergerakkan?]
"....yah."
Jawabku secara singkat. Mendengar itu PIX mencoba bertanya sekali lagi.
[Jadi kapan anda akan bergerak?]
"Hmm,...susah untuk mengatakannya dengan pasti, yang jelas aku akan bergerak setelah mendapatkan Informasi yang ku butuhkan dari berita."
Mendengar jawabanku tersebut membuat PIX terlihat kebingungan dan bertanya - tanya..
[Informasi dari berita? Memang informasi apa yang anda cari?]
"Soal itu,...YAH KAU AKAN TAU SENDIRI NANTI."
Ucapku sambil tatapanku seperti memancarkan Cahaya di balik kegelapan dan Bibirku tersenyum seringai.
"Heh."
Setelah itu, keesokan harinya aku pun mulai menjalani kehidupan hari - hariku seperti biasanya.
Mulai dari Latihan, Sarapan, Pergi ke sekolah, tidur di kelas dimana membuat Bu Linda marah dan menarik telingaku, sampai aku pergi bermain game di warnet Bersama Rusli, Lia dan Sara.
Hingga beberapa hari kemudian di malam hari, aku pun mendapatkan sebuah Informasi yang aku butuhkan di salah satu siaran berita di TV, dimana informasi tersebut membuat bibirku lansung melengkun seperti Bulan sabit dan tatapanku menyipit dengan tajam.
______________________________________
___________________________________
Di pagi hari tepatnya di hari Minggu dimana sekolah sedang Libur, di ruang tamu terlihat aku sedang berbaring di salah satu Sofa sambil menontong Siaran TV yang sedang iklan.
Bukan hanya aku saja, bahkan Kak Rangga, Kak Siska dan Kak Rani yang sedang memangku Fira pun juga ada di sini.
Dimana Kak Rangga sedang membuat laporan di laptopnya sedangkan Kak Rani tengah bermain dengan Fira di Sofa. Adapun Kak Siska yang bermain Hp di sana.
Meskipun aku hanya menontong Tv saja di sini dan tidak keluar rumah. tetapi aku tidak masalah sama sekali, sebab ada alasan kenapa aku tidak keluar di hari libur begini yaitu....
Sesaat aku sedang memikirkan itu, Tiba - tiba Kak Rangga memanggilku.
"Leon."
"Um! Ada apa?"
__ADS_1
Tanyaku sambil melihat ke arahnya.
"Bukankah hari ini hari minggu, apa kau tidak keluar bermain?"
Ketika Kak Rangga menanyakan itu, aku kembali melihat ke arah Tv dan menjawab...
"Tidak, hari ini aku dirumah saja, lagi pula aku tidak tau apa yang mau di lakukan di luar."
"bukankah kamu bisa mengajak Rusli atau Lia pergi bermain?"
"ajak mereka? Apa kau yakin?"
Tanyaku sambil melirik ke arah Kak Rangga, Dimana membuat ia sedikit terkejut dan kebingungan.
"Eh?"
Namun tanpa pedulikan itu aku mencoba bertanya sekali lagi.
"Apa kau yakin ingin aku ajak mereka berdua bermain di rumah ini?"
Di saat Kak Rangga mendengar itu, Tiba - tiba ekpsresi berubah suram, dimana ia terlihat sedang panik dan buru - buru berkata...
"Ti~Tidak Leon, apa yang kau katakan? aku hanya bilang apa kau tidak mengajak Rusli atau Lia bermain, bukan mengajak mereka datang ke sini?"
"Bukankah itu sama saja?"
"ITU TIDAK SAMA BODOH."
Bentak Kak Rangga, dimana membuat Fira yang sedang asik bermain dengan ibunya(Airani) lansung kaget dan melihat ke arah Kak Rangga dengan ekspresi Rumit.😓
Kak Rani, yang mengetaui itu lansung menatap Kak Rangga dengan senyuman, dimana senyumannya itu terlihat sangat menakutkan..
"SA-YANG, APA YANG KAU LAKUKAN TERIAK - TERIAK BEGITU, APA KAU MAU BUAT ANAK KITA MENANGIS UM?"
"Ti~Tidak, a~aku......Maafkan aku."
Ucap Kak Rangga sambil menunduk. Melihat itu Kak Rani lansung mendengus dan berkata..
"Sudahlah, yang penting jangan di ulangi lagi mengerti?"
"Y-yah aku mengerti."
Jawab Kak Rangga sambil mencoba mengalihkan pandanganya ke arahku, dimana aku sedang bersiul di sana.
Melihat itu membuat Kak Rangga lansung mengerutkan Dahinya dengan kesal sambil berbisik...
Di saat Kak Rangga ingin mengatakan sesuatu, ia lansung berhenti dan mencoba menghela nafas untuk menenangkan dirinya kembali "Haaa..." setelah itu ia kembali melihat ke Laptopnya dan melanjutkan membuat laporan.
Di saat suasana menjadi tenang kembali, tiba - tiba di TV memperlihatkan sebuah iklan Hp yang pengeluaran terbaruh, dimana Hp tersebut tidak lain adalah Hp yang di khususkan untuk bermain di semua Game tanpa leg sama sekali.
Bahkan desingnya pun sangat bagus, sampai - sampai membuat mataku bersinar - sinar dan bangun dari sofa.
"Kak Rangga lihat, bukankah menurutmu Hp ini sangat bagus?"
"Hp?"
Sesaat Kak Rangga mengatakan itu, ia berhenti membuat laporan di laptopnya dan melihat ke arah Tv.
"Oh Hp ini yah, ada apa Leon, apa kau tertarik dengan Hp ini?"
Tanya Kak Rangga sambil melihat ke arahku, di sisi lain aku yang di tanya seperti itu lansung terlihat malu dan menjawab..
"Bu-bukannya aku mau, hanya saja aku pikir Hp ini sepertinya sangat bagus untuk bermain game sama Rusli dan Lia, jadi....."
Seolah - olah tau kalau aku sebetulnya sangat menginginkan Hp ini, membuat Kak Rangga lansung tersenyum dan menutup Laptopnya. Kemudian ia melihat ke arahku dan bertanya....
"Oh iyah Leon, kalau tidak salah bukankah kamu belum Punya Hp?"
"Eh Yah, Ibu bilang, aku tidak di bolehkan punya Hp sebelum Masuk SMA, takutnya aku membuka hal - hal yang seharusnya tidak boleh di buka oleh anak - anak."
Ucapku sambil terlihat frustasi, kak Rangga yang lihat itu hanya bisa menatapku dengan ekspresi rumit dan berkata..
"Be-begitu,..yah kau tidak perlu Frustasi seperti itu, lagi pula dulu aku juga sama sepertimu."
"Eh Benarkah?"
"Umm."
Jawab Kak Rangga dengan anggukkan. Kemudian ia terbatuk sedikit 'Cough!!' dan kembali melihat ke arahku.
"Kita kembali ke topik awal, Leon apa kau mau Ku Belikan Hp itu?"
Di saat Kak Rangga menanyakan itu sentak membuat aku lansung terlihat senang dan pergi duduk di sampingnya,..
"Kak Rangga apa kau yakin?"
__ADS_1
Tanyaku.
"Tentu saja, kalau perlu kita pergi hari ini, bagaimana?"
"Umm, aku mau,...tapi bukankah Kak Rangga punya pekerjaan yang harus di selesaikan?"
Tanyaku sambil melihat ke arah Laptopnya dengan sedih. dimana Kak Rangga yang mengetaui itu lansung mendengus dan berkata..
"Oh Soal itu kau tidak perlu khawatir, lagi pula ini tinggal sedikit lagi."
"Benarkah, baguslah kalau begitu."
Jawabku yang terlihat senang. Melihat itu membuat Kak Rangga lansung Tersenyum dan berahli ke arah Kak Rani dan Kak Siska yang dari tadi melihat kami berdua ngobrol, Kemudian ia bertanya..
"Bagaimana dengan kalian. Apa kalian mau ikut?"
"Eh Apa tidak apa - apa aku ikut?"
Tanya Kak Siska.
"Tentu saja,....sekalian kita juga akan pergi jalan - jalan, bagaimana?"
"Um, Baiklah aku ikut."
Jawab Kak Siska sambil mengangguk dengan senang, kemudian Kak Rangga berahli ke Arah Kak Rani dan bertanya..
"Bagaimana denganmu?"
"Mungkin lain kali saja, lagi pula Sore nanti aku ada janji dengan ibu mau keluar, jadi bersenang - senanglah dengan adik, adekmu."
Jawab Kak Rani dengan senyuman, melihat itu Kak Rangga membalas dengan senyumannya juga dan berkata..
"Begitu. Aku mengerti "
Namun di saat Kak Rangga mengucapakan itu, Tiba - tiba Kak Rani mengingat sesuatu "Huh!" dan lansung menggendong Fira dan meletakkannya di atas pangkuan Kak Rangga.
"Aku memang tidak bisa ikut, tapi bisa kamu bawah Fira juga, aku yakin ia akan senang."
Di saat Kak Rani mengatakan itu, Untuk sesaat Kak Rangga melihat ke arah Fira, dimana Fira sedang menengot ke arahnya dengan Ceria. Melihat itu Kak Rangga kembali mengarahkan pandangannya ke Kak Rani dan menjawab..
"Baiklah, aku akan bawah Fira."
"Bagus, kalau begitu tolong jaga dia baik - baik,...YAH?"
Tanya Kak Rani. Dimana ia menyipitkan matanya yang tajam ke arah Kak Rangga, melihat itu Kak Rangga lansung berkeringat dingin dan menjawab..
"i-itu sudah jelas."
Sedangkan Di sisi lain, ketika aku melihat pembicaraan mereka berdua sudah selasai, aku lansung berdiri dari sofa dan melihat ke arah Kak Rangga..
"Kalau begitu, Kak Rangga aku pergi bersiap - siap dulu."
"Yah. Tidak usah buru - buru."
"Aku mengerti."
Jawaku dengan senang. kemudian aku berahli ke arah Kak Siska dan bertanya...
"Kak Siska, bagimana denganmu? apa kau tidak pergi bersiap - siap(ganti baju)?"
"Tidak perlu. Aku begini saja."
Jawabnya dengan tenang.
"Be-begitu,...yah sudah, kalau gitu aku pergi dulu."
Sambil meninggalkan kata - kata itu aku pun lansung berjalan ke arah tangga dan pergi meningglkan tempat itu.
Namun, di saat aku berjalan naik ke tangga, ekspresiku yang tadinya terlihat sangat senang, tiba - tiba berubah menjadi tenang kembali.
Dimana tatapanku Terlihat sangat tajam, bagaikan silauan silet yang bisa menembus batin seseorang.
_____________________________________
_________________________________
Setelah aku berganti pakaian di dalam kamar, aku pergi ke laci yang berada di samping kasurku dan membukanya. Dimana di dalam laci tersebut terdapat dua Hp yang aku ambil dari anak - anak berandalan itu.
Kemudian aku mengambil dua Hp tersebut dan mengaktifkannya.
Setelah beberapa saat aku mainkan, aku matikan lagi Hp tersebut dan menyimpangnya kembali di dalam laci.
"Yosh, saatnya aku pergi."
Sambil mengucapkan itu, aku menutup laci itu kembali dan lansung berjalan keluar dari kamarku.
__ADS_1
Knock!!