
Aku terbangun, sebuah Cahaya Putih menerangi pandanganku, Aku mencoba memperhatikan sekitarku dan mengetaui bahwa aku sedang terbaring di Sofa.
Selain itu aku juga menggunakan Paha Bu Linda sebagai Bantal..
"Syukurlah, sepertinya kamu sudah bangun."
"Bu Linda.."
Gumanku. Lalu Aku mencoba untuk bangkit Dan meremas kepalaku yang sakit.
"~~Ughhh!!"
"Apa kau tidak apa - apa?"
Tanya Bu Linda yang khawatir.
"Yah, aku tidak apa - apa."
Balasku.
saat itu juga aku merasakan sesuatu di Telapat tanganku, saat aku melihat ke sana, aku perhatikan Telapat tanganku yang terluka sepertinya sudah di perban dengan Rapi.
"I-ini..."
"Ah tadi aku mengobatimu waktu kamu tidur. Aku sudah dengar semuanya Dari Kana. Sepertinya kamu terluka begitu Gara - gara menyelamatkan dia yah...Leon terima kasih."
"Ti-Tidak...Bu Linda tidak perlu berterima kasih, lagi pula sejak awal semua ini adalah salahku karena mengejar mereka."
"Itu tidak benar. Meskipun kau mengejar mereka namun kenyataan bahwa kau menghadapi anak - anak berandalan itu dan tidak meninggalakan mereka adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa di lakukan Oleh anak Lain sepertimu.-
-makanya aku benar - benar sangat berterima kasih padamu Leon."
Ucap Bu Linda dengan Serius.
Jujur saja, semua yang aku lakukan saat itu bukan berarti tanpa alasan.
Sebab semua tindakan yang ku lakukan Saat itu ada maksud tertentu.
Namun melihat Wajah lega dan Senang Bu Linda saat ini entah kenapa Membuat aku merasa bersalah sedikit dengannya.
"Oh iya, omong - omong mereka bertiga dimana?"
Aku menanyakan Keberadaan Kana dan yang lainnya dimana aku tidak melihat mereka di manapun.
"Kalau kamu cari mereka, mereka Sedang Keluar Bermain."
"Hmm Begitu."
Dengan Kata lain, di rumah ini hanya ada kami berdua dong.
Seolah tau apa yang aku pikirkan, PIX lansung menatapku dengan tatapan Jijik.
[Master, berhentilah berpikiran kotor, Wanita ini adalah Gurumu.]
(Hah siapa juga yang berpikiran Kotor.)
[Apa anda tidak berpikiran Kotor?]
(Tidak....yaa Cuma sedikit.)
[😐......Master kau memang yang terburuk.] Ungkap PIX dengan datar.
Lalu di waktu Bersamaan Bu Linda yang duduk di sampingku terus memperhatikan wajahku, dimana ia bertanya - tanya...
"Leon, Boleh aku tau, kenapa kamu mengejar Kana? Apa kamu punya alasan melakukan itu?"
__ADS_1
Sejujurnya aku tidak ingin memberitau dia kalau aku melakukan itu, karena aku ingin mengetaui situasi Rumah tanggannya.
Namun jika aku diam saja, otomatis ia pasti tidak akan terima dan mungkin saja marah.
Maka dari itu, untuk menyembunyikan tujuanku yang sebenarnya adalah dengan Buat cerita bohongan yang bisa di terima oleh Bu Linda.
Meskipun aku merasa bersalah padanya. Tetapi tanpa pikir panjang aku pun mulai memberitaunya...
"Yaa sebetulnya Waktu jam istirahat aku pergi ke Uks dan melihat anda istirahat di sana. Terlebih lagi Anda terus saja menyebut nama Kana."
Bu Linda yang dengar itu merasa sangat terkejut sekaligus malu...
"Eh benarkah?"
"Yaa, saat itu aku tidak tau siapa Kana itu jadi aku mencoba mencari tau dan bertanya Ke Bu Nara. Dan Bu Nara Pun memberitauku bahwa Kana itu adalah anakmu.-
-apa lagi ia juga memberitauku bahwa anda sering kali Khawatir dengannya saat anda telat Pulang, karena bisa membuat ia sendirian di rumah.-
-itulah sebabnya aku pergi menemui dia Dan berniat menemaninya sampai anda Pulang, supaya anda tidak perlu khawatir lagi dengannya.-
-tapi, bukannya aku menemani dia malahan ia melarikan diri dariku.-
-haaa ini benar - benar menyakiti hatiku Bu Linda."
Ucapku yang menghela nafas sambil terlihat murun.
Bu Linda yang melihat itu hanya bisa menatapku dengan tatapan Rumit. Dimana ia seolah tidak tau apa yang ingin ia katakan padaku agar bisa membuatku kembali seperti semula.
Lalu saat itu juga tiba - tiba Terdengar Suara Pintu yang terbuka dan tiga anak kecil masuk ke dalam.
Dimana ketiga anak itu tidak lain adalah Kana, Haira dan Rezvan.
"Ibu kami Pulang."
Guman Bu Linda yang melihat Kana berlari ke Arahnya lalu menangkapnya, kemudian ia gendong.
"Sepertinya kamu bersenang - senang yah."
"Um, Kana senang,...Kana senang sekali main sama Haira dan Rezvan."
"Begitu,...makasih sudah bermain dengan anakku."
Ucap Bu Linda yang melihat Haira dan Rezvan. Dimana mereka berdua terlihat malu - malu kucing.
"I-itu tidak apa - apa, selain itu aku juga senang kok."
Balas Haira di ikuti Rezvan di sampingnya.
"Sama aku juga."
Namun, di saat mereka berdua malu - malu begitu, Haira merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya.
Saat ia melihat ke arah sana, ia menemukan Seorang Bocah yang lagi duduk di sofa sedang menatap dirinya dengan Datar. Dimana Bocah itu adalah Leon.
"A~ada apa melihatku begitu?"
"Bukan apa - apa, aku hanya berpikir, ternyata kau imut juga saat malu - malu begitu ya."
Tentu saja Haira yang dengar sentak kaget sekaligus tersipu malu.
"H~Ah...a~apa...apa yang kamu katakan, berhentilah mempermainkanku."
"Aku tidak mempermainkanmu, aku mengatakan yang sejujurnya."
Balasku lagi, dimana membuat Wajah Haira tambah merah dan tidak bisa lagi berkata apapun.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain. Kana yang baru menyadari Keadiranku lansung memanggilku.
"Oh Leon kamu sudah bangun, kapan kamu sadar?"
"Um! Tidak lama setelah kalian datang."
"Begitu...Oh iya Ibu, Bisa tidak hari ini kita ajak mereka makan malam?"
"Eh! Makan malam? yaaa aku tidak masalah sih, tapi...bagaimana dengan kalian, apa kalian tidak masalah?"
Tanya Bu Linda kepada kami, dimana aku yang pertama kali jawab...
"Kalau aku, aku tidak masalah, bagaimama dengan kalian?"
Aku bertanya kepada Haira dan Rezvan, dimana mereka berdua terlihat kebingungan mau terima ajakan Bu Linda atau tidak.
"ka-kalau kami,....kami juga ingin ikut tapi, sebelum jam 6 kami harus pulang, sebab jika tidak Kak Bulan dan ibu pasti akan Khawatir."
"Hmm Begitu."
Guman Bu Linda dengan senyuman, seolah mengerti apa yang di rasakan Haira.
Lalu aku pun mencoba mengusulkan Sesuatu pada mereka.
"Hah! kalau begitu, bagaimana kalau aku Sms saja Bulan dan memberitau dia kalau kalian akan makan malam di sini denganku. Seharusnya tidak ada masalahkan?"
"I-itu benar juga."
Balas Rezvan, seolah setuju dengan usulanku. Lalu aku pun mulai mengirim Pesan kepada Bulan dan tidak lupa aku juga mengirim ke rumahku agar Semua Orang tidak khawatir denganku.
Setelah ke 2 pesan itu berhasil terkirim, Bu Linda lansung meneput tangannya agar pandangan kami berpusat padanya.
"Baiklah, karena semuanya sudah Setuju, kalau begitu aku pergi dulu bersiap - siap untuk makan malam."
Bu Linda mencoba menurunkan Kana yang di Gendong. Namun tiba - tiba Kana ingat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan padaku dan Buru - buru melihatku.
"Oh iya, Kak Leon tadi kamu tidur di paha ibuku kan? bagaimana paha ibuku, apa enak di tiduri(di buat bantal)?"
Tentu saja Bu Linda yang mendengarnya lansung terlihat panik dan Buru - Buru mencoba menghentikan Kana.
"Kana apa yang kamu katakan?"
Namun tanpa pedulikan itu, aku lansung beri jawaban ke Kana dengan Sebuah jari Jempol.
"Yah paha ibumu sangat Enak dan Lembut di tiduri."
Sentak saja Bu Linda lansung merasa jengkel dan berlari ke arahku, lalu ia melayankan Sebuah pukulan kuat tepat di perutku.
Hingga membuat Perutku terasa sakit dan kesadaranku perlahan menghilang.
(~ughhh sial...kenapa,...Kenapa setiap kali aku menggoda wanita aku sering di perlakukan seperti ini?)
Di kehidupanku sebelumnya, Aku sering kali menggoda wanita Baik itu dari kalangan atas maupun kalangan bawah. Dan Mereka semua pasti akan tersipu malu saat ku goda.
Tapi di kehidupanku saat ini, bukannya mereka tersipu malu mereka malah memperlakukan dengan sangat Buruk, terlebih lagi aku sering kali di pukuli.
Contohnya saja Gadis itu(Siska) setiap kali aku Goda ia sering kali memukulku bahkan aku sudah tidak bisa hitung lagi, sudah berapa banyak ia melakukan itu.
Dan sekarang Bu Linda juga mulai melakukan hal yang sama.
(~haaa aku tau, kalau aku hanyalah Bocah sekarang dan Seharusnya aku tidak pantas melakukan itu(Menggoda Wanita), tapi tetap saja.....Sial.-
-Seandainya Saja aku tidak bereingkarnasi jadi Bocah melainkan orang Dewasa, aku pasti tidak akan di perlakukan seperti ini.)
Setelah memikirkan itu aku pun kehilangan kesadaran dan sekali lagi jatuh pingsan di lantai.
__ADS_1