
Setelah Rangga memberitau semuanya, saat ini mereka semua sedang duduk di Sofa.
Dimana Ayah, Ibu dan juga Airani terlihat sangan Shock setelah mendengar cerita tersebut, Sampai - Sampai kemarahan kembali terpancar di wajah ibu.
"ANAK - ANAK ITU, BERANINYA MEREKA KEROYOK ANAKKU, AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN MEREKA."
ayah yang dengar itu lansung megenggam pundak ibu dan membuat Ibu sedikit kaget...
"Sa-Sayang?"
"Miki, Aku mengerti perasaanmu, tapi seperti yang sudah di beritaukan Rangga, jika kita melaporkan ini pada polisi, besar kemungkinan anak - anak kita juga pasti akan mendapatkan masalah.-
-terlebih lagi kamu juga sudah dengarkan, Rangga sudah beri mereka pelajaran, jadi-!!"
Sebelum ayah menyelesaikan kata - katanya, Siska yang dari tadi diam saja lansung memotongnya dengan nada tajam.
"MEMANG KENAPA KALAU KAK RANGGA SUDAH BERI MEREKA PELAJARAN-
-APA AYAH INGIN BILANG KARENA KAK RANGGA SUDAH BERI MEREKA PELAJARAN AYAH INGIN MELEPASKAN MEREKA BEGITU SAJA?"
Tanya Siska sambil mengerutkan dahinya ke arah ayah, dimana ia seolah - olah tidak senang dengan apa yang ayah katakan.
Di sisi lain ayah yang dengar itu lansung menjawab...
"Siska, ayah tidak pernah bilang begitu, ayah hanya berpikir ini untuk kebaikan kalian."
"Kebaikan kami? KEPALA LEON DI BUAT BERDARAH BEGITU AYAH BILANG INI UNTUK KEBAIKAN KAMI?"
Sesaat Siska menanyakan itu, ayah tidak bisa menjawab apapun dan hanya diam saja. Begitupun dengan Rangga.
Melihat itu Siska lansung mendecatkan lidahnya dengan kesal dan berkata...
"Cih,..Sudahlah, aku tidak peduli lagi, aku akan kembali ke kamarku."
Sambil mengucapkan itu, Siska lansung bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.
TAP!!...Tap!!....tap!!....
Di saat Siska sudah tak terlihat, baik ibu maupun Airani yang Melihat Siska sekesal itu terlihat sangat khawatir, dimana Airani lansung melihat Rangga dan memanggilnya...
"Sayang."
Seolah - olah tau apa yang ingin istrinya katakan, Rangga lansung tersenyum dan berkata...
"Tidak usah sekhawatir itu, aku yakin Siska baik - baik saja."
Ucapnya, kemudian ia lanjutkan lagi...
"Yang lebih penting, bisa kamu bawah Fira Istirahat di dalam kamar, aku yakin ia sangat lelah karena terlalu banyak bermain, waktu di sana."
Ucap Rangga sambil melihat ke arah Fira, dimana Fira terus saja menguap di pelukan Ibunya, seolah ia sudah ngantuk dan ingin bobo.
Melihat itu Membuat Airani lansung mendengus dan tersenyum, kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke arah Rangga.
"Kau benar, kalau gitu aku pergi dulu ke kamar."
"Yah."
__ADS_1
Jawab Rangga secara singkat. Setelah itu Airani mulai berjalan dan pergi ke kamarnya, dimana hanya menyisahkan tiga orang saja di situ. yaitu ayah, ibu dan juga Rangga.
"""........"""
Di saat mereka bertiga hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun, beberapa detik kemudian tiba - tiba Ayah melihat Rangga dengan Serius dan bertanya...
"Rangga, Boleh ayah tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Tadi, setelah kamu memberitau kami kejadian di parkiran, aku mengirah, jangan - jangan alasan kenapa Leon bersikap seperti itu tadi, itu karena..."
Seolah - olah mengetaui apa yang ingin ayah katakan, Rangga lansung tersenyum tipis dan berkata...
"Sepertinya ayah sudah menyadarinya-
-Benar, alasan kenapa Leon bersikap seperti itu tadi, itu karena mungkin saja ia ingat trauma waktu ia Di Buli dulu."
Sesaat Rangga mengatakan itu, sentak Ibu terlihat sangat shock, sampai - sampai tubuhnya terlihat gemetar.
"Ra~Rangga, apa yang kamu katakan? Bukankah Leon sudah tidak ingat kejadian itu(pembulian)?"
Ketika Ibu menanyakan itu, Bukan Rangga yang lansung jawab melainkan Ayah.
"Miki, memang benar Leon tidak ingat kejadian itu(pembulian), tapi bagaimana kalau Ia ingat Trauma yang ia Rasakan waktu di Buli dulu?"
"Eh."
"Meskipun Leon lupa bahwa ia pernah di Buli, tetapi Trauma yang ia Rasakan waktu itu, mungkin saja masih membekas di dalam hatinya.-
-itulah sebabnya, ia bersikap seperti itu tadi."
"Jadi begitu."
setelah itu ia mengarahkan pandangannya ke arah Tangga, dimana tatapannya terlihat sedih.
"Leon."
Di saat Ibu membisikkan itu, Ayah lansung megenggam pundaknya dan memanggilnya..
"Miki, ada apa? Kamu kelihatan sedih begitu?"
"Tidak, bukan apa - apa."
Jawab lansung Ibu sambil tersenyum, kemudian ia bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke arah mereka berdua(ayah,Rangga).
"Baiklah, Kalau gitu aku pergi dulu."
"Kamu mau kemana?"
Tanya ayah.
"Aku mau Ke kamar Siska, aku juga khawatir dengannya."
Jawab ibu sambil melihat ayah dimana ia tersenyum namun sedih. Melihat itu ayah lansung mengelus kepala ibu dan berkata..
"Begitu, kalau gitu pergilah."
__ADS_1
"Um."
Jawab ibu dengan anggukkan, dimana ia terlihat sangat senang. Setelah itu ia mulai berlari ke arah tangga dan pergi ke kamar Siska.
TAP!!....Tap!!...tap!!.....
Ketika Rangga sudah tidak mendengar langkah kaki ibu, ia mencoba bangkit dari tempat duduknya.
"Baiklah. Aku juga harus pergi."
Saat Ayah dengar itu, ia lansung melihat ke arah Rangga dan bertanya...
"Rangga kau mau kemana juga?"
"Aku mau keluar sebentar, melakukan sesuatu."
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Di saat Ayah menanyakan itu, Rangga lansung mengerutkan dahinya dan terlihat tidak senang.
"Kenapa ayah ingin tau itu?"
Tanya Rangga.
"Yaa, ini hanya perasaanku saja, tapi sejak kamu pulang, aku merasa kalau kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari kami."
Ucap ayah sambil menatap Rangga dengan Serius. Rangga yang di tatap seperti itu untuk sementara tidak mengatakan apapun.
"........"
Namun setelah beberapa detik kemudian, ia mendesah "haaa.." dan bertanya....
"Bagaimana ayah bisa tau?"
"Bukannya aku tau, hanya saja ketika kamu pulang, aku merasakan tatapanmu sangat berbeda di bandingkan sebelumnya.-
-dimana tatapan itu seolah - olah mengatakan kalau kau ingin balas dendam setelah pertarungan."
"Balas dendam setelah pertarungan kah?"
Ucap Rangga dengan Bisikkan, namun tanpa pedulikan itu Ayah melanjutkan lagi......
"Yah,...awalnya aku pikir itu hanya persaanku saja, tetapi setelah kau memberitau dan menceritakan kami apa yang terjadi di sana(Di Mall), aku jadi yakin, kalau kau akan pergi balas dendam pada mereka."
Ucap ayah sambil menatap Rangga dengan Serius, di sisi lain Rangga yang dengar itu lansung tersenyum tipis dan berkata...
"Begitu, sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikan ini dari ayah."
Ucapnya, kemudian ia menambahkan lagi...
"Seperti yang ayah katakan, memang benar aku mau pergi balas dendam, tapi
Sayangnya targetku bukanlah anak - anak itu, melainkan Orang lain."
Ayah yang dengar itu lansung terlihat sangat terkejut.
"Eh, a-apa maksudmu?"
__ADS_1
Sesaat ayah bertanya Rangga lansung mengeluarkan sebuah Hp dari Kantong celananya dan memberikannya ke ayah.
Dimana Hp tersebut Bukanlah miliknya, Melainkan Milik anak Yang ia hajar Waktu itu.