
Ketika Bulan melihat ke arah belakang, di sana ia melihat Leon sedang menahan tangannya, sambil di tatap dengan tajam.
Dimana Tatapan itu seperti memancarkan cahaya di dalam kegelapan.
"~~Le- Leon!"
"KAU,...BUKANKAH KAU GADIS WAKTU ITU? APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?"
Ketika aku bertanya. Aku mengeluarkan Aura membunuhku sedikit, hingga membuat Bulan terlihat sedikit ketakutan.
"~a~aku,.. Aku hanya..."
Pada saat aku menunggu jawabannya. Tiba - tiba bulan mementalkan tanganku, hingga membuat genggamanku lepas dari tangannya.
Setelah tangannya lepas. Tanpa menunggu lama, Bulan mencoba keluar dari Lorong ini dengan berlari ke arah Cahaya itu.
Namun, sebelum ia mencapai cahaya tersebut, dari belakangnya terlihat sebuah tangan sedang bergerak dan lansung menutup mulutnya.
Setelah itu, bajunya lansung di tarik ke belakang dan ia di lempar masuk kembali kedalam.
"~ughhh!!"
Ketika Bulan terjatuh dan duduk di Lantai, ia melihat ke arah atas, dimana aku sedang memandangnya ke bawah.
"KAU,...KAU PIKIR MAU KEMANA, HAH!"
"a~aku...."
Sambil menunggu jawabannya, aku perhatikan kalau Bulan terlihat sangat gemetar, bahkan mulutnya sampai tidak bisa ia gerakkan.
Sehingga mau tidak mau aku menghilankan niat membunuhku dan bertanya sesuatu yang lain.
"Haaa sudahlah, yang lebih penting, apa yang kau lakukan di sana tadi?"
Saat aku bertanya, soal ia mengintipku menghajar anak - anak itu. Dengan wajah yang di penuhi keringat, Bulan menjawab..
"~a-aku,..aku hanya kebetulan ada di sana, jadi...."
"Kebetulan...."
Sesaat aku berhenti, aku lansung menarik Rambut Hitam panjangnya ke atas.
Setelah itu, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, hingga bibir kami hampir bersentuan satu sama lain.
"....KAU, APA KAU BERCANDA DENGANKU SIALAN!"
"~ti- tidak, aku tidak bercanda,...aku..."
Sesaat Bulan berhenti, ia melihat ke arah bawah, setelah itu ia mulai menjelaskan.
"Se- Sebetulnya, aku lihat tadi, saat kau di seret oleh mereka, jadi.."
"Jadi, kau mengikuti ku?"
Sambungku
"Umm."
Angguk Bulan.
Meskipun ia mengatakan itu, tetapi tentu saja aku tidak percaya. Sebab bagaimanapun waktu penyerangan ini sangat pas dengan ia mengikutiku.
Jadi, ada kemungkinan kalau ia sedang di suruh Oleh orang itu untuk mengawasiku.
Namun, ketika melihat ekspresinya, sepertinya ia tidak melakukan itu, jadi...
"Oi, yang kau katakan Barusan tidak bohong kan?"
"Y-yah, aku serius."
Setelah ia mengatakan itu, perlahan aku melepas rambutnya, seusai itu aku berbalik dan mencoba berjalan keluar dari Lorong ini, namun...
__ADS_1
"KAK BULAN, APA YANG KAU LAKUKAN DISITU."
Tepat di ujung Lorong, di sana terlihat dua anak kecil sedang melihat ke arah Kami sambil mengenggam sebuah Kantong yang isinya aku tidak tau.
"Rezvan, Haira."
Ketika Bulan menyebut nama mereka, aku lansung sadar kalau mereka berdua adalah adek, adiknya.
Sedangkan di sisi lain. Saat Rezvan dan Haira melihat ke dalam Lorong, mereka memperhatikan kalau rambut Kakaknya sangat berantakan di dalam sana.
Bukan hanya itu saja, bahkan Bajunya pun ikut berantakan, di tambah lagi Sekujur tubuhnya di penuhi oleh keringat.
Sehingga baik Rezvan ataupun Haira merasa kalau Kakaknya sudah mengalami hal buruk di dalam sana.
"Kak Bulan."
Sambil membisikkan nama Kakaknya, Rezvan akhirnya memperhatikan kalau aku sedang berdiri di dalam sana juga. Sehingga ia lansung melihatku dengan marah.
"KAU, APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAK BULAN?"
"Maksudmu?"
Saat Rezvan bertanya aku bertanya balik padanya, sehingga membuat Rezvan terlihat sangat Marah.
"JANGAN PURA - PURA BODOH, KAU TELAH MELAKUKAN SESUATU PADA KAK BULAN KAN?"
"Tidak, aku tidak mengerti apa maksudmu?"
Ketika aku mengatakan itu sekali lagi, Rezvan lansung mengertakkan giginya dan menunjuk ke arah Kakaknya.
"KAU,..APA KAU TIDAK LIHAT KAK BULAN SANGAT BERANTAKAN DI SANA, APA LAGI DI LORONG GELAP SEPERTI INI..."
Sesaat ia berhenti ia menunjuk ke arahku dan melanjutkan lagi.
"....DAN KAU SATU - SATUNYA ORANG YANG ADA DI SINI, JADI SUDAH PASTI KAU MELAKUKAN SESUATU PADA KAK BULAN KAN?"
"Sudah ku bilang. Aku tidak mengerti apa maksud-!!"
di tambah lagi bajunya terlihat sangat Longgar (gara - gara aku menariknya tadi). Sehingga membuat belahan dadanya sampai terlihat.
Melihatnya saja, aku lansung tau kalau ia terlihat seperti Gadis yang baru saja di perkosa.
(Eh, tunggu dulu, jangan bilang Bocah ini pikir aku sedang memperkosa Kakaknya?)
JANGAN BERCANDA, MESKIPUN AKU INI PLAYBOY TAPI, AKU TUH SANGAT TIDAK SUKA MEMPERKOSA SEORANG WANITA SIALAN.
Sambil memikirkan itu, aku melihat ke arah mereka dengan marah.
"OI HENTIKAN OMONG KOSONG MU ITU, AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN PADA KAKAKMU."
"JANGAN PURA - PURA BODOH, JELAS - JELAS KAU-!!"
"REZVAN BERHENTI."
Ucapan Rezvan lansung di potong oleh teriakan Kakaknya, sehingga baik aku ataupu ia lansung berhenti bicara dan melihat ke arah Kakaknya.
"Ta-Tapi Kak Bulan dia.."
"Rezvan tenang saja, Leon tidak melakukan apapun padaku Kok."
"Benarkah?"
"Yah."
Jawabnya sambil memperbaiki rambut dan bajunya yang berantakan. Setelah itu ia berdiri dan lansung berjalan ke arah mereka berdua.
"Sudahlah,..Ayo kita pulang."
Sambil mengucapkan itu Bulan mencoba meninggalakan Lorong ini bersama adek, adiknya.
Namun dari belakang tiba - tiba aku membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"BULAN, TIDAK KU SANGKAH KAU PUNYA ADIK YANG LUCU YAH"
Mendengar Bisikan tersebut, membuat Bulan merasakan perasaan buruk dan lansung berhenti berjalan.
Setelah itu ia melihat ke arah belakang. Dimana aku sedang melihat dirinya dengam senyuman menyeringai.
"Le-Leon, apa yang ingin kau katakan?"
"Tidak, aku hanya ingin bilang, kalau waktu itu kalian semua sepertinya sangat senang melibatkan Kakakku, jadi..."
"TIDAK APA - APAKAN JIKA AKU MELIBATKAN SAUDARA KALIAN JUGA!"
Ucapku sambil menatap Tajam Bulan.
Di sisi lain Meskipun suaraku sangat tenang. Namun kata tersebut lansung menembus telinga Bulan. Sehingga membuat tubuhnya lansung gemetar dan terlihat sangat ketakutan.
Haira yang memperhatikan itu, lansung menuju ke arahku dan melihatku dengan marah.
"Loli, Ada apa Lihat - Lihat?"
Ketika aku bertanya, Haira lansung mengenggam tanganku, setelah itu ia lansung mengigit tanganku dengan kuat.
Kreiiikk!!
"~~ARGHHHHHHHHHH!!"
saat aku teriak kesakitan, Bulan lansung sadar kembali dan melihat ke arah belakang. Dimana Haira sedang berlari ke arahnya.
"Haira, apa yang kau lakukan?"
Tanpa pedulikan pertanyaan Kakaknya, Haira lansung menarik Tangan kakaknya, untuk meninggalkan Lorong ini.
"Kak Bulan, ayo kita pergi sekarang."
Sambil mengatakan itu. Baik Rezvan ataupun Haira lansung menarik tangan Kakaknya, untuk pergi dari tempat ini.
Namun, sesaat Bulan di seret oleh mereka, ia melihat ke arah belakang dimana Leon sedang berlutut sambil mengenggam tangannya yang sakit.
Setelah beberapa Detik melihat ke arah sana. Bulan mulai mengikuti adek, adiknya dan lansung meninggalkan tempat itu.
________________________________
_______________________
Di sisi lain, ketika Bulan dah meninggalkan tempat itu. Aku saat ini sedang berlutut di sana. Sambil menahan rasa sakit dari gigitan adiknya.
"~~Ughh, Loli sialan, kalau nanti gue Lihat, gue akan copot tuh semua giginya."
ucapku sambil merinti kesakitan.
[Master, tidak usah semarah itu. Lagi pula ini salah Master sendiri.]
"Hah, apa maksudmu?"
[Tidak usah pura - pura Bodoh, lagi pula aku sudah tau, kalau Master ingin menggunakan Gadis itu, untuk mengatasi 4 temannya yang lain kan?]
"....."
Mendengar hal itu, Untuk sementara aku tidak mengatakan apapun, namun setelah beberapa detik kemudian aku mulai bicara.
"PIX, memang benar aku mau menggunakan gadis itu, untuk mengatasi teman - temannya, Namun bukan hanya itu saja.."
[Maksudmu?]
Ketika PIX bertanya aku lansung melirik ke arahnya dengan tajam. Setelah itu aku jawab..
"Maksudku,...AKU AKAN MEMBUAT GADIS ITU SEBAGAI PION PERTAMAKU. DI KEHIDUPANKU SAAT INI."
Mendengar hal itu, membuat PIX lansung meneteskan keringat dingin. Sebab ia tau betul, kalau kata PION keluar dari mulutku itu berarti aku akan membuat orang tersebut menjadi........
TUMBAL YANG DI GUNAKAN JIKA DI PERLUKAN.
__ADS_1
Seolah - olah aku tau apa yang di pikirkan PIX barusan, bibirku lansung melengkun seperti bulan sabit.