BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KEMARAHAN SANG KAKAK


__ADS_3

"Benar, aku datang kesini untuk MEMBALAS PERBUATAN KALIAN KEPADA ADEKKU."


Di saat Rangga mengucapkan itu, Erina terlihat sangat waspada dengannya, begitupun dengan Felik yang berada di sampingnya.


kecuali Luis ia terlihat masih bersikap biasa saja, seolah - olah ia tidak takut sedikut pun dengan Rangga.


Menyadari itu, Rangga lansung seringai kemudian ia melempar Pistolnya ke tempat lain, dimana membuat Luis bertanya - tanya...


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuang pistolmu?"


"Kenapa? Bukankah sudah jelas. Membunuhmu saja tidak akan membuatku puas, aku akan hancurkan Wajahmu itu. SAMPAI KAU BENAR - BENAR MATI DI TANGANKU."


Sesaat Rangga mengucapkan itu, dalam sekejap mata ia lansung hilang dari tempatnya dan muncul di belakang Luis. Dimana membuat Luis sentak kaget "APA!" dan mencoba berbalik kebelakang.


Sayangnya sebelum ia berbalik, Rangga dengan cepat mencoba melancarkan sebuah serangan tepat di pipinya.


Namun, sebelum serangan tersebut mengenai pipinya, Serangan itu lansung di tahan oleh kedua tangan Felik yang bersilang. Dimana membuat Rangga sedikit terkejut.


"Hmm, sepertinya kau tau beladiri sedikit."


"~Heh, sejak kecil aku sudah di latih dan di ajar oleh orang itu. Jangan pikir kau bisa mengalahkan kami semudah ini."


"Oh, kalau gitu. Coba terimalah ini."


Sambil mengucapkan itu, Rangga lansung memutar tubuhnya dan mencoba melancarkan sebuah tendangan tepat di samping wajah Felik.


Menyadari itu, Felik lansung mencoba menahannya, sayangnya Tendangan itu terlalu kuat untuk ia tahan. Sehingga membuat ia Terlempar dan menabrak meja di belakangnya hingga hancur.


"~~Aghh,...Si~Sial, apa - apaan tendangan nya itu, itu kuat sekali ~Ughh."


Ucap Felik yang merintih kesakitan. kemudian Rangga berbalik ke arah Luis dan berkata...


"Sepertinya temanmu tidak terlalu kuat, kalau gitu sekarang giliranmu."


Sambil mengucapkan itu, Rangga lansung berlari ke arah Luis dan mencoba melancarkan sebuah pukulan tepat di perutnya.


Sayangnya sebelum pukulan itu mencapai perutnya, Luis lansung menarik tangan Erina dan membuatnya menjadi perisai.


"LUIS, APA YANG KAU LAKU-!!"


Sebelum Erina menyelesaikan kata - katanya, pukulan tersebut lansung mengenai perutnya, hingga membuat Erina mengeluarkan batuk darah dan jatuh pinsang di lantai.


Melihat kejadian tersebut membuat Rangga lansung tertawa jahat dan berkata...


"Kukuku, kau Membuat temanmu sendiri menjadi perisai. Kau benar - benar anak Brengsett!"


"Terserah kau mau bilang apa, yang jelas Aku tidak pernah menganggap mereka sebagai temanku.-


-Aku hanya anggap mereka sebagai benda yang ku gunakan saja."


"Oh benda kah? Tapi bukankah benda yang kamu anggap itu sekarang sudah tidak ada? Kalau gitu siapa yang akan melindungimu lagi?"


Di saat Rangga menanyakan itu, Luis baru sadar, kalau saat ini tidak ada seorangpun lagi di sekitarannya yang akan melindunginya. Sehingga membuat ia sedikit ketakutan.


Menyadari itu, Rangga lansung seringai kemudian berjalan mendekatinya, namun di Saat Rangga mendekati Luis, tiba - tiba Felik kembali bangkit dan lansung berlari mendekati Rangga, dimana ia mencoba melancarkan sebuah serangan.


"WOY JANGAN PIKIR AKU SUDAH KALAH SIALAAN!" ucapnya.


Sayangnya, Semua serangan yang ia lancarkan dengan santai di hindari oleh Rangga.


Hingga pada akhirnya, ketika Rangga berada di dekat barang antik yang berada di atas Laci, tanpa menunggu lama Rangga lansung mengambil barang antik tersebut. Dan dengan kuat memukul kepala Felik.


Hingga membuat kepala Felik mengeluarkan darah dan jatuh pingsan di lantai.


Melihat penyelamat terakhirnya yang sudah di kalahkan, membuat Luis lansung terlihat suram, dimana ia mundur satu langkah ke belakang.


"I-ini tidak mungkin, bagaimana bisa Felik yang sering menjuarai Tournament Beladiri antara sekolah, di kalahkan semudah ini...."


Ucapnya sambil jatuh berlutut di lantai, dimana ia terlihat sangat pucat dan di penuhi keringat dingin di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


(Sial,...Sial,...Sial, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku kalah di sini dan-!!")


Ketika Luis memikirkan itu, tiba - tiba ia berhenti saat mendengar langkah kaki Rangga yang berjalan mendekatinya.


tap!!....Tap!!.....TAP!!...


Setelah beberapa detik Rangga berjalan. Tak lama kemudian Akhirnya ia sampai di dekat Luis, dimana ia berdiri tepat di depannya. Sambil menengok Luis yang berlutut di bawah dengan Tajam.


"Namamu Luis kan? Sebelum aku membunuhmu, aku ingin tanya, apa kau yang menyuruh anak - anak ini menargetkan Leon?"


Tanya Rangga sambil memperlihatkan Hp si Rambut merah, dimana Luis melihat sebuah pesan dari Apk chatting Grup yang sering ia gunakan untuk menyuruh anak berandalan menyerang Leon.


(I-ini,.....jadi inilah alasan kenapa ia menyerang kami.)


Di saat Luis memikirkan itu, Rangga terlihat sangat kesal karena Luis tidak menjawab pertanyaannya.


Sehingga ia lansung menendang Perut Luis dengan kuat, sampai membuat Luis mengeluarkan Batuk darah dan merintih kesakitan.


"~~Aghhh...~Cough!..~cough..."


Di saat Luis terus terbatuk - batuk, Rangga mencoba bertanya sekali lagi...


"Woy, apa kau tidak dengar, aku tanya apa kau yang suruh anak - anak ini menargetkan Leon?"


"Ti~Tidak, itu bukan aku-!!"


..karena Luis tidak mau mengaku, sehingga membuat Rangga tambah kesal dan lansung Menginjak jari - jarinya Luis sampai patah, hingga membuat Luis menjerit kesakitan..


"~~Arghhhhhhhhhh,...~ti~tidak, a-aku mohon, aku minta maaf."


"Aku tidak butuh minta maafmu, cepat jawab saja pertanyaanku, apa kau yang suruh anak - anak ini menargetkan Leon?"


"~~Ughhh,...y-yah..benar, aku yang suruh."


Jawab Luis sambil terus menahan Rasa sakit yang ia terima. Namun tanpa pedulikan itu Rangga bertanya lagi...


"~~ughh...I-itu karena, gara - gara dia Hak warisku di cabut, jadi.."


Seolah - olah sudah tau apa yang ingin Luis ucapkan, Rangga lansung menyipitkan matanya sambil berkata...


"Begitu,..jadi gara - gara hak warismu di cabut, kau melakukan itu yah."


Ucap Rangga sambil mengeluarkan kaos tangan hitam dari kantong celananya, kemudian ia pakai dan Melotot luis dengan tajam....


"SEPERTINYA AKU TIDAK PERLU LAGI MENAHAN DIRI UNTUK MENGHABISIMU."


Sambil mengucapkan itu, Rangga lansung menarik rambut luis ke atas, kemudian ia mulai melancarkan sebuah pukulan ke arah wajahnya secara terus menerus.


Hingga membuat Luis terus menjerit kesakitan.


____________________________________


________________________________


Di waktu bersamaan, Tepat Di halaman masion, di sana terdapat seorang pria sedang berjalan sambil melihat Sekitar, dimana Pria tersebut tidak lain adalah ayah Leon, yaitu Bagas.


Saat ini ia sedang memperhatikan beberapa Penjaga yang sudah terpapar dan pingsan di tanah.


Dimana mereka semua terlihat sedang mengalami luka parah, baik dari pukulan maupun Tembakan.


Namun, saat ayah Memeriksa kondisi para penjaga ia tidak menemukan satupun yang meninggal. Sehingga membuat ia merasa lega.


"Haaa..Syukurlah, Dia(Rangga) masih bisa menahan dirinya."


Ucap ayah sambil menghela nafas, kemudian ia berahli ke arah masion dan berkata....


(Yaa aku harap, ia juga bisa menahan dirinya pada anak - anak itu.)


Sambil mengucapkan itu di dalam pikiran, ayah lansung berjalan ke arah masion dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Dimana, di dalam masion Terlihat sangat berantakan sekali, terlebih lagi ia juga bisa lihat Rangga yang masih melayakan sebuah pukulan ke wajah Luis secara terus - menerus, hingga membuat wajah Luis tidak bisa lagi di lihat karena di tutupi oleh beberapa benjolan.


BUKK!!....BUKK!!....BUKK!!.....


Di saat Rangga mencoba melancarkan serangan terakhir dengan seluruh kekuatannya, dari belakang tiba - tiba tangannya di tahan oleh Ayah. Hingga membuat Rangga sedikit terkejut.


"A-Ayah."


"Rangga, itu sudah cukup, jika kau melancarkan seranganmu ini ke anak itu lagi, dia benar - benar akan mati."


Ucap ayah sambil megenggam pergelangan tangan Rangga dengan kuat, namun tanpa pedulikan itu Rangga mencoba memaksa untuk Lepas.


Sayangnya sekuat apapun Rangga berusaha, ia tetap tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman ayah. Hingga membuat ia sedikit kesal.


"Ayah, tolong lepaskan tanganku."


"Tidak, aku tidak akan lepas sampai kau berhenti melakukan semua ini."


Balas ayah sambil menatap Rangga dengan tajam, namun tanpa takut sedikitpun Rangga menatap Balik ayah, dimana membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"........."


"........."


Setelah beberapa detik mereka saling menatap, tak lama kemudian Ayah mengeluarkan sebuah Kertas dari kantong celananya, kemudian ia serahkan kertas tersebut ke Rangga.


"Ini."


"Apa ini?"


Tanya Rangga.


"Kau akan tau sendiri nanti."


Ketika Ayah Membalas begitu, Rangga terlihat tidak suka dan lansung mengerutkan dahinya dengan kesal.


Namun, meski begitu ia tetap mengambil kertas tersebut dan membacanya.


Dimana, di dalamnya terdapat sebuah Tulisan yang Rangga kenal, tulisan tersebut berasal dari Istrinya yang menyuruh ia untuk pulang.


Melihat itu, Rangga lansung berbalik ke belakang, kemudian ia menyipitkan matanya yang Tajam Ke arah ayah dan bertanya...


"Ayah, jangan bilang kau yang memberitau Rani, kalau aku ada di sini?"


"Yah, aku yang beritau."


"KENAPA KAU MELAKUKAN ITU?"


"Yaa Jika aku tidak melakukan ini, apa kau pikir aku bisa menghentikanmu?"


Tanya balik ayah sambil menatap Rangga dengan Serius. Kemudian ia menambahkan lagi..


"Meskipun aku berusaha untuk menghentikanmu, aku yakin kamu pasti akan tetap melawan.-


-Itulah sebabnya aku minta bantuan istrimu, karena hanya dialah satu - satunya yang bisa menghentikanmu sekarang untuk melakukan ini."


Ucap ayah sambil menunjuk Luis, dimana wajahnya di penuhi oleh darah dan beberapa benjolan, di tambah ia juga sudah kehilangan kesadaran.


Melihat itu, Rangga lansung mendecakkan lidahnya "Cih" kemudian ia berdiri dan menghilangkan niat membunuhnya.


Setelah itu, ia melihat ke arah ayah dan berkata..


"Baiklah Aku mengerti. Aku akan pulang."


"Benarkah?"


"Yah."


Setelah mengucapkan itu, Rangga lansung berbalik dan mulai berjalan keluar dari Masion, Dimana Hanya menyisahkan Ayah Seorang di dalam.

__ADS_1


__ADS_2